[Writing Prompt] Of Childhood, Youth, and The Unnecessary Thought

ydDdaGhgrE

Youth

by dhamalashobita

Seth. Lisa. Usia 10.

“Aku tidak ingin menjadi orang dewasa.”

Anak laki-laki berambut pirang yang tinggal di sebelah rumah Lisa menatap langit yang luar biasa cerah hari itu. Dia menggumam tentang bagaimana menjadi seusia dirinya untuk selamanya. Mustahil memang, tapi anehnya, Lisa hanya merespons dengan anggukan pelan seolah dia setuju pada pernyataan laki-laki itu.

“Kau kecil saja terus, biar aku yang tumbuh jadi dewasa. Aku akan menikah, mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang menyapu lantai, punya anak-anak yang lucu, kemudian melakukan pekerjaan yang aku sukai,” sahut Lisa.

“Orang dewasa tidak bisa bahagia.”

“Ayah dan bundaku selalu bahagia, Seth.”

Lisa membalikkan tubuhnya menghadap Seth. Mereka berusia sepuluh tahun dan saling berselisih paham tentang menjadi dewasa. Seth tetap tidak ingin menjadi dewasa, tidak peduli seberapa kerasnya Lisa meyakinkan Seth bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan. Kamar sendiri, tidak ada perintah-perintah untuk belajar setiap saat, bisa makan apa pun yang disukainya, kemudian mengenakan pakaian-pakaian seperti yang suka Lisa lihat di butik.

“Tapi aku ingin menjadi dewasa bersama Seth.” Lisa merajuk dan Seth menenangkan dengan elusan lembut di kepalanya. Lisa berhenti memajukan bibirnya ke depan dan Seth tersenyum manis seolah-olah dia adalah orang dewasa yang tengah menenangkan kekasihnya.

“Bukannya aku tidak ingin bersama Lisa. Seth hanya tidak ingin tumbuh dewasa, tidak bisakah kita berdua tetap menjadi anak-anak saja tapi tetap bersama?”

*

Keesokan harinya sepulang sekolah, Lisa sibuk membuat kliping dengan gambar-gambar gaun pengantin, bunga berwarna putih, dan ruangan serba putih. Ketika berusia sepuluh tahun, siapa yang tidak membayangkannya? Tumbuh dewasa, menikah dengan pangeran berkuda, kemudian hidup bahagia selamanya.

Setelah selesai dengan gambar-gambarnya, Lisa membawanya pada Seth yang duduk di atas trampolin di halaman rumahnya. Seth menunggu Lisa di sana seperti biasa. Pekerjaan utama Seth sejak Lisa pindah ke sebelah rumah Seth.

“Lihat! Aku ingin kau lihat, betapa indahnya menjadi orang dewasa!” Lisa melompat ke atas trampolin, menyebabkan benda berbentuk lingkaran besar itu memantul-mantulkan tubuhnya dan Seth ke udara.

“Itu hanya ada di dongeng anak-anak, Lisa.”

“Tapi kau ‘kan anak-anak juga, Seth.”

Lisa tidak mengerti. Seth memang anak-anak, tetapi Seth tidak pernah menyukai dongeng. Seth tahu dongeng itu tidak nyata, tapi Lisa tidak tahu. Seth pikir mungkin Cinderella tidak dipilih karena sepatunya tiba-tiba jatuh dan pangeran menemukannya; Cinderella menjatuhkannya, dan membuat pangeran memilihnya. Seth pikir mungkin Putri Salju bersolek setiap hari sehingga ibu tirinya tidak pernah dikatakan cantik oleh cermin ajaib. Seth tahu tidak ada putri dongeng di kehidupan nyata. Tidak ada bahagia selamanya.

“Suatu hari kau harus mengerti, Lisa. Ketika itulah kau akan tahu bahwa lebih baik menjadi tetap kecil bersamaku,”  ujar Seth.

