[Writing Prompt] Problematikanya

Prompt: Mudik Lebaran by La Princesa

Lebaran cuma tiga minggu berselang dari sekarang, Tarmi hanya bisa mengurut keningnya sembari memikirkan kondisi finansial keluarganya yang pas-pasan.

.

Ingin sekali ia mengeluh, pada Tuhan yang katanya Maha Pemurah, pada suaminya yang cuma karyawan swasta di ibu kota, pada anak-anaknya yang selalu menuntut diisi perutnya, pada siapa pun yang mau mendengar. Tapi anak-anaknya mengerti apa? Mengeluh pada suaminya yang ada malah bertengkar. “Mbok pikir aku ora mumet nyambut gawe, malah mbok tambahi sambatanmu!,1” Tarmi sudah bisa membayangkan suaminya akan menjawab demikian. Mau mengeluh pada Tuhan … ah, sudahlah.

Maka Tarmi cuma bisa berkeluh kesah ke Bu Romlah, tetangga samping rumahnya yang baru ditinggal kabur suaminya. Tapi finansial Bu Romlah sebelas-dua belas dengan dirinya, jadi mengeluh sampai berbusa pun tak ada gunanya.

Lebaran cuma tiga minggu berselang dari sekarang, rencana mudik keluarga kecilnya ke kampung halaman bahkan hanya kurang dua minggu lagi. Tapi Tarmi belum dapat pinjaman uang untuk dibawa pulang.

Mau pinjam ke koperasi kantor suaminya, pinjaman dua bulan yang lalu saja masih menunggak cicilan, mana mungkin ia dipinjami lagi. Mau pinjam ke tetangga, pinjam ke siapa? Mau pinjam ke bank, lebih mustahil lagi. Satu-satunya jalan keluar, mungkin, dengan menggadaikan barang berharga yang mereka miliki. Tapi apa? Jelas, sepeda motor milik suaminya tak bisa menjadi solusi.

Mau menggadaikan televisi? Mana cukup untuk membeli baju baru dan oleh-oleh? Belum lagi beli perhiasan dan emas-emasan. O, sumpah, Tarmi iri sekali pada Mbak Rika yang pamer cincin dan gelang barunya saat arisan PKK. Kapan giliran Tarmi buat pamer—pada Mbak Rika, pada ibu-ibu PKK yang lain, juga pada tetangganya di kampung halaman.

Kalau boleh jujur, Tarmi bingung harus merasa bagaimana kalau musim lebaran sudah tiba seperti sekarang. Di satu sisi, ia menanti-nanti momen pulang ke kampung halaman, melepas rindu dengan keluarga dan sanak saudara, mengenyam kebahagiaan terbebas dari impitan realitas sekaligus berada di desa yang notabene lebih tenang dan tidak sesak seperti ibu kota.

Tapi di sisi lain, lebaran adalah saat-saat di mana ia harus siap menanggung rasa malu paling besar. Bagaimana tidak, ia sering dibanding-bandingkan dengan Reni, anak bungsu Bu Dimyati yang suaminya juga bekerja di ibu kota. Pernah Reni pulang membawa oleh-oleh dan satu koper baju baru. Lebaran tahun lalu malah Reni membelikan orangtuanya sepeda motor matic. Bukan tidak mungkin lebaran tahun ini Reni membawa sekarung perhiasan.

Mau ditaruh di mana harga diri keluarganya, orangtuanya, suaminya dan yang terpenting dirinya? Tarmi malu dipandang sebelah mata oleh tetangganya di kampung jika mereka tahu bahwa demi membeli baju lebaran baru untuk anak-anaknya saja, ia harus mengumpulkan pinjaman dari sini-sana. Ia ingin tetangganya di kampung tahu kalau jerih payahnya merantau di ibu kota membawa hasil yang sepadan.

Lebaran cuma tiga minggu berselang dari sekarang, rencana mudik keluarga kecilnya ke kampung halaman bahkan hanya kurang dua minggu lagi. Tarmi hanya bisa mengurut kening memikirkan rezeki nomplok yang tak kunjung datang.

“Bu … sangu.”

