[Writing Prompt] Memoar

joonmyeon

by doremigirl

prompt:  summer dress

.

They all say that nothing ever changes

.

COTTAGE yang terletak di bibir pantai itu terlihat ringkih namun cantik. Atap merahnya seakan menemani sang surya yang hendak menunduk malu. Air laut menabrak bebatuan di bawah bangunan itu, tak lelah mengajak main tiap harinya.

Tak jauh dari cottage tersebut, seorang lelaki tengah sibuk menelisik sang mentari. Berbahasa lewat tatapan mata sambil lalu menahan beratnya tas ransel. Celana jeans-nya sedikit basah akibat bercumbu dengan laut.

Setelah melalui undakan cukup panjang untuk sampai di depan pintu cottage, ia menghela napas. Ia harus melewati serangkaian naik-turun bis sebelumnya. Tenaganya sudah terkuras habis bermenit-menit yang lalu.

Hanya perabot kayu yang menyambutnya saat masuk. Sambutan yang dingin sebenarnya. Hatinya menguncup, ia sedikit berharap ada kue dan teh dingin. Perutnya sudah mengaum tak terima sejak tadi.

Iseng ia membuka lemari. Matanya mendadak nanar, nafsu makannya menguap secara instan saat menemukan kejutan di dalamnya.

Memoar. Ada sehelai dress musim panas berwarna jingga tergantung di sana. Bermotif kelopak bunga warna putih, kainnya ringan dan halus. Jemarinya meraih gantungan itu lalu mendekatkannya ke sinus. Lemari itu memang disusupi kamper, tapi penciumannya masih mendapati aroma lembut di sana.

Di bawah, ia menemukan hal lain yang membuatnya menyesali keputusannya untuk kembali ke tempat ini. Sebuah amplop putih dengan tulisan ramping. Kertas malang yang ditinggalkan sampai ujungnya menguning. Ia masih bisa melihat jelas namanya tertera di tengah-tengah amplop tersebut.

Untuk Kim Joonmyeon.

 

Ya Tuhan, mengapa ia tak bisa menahan kuriositasnya untuk membuka amplop itu? Ini akan menghancurkan pertahanannya. Tindakan masokis terekstrem yang pernah dilakukan Joonmyeon. Kepala serta hatinya tak sinkron. Secara tak sadar tangannya sudah membuka amplop itu lalu mulai membaca.

Dear, Joonmyeon.

Mungkin terima kasih adalah satu hal yang cukup menggambarkan perasaanku selama ini. Terima kasih untuk segala kebahagiaan yang membekas di hatiku. Semua peluk, senyum, dan kenyamanan. Aku tidak bisa meminta lebih.

Cottage ini indah. Kau memang juaranya memilih tempat yang bagus. Dress yang kaupilihkan (atau pegawai toko yang melakukannya?) juga bagus, dan pas untukku. Tepuk tangan, kau berhasil.

Kautahu, Joonmyeon? Sebenarnya aku bukan gadis yang suka berfoya-foya seperti ini. Alih-alih cottage, impianku adalah tinggal di apartemen nyaman di mana kita bisa memulai semuanya dari nol. Aku tidak mengeluh. Aku hanya ingin kautahu aku tidak selalu mengharapkan semua hal mewah seperti ini.

Aku terkadang meras,  apakah aku sudah memberi yang terbaik untukmu? Selama ini kau selalu menyediakan segalanya untukku. Tapi apakah segalanya cukup untukmu?

 

Pada paragraf ini Joonmyeon bergeming. Sesuatu seperti memenuhi paru-parunya. Bermenit-menit ia menjawab pertanyaan gadis itu berkali-kali dalam diam. Seakan dengan melakukannya sang gadis bisa mendadak muncul di hadapannya. Lebih dari cukup, malah.