“Seth! Masuk kau, anak jalang!”

Selang beberapa detik, bahkan belum sempat Lisa membalas ucapan Seth, ayah Seth memanggilnya dari dalam rumah. Seth melompat turun dari trampolin, berlari ke arah rumahnya dengan cepat. Ekspresi Seth tak keruan. Pucat pasi. Ketika Lisa menoleh, ayah Seth tengah menarik kasar lengan Seth untuk masuk ke dalam.

*

Seth. Lisa. Usia 20.

Lisa mengintip dari balik jendela. Rumahnya dan rumah Seth terpisah pagar kayu setinggi pinggangnya. Ada pintu kecil yang dibuat Seth sewaktu kecil untuk menyelinap ke rumah Lisa diam-diam. Dan pintu itu kini membantu Lisa mengintip. Beberapa menit lalu, rumah Seth gaduh. Suara piring-piring yang bertubrukan dengan dinding kemudian jatuh ke lantai dan pecah. Belum lagi makian yang memekakkan telinga.

Ayah dan ibu Lisa berkali-kali meminta Lisa masuk kamar dan tidur, tapi pada akhirnya Lisa menyelinap lagi, menguping sekaligus mengintip dari balik jendela.

Tubuh Seth terpelanting, menabrak dinding, ditariknya lagi lengan kurus Seth, dilempar lagi hingga menabrak sofa. Seth dipukul berkali-kali. Seth mendapat tendangan. Wajah Seth babak belur.

Lisa menutup mulutnya dan mulai menangis. Lisa jelas-jelas tahu ini bukan pertama kalinya. Seth selalu mendapat satu luka baru setiap harinya. Bahkan ketika memar di tubuhnya belum sepenuhnya sembuh.

Sedetik kemudian, mata Seth menangkap matanya yang kini berurai air mata. Mengisyaratkan Lisa untuk segera pergi. Sederhana, Seth tidak ingin Lisa melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti itu. Juga karena Seth tidak ingin Lisa merasakan imbasnya.

*

Trampolin Seth bertambah kecil seiring dengan tumbuhnya tubuh laki-laki itu. Kini Seth dan Lisa hanya terpisahkan jarak yang teramat dekat ketika mereka duduk di atas trampolin. Tangan Lisa bergerak sigap mengoleskan obat di wajah dan lengan Seth. Sementara si pasien yang diobatinya meringis kesakitan.

“Kau seharusnya bisa mengelak, atau kabur,” ujar Lisa lirih.

Helaan napas Seth terdengar berat.

“Kuharap aku bisa. Kuharap aku tidak mengenalnya.”

“Apa akan lebih mudah memukul orang yang tak dikenal daripada memukulnya?”

“Tidakkah kaupikir akan lebih mudah memukul orang yang tidak dikenal daripada memukul ayahmu sendiri?” Seth tersenyum—atau lebih tepatnya memaksakan senyum—ke arah Lisa.

Lisa mendengus kesal. Dia ingin membantu Seth memukul orang itu, tetapi tidak bisa. Kekesalan Lisa bertambah ketika dia melihat senyum pahit di wajah Seth.

“Ayah dan bunda kemarin bertengkar tentang tagihan. Tentang pekerjaan yang terancam hilang, tentang bahan makanan yang semakin mahal, dan tentang hal lainnya. Aku berharap kembali menjadi anak kecil. Mengerti hal-hal itu tidak begitu menyenangkan,” cerita Lisa.

“Sudah kubilang, jadi orang dewasa tidak bahagia.” Seth tersenyum sekali lagi.

“Aku muak mendengar mereka meributkan banyak hal. Tidak ada kecupan selamat malam, tidak ada lelucon ayah yang tidak lucu di meja makan, yang ada hanya ketegangan. Aku benci itu, Seth.”

