[Writing Prompt] Binar yang Sama

Orang Asing

by @titayuu

.

“… Tapi aku masih Binar yang sama”

.

Andai penyesalan dapat diganti dengan derai hujan yang jatuh ke atas tanah sore ini, mungkin Binar tak punya sisa penyesalan lagi. Tidak banyak, sebenarnya. Tapi penyesalan terakhir kadang membuat dadanya sesak.

Air hujan menghanguskan sigaretnya dalam sekejap, memaksa kepalanya mendongak ke genteng usang milik teras toko tak terpakai. Kalau begini jadinya, lebih baik dia tinggal lebih lama di sebuah kediaman yang sebelumnya ia kunjungi. Atau memang lebih baik begini kalau tak ingin rasa bersalahnya berakumulasi lebih banyak. Memang lebih baik seperti ini, walau sebuah pesan singkat singgah ke dalam ponselnya dan memerintahkan tangannya agak bergetar—hingga nyaris menjatuhkan ponsel ke dalam kubangan air.

Dua jam lalu—kalau dia masih mahir menghitung waktu—sepasang converse butut milik Binar sukses berhadapan dengan pintu cokelat yang nyaris lapuk. Beberapa detik ia diam di sana, menunggu, menimbang, bahkan menyiapkan mental yang semakin menyusut. Satu bagian dari dirinya memaksa untuk pergi, berupaya menarik semua rencana yang telah tersusun di otak. Sisa bagian terkecil lainnya masih ingin tetap tinggal, tetap mencoba melaksanakan protokol yang sudah disepakati oleh dirinya sendiri, lalu mengetuk benda kayu di hadapannya secara perlahan.

Ketukan kedua dan seterusnya mengikuti, durasinya tak lama sampai satu wajah yang selama ini mampir di bayangan Binar muncul dengan format empat dimensi.

Masih sama; sosok itu tak banyak berubah. Dua mata sayu itu menatap Binar dengan imbuhan kerutan-kerutan di dahi. Persis seperti yang sudah ia perkirakan; wanita di hadapannya bergerak mundur ketika menyebut namanya, tangan wanita itu pun bergetar memegang pintu saat sedang menyesuaikan diri. Salah satu perkirannya tak tepat sasaran ketika Binar tak dimaki atau ditendang keluar. Wanita itu justru melebarkan jarak di pintu, menggeser tubuh, lalu memberi jalan agar Binar dapat melintas. Berusaha untuk tak menangis di tempat, Binar memilih melaksanakan tujuan awalnya.

“Kopi? Teh?”

Atensi Binar ditarik ke arah wanita yang sedang sibuk di belakang meja pantri ketika dia sedang asyik memerhatikan remasan telapak tangannya. Dia lantas menjawab ‘teh’ setelah berpikir sejemang.

“Seleramu pun sudah berubah rupanya.”

Kalimat wanita itu membawa kuriositas Binar untuk tetap memerhatikannya. Diperlakukan seperti itu merupakan ekspektasi yang tak pernah terlintas di pikirannya. Duduk di dalam ruangan penuh kenangan itu pun sama sekali tak bisa ia bayangkan. Detik itu ia berjanji untuk menebus dosa. Meruntuhkan jarak dan membayar apa yang telah ia lakukan. Setidaknya agar dia bisa lebih tenang.

“Jadi?” Wanita itu kembali bersuara, lalu duduk di hadapan Binar tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir kopi yang sedang ia aduk.

“Aku tidak akan menyita banyak waktu,” Binar menjauhkan punggung dari sandaran kursi. Tangannya terkepal di bawah meja. “Tiga tahun waktu yang cukup dihabiskan untuk menimbun beban yang kubuat sendiri. Aku mau menyelesaikan satu hal.”

Detingan milik sendok yang bertubrukan dengan dinding cangkir berhenti, wanita di hadapan Binar otomatis mengangkat kepala. Raut wajahnya stabil, berkebalikan dengan Binar yang sudah dibanjiri keringat. Mereka melakukan aksi tatap lebih lama dibanding sebelumnya. Hingga Binar mengudarakan kata per kata yang berkecamuk di benaknya.

“Pengakuan dosa yang sudah diketahui sepertinya sudah tidak berguna,” embusan napas Binar lolos setelah ditekan sejak aksi tatap tadi. “Aku minta maaf. Untuk pergi selama tiga tahun dengan tak tahu diri. Untuk kekacauan yang kubuat waktu itu. Juga untuk hadir di sini sebagai aku yang lain.”

Binar merebut jeda, memerhatikan tangan wanita di hadapannya yang sedang memeluk cangkir—erat. Otaknya tiba-tiba buntu kala dadanya pun terasa sesak. Sampai dia tak sadar akan datangnya anggukan singkat yang menggoyangkan rema hitam sepundaknya.

“Aku memang terlihat asing bagi semua orang. Tapi aku masih Binar yang sama.”

Binar masih bercerita layaknya narator pertunjukan dongeng—tentang semua yang terjadi tiga tahun lalu. Sampai kalimat terakhir Binar dideklarasi, wanita itu tak banyak komentar. Dia diam mematung di tempat, hanya mengangguk singkat bahkan ketika Binar pamit tanpa menyentuh cangkir teh yang sudah dingin. Kala pintu kayu tertutup di belakang punggung Binar, dia sendiri tak tahu apakah penyesalannya telah usai.

Dia bukan telah bertransformasi menjadi orang asing. Binar yang dulu dikenal sebagai lelaki tampan berprestasi bukan tanpa alasan kini membanting stir menjadi gadis pemicu aib. Semua terjadi tanpa niat yang direncanakan. Segalanya bukan semata keinginannya sejak lahir. Tak ada yang disalahkan. Biar dia yang tanggung semua dosa.

