Oliver and Jack

 Setting and character related to Oliver Twist belong to Charles Dickens

.

“Pssst!”

Si anak lelaki bersiul kecil, minta perhatian temannya. Kepalanya miring memberi tanda seperti biasa tiap ia melihat mangsa. Temannya mengangguki tanda itu. Mereka keluar dari himpitan dinding lorong. Mengendap-endap sambil menoleh ke segala arah. Lumayan sepi. Hanya ada sepasang kekasih yang saling melempar bualan omong kosong, dengan botol bir di tangan masing-masing. Seorang pengemis tua membungkuk di tanah, sibuk menghitung koin-koin yang banyaknya tak lebih dari jumlah jemari tangan. Ketiganya tidak cukup mengkhawatirkan. Lagian, siapa peduli pada pencopet yang beraksi di sarang pencopet.

Sementara itu, si calon mangsa masih bertahan di muka gang. Berdiri tegak dan kaku seperti tonggak pendek yang kurus dan dingin. Mantel hitam menutupi sampai paha. Topi tinggi dan tongkat yang membuatnya tampak manusiawi. Yang tidak manusiawi adalah latar belakangnya. Lorong-lorong sempit, tempat tikus beranak-pinak, berdesakan bersama manusia yang hidup dalam ketidakberdayaan.

Jarak lima langkah. Mereka saling berkedip memberi pesan. Dalam hitungan tiga yang tak tersuara, mereka serentak menerjang. Sedikit lagi, tangan-tangan kecil itu menggapai rantai jam saku yang menjuntai dari saku mantel. Sebelum kulit mereka benar-benar menyentuhnya, sosok itu berbalik. Gerak yang tak diduga itu membuat kedua anak itu terduduk di tanah.

“Oh, hai, Sobat Kecil!” ucap lelaki itu riang. Kedua tangannya terulur, menarik anak-anak itu berdiri.

“Tidak perlu buru-buru. Aku tahu apa yang ingin kalian inginkan.”

Lalu tanpa berbicara lagi, lelaki itu merogoh saku. Mengeluarkan sekantong koin yang bergemerincing.

“Cukup untuk makan malam dan besok, benar?” Simpul senyumnya makin mengembang mendapati pelototan takjub dari kedua anak.

“Te-terima kasih, Tuan!” Kedua anak itu menerimanya, membungkuk, dan berlari menyusuri lorong dengan keriangan di suara cekikikan mereka.

Oliver Twist memerhatikannya. Senyumnya tak lepas, meski kali ini berupa gurat kesedihan. Saffron Hill[1] tidak pernah berubah, pikir Oliver. Atau mungkin belum.

Ia kembali melanjutkan langkah. Tungkai sepatu hitam mengilatnya menjamah lumpur di sepanjang lorong. Gang itu benar-benar kotor, malah terlihat semakin kotor sejak terakhir kali lelaki itu mengingatnya. Beberapa keluarga tikus bercicit-cicit keluar masuk dari tumpukan sampah. Pria-pria mabuk berbau bir terkantuk-kantuk di atas tong bekas.

Oliver Twist baru merasa lega ketika dirinya berdiri di depan salah satu pintu di Field Lane.

Ia mengetuk tiga kali. Ia baru berhenti ketika terdengar langkah tersaruk-saruk mendekat. Sampai suara di balik pintu menyahut serak. “Siapa?”

Sesaat Oliver berpikir harus menyerukan kode wajib itu. “Plummy and Slam!”

Sebelum Oliver bisa menarik napas, pintu itu berderit terbuka. Sebuah kepala menyembul ragu-ragu.

 “Oliver?”

“Ya, itu namaku, belum berubah.” Oliver tersenyum, lelaki itu tak membalas.

Pintu dibuka selebar badan.

Untuk beberapa sekon, Oliver harus mengakui kalau penampilan temannya itu tampak kacau. Jack Dawkins memang selalu kacau, tapi ia tak pernah sekacau ini. Rambutnya kusut kering seperti tak pernah terbilas air. Wajahnya kuyu dan tubuhnya membungkuk-bungkuk seperti orang mabuk.

“Kau baik-baik saja?” tanya Oliver.

“Ya, ya, seperti yang terlihat,” balas Jack ringan sambil melambai ke kursi, mempersilakan.

Oliver menggeleng, tetap berdiri di tengah ruangan, dan baru menyadari keberadaan lembar-lembar kulit dan sol karet di meja dekat perapian. Menariknya pada satu kesimpulan penyebab tampilan postur kawannya itu.

