[Writing Prompt] Surprise from the Future

a4f7d73735794000

Based on prompt: paper plane

by lucyhikaru

Kau siap?”

Tahun 3030,
Incheon International Airport
Seoul, South Korea.

Kent mengernyit. Musim gugur di bulan Januari sangatlah tidak nyaman. Warna oranye kecokelatan  hingga aroma lemon bercampur teh herbal begitu mengusik kedua indra terbaiknya. Ia mengedarkan pandangan pada seisi ruangan, ini lima kali lebih mirip dengan Paris daripada negeri ginseng yang dibayangkan. Apa Korea telah dijajah oleh bangsa Eropa? Entahlah, Kent bahkan tidak berniat untuk melahirkan lebih banyak pertanyaan di kepalanya dalam situasi genting.

Ia berjalan menuju ke sofa-bed berwarna putih yang disusun berkeliling memenuhi bagian tengah ruangan. Ruang tunggu yang mewah untuk sebuah bandara dengan menyisakan corak daun maple kecoklatan pada setiap petak keramik. Sedangkan pada dinding, mereka lebih suka menempelnya dengan kaca-kaca besar yang memantulkan segala aktivitas di sana.

Ya, namun sejauh yang dilihat sebagian besar didominasi oleh pos-pos berposter buah lemon dengan pucuk daun yang menawarkan teh herbal, dan mantel-mantel cokelat tak sama tapi mirip yang melekat rapi pada hampir seluruh orang di sana. Kent sendiri tidak tertarik untuk menyesuaikan suasana. Ia tetap percaya diri memakai kemeja berlengan pendek berbahan jeans berwarna biru dongker dengan celana katun longgar hitam kesukaannya. Berani taruhan, ia baru akan mencuci celana itu jika sudah dipakai lebih dari enam belas kali selama sebulan.

Setelah menemukan posisi yang nyaman, pemuda berusia 27 tahun ini mengerjap kagum ketika satu tiket pesawat terperangkap dalam jemarinya. Mungkin ini agak berlebihan, tapi sungguh ia bertindak wajar.

Kedua lensa hijau lumut milik Kent menatap kagum pada tiket tembus pandang berbentuk persegi—mirip sticky note berukuran medium—namun terbuat dari kaca dan berisi tulisan singkat dengan efek glow berwarna biru pada setiap huruf. Ini keren! Rupanya mereka berhasil menerapkan The Future of Glass Technology[1] yang telah dirancang sejak tahun 2012 silam.

Kent mengacak-acak rambut kuning kusam miliknya yang terlihat kurang nutrisi dengan teriakan girang. Ia bahkan tidak peduli pada anak kecil berambut merah yang duduk berjarak dua kursi setelahnya, melemparkan tatapan jijik dan kemudian menggeleng.

Mr. Kent Night
Natural Air, 10.25 am
Seoul – Chicago
Now: 10.01 am
Seat: 40F

Lensa Kent merekam setiap detail mulai dari bentuk, ukuran hingga tulisan yang tertera pada tiket. Ya, itu satu-satunya cara agar Luke Day dapat melihat seluruh kecanggihan teknologi di masa depan melalui alat kamera yang didesain khusus berbentuk softlens hijau lumut agar sesuai dengan warna iris milik Kent. Cara kerjanya sederhana. Apa pun yang dilihat Kent melalui matanya akan terekam oleh lensa tersebut yang kemudian tersimpan dalam memori sejenis chip sehingga Luke mampu memutar kembali seperti kenangan atau memori ingatan.

Siapa yang membuat ini? Tentu saja Luke, teman satu tim Kent dalam kompetisi inovasi pesawat terbang untuk kejuaraan dunia.

Secara fisik, Luke lebih mirip ilmuwan gila yang hampir tidak pernah bercermin untuk soal penampilan. Berewok tebal akibat jarang bercukur, bintik-bintik pada kulit wajah karena efek menegak alkohol terlalu banyak dan ditambah lagi mata panda yang lebarnya hampir lima sentimeter mengelilingi mata kantuk itu. Kaos longgar dan celana basket milik adiknya menjadi style terbaik. Tapi di luar dari itu, ia adalah orang yang merancang mesin waktu agar Kent bisa mampir ke masa depan sebagai salah satu bagian dari misi dalam mencontek inovasi pesawat terbang masa depan.

