[Writing Prompt] One Messy Morning

One Messy Morning by shiana

Tenggelam

by shiana

Oh, benar, Adik. Celso memang memelihara kepala sekeras batu.

.

Kakaknya yang bernama Celso pasti sudah hilang akal.

Sedari semalam, suasana ayah dan ibu sangat jauh dari kata “baik” karena dimuakkan oleh tingkah laku anak bungsunya, Annelise yang mengunci diri di kamar seharian lantaran ngambek soal remeh-temeh. Dan kakaknya, dengan memainkan peran di dalam drama yang diusungnya sendiri, mendadak menghilang pagi ini—membuat orang tua mereka mau tak mau tambah jengkel atas kelakuan dua anaknya itu. Si putri bungsu yang tidak dapat diandalkan hanya dapat mematut diri di depan cermin—diam-diam melamunkan pangeran tampan yang tinggal di Kerajaan Putih; sementara si putra sulung memang yang paling cemerlang di antara anggota keluarga, namun sayangnya ia sempat kena skandal dengan putri kesayangan Kerajaan Putih.

Pelik? Agak, mungkin.

Pada akhirnya, Annelise-lah yang menjadi batu pelampiasan ayah dan ibunya; diomeli habis-habisan selagi menelan bulatan roti gandum dan daging asap yang keasinan, tapi juga hambar di beberapa sisi (ugh, menyebalkan!). Hingga kupingnya penging sudah, maka ia cuma bisa menghela napas dan mengutuk dalam hati ketika orang tuanya berhenti mengoceh dan mengakhiri ceramah pagi dengan beberapa perintah.

“Cari kakakmu, Annelise, sampai ketemu. Jangan kembali bahkan sampai matahari tenggelam. Sesudah itu, bawah Riley ke pasar dan jual dia dengan harga setinggi mungkin—kau tidak mau ‘kan kelaparan sewaktu musim dingin?”

Annelise lantas membuang pandang ke luar, tampak Riley—sapi gemuk satu-satunya yang keluarga mereka miliki—sedang entah ngapain.

Dengan berbekal hal-hal yang harus dipenuhinya itu, Annelise bersumpah akan melakukan hal yang tak terduga terhadap kakaknya kalau ketemu—membotakinya, mungkin? Ide bagus. Maka keluarlah gadis itu dari rumah kecil mereka, disambut oleh sinar surya yang hangat dan pandangan megah Kerajaan Putih di kejauhan sana. Oh, apa yang akan dilakukan pangeran pagi ini, ya? Berkuda sambil melihat-lihat penduduk? Atau berburu?

Satu-satunya hal yang terpikir oleh Annelise kala itu adalah menyusuri hutan. Untung saja ia adalah adik yang perhatian, kalau tidak, Annelise ogah membayangkan dirinya harus mengelilingi desa demi menemukan batang hidung kakaknya yang sudah pasti sedang berduaan dengan … yah, bagaimanapun, seharusnya Annelise bangga jikalau salah satu anggota keluarganya terlibat kisah serius dengan salah satu anggota kerajaan. Tentu, skandal Celso dengan Putri Kerajaan Putih bukanlah isapan jempol belaka—mereka benar-benar menjalin hubungan yang sudah barang tentu dirahasiakan.

Kalau Celso bisa bersanding dengan sang putri, kenapa hal itu tidak bisa terjadi pula pada Annelise dan sang pangeran? Astaga, tidak adil!

Dugaan Annelise lantas terbukti nyata—beberapa meter di depannya, setelah ia cukup dalam masuk ke hutan, ditemukan Celso tengah bermesraan dengan seorang gadis berjubah abu-abu. Di balik jubah mewah itu, terpoles gaun indah di tubuhnya. Annelise nyaris meneteskan liur kalau saja ia tidak ingat akan balas dendam yang harus terbayar.

Maka, tanpa buang waktu, Annelise meloloskan sebuah dehaman keras.

.

“Kalian tidak kapok, ya, rupanya?”

