[Writing Prompt] Understanding The Peculiarity

5vmv2nc1i1v

by S. Sher

31st Prompt: The more the merrier.

Waktu Nora berumur lima tahun ia tidak mengerti kenapa ibunya mau menjejerkan meja-meja di kebun belakang mereka demi Thanksgiving—terlalu banyak meja, merepotkan. Halaman rumah yang dipenuhi semak belukar berbuah beri dan bunga berbagai macam warna jadi berbeda, warna hijaunya kian lindap seiring dengan tambahan furnitur. Perubahan signifikannya diawali dengan puluhan kursi, taplak-taplak putih di atas meja, pula serangkaian lampu kecil untuk penerangan malam dipasang di pagar—atau sekalian dipancang dengan tiang temporer.

Tanggal 27 Novembernya, warna hijau rerumputan sudah hampir seluruhnya hilang. Kebunnya dijejali hiasan-hiasan, dua anjingnya—Oreo dan Cheesecake—orang-orang, makanan, dan warna-warna yang membikin bocah tersebut sakit mata. Puluhan manusia melewati pintu samping rumah Nora; beberapa tetangganya, keluarga dekat maupun jauh, dan orang-orang yang bahkan tidak ia ketahui ditemui ibunya di mana; terdiri dari berbagai umur, anak bayi yang masih tak berdaya sampai orang tua yang sudah dua pertiga abad.

Anak perempuan itu senang sih, maksudnya, siapa yang tidak? Ada banyak makanan—jenis yang jarang dia temui dan enak—lalu ada para wanita dewasa yang diam-diam memberinya permen atau coklat, pun banyak teman seumurnya untuk diajak bermain dan berlari-larian (juga merusak kebun ibu, sedangkan kalau hari biasa tidak mungkin boleh). Akan tetapi, ia bingung saja kenapa ibunya senang repot-repot seperti ini; masih bisa tertawa padahal satu mug kesayangannya baru saja pecah, esoknya bercerita terus-terusan soal perayaan Thanksgiving padahal kebunnya rusak, atau soal ibunya yang mengajak ayah melakukan hal itu lagi setelah mereka kelelahan setengah mati.

Nora lebih memilih meredam kuriositasnya dan menikmati kesenangannya kala ia masih bocah. Akan tetapi, rasa penasarannya sudah lelah ditekan ketika ia berumur enam belas tahun, dan segala macam ritual soal mengundang orang-orang ke rumah telah terlaksana sebanyak lima kali.

Waktu itu ia tidak lagi menganggap anak-anak kecil menyenangkan, mereka cuman bisa berlarian ke sana kemari dan merusak hal yang sudah rapi; tidak pula berpikir bahwa coklat-coklat dari orang tua bisa menyuap dirinya, ia juga sudah tidak diberikan atau mau lagi, namun sekarang malah ditanyai hal-hal yang untuknya tidak esensial. Di akhir hari hanya akan ada lelah, capek selama satu hari harus berjalan bolak-balik untuk mengambil ini itu—belum lagi kalau ibunya meminta dipotret atau apa—lantas ketika semua tamu bubar dan tersisa beberapa keluarga, yang ada cuman kekacauan bekas Thanksgiving. Nora sudah pusing bukan kepalang melihat halaman rumahnya malam tersebut.

Setelah merasa kelewat penat akan hal-hal ini dan baru saja melipat taplak meja terakhirnya, Nora mau tak mau bertanya dengan nada lelah. “Mom, why you invited so many people?”

Kemudian ibunya yang sedang membawa panci menoleh, menaikkan satu sudut bibir dan melempar sebuah tatap spesifik. Nora tidak suka dengan pandangan ibunya, sorot mata orang dewasa yang menandakan seakan-akan ia masih terlalu muda untuk mengerti situasi, lebih kesal lagi karena pertanyaannya tidak dijawab secara spesifik. Ibunya hilang di balik tembok dapur sebelum berkata, “It’s Thanksgiving and the more the merrier.”

