[Writing Prompt] Penangkal Jam Malam untuk Pangeran

castle

Prompt: Night curfew

Picture credit: Indulgy

© 2016 namtaegenic

:::::

Sebelumnya, aku ingin memberikan sebuah pemberitahuan, bahwa cerita ini—seperti dongeng-dongeng zaman dahulu pada umumnya—akan dimulai dengan kata alkisah.

Alkisah, tepat satu bulan setelah Monarki Utara baru saja menetapkan perjanjian perdamaian dan gencatan senjata dengan Monarki Selatan, permaisuri melahirkan seorang putra mahkota. Mereka menamai bayi mungil itu Hayden.

Kehadiran Pangeran Hayden membawa kesukacitaan rakyat monarki pasca berakhirnya peperangan secara damai. Wajahnya tampan, kulitnya putih merona, dan rambutnya berwarna keemasan. Ditambah lagi suaranya begitu menggelitik tiap kali ia membuka mulut.

Raja dan Ratu Monarki Utara menyatakan kebahagiaan mereka dengan menggelar selebrasi berupa pesta kerajaan besar-besaran atas kelahiran pangeran, dan turut mengundang pihak Monarki Selatan untuk hadir memeriahkan.

Pesta dimulai pada pukul tujuh malam, rakyat dan bangsawan semuanya diundang. Ratusan pelayan istana menempatkan diri pada posisi siaga satu antara dapur dan sejumlah meja berisi prasmanan dengan puluhan piring kalkun, air mancur cokelat berukuran raksasa dengan berbutir-butir stroberi di sekelilingnya, bermacam jenis kudapan khas kerajaan, dan sebuah meja di pojok timur yang menyediakan bermacam-macam minuman. Orkestra khusus kerajaan memainkan musik polka bertempo ceria pada jam-jam tertentu di mana para tamu tidak sedang memegang makanan, musik andante untuk mengiringi acara makan (oh, para tamu tak bisa berhenti makan, sepertinya!), dan perpaduan bunyi alat musik gesek dan piano khusus untuk mengiringi para muda-mudi yang membawa kencan masing-masing.

Acara berhenti sejenak, ketika Pangeran Hayden dihadirkan. Si kecil itu berada dalam keranjang bayi berwarna biru muda, dan raja mengambil alih acara dengan memberikan sepatah dua patah kata, betapa beliau sangat bersyukur karena perang telah berakhir, dan kehadiran putra mahkota di tengah-tengah kerajaan mereka.

Begitu acara dilanjutkan kembali, perwakilan dari Monarki Selatan yang dikenal Raja sebagai ahli sihir kerajaan menghampiri si pemimpin. Mereka berjabat tangan, lantas si penyihir Monarki Selatan beralih pandang ke arah pangeran yang tertidur pulas.

“Sebelumnya, saya mewakili keseluruhan Monarki Selatan, memohon maaf karena hadir dengan tangan nyaris kosong, Baginda Raja,” ujarnya seraya menunduk santun. Raja melambaikan jemarinya, menyatakan bahwa itu tak jadi soal. Persetujuan perdamaian mereka sudah membawa dampak cukup besar bagi rakyatnya dan itu sudah lebih dari cukup.

“Namun atas perintah raja kami, saya akan menawarkan sesuatu yang lebih berguna, khususnya bagi putra mahkota.”

Dahi Raja Utara berkerut. “Dan apakah persisnya sesuatu itu, Tuan?”

Si ahli sihir mengeluarkan sebuah botol bening seukuran ibu jari, dan memberikannya pada raja. Botol tersebut berisi serbuk berwarna biru berkilauan, dan mengambang di seluruh penjuru botol. Serbuk itu bergerak seperti debu di udara yang terhampar sinar matahari.

“Ini Serbuk Etika, Baginda Raja. Jika—dan hanya jika—Baginda menyetujuinya, Baginda bisa menaburkan serbuk ini di kaki putra mahkota. Maka seumur hidupnya, ia akan selalu patuh pada peraturan istana.

“Jika Baginda menginginkan putra mahkota untuk bertutur kata santun—meskipun ia tidak menginginkannya—Baginda gumamkan hal itu pelan-pelan seraya menaburkan Serbuk Etika ini ke kaki putra mahkota. Apabila Baginda menginginkan agar putra mahkota hanya menikahi putri dari kerajaan lain alih-alih rakyat jelata, lakukan hal yang sama.”

Raja Utara tampak mengelus dagunya, mempertimbangkan hadiah dari Monarki Selatan. Kerajaan tersebut kini tak punya masalah lagi dengan mereka. Namun tak lantas raja percaya begitu saja. Ditambah lagi, alih-alih mendatangkan utusan kerajaan yang kompeten, mereka malah mengirim seorang penyihir kerajaan kemari. Bukankah itu namanya mencurigakan?