Annelise hampir-hampir tertawa terbahak melihat bagaimana kakaknya memasang raut yang paling buruk yang ia bisa (meski tetap bisa dibilang tampan, tapi … yeah). Celso menyilangkan lengannya, sementara Annelise mengalihkan atensi ke arah sang putri yang berdiri dengan anggun. Sang putri bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu kami ada di sini, Annelise?”

Belum sempat jawaban terolah dari mulut Annelise, kakaknya buru-buru mendamprat. “Kau pasti mengikutiku, kan!?”

“Uh …, kalau maksudmu barusan aku mengikutimu, jawabannya adalah tidak,” sahut Annelise ringan, lalu tersenyum ke arah sang putri. “Dan untuk jawaban atas pertanyaanmu, aku iseng mengikuti kakakku yang tempo hari berpamitan kepada ayah hendak berburu di hutan, dan … begitulah.”

Celso sudah hendak menyerbu adiknya, namun kekasihnya yang tampak tanpa cela itu langsung menahannya. Oh, romantisnya! Pangeranku, di mana gerangan kau sekarang?

“Kalau aku jadi kalian … aku tidak akan menjadikan hutan lagi sebagai tempat berpacaran karena, yang benar saja, itu sama saja menggali kuburan kalian sendiri, tahu tidak? Lagi pula, Tuan Putri, tidakkah harusnya Anda duduk manis di meja panjang penuh hidangan untuk sarapan alih-alih berada di sini untuk bertemu kakakku yang supertampan?” Annelise menggeleng pelan, sekarang ia merasa lebih berotak dibanding kakaknya. “Kalian tidak belajar dari masa lalu, rupanya …. “

“Diamlah, Adik,” kilah Celso ketus, badannya mendekat ke arah Tuan Putri dan merangkul bahunya mesra—dasar kepala batu, tidak tahu diri pula! “Sebaiknya kau kembali ke rumah karena orang tua kita pasti lebih membutuhkanmu dibanding aku.”

Annelise memutar bola matanya, melempar tangkai pohon yang sudah dipegangnya sedari tadi. Kakaknya pasti salah meramu beri di hutan dan memakannya asal tanpa tahu bahwa ia bakal keracunan, hasilnya sekarang lelaki itu benar-benar tidak punya akal sama sekali. Kalau disuruh memilih, Annelise toh tidak mau kalau harus menyusul kakaknya ke hutan. Memangnya ia mau cari mati? Bagaimana kalau mereka mendadak dikepung oleh pengawal kerajaan seperti yang pernah terjadi pada kakaknya dan sang putri dulu?

Amit-amit!

“Oh, terserahlah, aku mau pulang!” seru Annelise akhirnya dan bangkit dari batu besar yang didudukinya.

Gadis itu berbalik dengan perasaan sangat jengkel, namun pandangan jernihnya membuat tubuhnya beku tidak bergerak kala menangkap gerombolan sesuatu yang mendekat. Mati. Pasukan pengawal dengan para kudanya tengah merengsek maju ke arah mereka bertiga.

.

Annelise menangkap perawakan ayah dan ibunya yang berjalan tergopoh-gopoh menjangkau titiknya berdiri. Halaman luas kerajaan kini mulai sesak oleh warga-warga yang penasaran dan kurang kerjaan. Alasan Annelise berdiri di antara hiruk-pikuk sialan ini tentu saja bukanlah keduanya; Annelise justru diserbu kegamangan dan ia sungguh bimbang sekarang.

“Bagaimana ini bisa terjadi, Annelise?” ibunya merengsek maju, meraih kedua lengannya. Matanya bersorot kecemasan berarti.

Pandangan Annelise beralih kepada sang ayah, kening lelaki itu berkerut dalam dan menanti jawaban dari putri bungsunya.

“Aku tidak tahu …,” ia memberi jeda lantaran sulit menelan ludah yang menggumpal di kerongkongan. “Celso keras kepala, sih. Dia tidak mau kusuruh pulang dan memilih berduaan dengan pacarnya—oh! Aku tidak menyangka mereka benar-benar melancarkan hukuman ini padanya.”

Annelise kemudian terbungkus oleh pelukan ibunya, pun tanpa diminta meminjamkan pundak untuk dibasahi bulir air mata yang mengalir deras. Ayahnya menerawang menatap langit cerah, mungkin kelewat kehabisan kata-kata.

