[Writing Prompt] Sang Pemimpi

635963556385883343-1341965896_dreamscape.jpg

by kimminjung00

based on prompt #5 Dream

Jika sudah begini, kami jadi merindukan rumah kecil kami yang nyaman.

Aku hanyalah Sang Pemimpi.

Sang pendamba kebahagiaan yang disuguhkan dalam layar kaca. Sang pendamba ketulusan yang nyata. Sang pendamba ikatan sederhana bernama persahabatan.

Mereka datang menghampiriku dengan seulas senyum lebar. Menawariku ajakan makan siang sampai kumpulan kupu-kupu dalam perutku menggelitik brutal. Membuat otot pipiku pegal dengan lejitan bersemangat yang sulit kuenyahkan.

Namun mereka kemudian pergi. Setelah melihat asap mengepul keluar dari kepalaku. Setelah aku kehabisan kata untuk membuat mereka paham dengan rangkaian angka di papan tulis. Setelah menyalin hasil jerih payahku semalaman yang kutuang dalam lembaran kertas.

Meninggalkanku seorang diri di sini. Hanya memandang ke depan dari balik mejaku tercinta. Hanya menunggu mereka menyerukan kembali namaku. Hanya berharap mereka menarik tanganku lagi seperti waktu itu.

Waktu sudah berlari kencang selagi aku duduk manis menunggu. Lalu mereka kembali menghampiriku. Masih menawarkan ajakan serupa. Masih dengan senyum bodoh yang memuakkan. Masih mengenakan topeng yang sama.

Tapi aku bisa apa?

Orang kesepian yang hanya bisa mengemis dalam diam. Berharap ada satu orang saja yang sudi menggenggam tangannya. Tanpa mengharapkan imbalan.

Pada akhirnya, yang kulakukan hanya mengangguk dan mengenakan topengku sendiri. Mencoba jadi satu-satunya yang berbahagia di antara mereka yang bersandiwara.

****

Dia hanyalah Sang Pemimpi.

Sang pendamba kisah klasik penuh romansa. Sang pendamba lelaki sempurna yang membuatnya merasa bagaikan berada di langit ke tujuh. Sang pendamba kasih sayang serta kebahagiaan yang ditawarkan perasaan bernama cinta.

Seorang lelaki datang menghampirinya. Menyuguhkan seulas senyuman yang memikat. Menyebar tatapan penuh afeksi. Menghasilkan sejuta spekulasi yang membuatnya terlihat menyedihkan.

Cara ampuh melumpuhkan seorang gadis adalah dengan memberinya sejuta perhatian. Buat dia salah paham, lalu kau akan berhasil menyelinap masuk dan memiliki singgasana mewah dalam hati kecilnya.

Sialnya, lelaki itu berhasil telak melumpuhkannya. Membuatnya kesulitan beranjak meski realitas berulang kali menamparnya keras-keras.

Dia hanya bisa berdiri diam. Memaksa netranya menonton laga paling mengerikan yang pernah dilihatnya. Mengabaikan bulir bening yang bocor membasahi wajahnya. Matanya beradu tatap selama sepersekian detik bersama si gadis. Namun orang itu melihatnya bagaikan secarik plastik tembus pandang lantas kembali melanjutkan kegiatannya. Membuat dia ragu dengan apa makna teman yang sesungguhnya.

Waktu sudah berlari kencang selagi dia berusaha membodohi dirinya sendiri. Lalu lelaki itu kembali datang padanya. Masih dengan senyum memuakkan. Masih menyandang status yang sama. Masih mengenakan topeng yang sama.

Tapi dia bisa apa?

Orang malang yang haus akan cinta. Berharap Tuhan menyisakan satu lelaki saja yang sudi menemani hari-harinya. Tanpa rasa cemas akan dibohongi.

Pada akhirnya, yang dilakukannya hanya tersenyum menanggapi dan mengenakan topengnya sendiri. Mencoba jadi orang paling bodoh di antara orang bodoh yang membodohi dirinya sendiri.

****

Kami hanyalah Sang Pemimpi.

Sang pendamba realitas tanpa air mata. Sang pendamba akhir bahagia dalam lakon drama. Sang pendamba genggaman tangan serta senyuman yang nyata.