Mereka berbagi tugas dengan cukup adil menurut Kent. Karena Luke yang menciptakan semua teknologi canggih itu, maka ia yang sadar diri secara sukarela mau menjadi mata-mata. Kalau dipikir-pikir, bukankah itu suatu keberuntungan? Kent Night akan jadi manusia pertama masa kini yang menginjakkan kaki pada tahun yang bahkan jauh dari perkiraan para ilmuwan. Maka mulai dari sekarang ia harus banyak berterima kasih pada teman satu timnya itu.

Tiket menunjukkan pukul sepuluh lewat dua belas menit dan lagi-lagi Kent bereaksi berlebihan. Ia tersentak dengan mata membelalak hingga orang-orang yang melewatinya ikut kaget dan kemudian menggeleng tak peduli.

Dengan cepat, ia bangkit dan berjalan menuju tempat pemeriksaan yang ternyata dilakukan oleh robot kurus tanpa kepala namun punya delapan tangan yang bebas bergerak ke segala arah. Robot itu hanya punya dua jari bulat dan besar mirip capit kepiting. Di bagian telapak tangannya ada lubang, tempat keluar cahaya berwarna oranye yang mungkin adalah sinar laser. Ia tak sendiri. Ada sekitar tiga belas robot lainnya yang berdiri sejajar pada setiap tempat pemeriksaan.

Kent tidak tahu apa yang diperiksa oleh robot tersebut, yang jelas otaknya kini dipenuhi oleh pertanyaan secanggih apa pesawat yang akan ia naiki segera. Mungkin mereka telah merancang pesawat dengan bentuk seperti Iron Man yang identik dengan warna merah dan kuning, kemudian memiliki kecepatan super yang hanya bisa dilihat dalam satu kedipan mata. Atau bisa jadi pesawat tembus pandang persis seperti tiketnya dimana segala sesuatu menjadi lebih berkelas.

Oh! Oh! Jangan-jangan mereka juga telah menyediakan ruangan khusus untuk para pengidap Avoiphobia[2] seperti dirinya! Kalau memang benar begitu, Kent dengan hati riang berencana untuk berimigrasi ke masa depan setelah misi ini berakhir.

Pesawat tanpa sayap dengan kemiripan luar biasa akan obat berbentuk kapsul yang biasa dijual di apotek namun semi transparan seperti gelembung, membuat Kent membentuk terowongan lebar pada mulutnya hingga seruan kagum keluar begitu saja secara alami. Ia akan naik pesawat sekeren itu? Tuhan memang ahli dalam memberikan keberuntungan! Satu sorakan girang, membuat ia terlihat seperti manusia purba yang baru menginjakkan kaki ke perdaban modern. But yeah, itu memang benar.

Kent mulai menebak-nebak kalau pesawat yang berlabel ‘BBB’ itu (mungkin singkatan dari Bubble Bubble Bubble) dibuat dengan penggabungan antara konsep material komposit yang bahan utamanya adalah serat kaca atau fiber glass, Glass Techonolgy dan mungkin juga sedikit teori gelembung sabun.

Secepat kilat ia berlari ke arah yang berlawanan dari arus keramaian dan berhenti tepat di depan anak tangga pesawat BBB yang ternyata begitu mengilap dan kenyal. Sedetik saat jemarinya yang sudah sangat gatal hampir menyentuh selusur tangga, tiba-tiba seorang pria botak dengan perut buncit yang tercetak di balik seragam mekaniknya, menghempaskan tangan Kent dan mendorongnya mundur.

Sorry, Sir. Untuk apa anda kemari?” Suara itu terdengar sangat tegas dan jelas persis seperti namanya Hanz Clear yang tertera pada seragam mekanik baru itu.

“Oh, Aku akan melakukan penerbangan ke Chicago sebentar lagi. Dan, ya tentu saja dengan pesawat ini, bukan begitu?” Kent bereaksi normal dengan memberikan senyuman seramah mungkin pada Mr. Clear agar tidak terlihat mencurigakan karena ia jelas bukan manusia dari era ini.

“BBB tidak akan melakukan penerbangan ke mana pun karena sedang dalam tahap perbaikan karena faktor usia. Boleh saya lihat tiket anda?” kata Mr. Clear dengan nada curiga.

Kent membiarkan Mr.Clear membaca tulisan di tiketnya yang sekarang berkedip-kedip seperti lampu hiasan di malam natal.

“Apa anda tidak membaca tiketnya? Di sini tertulis Natural Air. Itu berarti pesawat yang akan membawa anda ke Chicago ada di sebelah sana, Mr. Night. Apa anda tidak pernah melakukan penerbangan sebelumnya?”