Namun raja bukanlah pemimpin yang tak bijak. Beliau mengambil botol berisi Serbuk Etika yang melayang-layang tersebut, dan mengucapkan terima kasih yang tulus pada si penyihir. Tak lupa beliau menitipkan salam untuk monarki dan rakyat di sana.

Serbuk Etika itu terus berada di telapak tangan Raja hingga pesta usai. Merasa curiga, bukan berarti raja tak boleh menimbang-nimbang.

:::

Beberapa tahun kemudian, saat Pangeran Hayden berusia tujuh tahun dan sedang bersama guru privatnya mempelajari tumbuhan berbiji terbuka dan tertutup di kebun kerajaan, seorang pelayan menghadap raja. Wanita berusia lima puluh tahun itu meminta izin cuti demi mencari putranya yang sudah tiga hari tidak pulang. Ketika ditanyai alasannya, ia hanya menjawab, bahwa putranya tersebut memiliki kebiasaan pulang terlambat, melewati jam malam yang ditetapkan ibunya. Sepeninggal pelayan tersebut, raja buru-buru pergi ke kamarnya. Beliau membuka laci nakas, lantas mengeluarkan Serbuk Etika yang didapatkannya tujuh tahun lalu dari penyihir Monarki Selatan.

Pangeran sudah diajari untuk berbicara santun pada siapa saja, diajari memperlakukan wanita dengan hormat, dan strategi negosiasi. Namun raja menyadari bahwa ia tak akan bisa menghalangi langkah pangeran.

Menggenggam erat botol tersebut, raja memutuskan sesuatu.

Maka ketika Pangeran Hayden tidur, raja mengendap-endap masuk ke kamarnya, mengabaikan pandangan hormat sekaligus heran dari para penjaga, lantas menarik selimut pangeran dan menaburkan Serbuk Etika ke kedua kaki putranya seraya bergumam: “Patuhi Jam Malammu.”

Serbuk Etika ini barangkali memang ada gunanya.

Barangkali.

:::

Pangeran Hayden memutuskan sesuatu tepat satu minggu setelah perayaan ulangtahunnya yang ketujuh belas—ia akan mengabaikan jam malamnya dan menginap di tempat rahasia bawah tanah milik salah satu temannya. Dorian memang genius. Pemuda itu memanfaatkan sebuah penjara bawah tanah tua yang kini tidak terpakai, menjadi sebuah penampungan tuna wisma. Memiliki koneksi dengan salah satu penghuni kerajaan—yang mana adalah putra mahkota sendiri, benar-benar menguntungkannya. Dorian peduli pada tuna wisma, tapi jika ia bisa mendapatkan biaya ekstra dari kemurahan hati pangeran, maka mereka bisa berteman.

Di sisi lain, Pangeran Hayden sendiri penasaran, bagaimana rasanya pulang melewati jam dua belas—jam yang sudah ditetapkan oleh raja padanya—atau bahkan tidak pulang sama sekali. Selama enam belas menuju tujuh belas tahun hidupnya, ia menjalani keseharian di mana ia mematuhi semua peraturan kerajaan yang berlaku untuknya, tanpa tahu apa gunanya. Ia bosan dikekang peraturan. Ia bosan dikendalikan.

Putra mahkota ingin bebas.

Tapi Pangeran Hayden tidak tahu penyebab utama mengapa ia tak pernah berada di luar rumah lewat dari pukul dua belas malam. Ia sudah mencoba melanggar peraturan kerajaan lain seperti membolos pelajaran privatnya, datang terlambat ke arena pelatihan perang, menggunakan kuda paling liar di ranch kerajaan, dan masih banyak lagi. Namun ia tak pernah bisa pulang di atas pukul dua belas malam. Tidak pernah bisa. Selalu ada yang menariknya untuk bergegas pulang ke istana, bahkan tanpa alasan apa pun.

Maka dari itu, pangeran memutuskan bahwa inilah saatnya ia benar-benar mencoba melanggar peraturan yang satu itu.

Aku—di sisi lain—memberikan kesempatan untuk kalian menebak apakah putra mahkota kita satu ini berhasil melewati jam malamnya?

Jawabannya tentu saja tidak.

Pengaruh Serbuk Etika benar-benar tak pandang bulu. Serbuk itu bahkan sanggup membuat Pangeran Hayden ingkar janji bahwa ia akan membantu Dorian untuk menyiapkan tempat tidur baru dan bahan makanan bagi para tuna wisma tersebut—dan menginap, tentu saja. Mereka berencana untuk main kembang api dan melihat-lihat kegiatan di pasar saat pagi buta—ketika semua sayuran, daging, dan makanan laut segar dipasok ke blok-blok penjual.