“Aku ingin bicara denganmu. Tapi, tidak di sini.”

“Oh?” Jack Dawkins mendongak, terkesiap. Seolah baru menyadari aksistensi orang lain yang memasuki rumahnya.

“Ayolah, Jack. Aku membutuhkanmu dan kau membutuhkan udara luar.”

Oliver menyambar asal topi dan mantel kelabu yang tergantung di balik pintu. Lalu menarik lengan temannya. Tubuh Jack lebih besar darinya, tapi Oliver tidak merasa kesusahan menyeret temannya keluar dari lorong-lorong Saffron Hill yang bau.

Mereka melewati Exmouth Street, terus ke utara, menyeberangi St. John Street menuju The Angel. Jack menggoyang lengannya dari cekalan Oliver. Mengatakan lewat sorotan matanya, bahwa ia telah mampu berjalan sendiri. Oliver membiarkannya berjalan di depan begitu mereka berbaur bersama para pejalan dalam kepadatan di Islington Turnpike.

Figur belakang kawannya itu mengingatkannya pada sosok Artful Dodger yang dulu. Tepat sepuluh tahun yang lalu, adegan ini pernah terjadi. Jalan yang sama dan sosok yang sama. Artful Dodger memimpinnya menuju sarang Fagin, menyibak pengalaman baru bagi Oliver sebagai pencuri jalanan.

 “Kau mau berhenti di mana?”

Oliver mengedikkan bahu. Perhatiannya kemudian tercuri pada papan nama ‘Helley’s Bar’ dari salah satu jajaran di Barnet High Street. Oliver memilihnya. Ia menanggalkan topinya ke meja dan menempatkan diri di salah satu kursi tinggi di sisi jendela. Jack diam, mengikuti.

Bukan tanpa alasan Oliver mengajak temannya ke tempat ini. Ada sebuah harapan yang tersimpan dari aksinya tadi. Dia diam-diam menarik Jack Dawkins melepas kenyamanannya dari kegelapan Saffron Hill. Tapi cukup bijak untuk tidak langsung membawa Jack ke Pentonville[2], tempat kemewahan memanjakannya.

Oliver ingin menampar Jack dengan kenyataan bahwa hidup masih berlanjut. Namun dengan tetap menghargai dan menghormati keberadaan lelaki itu. Barnet High Street menjadi pilihannya. Titik temu mereka sepuluh tahun yang lalu.

“Hai, Jack. Akhirnya kau bangkit dari kuburanmu, heh?”

Harusnya Oliver tidak kaget seseorang yang mengenali Jack. Meski bagaimanapun, tempat ini menjadi salah satu panggung aksi permainannya. Tapi Oliver tetap terkejut. Orang yang mengenal Jack adalah pelayan gemuk bermuka ramah.

Jack membalas sapaan pelayan gemuk itu dengan gumaman tak jelas. Membuat pelayan itu mengalihkan perhatiannya pada Oliver yang masih terheran-heran

“Dia pernah bekerja di sini, musim panas tahun lalu.”

Mulut Oliver membuka tanpa suara.

“Ya, tapi dia keluar saat bos mulai menyukai sikap rajinnya. Kami tidak tahu alasannya sampai sekarang.”

“Hentikan omong kosongmu itu, Jeff,” gertak Jack dengan sorot tajam. “Aku pesan dua gelas ginger-beer.”

“Tidak, aku tidak ingin kau mabuk,” sela Oliver. “Dua gelas teh saja!”

“Baik. Mohon tunggu sebentar, Tuan-tuan.”

Begitu pelayan itu pergi, Oliver tak memberi kesempatan Jack untuk protes dan balik bertanya, “Kau pernah bekerja di sini?”

“Ya, aku harus mendapat uang untuk bertahan hidup.” Jack memalingkan muka. Melepas pandangannya ke luar jendela. Sebuah penolakan.

Jack Dawkins enggan berkisah soal masa lalunya. Tapi secara nyata, lelaki itu masih terjebak dalam kesedihan masa lalunya.

“Apa kau pernah menyayangkan kematian Fagin?” tanya Oliver hati-hati.

Jack menarik napas beberapa kali, seolah dia tengah menyiapkan jawaban terbaik.

“Tidak.” Jack menggaruk hidungnya yang pesek dan kembali mengalihkan melempar atensinya ke jalanan.

“Aku, selalu,” balas Oliver tanpa ragu. “Tiap kali aku mengingat kebaikannya, aku selalu mengharapkan hukuman gantung itu tidak pernah dijatuhkan padanya.”

