[Writing Prompt] Lawakan Takdir

a79d7227c0a9e000

by Angela Ranee

meant to be

.

“What if you find your soul mate… at the wrong time?” – Lauren Kate

Namanya Elang.

Marcellino Putra Elang Kencana.

Nama yang terlampau sangar untuk didengar, pun bila kau melihat sendiri perawakan sang empunya nama. Tinggi tegap, menjulang setinggi 185 sentimeter dari permukaan tanah, agaknya terlalu jangkung untuk ukuran remaja berusia enam belas tahun.

Kendati begitu, Elang tidak sesangar namanya. Petakilan, cerewet, genit, ceroboh, usil, dan satu sifatnya yang paling kubenci sekaligus membuatku seringkali mengerutkan dahi lantaran heran adalah ia begitu keras kepala.

Aku tidak tahu seberapa ngeyel Elang hingga pada hari dimana ia berkata, “Val, aku suka kamu. Mau jadi pacarku, nggak?” Hari itu hari Selasa. Matahari sedang begitu semangat bersinar, teriknya seperti membakar ubun-ubun. Dengan mata memicing karena sinar matahari yang kelewat silau sekaligus karena kaget mendengar ucapan Elang, aku menyahut, “Tapi aku nggak mau pacaran.”

“Bohong.”

“Bohong?”

“Gadis mana yang bisa menolak pesona Elang Kencana?”

Oh, perlu kuingatkan bahwa selain keras kepala, Elang ini kepercayaan dirinya sundul langit. Untung dia memang sungguhan ganteng. Kalau kata temanku, Elang itu tipikal laki-laki janis alias Jawa manis.

Hah?” aku menyahut lagi. “Nggak, deh. Aku nggak mau pacaran. Kamu cari cewek lain saja, ya.”

Dan aku meninggalkan Elang yang termangu seorang diri di bawah naungan pohon tarbantin sekolah. Kami tidak saling bicara maupun bertukar pesan singkat via LINE selama kurang lebih seminggu. Kupikir aku telah menolaknya dengan cara yang kejam, sehingga terbersit rasa bersalah bercokol dalam hati.

Aku bilang apa tadi soal Elang yang keras kepala?

Hari Jumat, sepulang sekolah. Ia melempar tanya lagi padaku di depan kelas. “Aku benar-benar suka kamu. Mau jadi pacarku?”

Jawabanku masih sama, kendati heran mengapa kepalanya bisa sekeras batu. “Sudah aku bilang, aku nggak mau pacaran.”

“Kenapa? Kan aku ganteng.”

“Bukan itu,” sungutku. “Aku takut nanti nilaiku jeblok.”

“Klise,” ia mendecakkan lidah.

Ih, serius!” aku setengah memekik, lantas melengos pergi.

Sebulan berlalu, namun tak kunjung menyerah pula lelaki jangkung itu. Kali ini, ia mengganti kata suka dengan sayang.

“Val, aku sayang kamu. Aku nggak bohong. Aku serius.”

“Terus? Masih mau mengajak pacaran lagi? Jawabanku tetap sama, Lang. Mending kamu pacaran sama pohon sana.”

Tapi kali ini Elang menggeleng. Kulihat air mukanya serius ketika ia berkata, “Sekadar informasi saja, kalau aku sayang kamu.”

Sekadar informasi? Kok agaknya terdengar putus asa, ya?

“Maaf, aku terlalu jahat, ya?” aku menyentuh bahunya penuh iba.

“Nggak. Aku saja yang ngeyel,” jawabnya, lantas mengulas senyum dan memamerkan gigi putihnya yang tersusun kurang rapi. “Ih, tapi bahuku jadi hangat dipegang kamu, hehehe…”

Dasar burung emprit! Aku mendorong bahunya dengan sebal. “Hangat jidatmu itu, menyesal aku sudah kasihan padamu.”

Dia cuma nyengir. Entah mengapa cengirannya seolah menular, dan mau tak mau membuatku turut mengulas satu cengiran bodoh. “Aku sudah janji pada diriku sendiri, Lang. Aku hanya mau menjalin hubungan dengan cowok kalau sudah lulus kuliah.”

“Klise lagi,” komentarnya. “Hidupmu memang dipenuhi dengan hal-hal klise, ya?”

“Iya,” jawabku, malas berdebat. “Aku juga suka kamu, kok. Soalnya kamu—”

“Ganteng?”

“—bukan! Eh, iya, sih… Ganteng. Ih, tapi bukan itu alasan utamanya! Soalnya Elang baik, lucu, enak diajak bicara, suka kasih contekan juga waktu ulangan Fisika.”

Elang mengacak rambutku sambil menahan tawa. “Tapi aku sayang, bukan sekedar suka.”

Aku menelengkan kepala. “Sekarang, aku mau belajar dulu biar bisa kuliah jurusan Hubungan Internasional. Nanti kalau sudah lulus, baru, deh belajar sayang sama Elang.”