Ayahnya ikut-ikutan tersenyum, lantas mengangguk dan mengedipkan mata kepada anak perempuannya—menyuruh gadis itu untuk menerima jawaban ibunya. Nora hanya bisa menghela napas panjang, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mendiskusikannya, apalagi berdebat karena menurutnya hal ini merepotkan; sekali lagi, ia memilih diam dan menikmati kehangatan rumahnya.

Mungkin Nora tidak akan pernah mengerti jika saja ia tidak pergi jauh dari rumah (meninggali asrama di universitasnya), mendengarkan kisah orang-orang secara antusias, atau memerhatikan sekeliling lebih saksama. Ia pernah “jatuh” dan mengalami penolakan dalam jumlah tidak terhitung, entah orang tuanya yang melarang melakukan sesuatu lantaran dinilai kurang baik atau memang dunia sedang menyediakan rintangan kejam untuknya. Akan tetapi, ia tidak pernah memikirkan orang-orang yang menjalani kesulitan dalam taraf mengerikan, dirinya malah lebih sering membandingkan kegagalannya dengan keberhasilan orang lain; menjebak diri sendiri dalam kemurungan. Dan dalam perjalanannya di sekitar kampus, ia berpikir bahwa ada yang salah dengan caranya melewati hidup selama ini.

Di luar sana ada orang yang tidak punya rumah (sementara ia kadang masih mengeluh kamar asramanya begitu sempit), banyak manusia yang kelaparan lantaran tidak punya uang, beberapa memilih mati dari pada hidup dalam kesulitan; memikirkan hal tersebut ada sebuah kontemplasi jika dirinya harus jauh lebih bersyukur. Bersama kesadaran itu pula, Nora makin sering memberi dan membantu, menikmati apa yang ia miliki, pun membangun rencana untuk hidupnya juga kebaikan orang lain. Senyum kecilnya juga suka terbentuk jika melihat orang lain berbahagia; bersenang hati bahwa nyatanya masih ada keceriaan di hidup yang tidak akan pernah mudah.

Anak kecil yang dulu mempertanyakan semua hal dan mengabaikannya di lain waktu, hilang sepenuhnya ketika ia dikecewakan dengan berat, lantas dipaksa mengerti situasi yang kompleks. Sisi remaja Nora yang labil dan tidak mengerti arti konsekuensi, lindap perlahan-lahan kala pandangnya dipertemukan dengan sisi gelap kehidupan. Seorang berambut coklat ikal yang tinggal di rumah selama bertahun-tahun, gadis yang menapakkan kaki di dunia berbeda pada masa kuliahnya, dan Nora yang menyambangi rumahnya setiap beberapa bulan adalah orang-orang berbeda; Nora bertransisi menjadi lebih dewasa, bersamaan dengan hal tersebut, ia memahami hal yang dulu sempat ia abaikan.

Hari ini Nora ada di rumah, sekali lagi menyaksikan halaman belakang rumahnya dijejali manusia, furnitur, pula berbagai macam makanan. Namun, sekarang ia tidak kebingungan kenapa ibunya meladeni segala hal di sini dengan senyum merekah, tidak pula kesal ketika anak-anak berlarian ke sana ke mari atau saat orang tua menanyakan terlalu banyak hal. Ia merasa tidak seegois tahun-tahun sebelumnya, merasa secuil lebih dewasa dari dirinya kemarin hari, pula merasa makin mudah berbahagia dari dirinya yang tinggal di masa lalu.

Agaknya ia telah mengerti, bahwa di antara kerepotan yang harus dilalui ibunya, ada senyum-senyum mengembang dan tawa yang mengisi atmosfer. Di atas rerumputan hijau ini, ada kebahagiaan—tidak lama bisa berlangsung memang—setidaknya ibunya telah memberikan untuk orang-orang, termasuk yang tidak bisa tiap hari membelinya, dan lantaran keceriaan tersebut… there will be some relief, happiness, and a weird pleasure. Something you get when you realise someone is smiling and the reason is you.