“Lihat, siapa yang berdoa dengan begitu baik pada orang yang pernah berencana membunuhnya.”

“Bukan salahnya. Bill yang mengotaki segalanya.”

Oliver menangkap senyum sinis Jack. Ia menyambungnya perlahan, “Kau mungkin tidak percaya, tapi dalam kepalaku, Fagin mewakili sosok ayah untukku. Dia orang pertama yang memberiku sekoin shilling. Dia orang pertama yang menepuk kepalaku dan berkata bahwa aku akan tumbuh menjadi lelaki terhebat sedunia.”

Jack tertawa kecil. “Aku kenal seorang anak kecil. Dia didera penderitaan hidup bahkan sejak ia menghirup udara untuk pertama kali. Dia telah bertemu dan mengenal banyak manusia berpikiran gelap dan kasar. Tapi, entah sebab apa, hati anak itu tidak berubah. Tetap lembut, sedikit tolol, seperti bayi.”

Oliver tersenyum. “Aku tahu.”

“Oh, ya?”

“Karena kalau dia tidak mengambil alih peran itu, maka dunia akan sehitam cerobong asap yang tidak pernah dibersihkan berpuluh tahun.”

“Aku percaya itu. Tapi kalau aku jadi kau, mungkin aku akan tumbuh lebih kejam dari Artful Dodger.”

“Aku butuh bantuanmu, Jack,” kata Oliver, ketika merasa ketegangan itu telah sirna.

“Apa yang bisa diminta dari orang miskin sepertiku, Oliver?”

Oliver merenung sebentar. Mengingat-ingat kapan Jack menunjukkan ketidakpercayaan dirinya, meski itu hanya candaan belaka. Dalam memorinya, Oliver tidak berhasil mendapatkannya.

“Aku berencana membuka penampungan anak-anak.” Oliver menunggu reaksi Jack. Namun, lelaki itu tidak mengubah raut wajahnya.

“Aku pernah tinggal di rumah sosial dan tidak sekali pun aku merasa aman. Aku ingin anak-anak itu mendapatkan apa yang dulu tidak kudapatkan.”

Jack mengangguk dua kali, mendengarkan.

“Aku sudah mengumpulkan uang dari keuntungan percetakan. Aku sudah memimpikan ini bahkan sebelum percetakan itu berdiri tiga tahun yang lalu. Dengan membangun rumah sosial, aku bisa meyakinkan diriku kalau seluruh kerja kerasku benar-benar tersalurkan ke tangan mereka[3]. Aku sudah membicarakannya pada Mr. Brownlow. Dia menyetujuinya.”

“Dia pria yang baik.”

“Ya, sangat baik.”

Jeda sejenak selagi pelayan gemuk kembali dengan pesanan mereka. Setelah Oliver berterima kasih dan pelayan itu berlalu, Jack menyahut, “Lalu, apa yang kau butuhkan dariku?”

“Aku sudah mendapat semua yang kubutuhkan. Lokasi, barang-barang, uang simpanan untuk berbagai keperluan, dan para pekerja.”

Oliver berhenti sejenak. Merasa dirinya terguncang oleh ledakan yang menyenangkan. Ia telah menanti saat-saat ini. Detik ketika ia memanggil kawan lamanya kembali.

“Hanya satu hal penting yang belum aku dapatkan, dan satu-satunya hal yang tidak akan bisa kutemukan selain darimu. Aku ingin kau menjadi kepala pengawas.”

“Kau serius? Kau baru saja meminta mantan pencuri, bahkan ketua komplotan pencuri, untuk menguasai uangmu!” Mata Jack memerah. Oliver tak dapat menerkan apa itu sebuah kemarahan atau kelegaan.

“Aku tahu, dan aku tahu kau tidak akan melakukan itu, Jack.”

Jack mengedikkan bahu. “Bagaimana kau bisa tahu, kalau aku saja tidak tahu.”

“Kau hanya tidak percaya pada dirimu sendiri, seperti aku memercayaimu.”

“Kau tidak hanya berubah, Jack. Kau seperti terlahir kembali. Aku mengerti kau belum keluar dari kekangan masa lalu. Tapi, sekarang aku bukan melihatmu sebagai Artful Dodger lagi. Bukan sebagai orang yang tutup mata pada kekesalan orang kaya yang dompetnya kau curi. Kau Jack Dawkins, yang sedang mengharap sejumput maaf dan mejengkal tanah London untuk tempatmu bebas.”