Lamunan pagi Tarmi dicerabut paksa dari benaknya saat putra bungsunya, yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar, berdiri di hadapannya dengan tangan terulur. Tio sudah rapi jali mengenakan seragam merah putih lungsuran kakaknya, tapi tak melewatkan ritual paginya meminta uang saku ke ibunya. Tarmi mendesah napas panjang, duit di dompetnya hanya bersisa beberapa keping uang kelinting. Putra bungsunya ini tak akan segan merengek dan mengancam bolos sekolah kalau belum diberi uang saku.

Maka Tarmi segera bangkit menuju rumah Mbak Rika, sebelumnya menyuruh Tio supaya menunggu sampai dia kembali.

“Mbak Rika, aku mau minjem duit ada?” Tarmi masuk tanpa malu, tanpa permisi dan tanpa mengucap salam sebelumnya seolah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa. Sang empunya rumah muncul tergopoh-gopoh setelahnya, cerah ceria seperti biasa. Kedua tangannya kotor adonan kue yang tadi dia uleni.

“Mbak, minjem duit, ada?” Tarmi mengulang hajatnya datang ke sana, tanpa sungkan atau malu karena hutangnya sudah menumpuk. Sementara Mbak Rika yang kelewat tidak tega mau menolak cuma bisa tersenyum, lagi-lagi mengalah walau mungkin kekinya sudah di ubun-ubun. “Ambil aja, Bu, di atas kulkas. Ndak tahu ada berapa, tangan saya kotor.”

Lalu tanpa menunggu jawaban Tarmi, Mbak Rika sudah kembali ke dapur, mengurus adonan kuenya yang harus segera dikerjakan.

Di atas kulkas, dua lembar rupiah tergeletak tak bertuan. Yang satu berwarna biru pecahan lima puluh ribu, yang satu lagi berwarna cokelat pecahan lima ribu. Nominal lima ribu tentu cukup untuk uang saku Tio, tapi Tarmi gelap mata. Kebutuhannya terlalu mendesak sampai ia lupa mana benar, mana salah.

“Mbak Rika, aku minjem lima ribu, ya?”

Seandainya Tuhan tidak Maha Pemurah terhadap dirinya, Tarmi tetap yakin Tuhan Maha Pemaaf.

.

-end

.

  1. Mbok pikir aku ora mumet nyambut gawe, malah mbok tambahi sambatanmu! — Kamu pikir aku nggak pusing kerja, malah kamu tambahin keluhanmu.
  2. common disclaimer applied: the story written is pure fictional. semoga pesan ceritanya tersampaikan, btw.
  3. HO YEAH, lunas tiga tugas. ❤
Advertisements

8 thoughts on “[Writing Prompt] Problematikanya

  1. Sukaaaa banget. Keren deskripsinya, ya dan ya menjelang Ramadhan juga ya ini temanya ngena banget. Aku tak tahu harus komen apa lagi, ini simple tapi sukaaaaa

    Like

  2. Aku kangen orificnya kakput. Ketemu ini jadi buru2 pengen baca. Dan bagus kak. Kehidupan ibuk2 rumah tangga emang banyak polemiknya :^

    Seandainya Tuhan tidak Maha Pemurah terhadap dirinya, Tarmi tetap yakin Tuhan Maha Pemaaf. >> kalimat ini jadi pembenaran sama Tarmi malah bikin aku makin sedih :^

    Keep writing ya kakput! Congratz akhirnya promptnya lunas 😀

    Like

  3. ini dekat banget dengan kehidupan sehari-hari. sedih asli aku mah, mana kalimat terakhirnya itu aaaaak aku pun berharap demikian, tapi ya mana bisa sih? tindakan tarmi itu tetep aja salah 😦 aduh baper nih. btw selamat ya put akhirnya lunas juga utangnya ehehehehehe.

    Like

  4. wow. penuh makna, dalem dan dekat. dan aku suka rasa2 semi suspensenya? eh? entahlah pokoknya yg ga tersurat bgt gitu endingnya. ehe
    *jadi aku ini tipikal reviewer singkat padat apalagi kalo di tulisan senpai *mau jadi sider ga enak padahal nulis komen aja ga sanggup nih liat aja.
    aku baca reviewan kakak di tempat vana barusan dan kok ya kebetulan ada update an juga ya langsunglah saya cabut kemari. lebih enak belajar dari contoh lgsg daripada dari teori ahaha. duh hebat udah jadi tiga, aku satu aja gak kelar2 -.-
    keep writing!