Mengetahui apa yang disediakan untuknya berkali-kali, namun ia cuaikan begitu saja, kini Nora cuman bisa tersenyum (antara menertawakan dirinya atau terkesan melihat sekitarnya), akan berusaha merangkul setiap kebahagiaan kecil yang melayang di atas sini. Doing some goods and making many, many people smile.

End.

Note:

  1. Maafkan pace ceritanya.
  2. Tadinya mau buat yang semacam the more the merrier is bullsht, tapi melihat dua promptku yang sebelumnya tidak ada yang sedikit berbahagia jadi gini aja deh LOL.
  3. Inspired by this quote, “When you have more than you need, build a longer table not a higher fence.”
Advertisements

16 thoughts on “[Writing Prompt] Understanding The Peculiarity

  1. Kusuka kusuka kusukaaaa~
    Pertama, nama anjingnya duh. Oreo dan Cheesecake…. aku mendadak lapaaar. Hahaha

    Terus.. well, ceritanya bermakna sekali. The more the merrier, emang bener banget. Keseluruhan isinya asik untuk dinikmati, pemilihan kata-katanya juga asik. Hehe 🙂

    Quotes yg menginspirasinya kucatet langsung… okaaay, keep writing, Sher! 😘

    Like

    1. Iya nih kak, kalo dibaca-baca jadi pingin kue. Dan quotesnya emang penting buat mengingatkan diri 😉

      Thank you kak, keep writing too! ♡♡

      Like

  2. HUHU GIMANA NIH AKU IRI SETENGAH MATI. Diksinya kakak oke bangeet, narasinya nggak bosenin sama sekali. simple but ngenaaaak sekali pesannya di hati. Emang yaa, kalo liat orang lain seneng dan terangkat bebannya karena kita, tuh, bisa ikut senyum aja bawaannya :))

    ceritanya as always…. ngalir cantik. keep writing sista! ♥

    Like

    1. Wah Niswa, jangan iri-irian hahaha, you’re good 👍👍iya, suka aja liatnya kalo tau orang seneng gara-gara kita 🙂

      Makasih Niswa ♡ keep writing too!

      Like

    2. ahaha abisan kangen sama narasi yang panjang namun tidak membosankan kayak ini. aku sempet wb lama jadi nulis maksain banget hasilnya ga bagus2 amat ehe. iyaa sama-sama kak ^^

      Like

  3. First thing first, aku mau bilang kalo nama anjingnya nora – oreo sama cheesecake – lucu banget huhu. Aku kebayangnya mereka berdua jenisnya sama cuma warnanya doang beda :>

    Secondly … noooooo the pace is good! Lompat scene-nya pas kok sher, dan dari situ kerasa banget pengembangan karakternya nora hihi. Paling suka bagian scene yang nora udah di universitas 😀 dan quotesnya baguuuus!

    Terus terus awww diksinya favorit :’) suka pokoknya, bahasanya halus tapi bisa nyampein pesan moralnya. Ah pokoknya kusukaaa. Keep writing yaaa sher! 💕

    Like

    1. Itu pas nyari nama lagi makan Oreo Cheesecake terus… kenapa enggak? LOL. Aku ngebayanginnya mereka spaniel yang bulunya agak panjang, Oreo warnanya putih item, Cheesecake putih emas gitu hahaha.

      Hehehe syukur deh kalo ternyata pacenya baik-baik saja, soalnya aku ngerasa ada scene yang kurang.

      Thank you kak ♡♡ keep writing too! 🙂

      Like

  4. Sher, aku suka… sukaaa 😍
    Topiknya simpel, tapi pesan moralnya nyampe ke aku. Soal diksi gak usah dipertanyakan, pemilihan kata kamu selalu oke. Tapi, aku boleh koreksi dikit gak? Yg benar penulisannya bukan ‘cuman’, tapi ‘cuma’

    Itu aja sih, selebihnya tetap bagus 😊

    Like

    1. Hi kak! 🙂

      Aku seneng kalo pesannya sampe hehe. Setauku cuman sama cuma dua-duanya ada di kbbi, tapi aku nyaman nulis cuman aja LOL.