Bahu Jack bergetar.

“Kau tahu, Oliver. Kau tahu pasti bagaimana aku iri ketika Mr. Brownlow menjemputmu, menyelamatkanmu. Aku iri, kau mendapat tempat yang layak, yang memang di sanalah harusnya tempatmu berada. Di rumah yang segalanya bisa mengenyangkanmu dan menyenangkanmu.”

Kepala Jack menunduk dan ia mulai menangis seperti anak kecil. “Lalu, aku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa, dan tidak pernah berhak untuk mendapat apa yang kau dapat.”

Lucu kelihatannya. Melihat seorang lelaki yang beranjak dewasa menangis tersedu-sedu. Oliver memahami beberapa hal sepanjang ia tinggal di bawah lindungan Mr. Bronwlow. Ia menemukan keheningkan menentramkan ketika dirinya tenggelam di tumpukan buku milik Mr. Brownlow.

Di sana, ia mempelajari banyak hal. Salah satu yang ia pahami, bahwa hidup tak semudah apa yang dirangkai dalam buku. Hidup lebih kompleks dan berat dari yang dituang penulis lewat tulisannya. Lebih nyata dengan segunung penderitaan dan selangit harapan. Namun, melalui halaman-halaman lapuk itu, Oliver mendapat sesuatu yang lebih berarti. Momentum yang tak tersapu oleh kuas apa pun. Memontum itu begitu sederhana, kecil, tapi menebar hangat bagai perapian di musim dingin.

Memontum itu, kala ia dan Mr. Brownlow duduk di halaman belakang di bawah senja yang hening. Senyap detik selepas Fagin mengatakan bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki terhebat di dunia sambil tersenyum lembut.

Juga momen ini, ketika Jack Dawkins menelungkup di atas meja, tersedu-sedu. Oliver merasa, ia tak melihat lelaki yang sedang menangis. Melainkan lelaki yang perlahan melepas kelelahan akan beban dosa masa lalunya.

Jack Dawkins memaafkan dirinya.

.

[1] Saffron Hill; tempat tinggal Fagin, yang digambarkan Charles Dickens sebagai London’s black market, yang sekarang berubah menjadi a thriving commercial district with very little crime.

[2] Pentonville; tempat tinggal Mr. Brownlow,  a higher class neighborhood.  Fakta lucunya—trangisnya—, berkebalikan dengan nasib Saffron Hill, Pentonville kini menjadi an underprivileged inner city district with a very high unemployment rate. X,D Aku baru nemu fakta ini di satu website, jadi belum terbukti kebenarannya /sesat/

[3] Merujuk pada The Poor Law Amendment Act 1834; yang salah satu isinya, sumbangan amal untuk warga kelas bawah hanya boleh disalurkan lewat rumah sosial (workhouse). Menyebabkan banyak penyelewengan, karena bantuan amal hanya dirasakan para pemegang kekuasaan. PLAA lahir setelah banyaknya industri2 kecil yang bangkrut dan meningkatnya kesenjangan sosial yang diakibatkan revolusi industri.

a/n:

  • Detail setting di London digambarkan Dickens sama persis dengan keadaan di jamannya. Dickens mengenali jalan-jalannya, karena dia sering lewat di sekitar sana, seperti Clerkenwell. Kebayang ga sih, Dickens menyusuri tempat-tempat itu sambil memikirkan plot kisah hidup Oliver Twist ><
  • Udah lama banget tertarik sama Oliver, tapi baru kemarin kesampean nonton filmnya yang versi 2005. Ada film musikalnya(1968) juga ternyata, unyuk ;w; tapi ga tahu di mana download full videonya. Mencoba menjamah e-book b.inggrisnya dan langsung angkat kaki. Tapi kalau ditengok2, banyak dialog yang di film, diambil dari novel aslinya. Meski banyak juga tokoh sampingan yang ga kesebut di film.
  • Aku jatuh hati sama keunyuan Oliver Twist, tapi belum bisa dibilang kenal banget sama dia. But i love him! I love him, so much! ;w; bcos, im unyuk boys protector squad, bye!

a/n/n:

  • Aku suka banget sama children’s literature dan historical romance/non-romance. Tapi masih cetek banget bacaannya. Kalau ada yang punya novel favorit genre ini, salurkan ke aku lewat kolom komen, yak J
Advertisements