Annelise cuma dapat merenung. Ia  gagal percaya kakaknya bisa berakhir terikat di atas sana, berada di ujung sebilah kayu yang menjorok ke laut bebas yang konon rumornya mempunyai duyung mengerikan nan ganas, tinggal menunggu terjun bebas dan tercebur ke dalam bervolume-volume air yang dingin.

Hanya soal detik seusai gong dipukul, untuk kemudian suara tarikan napas penduduk mengiringi badan kakaknya yang terluncur ke laut biru.

.

Yang Celso ingat, ia sedang berduaan dengan kekasihnya yang paling elok, kemudian Annelise—adiknya yang suka ikut campur—tiba-tiba mencuat entah dari mana datang menginterupsi. Mereka bertiga  mengobrol sesaat sebelum kedapatan dikepung oleh pengawal-pengawal menyebalkan—secara tidak langsung, mengulang sejarah yang pahit untuk diingat.

“Kau keras kepala!”

Oh, benar, Adik. Celso memang memelihara kepala sekeras batu. Dan hal itu membuatnya berakhir diceburkan dengan semena-mena oleh hukum yang tidak adil ke dalam laut. Yah, baginya larangan anggota kerajaan untuk berhubungan dengan penduduk biasa sangatlah tidak adil.

Celso pikir ia bakal selamat karena ia pandai berenang dan tidak sepenakut sang adik. Tapi, rasa percaya dirinya sontak menyurut tak lama setelah pikiran itu muncul. Rumor yang tersebar dari mulut ke mulut ternyata benar-benar ada! Seekor duyung—ekornya yang silau bak dijahiti permata mengayun cantik di antara birunya air—tengah mendekati Celso yang masih terikat. Wajah sang duyung tak kalah cantik dengan Tuan Putri … barangkali lebih cantik sedikit.

Celso pikir ia sudah jatuh cinta untuk kedua kali.

Namun, secepat ide itu merekah, duyung itu melesat cepat ke arahnya dan menamparnya dengan ekornya yang besar. Celso terpelanting, dan ia bersumpah lebih memilih ditempeleng sang adik dengan panci gosong daripada mendapat sapaan tidak sopan dari duyung barusan.

Di tengah-tengah pikirannya yang melayang bebas dan tubuhnya yang seolah melayang terombang-ambing, Celso mendadak rindu sang adik. Bahkan, suara Annelise bergaung bersahut-sahutan di kepalanya.

.

“BANGUN, BODOH!  KAU TIDUR SEPERTI ORANG MATI!”

Oh, Celso bakal rindu setengah mati dibangunkan layaknya budak oleh Annelise.

BYUR!

“MA, CELSO TIDAK BANGUN-BANGUN!” BYUR. “APAKAH AKU HARUS MEMBANJIRI KAMARNYA SAMPAI ANAK INI BANGKIT DARI KEMATIAN!?”

end.

Note:

  1. Makasih untuk yang sudah membaca sampai tamat ❤
  2. Pertama kalinya nulis cerita tipe begini, maaf untuk segala kekurangannya. Aku udah siap mental untuk segala kritik dan saran, ehehe.
  3. Last but not least, thank you WS for creating this event dan letting me join it.

Salam hangat,

Shia.

 

Advertisements

9 thoughts on “[Writing Prompt] One Messy Morning

  1. Aku merasa terombang-ambing baca cerita ini, Shia..xDDD
    Awal2 lucu, trus pas prosesi hukuman langsung masang tampang serius yang ‘ajegil ganas juga hukumannya’, berlanjut ke duyung, trus ditampar pake ekor… dan semuanya cuma…mimpi?
    *ngakak sampai bedug lebaran*
    Kalimat terakhir mnurutku bisa punya 2 makna : si celso benar2 diselmatkan adek dari laut trus dibangunin atau emang bener2 mimpi. Hahahaha. #sotoy
    So, menurutku ini kreatif sekalii. Good job Shia udah kepikiran plot kayak gini xD
    Keep writing yaa! 😀