Jangan emosional dulu, Joonmyeon, begitu bunyi tulisan selanjutnya. Joonmyeon seperti buku yang sudah ditamatkan sang gadis. Seperti cenayang ia meramalkan ekspresi Joonmyeon. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan membaca.

Aku takut aku tidak pantas untukmu. Jangan marah! Kau memang tak jarang melontarkan kata tidak untuk hal ini. Perasaanku tetap tidak terelakkan. Ayo, sekali-kali kita pergi ke luar dengan hanya membawa satu helai baju, lalu pergi ke tempat lain. Kupikir, kau harus keluar dari zona nyamanmu. Kerja di kantor juga melelahkan, bukankah begitu? Aku ingin kautahu duniaku, sama seperti aku memahami duniamu.

Biar begitu, selamat ulang tahun, Joonmyeon! Terima kasih untuk segalanya. Rencananya aku tidak mau membuat surat ini terasa biasa tapi yang ada aku malah meracau. Hanya kado kecil ini yang bisa kuberikan padamu. Jangan lupa bahagia, Joonmyeon. Selamat bertambah tua!

With love,

Lee Mari

p.s: aku akan pakai dress itu hari ini supaya kau senang. Kau harus bersyukur karena ini kesempatan yang amat jarang (ini strategimu supaya aku lebih perempuan, kan? Menyogokku dengan dress warna kesukaanku?)

Hening bermain-main dengan pikiran Joonmyeon. Tiga tahun yang lalu, setelah membaca surat ini Joonmyeon menghadiahi sang gadis dengan peluk dan cium. Jam tangan hadiahnya sudah melingkar di pergelangan tangan. Mari berada di meja makan, mengaduk teh. Surai hitamnya serasi dengan terusan jingga. Sosoknya ditempa mentari. Cantik. Joonmyeon tidak butuh apa-apa lagi. Pagi itu cottage penuh dengan tawa.

Tanpa sadar bulir-bulir air mata membasahi pipi. Dasar masokis, cibir kepalanya. Kekosongan itu terasa sangat jelas di hatinya meski sudah tahunan sudah ia melarikan diri dari kenyataan. Ia butuh presensi Lee Mari dalam hidupnya, dan jelas Joonmyeon sudah melakukan tindakan super idiot karena membiarkan sang gadis bebas.

Bahkan keputusannya untuk menjadi seorang backpacker berdasar pada usulan gila Mari.

Selama perjalanan, ia sudah mencoba menjalani hidup layaknya lelaki normal. Bertemu dengan gadis lain, mengajaknya berkencan, bergandengan tangan; namun rasanya tidak sama. Hanya Mari yang bisa mengisi spasi di antara jemarinya.

Joonmyeon baru sadar, alasannya kembali ke cottage ini adalah karena ia rindu Mari. Ia rindu keheningan yang bercampur dengan bahagia saat bersamanya. Dulu, Mari selalu siap di pintu saat ia pulang. Sekarang yang menyambut Joonmyeon hanyalah dress musim panas jingga favorit Mari, serta sepucuk surat ulang tahun terakhir Joonmyeon darinya.

Ia bukanlah tipikal lelaki yang suka mengasihani dirinya sendiri, tapi kali ini ia tak bisa menahan desakan itu.

22 Mei. Ia ingin setidaknya Mari ada di hadapannya saat ini lalu mengucapkan satu kalimat. Frasa yang membuatnya membumbung di udara. Ia tak butuh selebrasi besar-besaran, ia hanya butuh ucapan selamat ulang tahun dari Mari.

Joonmyeon menangis semalaman seraya memeluk satu-satunya peninggalan sang gadis. Masih berharap Mari akan kembali dan melengkapi hidupnya yang nyaris rusak.

Kalau waktu bisa diputar Joonmyeon akan menggunakannya untuk menahan Mari. Mengikuti kemauan gadis itu untuk melepaskan segalanya dan berpetualang mencoba hal yang baru. Mengenal dunianya. Joonmyeon tiga tahun yang lalu terlalu egois. Berjam-jam terakhir Joonmyeon hanya mampu menyumpahi dirinya sebelum akhirnya tertidur di lantai. Tubuhnya ngilu, tapi separuh hatinya tak henti menggemakan sederet pesan Mari pada akhir surat.