“Aku tahu. Kemari, biar kuberi apa yang kau mau.” Seth bergerak lebih dekat pada Lisa, mengecup bibirnya lembut tanpa aba-aba, menggantikan kecupan selamat malam yang dirindukan Lisa—walaupun sebenarnya hari belum beranjak malam.

Lisa tersenyum. Rasanya memang berbeda, tapi dia tahu kecupan-rasa-besi-berkarat itu yang akan menguatkannya selama tumbuh menjadi dewasa.

Dan Seth tahu, dia juga harus tetap menjadi dewasa. Tidak masalah lagi, asal bersama Lisa.

*

Seth. Lisa. Usia 25.

 

Setelan putih, ruangan serba putih, bunga Lili yang tersebar sebagai pemanis.

Dan di atas karpet merah yang tergelar dari ujung gerbang besar di ujung ruangan, Lisa berdiri di samping ayahnya. Melodi sakral memenuhi seisi ruangan. Para hadirin yang datang menatap Lisa dengan gaun putih panjangnya dengan pandangan takjub.

Jangan tanya lagi bagaimana dengan Seth. Mulutnya sudah menganga lebar. Siang itu, Lisa berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya.

Lisa berdiri di samping Seth. Ayah Lisa menyerahkan tangan putrinya pada Seth.

Mengikat janji, memasangkan cincin.

“Di sepanjang hidupku, aku selalu menolak kenyataan bahwa manusia akan menjadi dewasa. Aku ingin selalu menjadi anak-anak saja. Anak-anak mencintai tanpa pamrih. Anak-anak belajar dan gagal, kemudian belajar lagi tanpa perasaan apa pun. Anak-anak tersenyum setiap hari, mensyukuri apa pun yang mereka miliki. Anak-anak mengobati, menawarkan, memulihkan, menciptakan perdamaian. Jujur, tulus, polos.

“Dan ketika aku tumbuh remaja, aku semakin yakin bahwa menjadi orang dewasa hanya akan menghapus kebahagiaanku. Tagihan-tagihan, pekerjaan, orang-orang yang memperlakukanmu dengan tidak adil. Aku tidak ingin mengalaminya. Tapi aku salah. Menjadi orang dewasa tidak berarti aku tidak bahagia. Masa mudaku ternyata tetap tidak kehilangan kebahagiaannya, karena ada Lisa. Dan jika aku benar-benar tumbuh menjadi orang dewasa nanti, jika bersama Lisa, aku yakin semua akan baik-baik saja.

“Jadi, Lisa, bersediakah kau menjadi dewasa bersamaku?”

Seth sudah tahu jawaban Lisa, tetapi tetap cemas menunggu jawabannya.

“Aku bersedia.”

Tidak akan ada jawaban lain lagi.

*

Seth. Lisa. Sekarang.

“Aku tidak ingin menjadi orang dewasa.”

Anak laki-laki berambut pirang yang tinggal di sebelah rumah Lisa persis seperti Seth. Dia berbaring di atas trampolin sambil menatap langit.

“Aku tidak ingin menjadi kecil terus.” Anak perempuan di sampingnya menggumam. Raut wajahnya kecewa.

“Orang dewasa tidak bisa bahagia.”

“Bohong! Ayah ibuku saja bahagia!” teriak anak perempuan di depannya.

Lisa berjalan mendekat ke arah trampolin, duduk bersama dua anak kecil berusia sepuluh tahun di hadapannya.

“Kau akan tetap menjadi dewasa meskipun kau tumbuh, Max.” Lisa membelai rambut Max lembut sambil tersenyum.

“Kalian berdua akan tumbuh dewasa, saling membantu, berteman baik, dan bahagia,” lanjut Lisa.

“Benarkah?”

Max terlihat antusias. Dia bangkit dari posisinya dan menatap Lisa lekat-lekat.