    Liked by 1 person

  2. hai, shia, salam kenal ya. aku nina 98l 🙂

    suka banget. genre kayak gini aku sukaaaa, kayak fantasy2 gitu walaupun cuma mimpi. suasananya aku juga suka banget, kayak di negeri dongeng. rasanya terhibur dan heartwarming juga sih xD

    suka juga sama karakter kakak-adek di sini. si adek yg nyebelin2 gemes gt, trs kakaknya yg keras kepala tp kocak. kocak apalagi pas adegan ketampar/? sama ekor duyung hahaha, mana sempet suka sama duyungnya lagi duh wkwk.

    btw, keep writing yaa 🙂

    Liked by 1 person

    1. halo kak nina, hehe salam kenal juga 🙂

      aku juga suka banget lho genre gini huhuhu makanya kucoba untuk nulis aja. seriously sebenernya nggak kepikiran untuk dijadiin mimpi belaka, tapi lega deh kak nina sukaa. makasih kak udah mampir! 🙂

      Like

  3. HAHAHAHAHA CELSO KENAPA SIH? xD aslik lah shia aku bacanya pas awal udah nguquq tertahan gitu kaan, masih penasaran ini bakal dibawa ke mana. terus kayaknya bakal ada fantasy-fantasy-nya gituuu wkwk. abisan ada mention Kerajaan Putih sih xD terus sek, masa pas ibunya ngomong: bawa riley ke pasar lalu jual dengan harga tinggi……ini kayaknya aku yang gak fokus masa aku ngiranya si riley ini kakaknya annelisse, terus kukira ini si ibu saking marah sama anaknya yaudah anaknya dijual aja…. :/ maafkeun fikanya gak fokus heu. TERUS PAS KETEMU SAMA CELSO DI HUTAN SAMA PAS CELSO DIJEBURIN HAHAHAHAHA. ya allah ditampar ama duyung euy mukanya xD sumpah aku nguquq sejadi-jadinya di situ hahahahaha xD yosh shia keep writiiiiing! ❤

    Liked by 1 person

    1. CELSO SALAH MAKAN BERI KAK. jadi, gimana kakfika? fantasy-ku berhasil nggak? :”””)

      HAHAHAHAHA. kenapa jadi kebalik gitu sih 😦 jangan bilang kakfika malah nyangkanya Celso-nya yang sapi? Huhuhuhu, asli ku ngakak. Thankyou kakfik udah mampir, maaf ya komenku pendek banget. keep writing too kakfik! ❤

      Like

  4. Halo, Shiana!!!
    Jadi gini, aku setuju banget sama komen di atas kalau baca ini tuh bikin terombang-ambing banget hahahaha karena, aku pun juga kayak gitu. Dari yang mulai penasaran, ketawa, kaget, sampe akhirnya ketawa miris karena ditipu sama penulisnya bahwa itu hanyalah mimpi. Hahahahah!
    Tapi, AKU SUKAAAAA!!!
    Aku pikir si Celso pergi tuh ngapain yang kerenan dikit gitu, LAH TAUNYA PACARAN XD Capek deh……….. terus aku suka Annelisenya sih dan gimana dia ngadepin kakaknya. Terutama pas si Celso dihukum! Masih aja di Annelise “Celso keras kepala, sih” bukannya nangis apa meraung-raung supaya kakaknya nggak jadi dihukum hahahhaha.
    Tapi yang paling ngakak endingnya sih, aku bahkan sampe tarik napas karena nggak nyangka bahwa itu semua cuma mimpi. SIP DEH SHIANA SIP.
    Keep writing, Shiana!!!

    Liked by 1 person

  5. ASTAGA CELSO XD XD

    literally titan nguquq baca ini XD
    gemes banget sama interaksi kakak-beradik di sini. apalagi adegan terakhir. Annelise, kasihanilah Celso. but on another note, gosah dikasihani deh. kalian lebih lucu seperti ini HAHA

    terus ya,
    “– ia bersumpah lebih memilih ditempeleng sang adik dengan panci gosong daripada mendapat sapaan tidak sopan dari duyung barusan.” PRICELESS

    keep writing ya shia! 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s