[Writing Prompt] Bapak yang Beraroma Tanah

Bapak yang Beraroma Tanah.jpg

Aroma tanah.

by Primrose Deen

“Ayah yang penuh tawa. Ayah yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Ayah yang selalu bau keringat, sengatan matahari, dan embun pagi. Pembaca dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam. Orang favoritku di seluruh dunia.” –Winna Efendi

“Pak, Bapak itu memiliki aroma tanah.”

Bapak menyatukan kedua alis tebal yang kini diwariskan kepadaku. “Maksudmu Bapak sudah mau mati?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Bapak memiliki aroma tanah.

Bapak memiliki aroma tanah karena Bapak bagaikan akar tanaman; yang menyokongku dari berbagai sisi agar aku dapat berdiri tegak, berusaha keras tanpa batas meraup rupiah agar aku dapat hidup layak, dan selalu melindungi dan menyembuhkan kala kerasnya dunia membuat sesak.

Bapak yang tak segan berusaha mati-matian. Kendati Bapak orangnya sederhana, tidak kaku, ngoyo, dan kemrungsung seperti kebanyakan orang zaman sekarang, tapi sekali berurusan dengan sesuatu perihal diriku, Bapak menjadikanku nomor satu. Bapak adalah orang yang rela mematahkan sayapnya untukku agar aku dapat terbang ke angkasa. Bapak ingin aku dapat hidup dengan layak, salah satunya adalah menyekolahkanku hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya.

“Bapak memang nggak bisa sering-sering membawamu jalan-jalan ke toko-toko besar. Tapi Bapak janji, Bapak akan memastikan kamu memiliki bekal yang cukup untuk hidup nyaman di masa depan,” Bapak berujar di sela-sela waktu makan siangnya, kala aku mengantarkan rantang berisi nasi, sayur, dan tempe goreng masakan Ibu.

Bapak memiliki aroma tanah.

Bapak memiliki aroma tanah karena Bapak karib dengan lumpur di sawah. Kedua kakinya yang kian mengurus selalu basah. Petakan-petakan yang ia pijak adalah tempat Bapak mencari berkah.

Setiap hari, Bapak melangkahkan kaki kurusnya dari ambang pintu rumah kala fajar singgah di ufuk timur. Bapak tak pernah absen mengantarku ke negeri fantasi sebelum beranjak ke alam mimpi kendati kedua pundaknya lelah lantaran seharian membolak-balik bumi dengan cangkulnya demi sesuap nasi.

Bapak memiliki aroma tanah.

Bapak memiliki aroma tanah karena Bapak seperti butiran tanah di antara jemari kaki, yang dapat terasa dingin atau hangat, mengikuti apa yang terjadi. Bapak adalah orang yang hangat, selalu melindungi. Namun sesekali, Bapak bisa menjadi orang yang dingin sekali, seperti ketika aku pulang larut malam tanpa jeri.

Bapak memiliki aroma tanah.

Bapak memiliki aroma tanah karena Bapak selalu berwajah segar seperti rinai hujan yang membasahi pelataran rumah. Selalu bersikap ramah tamah meski hatinya sedang lemah.

Bapak selalu menjadi penyembuh kala dadanya penuh luka. Luka yang sebagian besar digoreskan oleh tajamnya lisanku, si anak kesayangannya. Bapak selalu menjadi pendengar ketika suara hatinya ingin bercerita. Bapak selalu berusaha sekuat tenaga menjadi bapak terbaik walau tubuhnya digerogoti usia.

Bapak memiliki aroma tanah.

Bapak memiliki aroma tanah karena Bapak tak pernah jemu menyinggungkan keningnya dengan alam semesta. Itu semua demi aku, katanya.

Bapak tak pernah mengistirahatkan kedua telapak tangannya yang terus mengambang di udara kala sepertiga malam menyapa. Bibirnya menggumamkan masa depan, didukung oleh pita suara yang terus bergetar, membisikkan harapan pada Sang Pemilik Semesta.

“Sebenarnya Bapak nggak mau menanyakan ini,” Bapak tiba-tiba berujar kala aku membalik halaman buku perihal rekayasa genetika yang sedang kubaca. “Tapi, Bapak penasaran. Kamu tahu tanggal ulang tahun Bapak, nggak?”

Aku bersitatap dengan Bapak sebentar, lantas kembali membaca kalimat di buku yang tadi terinterupsi oleh pertanyaan Bapak. “Ya tahu, lah, Pak.”

“Tanggal berapa?” Pertanyaan Bapak disertai nada menantang yang sangat kentara.

“27 November, kan?”

Bapak mengatupkan mulutnya rapat-rapat, lantas menatap langit-langit rumah. Dahinya membentuk pola berupa kerutan samar, tampaknya sedang berpikir.

“Ada apa memangnya, Pak?”

“Kamu ingat ulang tahun Bapak, tapi kok nggak pernah nyelametin?”

“Aku nggak suka tiap kali Bapak ulang tahun. Jadi kenapa harus diselametin?”

Pola kerutan samar di dahi Bapak semakin tergambar jelas. “Kenapa nggak suka?”

Bapak memiliki aroma tanah.