“Tentu saja! Jika kau merasa bahagia mulai sekarang, kau akan tumbuh dan melewati masa muda yang luar biasa. Kau akan dibanjiri cinta setelah kau membagikan cinta pada semua orang. Bermain sepenuh hati, belajar sepenuh hati, bersyukur sepenuh hati. Aku jamin, kau akan bahagia,” ujar Lisa.

“Bisakah aku mengajak Sher bahagia bersamaku, Lisa?” tanya Max.

“Tentu saja. Sher akan sangat senang. Bukan begitu, Sher?”

Anak perempuan bernama Sher itu mengangguk. Lisa tahu persis apa yang ada di pikiran anak perempuannya.

Selang beberapa saat, Seth yang baru saja tiba mendekat ke arah trampolin, memberi kecupan di puncak kepala Lisa dan Sher.

“Jadi, apa obrolan yang kulewatkan sore ini?” tanya Seth pada Max.

 “Aku ingin menjadi dewasa bersama Sher, Seth,” seru Max.

Seth memandang Lisa sejenak sambil mengerutkan keningnya.

“Oh, anak muda! Apakah kau baru saja melamar Sher di hadapanku?”

*

“Betapa lucunya, melihat Max punya pikiran yang sama denganmu sewaktu seusianya.” Lisa berjalan beriringan dengan Seth, meninggalkan anak perempuannya dan anak laki-laki sebelah rumah di trampolin.

“Max dan aku hanya terlalu takut memproyeksikan kehidupan bahagia. Sulit bagi kami membayangkan bagaimana menjadi orang dewasa yang bahagia. Tapi aku suka masa mudaku,” sahut Seth.

“Mengapa?”

“Karena aku dapat memberikanmu banyak kecupan selamat malam—meskipun tidak kuberikan malam hari.”

Lisa tertawa pelan, kemudian menoleh ke belakang, ke arah Sher dan Max.

“Aku sudah bisa melihat kebahagiaan mereka. Bukankah mereka terlalu mirip dengan kita di usia sepuluh tahun, Seth?”

“Mari kita lihat ketika mereka berusia dua puluh. Jika tetap sama, persiapkan dirimu untuk menerima lamaran dari tetangga sebelah yang menyeramkan itu.”

fin.

 

Advertisements

16 thoughts on “[Writing Prompt] Of Childhood, Youth, and The Unnecessary Thought

  1. haii! ini manis dan calming aku sukaaaaa. walaupun hidupnya keras, aku suka gimana Seth bisa tumbuh jadi dewasa yang husband material huhu he survived! ❤

    terus aku suka sama Seth dan Lisa hehe❤ Seth manis banget:’ ampun mau dong punya tetangga sebelah rumah yang kayak Seth gitu?? He loved her ever since they were a kid!
    Terus aku aneh banget tapi aku ngebayangin kisahnya Sher x Max berlika-liku gitu aw maafkan imajinasiku!

    salam kenal, aku Dhila, 98l! 😀

    Like

  2. Sukaaa banget kak Mala. Emang tema yang diangkat mainstream sih, tapi ringan banget buat dibaca dan suka aja gimana kakak buat konfliknya sama anaknya yang berujung punya destinasi sama kayak ortu mereka. Huhu jatuh cinta sama fiksi ini sampe senyum-senyum sendiri. Keep writing kak ^^

    Like

    1. Hahaha. Iya, aku emang sering banget ya bikin tema mainstream, kudu explore lebih baik lagi, biar gak mainstream wkwk.
      Makasih banget ya udah baca dan komen. 🙂

      Like

  3. malaaaa, omg. to be honest, aku uda baca dari kemarin tapi karna bacanya nggak serius jadi belom aku komen. terus ini baru baca ulang daaaan ya ampun ini manis banget aku sukaaaa sampe berjuta-juta kali. i love their names, lisa dan seth. uwuuu manis banget. aku suka bagian yang seth nggamau lisa ngeliat dia pas lagi down gitu sama pas lagi dipukulin omg :” bagian itu nyelekit banget huhu 😦 dan trampolin! kayaknya trampolin tuh bakal jadi tempat/benda favorit mereka yah hehe. yosh, keep writing malaa! ❤

