Look Alike

lookalike

by fikeey

And then the boy appeared, bringing back memories of old factory and his parents’ death.

Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika lolongan pengeras suara dari lobi tengah rumah sakit membagi rasa waspada, disusul dengan puluhan derap kaki yang saling berlomba, dan rasa cemas yang dalam sekejap membahana. Owen Griffin ada di dalamnya, dengan tergesa menyampirkan jas dokter yang sudah tak berwarna putih lagi—mengingat seberapa seringnya ledakan tiba-tiba terjadi di beberapa sudut kota setiap hari dan waktunya yang luar biasa singkat untuk sekadar pulang ke rumah dan meluruskan kaki.

Pria di awal 25 itu melompat masuk ke rombongan pertama yang sekaligus diangkut menggunakan truk besar bermuatan lima belas orang. Tiga orang dokter dan sisanya perawat—beberapa adalah relawan dari daerah lain—masing-masing dengan kantong berisi peralatan gawat darurat. Owen menghela napas panjang. Hidupnya selama ini diisi dengan orang-orang yang terluka, sekarat, lalu mati. Tak jarang ia menyaksikan beberapa dari para korban meregang nyawa lalu tak bergerak lagi. Well, katakanlah ia terbiasa karena umurnya dulu baru menginjak delapan saat ayah dan ibunya gugur akibat ledakan.

Dua puluh menit berada di atas bak truk yang bergoyang anarkis dan mengharuskanmu untuk berdiri akhirnya berakhir, dan Owen adalah orang ketiga yang turun untuk kemudian digiring menuju tempat kejadian.

Ledakan yang lumayan gila, pikir Owen sementara debu-debu bekas reruntuhan beterbangan ke sana kemari dan berjatuhan mengotori surai cokelat gelapnya.

Manik hazelnya meneliti jejak cat di mana-mana, lengkap dengan kaleng-kaleng pemadat yang bergulingan di seluruh penjuru ruangan. Pabrik cat. Owen menyimpulkan setelah membaca papan nama yang tergantung menyedihkan di salah satu atap sekat menuju ruangan lain—yang kemudian diketahui sebagai pusat ledakan. Yeah, mungkin seseorang dari pihak lawan menanamnya beberapa hari sebelum ini dan dipasangi penanda waktu atau kontrol jarak jauh. Entahlah. Tak salah bila efek setelahnya bisa seberantakan ini.

“Kau mungkin ingin mengecek ke bagian sini, Dokter? Ada Dokter Bennett dan Dokter Maddox yang sudah mulai bekerja di ruangan berikutnya.”

Owen menoleh dan menemukan Quinn Rowan yang mengenakan seragam perawat bertanya padanya. O, ia mengenalnya sebagai tenaga relawan dari kota yang tak jauh dari sini, berwatak ceria dan cekatan. Ya. Wanita itu pernah menghiburnya ketika Owen gagal menyelamatkan nyawa seorang pekerja tambang yang tiba-tiba diserang.

Mengekor di belakang si perawat, Owen lantas menangkap pemandangan menyakitkan di depannya. Sungguh, tidak ada yang bisa mengoyak ulu hatimu lebih dalam dibandingkan menyaksikan sepasang manusia yang sama-sama tengah meregang nyawa, dibanjiri debu bangunan yang tak kunjung reda, sambil menguatkan pegangan di masing-masing tangan seolah berpesan, “Kita akan bertemu lagi setelah ini.”

Owen berlari ke sisi si pria tua yang kala itu menitikkan air mata pertama dari sudut matanya. Iya. Istrinya telah pergi lebih dulu dibanding dirinya—mungkin beberapa saat lalu—karena kini ia tengah menengadah ke langit-langit pabrik, tak sedikit pun sadar atas kehadiran Owen yang mulai mengeluarkan barang bawaan dari kantong daruratnya.

