[Writing Prompt] Monster in Childish Game

q2

Grown Up by Angelina Park

Bicara tentang menjadi lebih dewasa agaknya menjadi topik yang sensitif bagi Krist. Keseharian yang ia lewati hanya dengan duduk termenung di suatu taman belakangan ini patut dicurigai sebagai akibat dari sebuah kecerobohan. Benar, sepertinya Krist belum mengenal sepenuhnya tentang dirinya sendiri.

Bukan perkara yang besar, sebenarnya. Ia hanya terlambat menjadi dewasa. Terlambat membuka pikirannya akan realitas kehidupan yang sebenarnya. Terlalu cepat mengambil kesimpulan, terlalu cepat berspekulasi. Intinya, mungkin kehidupan menjadi sedikit berbeda untuknya kali ini.

Melihat dari sudut pandang yang berbeda, Krist hanya mampu terdiam. Ia ingin meluruskan segalanya, ingin menghapus penyesalan tentang dirinya yang sudah jatuh dalam kegelapan. Membuka lagi jalan untuk kembali, sesungguhnya ia ingin agar proses pendewasaan dirinya dipercepat saja kala itu.

“Kenapa, Krist? Ada yang aneh denganmu.”

Bahkan ia masih saja terdiam saat teman barunya itu ikut duduk di sampingnya. Namanya Rui, omong-omong. Gadis Jepang dengan surai panjang itu hanya menatap Krist dalam diam. Baginya memang sedikit sulit untuk mengakrabkan diri dengan Krist. Bukannya apa, hanya saja sepertinya kepribadian mereka sangat bertolak belakang. Rui adalah gadis yang murah senyum, dan satu juta dolar pun nyatanya tak mampu untuk membuat Krist tersenyum barang sekali saja sejak pertemuan pertama mereka.

“Aku tahu kau sedang berada dalam lingkaran yang sulit. Tapi―hei, ini belum kiamat dan sebaiknya kau mulai membiasakan diri, Krist.”

Masuk telinga kanan lalu terpelanting jauh adalah umpama yang paling tepat digunakan ketimbang masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Krist memilih menjadi anak kecil sekali lagi. Sebuah paradoks dalam pikirannya yang seakan mati rasa. Ingin mengulang pendewasaan diri namun mengalami stagnasi dalam jiwa kekanakan yang menyebalkan.

Semilir angin bermain dengan rambutnya yang sudah tak tampak lagi apa warnanya. Hanya kilauannya yang memantul penuh cinta dengan sinar mentari pagi. Kecantikan yang tertutupi sendu, wajah malaikat yang menghilang bersama pilu.

Rui mulai hilang akal, ia tak tahu lagi bagaimana mendekatkan dirinya dengan gadis sejenis Krist. Dirasa menyebalkan tapi setidaknya Rui lebih bisa berpikir jernih. Bahwa Krist hanya sedang mengalami syok berat tentang jati dirinya. Tentang kehidupannya yang sudah tak seperti dulu lagi.

“Menerima kenyataan adalah bagian dari mendewasakan diri, Krist. Jangan lagi kembali menjadi anak manja dan bertingkah ceroboh untuk kedua kalinya.”

“Lalu apa yang kudapat dari semua ini nantinya? Tak akan ada yang berubah. Aku sudah tak dapat meraihnya.”

Tatapan itu, Rui sangat ingat dengan hal itu. Ketika ia juga menyesali segala yang terjadi dalam hidupnya. Tapi Rui menjadi dewasa dengan sendirinya, keikhlasan itu mengalir begitu saja dalam hatinya. Karena ia sadar bahwa dirinyalah yang bersalah, dan setiap pendosa wajib mempertanggungjawabkan semuanya sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.

Rui memang tak dapat menjawab pertanyaan Krist. Tapi ia sangat tahu bahwa gadis di sampingnya ini hanya butuh waktu. Krist butuh waktu untuk menyesuaikan keadaannya lagi, menyesuaikan dirinya atau mungkin juga hatinya. Perasaan tak dapat mati begitu saja, berbeda dengan raga yang mutlak dalam kefanaan.

“Tapi buktinya ia datang kemari untuk bertemu denganmu dan―eh, sejak kapan ia telah ada di situ?”

Rui membulatkan matanya kala melihat seorang pemuda yang duduk bersila di depan mereka. Krist masih memandangnya sayu, dan Rui benar-benar kaget karena sepertinya ia terlalu asyik bicara dan tak menyadari kehadiran seorang tamu.

“Sejak kau mulai mengoceh tak penting,” balas Krist datar. Ia lalu terbang menjauh dari Rui―atau lebih tepatnya, menjauh dari pemuda yang mengunjunginya itu.

“Krist! Aish, katanya kau galau karena rindu, tapi―hei, siapa sekarang yang kekanakan?!”

Bukannya Krist tak suka, hanya saja ia masih tetap ingin menangis tiap kali duduk di taman itu seorang diri. Terlebih lagi dengan kehadiran si pemuda, rasanya mati untuk kedua kalinya bukanlah menjadi sebuah perkara besar baginya.

Tapi mereka yang telah mati tak bisa kembali mati, dan mereka yang telah menyesal akan selamanya tenggelam dalam penyesalan. Semua ini hanya tentang seandainya ia yang tak ceroboh dalam membuat keputusan, mungkin kehidupan bahagia selamanya seperti jargon dongeng pada umumnya itu telah digenggam oleh tangannya.

Jadi, siapa yang salah? Sang kekasih yang terlambat memberi penjelasan, atau Krist yang terlambat mengerti?

Ternyata rasa cemburu itu memang mengerikan.

FIN

Advertisements

One thought on “[Writing Prompt] Monster in Childish Game

  1. Aku syok;;; Krist nyeselnya telat bnget ya, pas udah jadi jiwa yang melayang2. Sebelumnnya kukira Krist ini buat kesalahan besar sampai ngehancurin keluarga. Dia terusir dari keluarganya, trus jadi glandangan yg tinggal di taman x,D ngedrama sendiri.
    nice nice Angelina! :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s