Pada awalnya, kami berpikir bahwa dunia adalah tempat indah yang menyenangkan. Kami berpikir bahwa kami sangat beruntung lantaran dapat memijakkan kaki dan menghabiskan seluruh hidup kami di sana.

Ya, pada awalnya begitu.

Sampai kami meninggalkan rumah kecil kami yang nyaman. Bertukar sapa dengan manusia bertopeng yang berkeliaran di mana-mana. Menyembunyikan apa yang ingin disembunyikan. Menunjukkan apa yang ingin ditunjukkan. Membuatnya tampak luar biasa baik dengan hati yang luar biasa busuk.

Kendati begitu, terus menyalahkan mereka yang bertopeng juga bukan solusi yang tepat. Karena pada akhirnya, kami sendiri juga mengenakan topeng yang sama.

Jika sudah begini, kami jadi merindukan rumah kecil kami yang nyaman. Tempat di mana semua lapisan topeng yang kami kenakan dilucuti satu persatu. Tempat di mana senyum hangat serta kasih sayang yang tulus berkumpul. Tempat di mana kami merasa dunia adalah tempat paling indah yang pernah kami pijak.

Ya, rumah kami memang tempat yang seindah itu. Dengan pelukan hangat seorang ibu yang selalu siap menyapa.

—end—

Advertisements

7 thoughts on “[Writing Prompt] Sang Pemimpi

  1. Ey juuuung, kok bukan nama penamu yang dipasang di atas? /nunjuk atas/ malah id-mu wkwk. Tapi rapopo, ini bagus. Analogi cantik mengenai kepalsuan orang-orang di sekitar kita. Topik yang berkali-kali diangkat pun tak akan membuat bosan, justru bikin yang baca berapi-api. Hihi. Jadi sejauh aku baca gaada typo dan tulisannya ngalir cantik gitu. Cuma… saran aja sih ya, kalau memang ini orific, akan lebih baik jika ada dialognya meski hanya satu/dua kalimat. karena kalau nggak ada sama sekali, sebenere itu lebih pantes disebut prosa. Tapi gapapa, semangat ya nulisnya. Have a nice day ♥

    Like

  2. Whoaaa first thing first, yess aku suka banget analoginya tentang orang-orang palsu (palsu) di sekitar kita, bikos emang mereka tuh deket banget sih ama kehidupan sehari-hari. Terus terus yang scene 1 dong, itu iya banget. Cuma dateng kalo ada maunya doang, begitu selesai, yaudah ditinggalin huft. Aku suka repetisi di tiap scene tapi subjeknya beda. Dan kujuga suka kalimat-kalimatnya nggak bikin bosen gitu, ehe. Anw aku setuju ama komennya niswa. Sebenernya bisa kamu tambahin konversasi walaupun cuma sekalimat kok, tp gapapa hihi. Next time bisa dicoba lagi, right? Yosh semangat terus yaaa. Tulisanmu baguuus kusuka 😊

    Like

  3. Ini baguuuusssssss. Aku suka banget sama pemilihan kata-perkatanya.

    Bahasanya simpel namun indah 😆😆

    Dan ini bener banget. Kadang kita memasang topeng hanya untuk “bergabung” dengan mereka. Biar mereka tau keberadaan kita sampe kita sendiri lelah dan lupa buat melepas topeng itu.

    Oh iya, ini prosa kah?

    Terus menulis yaaaaa 😁😁😁😁

    Like

  4. Syedih. Jadi keinget dulu masa2 sekolah sempet depresi krn permasalahan smacam ini. Dan bahkan saat di keluarga, topeng itu harus tetap dipasang demi membahagiakan orang tua :’)))
    Aku suka bagian fakta cew bakal klepek2 kalau dikasih perhatian dari cow hahaha

    Like

  5. Haae imel! First time baca fiksi kamu udah disodorin yang ironi ironi begini…. tapi nabil sukaaaaa uwooooo :)) sudut pandangmu luas yaaaa, kritis lageeeh. Mantaap sekaliii :)) dan bener sekali, no where feel like home huhuuuu 😦 keep writing ya kamuuuuuh :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s