Napas terakhir si pria hilang secepat bulir pertama air matanya merosot turun dan membuat kubangan mungil di atas lapisan debu yang menutupi lantai. Owen berusaha mati-matian untuk tidak terbawa emosi lagi, ketika si perawat dengan sigap berdiri di sampingnya yang tengah berlutut dan mengusap pelan bahunya—memberikan semangat. Gestur yang sering Owen dapatkan pun berikan kepada sesama tenaga kesehatan.

“Aku akan pergi mengabarkan yang lain supaya tubuh mereka segera dipindahkan, ya?” Suara Quinn Rowan sekali lagi memenuhi indra pendengaran Owen, yang kemudian ia jawab dengan sebuah anggukan pelan. Lantas, pria itu sendirian lagi dengan tugas mencari kalau-kalau masih ada jiwa yang bisa ia selamatkan.

Jas putih yang semula ia bawa-bawa kini telah berpindah tempat, menutupi tubuh si pasangan tua walaupun hanya setengah. Pikirannya seketika melayang kepada ingatan tentang mayat orangtuanya yang juga tergeletak tak jauh darinya yang menderita luka di mana-mana.

Ia masih bernapas, waktu itu, tapi ayah dan ibunya tidak. Ia masih diberi kesempatan hidup, waktu itu, tapi ayah dan ibunya tidak.

Kadang Owen merasa seperti anak tak tahu terima kasih apabila mengingat masa lalunya, jadi ia memasang mental note sendiri untuk memperlakukan korban yang berusia senja sebaik dan semanusiawi mungkin.

Lantas Owen kembali menarik tubuhnya bangkit, menumpukan lengan kanannya yang menyimpan besetan luka-luka lama ke permukaan berdebu untuk membantu. Ia baru akan memutar ke arah sebaliknya ketika mendengar desau kesakitan dari suatu titik.

O, Tuhan kumohon berikan kehidupan pada siapa pun ia.

Pria itu berhenti di depan reruntuhan atap dan potongan meja kayu tempat rintihan kabur tadi berasal. Ada sepasang sandal yang mengintip dari sela patahan, pun sebelah tangan yang tergolek lemah dan menghasilkan gerakan sangat minimal. Susah payah, Owen lantas memulainya dengan menargetkan tumpukan paling atas, bekerja selembut dan secepat mungkin supaya tidak kecurian lagi kali ini.

“Bertahanlah. Sebentar lagi.” Owen merapal di tengah-tengah tarikan napasnya sementara surai kecokelatannya layu helai per helai menutupi dahinya yang berkeringat.

Patahan atap paling besar telah dipindahkan dan kini Owen bisa melihat dengan jelas sebelah lengan si korban yang penuh dengan luka beset dan berdarah di beberapa bagian. Mungkin ia sempat melindungi dirinya dari reruntuhan ketika ledakan ini terjadi. Patahan terbesar kedua selanjutnya berpindah posisi dan hal demikian menyajikan pemandangan akan kenampakan sepasang manik hazel yang memandang penuh iba padanya serta surai kecokelatan yang penuh dengan debu.

“Sebentar. Bertahanlah. Aku akan mengeluarkanmu dari sana, ya?” pinta Owen, kini mencoba mengerahkan tubuhnya untuk menggeser potongan yang menutupi sisa wajah serta tubuh bagian atasnya.

Mom dan Dad ….”

Tuhan … dia hanya anak-anak.

Owen menggeleng pelan, merasa siap dengan ledakan emosi yang sebentar lagi akan mengisi udara di sekitar mereka. Namun nyatanya, si bocah hanya memejamkan kedua matanya, bernapas dalam, dan membiarkan separuh wajahnya basah oleh air mata.

Si bocah menangis dalam diam. Dan Owen ingat meratapi ayah dan ibunya dulu dengan cara demikian.

.