Bapak memiliki aroma tanah karena hari ini Bapak sepenuhnya menyatu dengan tanah. Semenjak hari ini, Bapak hanya sosok yang tinggal di pikiran. Senyumnya tinggal bayangan. Tawanya tinggal gaungan. Detik-detik bersamanya tinggal kenangan. Semua kebaikan dan pelajaran darinya menjadi tabungan.

Percakapanku dengan Bapak hari itu kembali menyembul di antara serpihan logika yang mengacau.

“Kenapa nggak suka?”

“Ketika Bapak ulang tahun, umur Bapak memang bertambah, tapi waktu bersamaku akan semakin berkurang, hingga akhirnya tiba-tiba habis begitu saja tanpa terasa.”

Dan aku tak pernah memperhitungkan bahwa habisnya waktu itu adalah hari ini.

Dari dulu, aku tidak pernah tahu kenapa Bapak memiliki aroma tanah. Hari ini alasannya terpresentasikan dengan jelas dan nyata di depan mata; Bapak memiliki aroma tanah karena Bapak berasal dari tanah. Dan tanah akan kembali ke tanah.

Bapak akan berkelana ke tempat yang selama ini menjadi misteri. Kepergiannya tanpa instruksi, terasa bagai ilusi, dan hanya menyisakan memori. Jika aku beruntung, kami akan bersua di mimpi malam ini.

end.

  1. Papaku? Orangnya sangaaat humoris. Logikanya super. Sangat dewasa. Konsisten. My role model.
  2. Papaku masih sehat kendati sudah memasuki usia senja.
  3. Papa is the one who thinks that I resembles an egg. HOW CAN.
  4. Terinspirasi waktu hujan di Senin pagi, Papa rela mengantar ke Solo naik motor karena aku ada kuliah pagi T_T
Advertisements

12 thoughts on “[Writing Prompt] Bapak yang Beraroma Tanah

  1. Berbicara ttg ayah emang gak ada habisnya… cowok paling misterius yang pernah kukenal :^^^^^^^
    Kalimatnya bagus2 dan rapi kak, suka!
    Keep writing ya kak 😀

    Like

  2. Kok ini bikin mewek ya.. 😥
    Ya benar, topik tentang ayah memang nggak akan pernah ada habisnya dan waktu kita seperti selalu kurang untuk membahas tentang beliau.
    Simpel, dan mengena di hati.

    Like

  3. Ariiiii😢😢udah lah kalo topik tentang ayah emang selalu bikin aku nyes banget dan terenyuh dan bener kata mala. Ngomongin ayah emang ngga pernah abis topiknya. Aku suka penyampaiannya, manis banget dan feelingnya dapet. Keep writing ariii!❤

    Like

  4. Hai, Ari 🙂
    Aku suka tema yang kamu angkat (ngena banget, apalagi kayaknya bagi anak perempuan, ayah adalah pahlawan). Aku suka analoginya, juga rima yang kamu gunakan pas banget. Terus menulis, ya 🙂

    Like

  5. Aku ga tahu kenapa, hatiku lebih cepet trenyuh tiap denger kata bapak daripada ibu. Tiap subuh, habis jamaahan di masjid, bapakku berangkat ke terminal buat kerja ke semarang pake sepedanya. Lihat punggung bapak, itu udah cukup bikin aku netesin air mata. Beliau ga selalu memahamiku, tapi selalu ingin yg terbaik untukku. Orang yg mecintaiku tanpa alasan dan imbalan.
    Kisah ini indah bnget, penggambaran sosok bapaknya pas skali :’)

    Liked by 2 people

  6. salahkan aku karna baca ini di minggu pagi, dua minggu belum pulang ke rumah, lagi hujan.

    yaampun, aku mewek, kak prim 😦 ((iyha, vana orangnya memang gampang nangis)) apalagi, bapak di gambaran ini hampir sama kaya bapak aku di rumah yang notabenenya seorang petani. engga ada deskripsi yang lebih indah lagi dari ini, kak prim. udah ah, itu aja. aku suka penyampaian kak prim seperti biasaa. semangat yaa, kak prim 🙂 keep writing, kak ❤

    Like

  7. beneran deh, aku sesek tau baca ini :’) sampe nangis hahaha.

    Oya yg soal ulang tahun itu sama banget kayak keluarga aku, satu sama lain nggak pernah ngucapin selamat hehe, nggak tahu alasannya… mungkin aneh kalo tb2 ngucapin hehe:’) sama kayak bapak aku, aku nggak pernah ngucapin selamat ulang tahun atau gimana dan kadang sedih jg sih tp ya gpp /hahacurhatmaafya.

    pokoknya ini ngena banget hahaha plis gakuat:(

    keep writing 😀

    Like

  8. Hi kak, lama gak baca tulisan kakak, dan ternyata ketemu di sini 🙂

    Hmmm, buat yang ultah, aku tau ultah ayahku, ayahku juga tau ultahku, tapi kita gak pernah ngucapin HAHAHA. Terus buat ceritanya sendiri aku suka, sama pembawaannya, sama genrenya yang bitter/sweet, sama kisahnya sendiri ♥

    Anyway, keep making something kak! 🙂

    Like

  9. Ayah adalah satu-satunya pria yang tidak pernah menyakiti hati anak perempuannya. Ngena banget tulisanmu. Jadi ingat ayahku. Beliau baik sekali.
    Diksi pada tulisanmu variatif. Aku suka banget ^^
    Keep writing ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s