Kent menaikkan satu alisnya dan mengeryit. Baiklah, ini sungguh memalukan! Mengapa ia dengan tolol tidak sadar kalau nama maskapai penerbangannya berbeda? Astaga, bukankah ia justru terlihat seperti manusia primitif? Dengan senyuman malu, ia minta maaf pada Mr. Clear dan segera berlari menuju ke sisi kanan lapangan seperti petunjuk yang diberikan oleh pria botak itu.

Sesampai di sana, sesuatu yang lebih konyol membuat Kent mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ini lebih gila dari sekadar pesawat kenyal dan semi-transparan, tapi sama sekali tidak keren dan berbahaya. Sebuah pesawat kertas raksasa ramping terpakir siaga dengan manusia-manusia yang berebutan masuk ke dalam pintu kecil yang seolah-olah muat untuk ratusan penumpang.

Pesawat Itu benar-benar terbuat dari kertas daur ulang yang bahkan label Natural Air ditulis dengan spidol hitam dan hijau lalu sedikit diberi sentuhan teknik tipograpi. Jendela-jendela tampak seperti lubang kertas yang digunting persegi pada tiap jarak beberapa sentimeter. Sangat banyak, mungkin lima kali lipat lebih banyak daripada seharusnya. Kent terkejut karena ia sama sekali tidak melihat adanya unsur baja, besi, serat kaca, atau apa pun yang kelihatannya berat untuk menopang 150 penumpang beserta segala unek-unek dalam bagasi. Kent bahkan ragu pesawat ini bisa terbang, apalagi kalau cuaca sedang berangin atau malah badai topan, bisa-bisa terbawa angin dan menghilang selamanya.

Apa perancangnya sedang mabuk saat membuat pesawat ini? Yang jelas, kini Kent diserang kepanikan luar biasa hingga tak sadar ia telah menelan ludah kering berkali-kali dengan susah payah. Otaknya kembali melahirkan banyak pertanyaan secara perlahan diikuti kedua kakinya yang berjalan lemas menuju tangga kecil yang bahkan tak berani ia injak.

Kent adalah orang terakhir yang masuk pesawat. Itu pun karena didesak oleh petugas yang bertaburan di pinggir Natural Air. Setelah mendapatkan nomor kursi miliknya, ia baru memperhatikan sekeliling. Well, ini tidak terlalu buruk. Semua kursi penumpang menghadap ke jendela persegi dengan kertas mika sabagai pengganti kaca yang masing-masing muat untuk dua kepala. Jadi, hanya ada satu baris kursi memanjang di sebelah kiri dan kanan. Bagian tengah ruangan dialasi karpet merah sebagai jalan untuk para penumpang dan robot yang dikendalikan oleh pramugari dan pramugara dengan remote control. Kent juga melihat ada empat tombol dengan warna cokelat, merah, abu-abu dan oranye di sisi kanan kursi. Ia hanya tahu fungsi dari tombol berwarna merah untuk memunculkan meja kayu kecil, setelah melihat penumpang berkebangsaan Korea di sampingnya memencet tombol merah yang sama.

Sialnya, ia tidak bisa menelisik lebih jauh akan pesawat ini. Pandangan Kent mulai kabur diikuti keringat dingin yang membahasi punggung dan dahinya. Kent merasa gelisah. Tangannya gemetar, napasnya mulai tidak beraturan hingga terasa sangat sesak. Jantungnya juga berdetak sangat cepat hingga ia tak mendengar suara apa pun selain detak jantungnya sendiri. Ini pertanda buruk. Phobia-nya semakin menjadi-jadi.

Min Ji Park, penumpang kebangsaan Korea yang duduk di sebelah Kent merasa heran melihat wajah pucat dan dahi basah Kent yang tak lazim. Apa ia kepanasan? Yang benar saja! Pesawat ini dipenuhi dengan alat pendingin dan bahkan disediakan selimut penghangat tubuh agar penumpang tidak kedinginan.

Are you okay, Sir?

Kent hanya mengangguk. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk membuka mulutnya. Pesawat bahkan belum terbang, tapi ia sudah seperti orang sekarat. Mungkin ia akan pingsan kalau deru mesin pesawat mulai terdengar.