  • pemanasan (lagi) abis webe, hahaha.
  • basically kebikin dari prompt ini dari pinterest.
  • thank you guys for reading!
Advertisements

22 thoughts on “Look Alike

  1. KAKFIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    kak aku gatau mau ngomong apa tapi im brimming with tears now, ini menyentuh banget aku lemah sama genre family dan life dan :’

    aku tadinya mikir, apa ya yang dimaksud look alike-nya, apa kembar?? jadi ini jauh di luar ekspektasiku. emang ya kakfika ya selalu gitu deh aku kan jadi makin naksir tulisan kakak! ide ceritanya jelas ngasih tau kalo kakak gak mainstream, and that means you’ve got yourself a big fan aka me ❤❤❤

    aku juga suka karakternya Owen (dan namanya!!!) terus juga Owen sama Rowan so ❤ly, and I do love the name Rowan bcs I have a character with the same name x) terus Rowan Quinn ceria gitu ya pls stopin aku aku gabisa berenti ngomong lovely hahahaha. huhu mba makasih udah ada di sana mba ❤

    ya pokoknya aku sedih ini well done mengaduk hatiku pagi-pagi aw kakfika you have to know how much this beauty affects me :””)) thank you for writing this❤

    Like

    1. hai hai dhilaaaaa :’> no, no don’t cry dhiiil :<

      ya ampun dhilaa ini juga thanks to prompt yang kutemuin di pinterest hehe. jadi sebenernya prompt aslinya tuh, surgeon mau ngoperasi pasien kan, nah pas sampe meja operasi ternyata si pasien ini adalah versi mudanya si surgeon. nah karna aku gakuat bikin cerita medis kayak gitu jadinya kubelokin aja ke war-themed wkwk (iya kalo urusan ngeles mah fika bisa banget ahahaha) xD

      yaaay! iya i remember rowan-nya dhilaa ehe. kapan-kapan bikin cerita mereka lagi dhil, aku sukaa hihi. mba quinn rowan ini macem siap sedia ada di sampingnya owen haha.

      makasi banyaaaak ya dhilaa udah baca dan komeen hihi. nooo harusnya aku yang makasiiih huhu. thank youuuu ❤

      Like

  2. KAK FIKA PEMANAZAN AJA UDAH KAYA GINI, GIMANA PAS DI GAS? HOHO :)))

    kakfikaaa nabil paling gabisa bikin yang family sad sad ginii, tapi kakfikaa bagus bangeet eksekusinya huhuuu 😦 nabil bingung mau nulis apaan, tapi ini renungan pagi yuhuu ❤

    Like

    1. NABIL!!! HAHAHA OMG DI-GAS KWKWKWK :))))

      ya ampun renungan pagiii hehehe. makasi banyak yaaa nabil udah baca dan komeen! ayo, ayo sok atuh nabil pasti bisa!! ❤ hehehe.

      Like

  3. ka fika, hai…

    “Tuhan…dia hanya anak-anak.”
    lisa merinding pas baca itu…

    ka fika bawa genre apa aja tetep jadinya apik gini…aku sukaa

    ke ending makin greget…kerasa banget heartbreaknya si Owen…dia yg keep calm dari awal ngadepin korban2nya, terus malah ketemu sama si anak kecil ituu…heuheu

    ka fika semangat numpas webenya! kutunggu next storynya!

    Like

    1. lisaaa, haai. hihi.
      heu aku gatau lah kalo misalkan aku ada di posisinya owen musti tetep bersikap profesional walopun keadaannya parah kayak gitu ya allah. ga bakal kuat kayaknya 😦 dokter-dokter di daerah perang gitu kayaknya lebih lelah mental ya huhu.
      omg makasi banyak lisaa. makasi banyak udah baca dan komen yaa. keep writing juga buat kamuuu hihihi 😀

      Liked by 1 person

  4. Huhuhu, aku gak siap kalau harus diterjunkan ke tkp kayak Owen ini 😦 Memang gak banyak harapan yang dibebankan karena kacaunya kerusakan yg timbul, tapi secara emosional terkuras habis, huhuhu. Apalagi liat korban anak2 itu yang T____T mana kehilangan kedua ortu pula #sobs
    Kak, seriusan pemanasan aja udah makjleb kayak gini :”) . Keep writing ya kak 😀