      Anyway, thank you kak ♥

      Liked by 1 person

    2. Hehe… Iya, Sher, setelah aku cek, dua-duanya ada di kbbi (aku yg kurang teliti), gapapa sih, Sher, senyamannya aja pake kata yang mana 🙂
      oke, sama-sama 😀

      Like

  5. Nama anjingnya Oreo sama Cheesecake, ini anjing mau dimakan apa gimana dah ((dihajar)) tapi lucu :3 :3 :3 ((dihajar (2))) aku lagi makan Oreo terus bayangin ini kalo jadi anjing gimana ya h4 h4 h4

    Pace-nya nggak kejauhan kok, Kak, nyambung banget kok so selaw. Aku ngerasa sama kayak Nora sih, sometimes aku agak males sih kalo ada acara rame-rame di rumah kaya arisan (TERUTAMA ARISAN! KARENA WEH, AKU GA MUDENG JOKESNYA PARA NYONYA) tapi kadang seru juga sih, ngobrol sama mak-mak rusuh ((lha ini kok malah curhat)).

    Aku udah lama banget ya, Kak, nggak baca tulisanmu … ((baru nyadar)) tapi ngga ada yang berubah, asik lah, diksinya juga HA APALAH KAPASITASKU UNTUK MENGOMENTARI SEORANG SENPAI MASALAH DIKSI terus temanya simpel tapi eksekusinya cantik, terus apa ya … hah debu gembel tidak boleh komentar panjang-panjang :”( Btw, tadi ada kata “coklat” CMIIW yang bener cokelat he he syudah itu saja. Daebak ne, ku sukaaaaa!!!!!!

    💋💋💋💋💋💋

    Like

    1. Lagi makan Oreo Cheesecake, terus lucu aja kan dijadiin nama anjing jadi yaudah deh HAHAHA. Coba Oreonya disihir jadi anjing ya Hilma 🙂

      Not my type? Jarang-jarang aku make part-part yang jelas dibatesin, simply karena aku tidak menemukan cara untung menyatukannya LOL. Beda ya ta, beda 😦 nyonya rumah kalo sama nyonya yang lain juga ngomongin apa gak ngerti, giliran ngerti ngomonginnya aku kan kesal😒😒😒

      TA. SEKALI LAGI MENGGUNAKAN KATA ITU AKU BAKAL NULIS HILMA X DOI (yang tidak terlupakan) 🔥🔥🔥 terus maafkan coklat ya 😦 biasa banget nulis coklat dan Ms. Wordku tidak merasa salah, cokelat agak aneh ngetiknya (!?!?)

      💋💋💋💋💋

      Like

  6. tari, haloo! 😀

    firstly, nama anjingnya! oreo and cheesecake omg why so cute?? ❤

    secondly, goodness gracious tari, THIS STORY IS KILLING ME and not in a bad way ofc!! lyke, asdfjklhhjgfjhsg ya ampun manis banget sik. this is exactly what i need tho. i've been craving some fluff lately and yaaaayy i found one here! thanks a bunch, tari ❤ ❤

    thirdly, tari ngomong apasih? pace nya udah oke kok! dari awal sampe akhir aku enak banget bacanya. laf laf deh ❤ ❤ 😀

    and lastly, suka banget sama kalimat ini,
    "– Nora bertransisi menjadi lebih dewasa, bersamaan dengan hal tersebut, ia memahami hal yang dulu sempat ia abaikan." duh ❤

    tari keep writing yak! 😀 😀

    Like

    1. Karena kue suka memberi inspirasi 🍰🍰🍰

      Aku gak nyangka tulisan ini bisa dibilang manis, soalnya berbahagia juga cuman bentar menurutku hahaha. You’re very welcome kak if you found what you want here ♥

      Hehe itu perasaan aja sih, soalnya aku merasa agak miss pas nulis ini, kayak bukan seluruhnya aku LOL.

      Thank you so much kak 💝 and keep writing too 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s