    Like

    1. I love Lisa and Seth too, Fikaaa. Hehehe. Manis kesannya.

      Trampolin is life! Hahaha. Pengen banget punya trampolin dan tetangga semacam Seth. 😀

      Makasih udah baca dan komenin ini, Fika.. 😘

      Like

    2. iyaa manis bangett :” terus aku bayangin rumahnya tuh halaman belakangnya luas gitu ehe. ah udahlah suka banget pokoknya :” btw btw mal, i’ve sent you a chat on line hehe. cek yah, cek yaaaah 😀

      Like

  4. KAK. ADUH. AKU KOMEN NAMA SHER DULU AJA BOLEH GAK HAHAHA. LANGSUNG GAK KONSEN. Ini apakah tiba-tiba pingin nulis nama Sher atau gimana… Terus Sethnya juga, aku pikir bakal jadi cerita yang agak dark soalnya ngingetin sama the god of storms and violence di ancient Egypt hehe.

    Buat ceritanya, hmmm, aku udah pernah ngomong kan kalau di cerita kak Dhamala pasti ada aja yang mau di sampaiin, dan at least, itu buat aku mikir untuk sejenak. Aku juga suka part yang pendek-pendek, cukup intinya aja dan ceritanya tetep jalan. Terus… MEREKA MANIS DEWASA YANG AKU SUKA-SUKA GITU, GIMANA DONG? HAHAHA.

    Last, keep making something, Kak! 🙂

    Like

    1. Maaf baru dibales. Astaga, kemaren komenannya kan nggak masuk notif tuh Sher.. ;n;
      Jadiiii…sher ini terinspirasi namamu. Sher….sherly.. Sher kan enak gitu. Bahahaha. Sungkem dulu yak, aku minjem namamu.

      Part pendek2 lama-lama kayaknya jadi ciri khas aku.. wkwk
      Masalahnya adalah, aku nggak bisa bikin part panjang, Sher. Alhasil, beginilah jadinya.

      Terima kasih udah mampir ya, Sher 😊

      Like

  5. Hellow, Kak Mala. Ini cherry 94line :))
    aw, ini maniiis. walau seth ga mau jadi dewasa,tapi pemikiranny udah cukup matang untk anak seusianya. mungkn krn jalan hidupnya yg berat.
    kalau aku jd sath, yg dpt perlakuan begitu sadis dr bpaknya, aku bkal pngen cepet2 jd dewasa, biar bsa kabor X,D
    tapi sath ini sebegitu bencinya sama orng dewasa, dalam byanganny orng dewasa itu kayak monster, sampai dia ga ingin tumbuh dewasa;;;

    Like

    1. oh ya, aku baru tahu kakak udah nelurin novel. somewhere called home, kereeen. ini novel debut kah? :’))) dan smagat teros kak, moga novelnya sukses dan maaf blum bisa baca :))) /ngekode.tendang

      Like

  6. kak mala, haloo

    first thing first, titan mau bilang kalau cerita ini manis banget, kak. aduh, seth dan lisa juga manis ❤

    terus waktu sampai ke sini [ Seth tahu tidak ada putri dongeng di kehidupan nyata. Tidak ada bahagia selamanya. ] titan tuh mikir, wah seth pemikirannya dewasa banget. kenapa nih? bikos let's face it, dengan umur seth yang baru 10 tahun, sepertinya terjadi sesuatu dimana dia dipaksa untuk memiliki jalan pikiran seperti itu. dan beneer, nyesek tuh pas titan baca kalimat-kalimat selanjutnya huhu seth :"(((

    honestly, i'm glad that it ended with happy ending. i'm such a sap for those. hahah 😀

    keep writing ya, kak mala ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s