Jawaban yang kuberikan terdengar polos dan tolol di saat yang bersamaan, namun diiyakan begitu saja dengan Elang. Ia berujar,”Janji, ya? Aku juga sudah ngasihin hatiku ke kamu, nggak boleh hancur, apalagi dibuang.” Semudah itu ia berkata, seolah memberikan hatinya pada seorang gadis tak ubahnya memberikan bocoran kunci jawaban soal Ujian Nasional.

Begitulah masa SMA-ku yang diwarnai oleh kehadiran Elang Kencana. Cowok itu bisa mendapatkan siapapun dalam satu jentikan jari. Tapi yang ia inginkan hanya aku, Valerie. Bukan si balerina secantik boneka Barbie, Olivia. Bukan kapten tim cheerleader, Kirana. Bukan si jenius pemegang medali emas olimpiade fisika internasional, Saras. Bukan gadis bersuara emas yang kabarnya sudah dikontrak dengan salah satu label rekaman ternama di Indonesia, Ivana.

Tiga tahun berlalu. Tiga tahun pula, Elang memberikan sedikit demi sedikit potongan hatinya dalam genggam tanganku, berharap suatu hari nanti aku sudi menyatukannya lagi dengan perekat yang disebut cinta. Berharap aku tidak lantas mencampakkannya di tanah, bagai pecahan-pecahan kaca yang tiada berarti.

Tiga tahun, empat tahun, tujuh tahun… Kugenggam potongan hati Elang. Tak kulepas, namun tidak pula kusatukan. Tega, kubiarkan ia termangu dan menunggu selama itu. Bahkan meski kami dipisahkan oleh jarak yang tidak terhitung jauhnya selulus SMA, aku tetap membisu bersama hatinya dalam genggamanku.

Aku mendapat kabar tentang Elang setelah kurampungkan studi di negeri Paman Sam selama empat tahun. Katanya, selama aku pergi sejauh itu, ia berada di Jogja. Menuntut ilmu di Universitas Gadjah Mada, jurusan Teknik Mesin. Empat tahun, tidak pernah ada satupun wanita yang mengisi kekosongan hatinya, yang mengobati rindu pada lengannya yang tak pernah mendapatkan ragaku dalam pelukannya.

Kami bertemu lagi dalam reuni angkatan yang diadakan teman-temanku. Setelah tujuh tahun, ia tidak banyak berubah. Tingginya masih 185 (karena toh aku tidak bisa bayangkan bagaimana kalau ia tumbuh lebih tinggi dari itu), kulitnya masih berwarna sawo matang, senyumnya masih secerah sinar mentari di bulan Juni.

Ia masih memanggilku lembut dengan suara sedalam Palung Mariana-nya, menatapku teduh, menghadiahkanku seulas senyum yang mau tak mau kurindukan setelah tujuh tahun tidak bersua. Ia menyentuh lenganku seolah-olah aku adalah boneka porselen yang mudah pecah, sepasang mata hazelnut-nya memancarkan binar-binar kekaguman yang sama seperti tujuh tahun silam.

“Jangan berpikir aku menganggapmu kejam,” Ia menggeleng. “Justru aku mau berterima kasih, karena kamu telah mengajariku arti sebuah penantian.”

Aku masih diam seribu bahasa, membiarkan kata-kata lolos dari bibirnya. “Kalau kamu berpikir aku melupakanmu, tidak. Kalau kamu berpikir bahwa yang dulu itu hanya sekedar cinta monyet, tidak juga.”

“Jangan sok puitis,” potongku. Bukan tidak suka, tapi mendengarnya berbicara seperti itu bikin detak jantungku tidak terkendali, berdentam-dentam tak karuan bak bedug yang ditabuh saat malam takbiran.

Elang terkekeh. “Masih ingat janjimu?” ia mengangkat satu alis, yang kusambut dengan anggukan kepala.

“Masih!” jawabku. “Mau belajar sayang sama kamu.”

“Terus, kapan mau mulai?” tanyanya.

“Besok,” jawabku, setengah bercanda. “Go out with me, will you?”

Pada dasarnya, selera humor manusia dan takdir tidaklah sama. Apa yang dianggap aneh oleh manusia, ditertawakan sampai kehabisan nafas oleh takdir. Takdir membuatku bertemu dengan belahan jiwaku di waktu yang salah, membuat ia harus menunggu, dan membuatku terlihat seperti Si Jahat karena telah menggantungkannya pada ketidakpastian selama bertahun-tahun. Tapi, dalam kasusku, takdir bukanlah tokoh antagonis. Ia tidak memberikan kepada kami akhir kisah yang menyedihkan.

Dua tahun setelah perjumpaanku dengan Elang, kami berdiri berdampingan di sini–di hadapan altar dan puluhan pasang mata yang menjadi saksi akan janji sederhana nan sakral yang kami ikat.

Kalau sudah begini, aku dilema. Haruskah aku mengomeli Takdir atas lelucon garingnya, atau berterima kasih karena telah menjadikan aku dan Elang bernaung di bawah atap rumah yang sama?

-fin.