    Like

    1. iya bener banget 😦 ga ngerti lagi deh kalo misal ada di posisinya owen. aku bayangin dokter-dokter yang ada di daerah perang kayaknya lebih lelah mental kali yha, tiap hari liatin orang meregang nyawa 😦
      terima kasih yaa dhila sudah baca dan komeen hihi. keep writing too 😀

      Liked by 1 person

  5. ya Allah fik, pagi-pagi udah bawa cerita begini aku jadi feeling blue :”( tapi asli keren banget ih gemes banget deh. pemanasan aja kayak gini yha?????? huhuhu. seperti biasa deh, fika mah kalo bawain orific western gitu tuh enakeun, gimana ya? beda aja gitu dari yang lain. aku syuuukaaaa!
    terus, terus. sepanjang baca ini tuh kenapa aku bayanginnya perang nazi x yahudi, ini soalnya pas banget kemarin baru nonton the pianist :”( jadinya feelnya dapet. tentang suasananya yang kacau, serangan-serangan yang tak terduga dan memakan banyak korban, nyawa-nyawa melayang, duh :”( pokoke kereeen!!!
    oke deh, kutunggu gasannya ya, ini kan katanya pemanasan? hahaha. keep writing!

    Like

    1. lho nis maafkeun :”( biar nggak feeling blue gimana dong? mau aku kirimin video tireks skateboarding lagi gak nis???? hahaha (lalu ditendang nisa). heu tapi bawain orific lokal aku gabisa nis jatuhnya jadi kayak apaan tau. sepertinya aku harus berguru sama kamu ya nis ehe. waduh 😦 aku kalo udah nonton film yang war-based udah emosional banget gitu nis gatau kenapa. kamu udah nonton the book thief belom? itu beneran lah aku nangis sampe bengek kitu sedih banget ga ngerti lagi.
      gasannya … hahahaha!!! siap qaqa! makasi yaaaa nisaa udah baca sama komeen ehe. keep writing too nisaa 😀

      Like

  6. aku ga kenal owen tapi rasanya pengen ngasih tepukan punggung buat dia :’ yang kuat ya pak dokter :’ huhuhu aku literally abis senyum-senyum bahagia terus tiba-tiba pengen nangis abis baca bagian akhirnya ;_; aku memang payah dan lemah tapi kalo udah ngomongin anak-anak yang kehilangan orang tuanya tuh udah kebawa pengen nangis gitu aja huhu kak fika mengingatkanku akan delisa (loh apa hubungannya) ;_;
    sebelum mungkin aku makin baper aku mau komen-komen dikit tentang bahasa kak fika yang SYUUUPER SEKALI wow deskripsi dan dialognya tuh bagus sekali dan imbang dan aku suka sekali ;_;

    Like

    1. ayo mey kita kasih tepukan di punggung buat owen biar dia kuat :’) sama mey aku pun kalo udah bawa anak-anak terus menderita kayak gitu wah paling ga tahan lah. apalagi kalo lagi nonton berita tentang daerah-daerah yang lagi perang terus ada anak-anaknya di situ wah udahlah mundur perlahan akunya ga kuat nonton 😦
      anw terima kasih banyak yaaa mey udah mampir, baca, dan komeen ^^

      Like

  7. kak fikaaa, aku akhirnya mampir yhaaa 🙂

    yaampun, ini dukanya dalam sekali, kak fik. kak fika nulis dokter, waaa. apalagi dokternya ini punya lukanya sendiri, aku engga sanggup bayangin kehidupan owen gimana selama ini, di satu sisi ia harus nyembuhin luka orang lain di saat ia punya lukanya sendiri. aku selalu salut sama orang-orang yang bisa profesional dengan pekerjaan mereka terlepas dari situasinya mereka gimana 🙂

    dan endingnya. ah, sudahlah. kak fika pemanasan aja gini, gimana kalau udah beneran balik dari webe. semangat terus yaa kak fikaaaaa ❤ ❤ ❤ keep writing, kak ^^

    love,
    vana.