“Apa anda takut?” Min Ji Park mengatakannya sambil setengah tertawa tak percaya bahwa masih ada manusia di masa ini yang takut naik pesawat. Kent hanya membalas dengan senyuman masam. Ia tak berniat ribut atau pamer pada orang Korea yang namanya bahkan terlihat aneh saat dibaca oleh Kent secara tidak sengaja melalui name tag di baju formal yang dipakai oleh Min Ji Park.

“Tenanglah, semenit lagi kita akan sampai. Kau bisa mengandalkan Natural Air sepenuhnya.”

“APA?!” seru Kent dengan sebuah teriakan yang terdengar hingga ke empat kursi setelahnya. Ia cepat-cepat memelankan suaranya setelah sadar diperhatikan oleh penumpang lain.

“Maaf, kita sudah terbang? Maksudku pesawatnya sudah lepas landas?”

Belum sempat Mr. Park menjawab, bunyi Ting! terdengar dan semua penumpang termasuk Mr. Park mulai beranjak dari kursi. Mereka sudah sampai di Chicago hanya dalam hitungan menit, tanpa deru mesin atau merasa terbang sekalipun! Bukankah ini keren?

Menurut Kent ini gila.

Secepat mungkin ia keluar dari pesawat dan disambut oleh mentari hangat di O’Hare International Airport. Kelegaan menbanjiri Kent. Perlahan-lahan dirinya sudah kembali stabil dan sesuai dengan rencana ia segera menuju ke toilet pria untuk kembali.

Misi selesai.

Tahun 2020,

Luke’s House, Leeds. 

“Aku mencium bau kemenangan, Kent!”

.fin.

Note:

[1] The Future of Glass Technology click here

[2] Material jenis baru yang dibangun secara bertumpuk dari beberapa lapisan. Teknologi ini sekarng banyak dipakai pada struktur pesawat terbang karena dianggap lebih kuat dan memenuhi standar STWR (Strength To Weight Ratio) yang merupakan perbandingan antara kekuatan dan beban bahan itu sendiri.

Advertisements

5 thoughts on “[Writing Prompt] Surprise from the Future

  1. Ini…ini menakjubkan. *0*
    Mengawali pagi dengan baca cerita sci-fi ringan *sci-fi kan yah? Eh bener gak? 😄 * entah kenapa bikin semangat lagi.. uhuu.
    Kece iih, aku suka deskripsinya pas gitu detilnya dan nyaman banget buat dibaca. dan, seriusan kepikiran aja plot beginian. Mantap lah! 😀
    Ada beberapa typo tapi yaudahlah, pokoknya aku puas sama ceritanya. Terimakasih utk ceritanya dan keep writing always! 😀

    Like

  2. hai hai lucy :))) pertama-tama aku mau bilang kalo ide cerita kamu keren banget. i mean, nggak semuanya punya imajinasi luas kayak kamu gini, dan aku suka sama penggunaan kalimatnya. santai tapi cukup bisa ngasih gambaran ke pembaca tentang ‘dunia baru’ yang kamu bangun hihi. forever in love sama nama BBB (bubble bubble bubble) omg adorable sekaliiii!!!! hahahaha xD dan … omg yang bener aja pesawat kertas, lyke seriously???? semenit dari seoul ke chicago atuh mah keren bangettt haha. suka pas pendeskripsian si kent keringet dingin gegara pesawat yang bakal dia tumpangin penampakannya kek gitu wkwk. yosh!! keep writing yaaa 😀

    Like

    1. Hai kak ,
      ya nih aku berharap masa depan bakal kyak di cerita ini hehehe
      kan seru tuh #eh
      tapi pesawat BBB justru jadi peswat rongsokkan kak wkwkwk
      anw, thanks for reading 😄

      Like

  3. Helloo, Lucyhikaru. Aw, aku suka bnget sama idenya. Ngintip masa depan! Wow, skali :))
    Btw, soal softlen yg punya fungsi kamera, ngingetin aku sama Artemis Fowl! Kebetulan kemarin baru baca novel canggih ini.

    Aku nemu sdikit typo, ‘perdaban’. Juga, avoiphobia yg mungkin maksudnya aviophobia, ya hehe dan catatan kakinya kulihat nomor 2 kan tentang phobia, kog ga nyangkut sama keterangannya, ya. Mungkin kamu salah penempatan angkanya :))

    Dan aku malah penasaran sama kata2 Luke di ending. Kemenangan. Hmm menang krn Kent selamat pulang dan berhasil curi ide dari masa depan, kah?

    At least, tulisanmu ini cukup keren, Lucy! 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s