Jangan lupa bahagia, Joonmyeon.

Bias cahaya jingga mulai menghilang. Joonmyeon mengingat kembali siluet Mari dengan tas ranselnya pada kali terakhir mereka bertemu. Wajahnya teduh setelah mengucapkan inginnya untuk bebas dan menjelajahi dunia.

“Mungkin kita bisa bertemu pada saat perjalanan suatu saat, Joonmyeon. Siapa tahu?”

Siapa tahu. Ia mengejar kemungkinan itu tiada henti. Untuk saat ini, ia membiarkan penyesalan menyerap kesadaran sampai akhirnya ia sadar ia harus berhenti. Jika Mari bahagia dengan pilihannya, mengapa ia tak bisa melepaskan? Ia tak boleh bebal dengan melabeli diri sendiri sebagai satu-satunya sumber bahagia sang gadis. Karena jika diartikan sempit seperti itu, baik Joonmyeon atau Mari sama-sama akan menyakiti diri sendiri. Hubungan mereka juga makin lama terasa makin hambar.

“Kita memang tidak bisa terus seperti ini, Joonmyeon. Aku terus memikirkannya, dan kurasa kita memang harus saling melepaskan.”

Lelaki itu membiarkan tangisannya terdengar makin sendu malam itu. Ia tak ubahnya seperti burung yang dipatahkan sayapnya berkali-kali. Sakit. Meski demikian, ia paham ia akan sembuh. Semua orang tahu waktu adalah penyembuh yang baik.

Ia kini sadar maksud Mari sebernarnya. Mereka memang harus menyelamatkan diri dari mimpi yang membuai, kembali pada realita. Mari sadar terlebih dahulu bahwa mereka akan saling membunuh identitas jika terus membohongi diri sendiri.

Joonmyeon tahu selama mereka berdua bahagia, harusnya perpisahan ini tidak berarti apa-apa.

—fin.

Advertisements

3 thoughts on “[Writing Prompt] Memoar

  1. hai kak x))
    lemme introduce myself, my name is Ifa from 02’l.
    fiksinya bagus kak, joonmyeon-nya mungkin rada flashbadk gitu ya? dapet banget feelnya serasa pengen lari ke cottage gitu terus meluk bang suho xD
    Kak, di kalimat ‘Aku terkadang meras’ itu maksudnya ‘aku terkadang merasa’, kah?
    by the way keep writing kak ❤

    Like

  2. veliiiiii 😀 sumpah masih seneng soalnya kamu mutusin ikutan writing prompt ws hehehe, anw … ish aku mah paling gabisa kalo udah yang hubungannya sama memori-memori masa lalu gini, terus mana isi suratnya juga … ah tau ah. zbl. (lagian junmyeon kamuh jangan masokis-masokis amat atuh ah, udah tau sedih masih dibaca juga heuheu.) kusukaaaaa gimana kamu masukin potongan surat ke paragraf ceritanya veeel, jadi nggak melulu isi surat dimasukin gitu ke tulisan. feels lebih nyelekit aja menurutku hahaha, pokoknya favorit banget bagian itu deh 😀

    anw veliii, kusetuju sama komen kakput. feelnya kaya bukan tulisan veli yang biasanya kubaca hehe. asa beda gitu sama tulisanmu yang at the drop of a hat ehe. lagi agak webe kah vel pas ngerjainnya? but its olrait, ehe. nanti pasti ilang kok hihi. kujuga dulu ngalamin yang kaya gini pas baru selesai skripsi, astaga tulisanku kaya apaan tau :” pokoknya pokoknya pokoknya semangat terus yaaaa vel, ehe. keep writing yaaaaw ❤ ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s