    Like

  5. hai kak Put, sebelum komen aku mau kenalan dulu hehe ❤ kak Put bisa panggil aku Ifa, dari 02 line.
    suka sukaaaaa banget sama orific-nya kak put ❤ timingnya juga pas lagi, kan mau bulan puasa jadinya problematikanya kaya si tarmi itulah, mau beli ini itu tapi kantong gak mengizinkan wkwk
    oh iya kak, di paragraf terakhir itu Tarmi ngambil 50rb nya rika kah? maafkeun kalau salah. Keep writing kakPut, ditunggu selalu ori ficnya ❤

    Like

  6. mau ngeritwit komennya nisa, hahaha. iyaaa betul, ini deket banget sama kehidupan sehari-hari. mba tarmi, nyebut mba, nyebut huhu. tapi yha gimana sih kebayang tuh pasti antara ambil, engga, ambil, engga. kalo engga, dia punya segudang sesuatu yang butuh uang sbg penyelesaian. kalo ambil, mainannya udah dosa sih hadeuuuuh 😦 KUSUKA BANGETTT BIKOS INI SLICE OF LIFE-NYA DAPEEEEET HUHU. suka suka sukaaaa sampe sejuta kali. anw yeeeey! akhirnya utangnya lunas kak ehe. gausa takut diteror lagi entar wkwkwkk xD keep writing kakpuut ❤ ❤ ❤

    Like

  7. akkkk kak put, lokal dan manusiawi sekali moral value-nyaaaaa gimana aku nggak makin ngefans sama kakak? huehuehuehuehue.

    emang manusia itu kalo udah kepepet gelap mata, ya. apa pun deh dilakuin biar dapet yang dimau. apalagi ditambah juga sama keserakahan di sini, keinginan buat pamer, iri-iri hati. mbak tarminya udah gelap banget itu matanya. inget, mbak, dosaaaa. katanya lagi puasa, kok malah nyuri? 😦 dan betapa ironis di sini kakak singgung masalah pulang kampung terus keinginan mbak tarmi bersaing sama mbak reni. aku jadi mikir kalau… iya, ya, di indonesia itu mudik (bagi beberapa orang) dijadikan bahan “yuk pulang dan tunjukin ke tetangga di kampung apa yang kita punya” atau “si a kemarin bawa ini pulang, tahun ini saya harus bawa lebih biar dikira lebih sukses!” alih-alih ajang silaturahmi dan saling membantu seperti yang seharusnya…..

    anyway, kak put, aku mau nanya. itu paragraf yang: “Mbak, minjem duit, ada?” Tarmi mengulang hajatnya datang ke sana, tanpa sungkan atau malu karena hutangnya sudah menumpuk. Sementara Mbak Rika yang kelewat tidak tega mau menolak cuma bisa tersenyum, lagi-lagi mengalah walau mungkin kekinya sudah di ubun-ubun. “Ambil aja, Bu, di atas kulkas. Ndak tahu ada berapa, tangan saya kotor.” apa nggak lebih enak dijadiin dua aja. misalkan sementaranya dihilangkan, mulai dari mbak rika-nya dijadikan alinea baru. soalnya kalau begitu agak keliatan bertumpuk gitu….. tapi kayaknya cuma aku aja, deh. hehehe. maaf ya, kak put, kalau menyinggung.

    last but not least, semangat terus, kak put tersayaaaaang! semangat puasanya juga hehehe supaya nanti lebaran benar-benar mencapai kemenangan, nggak kayak mbak tarmi di atas, hehehe. aku sayang kakak! ❤

    Like

  8. kak put, haii sebelumnya…

    aku pingin ngangguk mulu dari awal baca…mesti ketemu aja yg beginian di real life, dan kaput ngemasnya pas banget, sederhana tapi ngena…apalagi settingnya rencana mudik ramadhan, makin nendang slice of life nya…

    dan …yha, paragraf akhir bikin kugeleng2 kepala sekalian mbatin ‘tarmi…inget dosa…’

    anyway, congrats atas lunasnya prompt :))…yokshi, kaput orificnya nendang! nagih!

    semangat buat nulisnya kaput! aku suka sekalee sama yg ini!!! :)) XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s