    Like

    1. hai hai ivanaaaa 😀

      samaaa. sumpah deh salut banget sama yang pekerjaannya deket banget sama kehidupan sosial gitu terus tetep bisa profesional walaupun kayaknya keadaannya tuh parah banget gitu huhu. aku juga gabisa bayangin van, pasti dokter-dokter di daerah perang tuh istirahatnya minimal banget ya van 😦 tapi mereka berjasa banget. bangetttt.

      heu. ini tuh banyak banget kurangnya van banyaaak. wong aku nulisnya sambil setengah tidur kayaknya huhu sedih. anw makasih banyaaaak ya vanaa udah mampir, baca, dan komeen hihi. semangat juga buat vana yang mau ujiaan hihi dan keep writing too! ^ ^

      p.s: love from me tooo! hehehehe ❤

      Like

  8. KAK FIKAAAAAAAAAAAAAAAAA aku mau matek bacanya. ih, ya ampun, ga kebayang banget rasanya jadi owen ya ampun…. rasanya kayak ngeliat dirinya sendiri di masa lalu, kayak tenggelam ke masa lalunya, sementara dia masih dituntut buat bersikap profesional. GIMANA NGGAK BAPEEEEEEERRRR.

    sumpah, kak fika, idenya brilian sekali, i can’t say anymore. gimana caranya bisa nulis sebagus kak fikaaaaaa? heuheu. aku bener-bener suka banget sama yang ini, kak fika. sumpah deh. baca ini tuh bikin aku kepikiran anak-anak yang ada di daerah-daerah perang di timur tengah sana, yang harusnya masih main sama temennya terus udah harus bawa-bawa granat buat nyembunyiin dari tentara lawan. atau kena tembakan. atau MALAH yang nembak. sedih banget, sumpah. war bring a lot of things, but happiness isn’t one of them.malah yang ada banyak yang terkorbankan, banyak yang ga bersalah ikut menderita. perang itu cuma produk egoisme sama haus kekuasaannya manusia. aku kesel banget, sumpah deh.

    aku ingin demand lanjutannya (gimana pas owen udah balik ke rs) tapi kayaknya gatau diri banget HAHAHAHA jadi… kuserahkan saja selanjutnya sama kak fikaaa. semangat terus yaaaaa, kak fika tercintaaaaaaaaakuuu! ❤

    Like

    1. LOH EVIIN NOOOO! iya vin, sebenernya ini aku dapet promptnya dari pinterest hehe. padahal aslinya tuh dari promptnya jadi surgeon mau ngebedah pasien, eh pas udah mau mulai, si pasien itu ternyata versi muda si surgeon. nah karna aku gakuat kalo bikin jalan cerita medis kayak ngunu jadinya kubelokin jadi dokter di medan perang aja dah wakaka xD (iya fika ini kalo bagian ngeles mah jago banget wakaka.)

      iya banget vin. aku meringis kalo lagi nonton berita tentang daerah yang lagi dilanda perang vin. sedih liat tenaga kesehatannya di sana kayak ga pernah istirahat, sedih liat orangtua yang kehilangan anak atau sebaliknya, and yes bener kata evin sedih liat anak-anaknya. yang harusnya umur segitu masih bisa main di luar sama temen-temennya, ini kalo mau ke sekolah aja udah harus waspada takut tiba-tiba ditodong atau apa huhuhu :” sedih banget nontonnya astaghfirullah :”(

      wakaka inshaa allah pabila kepikir lanjutannya yaa vin hahaha. ini aja aku nulisnya kayaknya setengah tidur dah xD anw makasi evin udah mampir, baca, dan komeen hihi. semangat juga yaa evinkuuuuuuu ❤

      Like

  9. Wah Kak Fika;;; Bener emang, dokter di daerah peperangan adalah dokter yg paling sibuk, sampai bernapas aja ga sempat. Eh, tapi tapi Kak, kalau ditambah deskripsi dikit aja peperangan apa yg sedang berlangsung mungkin akan makin cmiwiw, Kak. Dilihat dari objek penyerangan bom mrk, pabrik cat. Biasanya yang kutonton, objek penyerangan ada di tempat2 umum. Ya, meskipun pabrik cat bisa dibilang seramai sekolah ya, Kak. Terus terus aku mikirnya ini sebenerny pabrik yang beralih fungsi jadi tempat pengungsian, mengingat adanya anak2 dan pasangan orang tua ;;;;;
    Aduh, spekulasi mbulet, hehe;;;:; btw aku sering nemuin ‘well’ dan ‘oh’ ada di narasi kakak. Aku sampai sempet mikir kalau ga dicantumin nama kakak, orang udah tahu yg sedang bercerita ini Kafik! xD
    Lanjut, smangat trus kafik!