Advertisements

11 thoughts on “[Writing Prompt] Lawakan Takdir

  1. Ran. Seriously. Is this really youuu?

    Nggak nyangka lhoo, ini beda sama yang biasa kamu tulis. Aku suka idenya, meski agak mainstream tapi siapa sih yang bisa tahan untuk nggak terharu sama penantian seorang cowok? Sebenernya aku udah ngira ending-nya seperti apa, tapi di tengah-tengah aku mendadak mikir ini kok kayaknya nggak berakhir bahagia…..wkwkwk. Terus … Namanya Elang :” :” :” dari kapan pula aku suka banget nama Elang!!! Terus yha Ran aku merasa kalau ini aku banget. Entah. Hahaha. Aku selalu nggak suka sih sama ide pacaran karena….yha begitu LOL. Jadi bisa dibilang aku bisa merasa sedikit gimana jadi Valerie. Duh, mba Val beruntung banget sih dapet Elang-nya. Aku kapan dapet Elang-ku? :” LOL.

    Aku suka sekaliii penyampaianmu. Soothing. Dan beberapa jokes juga pas gitu ala-ala nagh remaja ababil. Keep writing Rani ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. Halo Shia! Wah ku jadi malu eheheheh abis aku mah apa atuh dibanding Shia >.<
      Sebenernya karakter Elang ini sudah aku bikin agak lama, cuma belum nemuin nama yang tepat. Terus waktu pelajaran tiba-tiba kepikiran ngasih nama Elang, kan kece dan anti menstrim gitu ya. Nama lengkapnya itu sebenernya ngasal banget, nyomot nama-nama temen semua xD Akhirnya Elang kutulis deh di sini, hehehe…
      Aku juga berharap dapet Elang-ku sendiri 😀 Makasih udah baca dan berkomentar ya, Shia! Keep writing juga buat kamu!

      Like

  2. Waaaa suka banget sama Elang ❤ ❤ pedenya itu lho, tinggi banget sama kayak tinggi badannya, tp itu yg bikin lucu, apalagi katanya dia ganteng dan tipe cowok janis (jawa manis) hahaha 😀 terus nggak sampe situ, dia rela nungguin orang dia suka. My ideal guy banget yhaaa /ups malah curhat.

    Keep writing yaaa ❤

    Liked by 1 person

    1. Hai hai! Yey seneng deh karakter Elang ternyata banyak yang suka 😀 Entah kenapa sekarang ini aku lebih haus mas-mas janis ketimbang oppa-oppa koriya, hehehe… Makasih udah baca dan berkomentar ya ^^

      Like

  3. WAH ELANG YOURE THE MAN! aslik literally yang being wow-ed banget pas elang bilang kalo val uda ngajarin yang namanya penantian ADOOOOOOH :” (guling-guling-guling). dan akhirnya jadiiiiii :’) this is what i say manis but nggak berlebihan. romens yang dewasa. ah sukaaa ❤ keep writing yaaaaa ehe.

    Liked by 1 person

    1. Halo, Kak Fika! Eh aku belum pernah kenalan udah SKSD aja ya //ditabok Salam kenal, Kak! Rani dari garis ’00 😀 I know you’re older than me karena sempet ngintip profilnya dulu, hehehe…
      Ya ampun padahal dari awal ngirim aku udah desperet karena ini nulisnya buru-buru banget dan mikir yodalah kalo ditolak pasrah jha emang pengerjaannya kurang maksimal. Eh ternyata dipublish dan karakter Elang ini disukai orang-orang, aku senang //ketawa-tawa menjijikkan
      Makasih ya Kak udah baca dan komentar! Sekali lagi salam kenal ^^

      Like

  4. Hello, salam kenal, Rani. Ini Cherry yg segaris tahun sama Taeil haha
    Wadaw, Mas Elang mah apalah. Sabar bener jadi penunggu cintanya yg ga ada kepastian. Mana ga pernah nikung pula :’))) Tipikal Mas Elang ini kudu diawetkan di musium sangking langkanya, X,D
    Cewek kadang kalau bilang ga, itu bukan berarti ga selamanya. Kalau dikejar terus ntar juga aus kan yak. Cuma kadang cowoknya yg ga mau kejar lebih keras lagi. Ops! xD

    Liked by 1 person

    1. Halo, salam kenal Kak Cherry! Sorry for the late reply yaa >.<
      Iyaa kapan aku ketemu Elang-ku huhu bisa bikin karakter kaya gitu tapi kok ga nemu-nemu yang beneran bisa dijadiin teman hidup :")
      Makasih Kak sudah baca dan berkomentar 😀

      Liked by 1 person

  5. Hai kak Ran! Kenalin, aku Ifa dari 02 line. Hehe
    ElangxValerie kisahnya manis banget ❤ khas anak sma tapi.. gak berlebihan. bahasanya ringan juga bikin aku baper sama elang :")
    Akhirnya penantian si elang gak berakhir sia sia soalnya valerie masih inget sama janjinya dulu :") ga tau mau ngomen apa lagii ini sweet emesh emesh gitu kak ran ❤

    Like

    1. Halo, Ifa! Salam kenal juga dan maaf karena balesnya telat banget!
      Karakter Elang ini saya ciptakan sebagai bentuk pelampiasan karena saya nggak pernah ketemu cowok kayak dia di dunia nyata //yha
      Anw makasih ya Ifa udah baca dan berkomentar ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s