8 thoughts on “Oliver and Jack

  1. fatiiiiim ya ampun aku suka banget sama cerita iniiii and yes, aku selalu punya soft spot buat children literature ginii. sumpah aku tuh yang: HAH SUMPAH ADA CERITA OLIVER TWIST. gapake mikir langsung buka terus langsung bacaa. daaaaan aku suka bahasanya hehe, tipikal novel terjemahan jadi aku nyaman bacanya. suka banget banget. sama karakter-karakternya, sama penggambaran suasana london-nya, sama nilai moralnya juga yang kamu selipin. aslik deh aku yang terenyuh gitu pas si jack dawkins tersedu-sedu waktu terakhir-terakhir :”) pokoknya aku suka. banget. sampe sejuta kali.

    anw tadi kayaknya kamu ada typo deh haha. harusnya momentum, tapi kamu ngetiknya memontum or smth like that. ada di agak tengah-tengah mau ke akhir (gabisa kucopas bikos aku komen lewat hape heuheu.) terus terus setauku sih yha kalo nama jalan as if: Blabla Street, nah street-nya itu nggak perlu diitalic, soalnya kan nama tempat ehe. dah itu aja koreksi redaksionalnya😆 keep writing ya fatiiim! 😸😸

    Like

    1. Kak Fik bikin jantungan, kukira siapa dan ada apa, D: D: D: coz baru dpt notif di email tulisan baru dipublish.
      Terharu, Kak Fik seneng :’)))) Apanya yg terjemahan, ini mungkin kebawa tokohnya. (terima kasih buat Mbah Dickens yg inspiring bnget)
      Idenya keluar pas nonton movienya, terus ada dialog dari Fagin “They’re as close as Cain and Abel.” walau diragukan, tp aku suka interaksi mrk XD

      Ah, jadi ga perlu miring, Kak? Aku emang sempet ragu. Juga kalau ada kata2 avenue atau city, ga perlu diitalic ya. Wah, iya. Aku nempelnya malah memo, jadi memontum x,D

      btw, aku pinjem A Tale of two Cities dari perpus, terjemahan, tapi nyerah sama bahasanya. Dan plotnya agak aneh, sih. Belum sempet lihat yg versi b.ingnya. Kalau Kak Fik pernah baca tulisan Dickens ga?

      Like

    2. pernaaaah gara-gara dapet tugas bahasa sih hehe. biasa suruh nyari ide cerita dll dkk dsb wkwkkwk.

      iyaa gaperlu miring. soalnya itu nunjukin nama tempat ehehe.

      Like

    3. Judulnya apa, Kak?
      Ada typo kelebihan kata juga sebenernya, tapi ga ketangkep Kak Fika hehe /berasajadipenipu

      Aku sendiri malah kurang puas sama setting2nya, khususnya di part kafe. Menurut Kak Fika itu perlu ga? Sebenernya ada blog2 yg ngejelasin setting2 yg dipake Dickens lebih rinci, tapi aku gagal paham. Jadi ini cuma yg aku paham aja. Susah juga nulis abad jaman baheula, sampe cari jenis minuman yg ada, dari kalangan apa aja yg bisa mengosumsi. Suka tapi cari literatisinya itu loh, aku lemah :’|

      Like

  2. Kak Cherry ❤ nabil suka ini ❤ bener kata kafikaa, bahasanya kaya novel-novel terjemahan gitu asik banget. nabil gatau oliver twist itu apaan, cuma setelah baca ini nabil jadi tau gambarannya kalau film ini banyak nilai moralnya :)))

    keep writing yhaa kak cherry ❤

    (maaf komennya ga mutu) (nabil suka bingung harus nulis apa)

    Like

    1. Aw, Nabil. Ga kok, enggak. Rasa terjemahannya karena asli kebawa lakon sama settingny aja X,D
      Iyaaa, Oliver Twist ini udah macem dongeng anak2, sangking tua usia ceritanya, sekitar tahun 1835-an. Ceritanya tragis ;w; aku sendiri baru sempet nonton filmnya kok.

      Makasih udah komen, Nabil <333

      Like

  3. Halo kak! Sebenernya aku udah mau baca ini dari lama gara-gara Oliver Twist hehehe.

    Dulu sempet baca novel ini jaman smp (yang inggris versi short story), terus aku agak lupa-lupa sih hehe, berniat baca full novelnya belom jadi-jadi 😦 anyway, aku suka bahasanya di sini, terus pesannya, agak berat sih IMO, tapi tetep enak buat di baca ♡ Nice story 👍

    Last, keep making something kak! 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s