    Like

    1. halo halo fatiim! hehe. iya banget. kayaknya tiap hari tuh ada aja korban yang berjatuhan, entah karena serangan tiba-tiba atau karena peralatan di rs yang nggak memadai. dan di situlah titik sedihnya huhu. apalagi kalo lagi ngikutin berita tentang daerah-daerah yang lagi perang. ya allah aku nggak tega liatnya ;;;; tentang pabrik catnya, iya kurang aku jelasin ya huhu. yep as you said, saking minusnya tempat buat ngungsi, jadi pabrik catnya semacam buat tempat mengungsi dadakan gitu hehe. iya yaa, lupa banget aku jelasin perangnya tentang apa heu sedih ;;;
      hehe iyaa aku seneng banget kayaknya ya nempatin ‘well’ sama ‘oh’ hehehe. kebiasaan 😛
      anw makasi banyak yaaa fatim udah mampir, baca, dan komeen hihi.

      Liked by 1 person

  10. ya allah kakput sampe buka dua tab huhu :((((((( sampis doang ini padahal kaaak ceritanya heuheu ini juga aku nyesel kenapa dipublishnya cepet banget nggak aku karantina dulu argh :<

    anw iyaa aku nggak meratiin di situ hahaha. makasi banyak yaaa koreksiannya kak, sudah aku beneriiin yang parents' sama yang typo hehehe. dan masalah waktu kematian huhuhu iyaaaaaa aku lupa banget astagaa. padahal itu tuh kayak udah kewajibannya para dokter (apalagi kalo lagi perang) lupa banget lupa :"(

    ya ampun 😦 makanya kak aku tuh salut banget sama orang-orang yang pekerjaannya deket banget sama dunia sosial, tapi tetep bisa jaga profesionalitas walaupun kayaknya keadaan tuh lagi parah-parahnya gitu 😦 dan temennya kakak … ya allah aku kalo di posisinya dia gatau deh harus ngapain.

    insyaa allah kak nulis dokter lagi pabila ada ide hihi. makasi banyaaaak ya kakput udah baca, komen, dan ngoreksiin hihihi. gapapa bangett kakputtt ya ampun aku sampe dibantu beta gini :") makasi banyak kaak ❤

    Like

  11. TAKE A DEEP BREATH, LIE DOWN, TRY TO NOT CRY, CRY HARD.

    fase baca yang barusan kek begitu itu soale gimana aku gereget. Mas Owen tegas sekali sebelum ketemu mbak Rowan, kemudian agak terguncang ketemu dua pasangan yang meninggal, dan taraaaaaaaaaaa si anak mewek so did him! AAAAAAAAAAAAAAAAAA KAN SEBEEEELLLL :<

    SEBEL TAPI SUKA HUHU LOVE HATE RELATIONSHIP SAMA YANG INI SUPER SEKALI KAFIKA CONGRATS SUDAH BEBAS DARI WEBE!!! KUTUNGGU DI INAGURASI ❤ ❤ ❤ HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA

    Like

    1. KAKPANG KOK AKU KEINGET MEME-NYA SIH xD hahahahaha.

      mas owen sedikit mau curi kesempatan biar dipukpukin mba rowan kayaknya (anjir alasan matjam apa). HAHAHAHA LOVE HATE RELATIONSHIP ASTAGA. belom sepenuhnya bebas nih kakpangs huhu sedih. TERUS KENAPA BAWA-BAWA INAUGURASI HEU SEDIH AH SEDIH :((((((((((

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s