Hujan telah berhenti sebelum Binar selesai menatap deretan kata dalam layar ponselnya. Benda itu kini basah akibat air yang jatuh dari kedua matanya. Senyum tak dapat disingkir ketika isak lebih mendominasi. Dia tak peduli, setidaknya penyesalan terakhirnya sudah tak membuat dadanya sesak lagi.

“Kamu memang masih Binar yang sama. Ibu sudah memaafkanmu.”

.

Tamat

*photo taken from here

 

Advertisements

13 thoughts on “[Writing Prompt] Binar yang Sama

  1. Biar ga diceritain kenapa mereka jauh tapi latar lelaki bersigaret dihujan sore itu seperti sudah cukup menggambarkan.
    Err, Binar itu lelaki kan ya jd mungkin masih ada typo “binar yg dulu dikenal sbgai lelaki berprestasi banting stir menjadi gadis pembawa aib”, gadis ????
    eh, atau dia jadi waria? transgend semacamnya? dan ini jd masalah dia sama mamanya? yampun iya juga ya 😱😱😱😱

    Like

    1. halo!! sebenernya Binar yg lagi ngerokok ini statusnya perempuan dan itu bukan typo hehehe jadi sebelumnya emang binar TG dari laki2 jd perempuan.. di sini aku ngasih taunya secara implisit sih jadi mungkin ngebingungin? anw, makasih udah baca! :))

      Like

  2. titaaaaa!! sik sik sebentar. jadi ini ceritanya binar yang dulu laki-laki terus dia operasi jadi wanita kah???? oke…………aku cukup takjub bikos maksud cerita ini kamu sampein di akhir dan yes, kalo kita bacanya nggak serius bakal kecurian deh tuh. soalnya cuma bener-bener ada di satu kalimat dan cukup bikin: WAH PARAH. gitu xD terus aku suka cara penyampaian dan pace-nya. angst-nya kerasa terus pergolakan batinnya binar wah banget aku sukaaaa. paling nyelekit waktu deskripsi si binar pamit tanpa nyentuh cangkir tehnya ih mau aku jewer. wong uda dibuatin malah ga disentuh ._. keep writing yaa titaaa 😀

    Like

    1. KAK FIIKKK!! iya ceritanya dia mau nebus dosa sama mamanya gegara TG terus kabur. aku sengaja kasih satu kalimat penjelasan soalnya takut rated? jadi kubikin implisit deh huhuhuu ini dibikin pas wb dan kutakut feelnya gadapet(?) :((
      anw kak fikaaa makasih udah bacaa! :))

      Like

  3. “Binar yang dulu dikenal sebagai lelaki tampan berprestasi bukan tanpa alasan kini membanting stir menjadi gadis pemicu aib.” — ADOH KAK TITA titan sempat kucek mata beberapa kali takut salah baca dan eh ngga nih, ngga salah baca. kalimatnya ngga berubah. dan EEEEEEEEEEHHHHHHHHH!! TG?? ya ampun sumpah titan kaget. ngga nyangka deh .__.

    terus paling suka nih sama kalimat ini,
    “Kala pintu kayu tertutup di belakang punggung Binar, dia sendiri tak tahu apakah penyesalannya telah usai.” — jleb! Binaaarr whyyyyy :”(((

    the angst is killing meh :”((

    keep writing kak tita! 🙂

    Like

    1. HAhaha iya kamu gak salah baca kok tan dan aku gak salah nulis, yg salah cuma Binar(?) XD
      Sebenernya ini udah ngendap lama terus ragu jg mau dipake buat writing prompt karena kepepet yah kucoba deh.. anw makasih udah baca! ♥

      Like

  4. Aw, Tita. Ini syedih dan ambyar skali. Ga nyangka Binar dulunya cowok. Jadi keinget beberapa kasus yg pernah kutemu di media. Ada segelintir anak yg tumbuh dgn hati yg berkata lain dari doktrin orang2 tentang jenis kelaminnya. Bukan dia yg ingin berubah, tp tubuh dan hatinya yg berkata lain. :””

    Like

    1. Ah iya aku juga pernah denger kasus ini. Emang susah sih kalo udah naluri jadi gatau siapa yg harus di salahin. Kalo ga berubah juga kasian sama yg mnderita huhuhu
      Anw makasih udah baca, fatim! ♥

      Liked by 1 person

  5. Kak titaaaaaaaa jadi binar itu….yaaah… nabil mengerti 😦 penyampaian pergolakan batinnya nyampe banget, jadi nabilnya ga menyayangkan keputusaannya si binar huhu :((( dan yang paling nabil suka adalah…. cinta ibu yaaaa emang gaada batasnya bangeeet :)))) siraman rohani ramadhan ka titaaa, thankieesssss ❤

    Like

    1. Nabiiiilll…
      Iya kita ga bisa nyalahin dia gitu aja kan sbenernya bukan dia yg mau berubah. Dan iya juga, sebenci2nya ibu sama anak, pasti ttp dimaafin kok ((peluk mamahku)) 😂😂
      Siraman rohani apanya bil…. 😂😂

      Anw makasih jg udah baca! ❤

      Like

  6. tuh kan. kayaknya aku kemaren lupa nyampein, ya, kak? kalau udah pun gapapa, kuulang, hehe, soalnya yang aku suka dari kak tita itu gimana jadiin cerita sederhana punya twist yang JEDER terus ceritanya jadi luaaaaaaaaar biasa bagus. ehehehe. jadi, serius serius serius, ini aku suka banget karena ini genius! ❤

    keep writing kak titaaa! :))

    Like

    1. Hai lagi Evin!!
      sebenernya aku suka juga sama cerita yg ngetwist jadi yaa coba-coba juga bikin cerita kaya gitu ehehe
      makasiih udah bacaa! ;))

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s