Tiga puluh menit lepas dari pukul sebelas malam, pangeran tiba-tiba bangkit dari bangku tamu yang disediakan Dorian, mengemasi sabuk pedangnya, dan melangkah kaku ke arah tangga menuju permukaan halaman belakang tempat itu, ketika Dorian memandangnya aneh.

“Ada masalah, Hayden?”

“Ti-tidak,” Pangeran Hayden berusaha melawan gerakannya sendiri. Ia merasa ganjil, seakan-akan ada yang mengendalikan seluruh saraf dan persendiannya. “Tapi aku …”

Dorian mengerang kecewa.

“Serius, deh! Kau terbiasa ingkar janji atau bagaimana? Kita tidak sedang pesta minum-minum, Bung! Kita sedang melakukan aktivitas sosial!”

Di tengah perlawanannya, Pangeran Hayden memandang para tuna wisma yang hilir mudik di koridor. Yang paruh baya tengah mengangguk penuh terima kasih padanya. Yang masih kecil sedang khidmat mengunyah roti. Hatinya seperti dihenyakkan ke keranjang sampah.

Kaki kanan pangeran mulai bergerak menjauh, disusul kaki kirinya.

“Maaf, Dorian. Aku tidak tahu kenapa—“

“Mungkin aku berharap terlalu banyak. Omong-omong singgahlah ke sini sore hari.” Dorian tersenyum kecewa lantas berbalik, berlagak bicara pada petugas penginapan tuna wisma lainnya.

Perlahan, Pangeran Hayden menaiki undakan ke permukaan.

:::

Raja Monarki Utara bukanlah ayah yang tidak bijak, para pembacaku. Merasa bahwa putranya barangkali agak menderita dengan pengaruh serbuk yang terlalu kuat, raja akhirnya menceritakan semuanya mengenai pesta penyambutan kelahiran putra mahkota tujuh belas tahun yang lalu, serta hadiah dari Monarki Selatan, berupa Serbuk Etika. Pangeran Hayden tadinya tak percaya, tapi karena raja tak pernah sekalipun membohonginya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri ke Monarki Selatan dan menemui penyihir itu—semoga si penyihir panjang umur.

Bermil-mil berkuda hanya dengan dua pengawal kerajaan, akhirnya Pangeran Hayden tiba di wilayah kekuasaan Monarki Selatan. Ia disambut hangat oleh raja, ratu, petinggi, serta si tukang sihir sendiri.

Menikmati teh camomile di ruang tamu kerajaan, pangeran menyatakan maksud kedatangannya tanpa basa-basi.

“Percaya tidak percaya, saya baru bisa keluar lagi pada pukul lima pagi. Saya tidak bisa mengawasi bagaimana kinerja rakyat saya di pasar pagi-pagi buta, saya tidak bisa ikut membantu sahabat saya di penampungan tuna wisma, saya bahkan tidak tahu apa-apa mengenai rakyat saya sendiri, karena dari pagi hingga sore hari, saya harus menjalankan kewajiban saya sebagai putra mahkota di dalam istana. Saya jadi tidak punya waktu untuk rakyat.”

Si penyihir tertawa santun, namun sorot matanya jenaka.

“Pangeran Hayden sungguh pandai.”

“Ah, saya tidak demikian.”

“Maksud saya, pandai berbicara.”

Mendengar pernyataan si penyihir, pangeran lantas tersinggung. Si penyihir melanjutkan. “Pangeran mungkin memang peduli pada kegiatan rakyat. Namun yang lebih membuat Pangeran penasaran sehingga bertekad untuk datang kemari itu … bukankah karena Pangeran ingin mengukur seberapa besar nyali Pangeran untuk melanggar peraturan kerajaan?”

Pangeran Hayden terhenyak di bangku—untung saja teh camomile itu sudah lebih dulu melewati kerongkongannya. Mendadak ia merasa marah pada penyihir ini, lebih-lebih karena ucapannya mungkin saja benar.

Pangeran Hayden memang suka melihat kegiatan rakyatnya. Tapi hal utama yang ingin ia gebrak justru adalah peraturan dari kerajaannya sendiri.

Ia ingin bebas tanpa jam malam—itulah inti dari semua keinginannya selama ini. Ia ingin merdeka dari semua peraturan istana.

“Terus terang, kedatangan Pangeran kemari menurut saya sedikit tidak berguna. Tidak ada ramuan sihir yang bisa membalikkan pengaruh dari Serbuk Etika.”

Pangeran Hayden mendesah kecewa. Ia menghabiskan tehnya, dan bergerak hendak pamit, ketika tiba-tiba si penyihir menatapnya lekat-lekat.

“Namun percayalah, Pangeran. Setiap sihir pasti punya penangkal.”

:::

Pangeran Hayden menemui raja pagi-pagi sekali. Ia membicarakan perihal rencananya mengenai pengaturan jadwal.

“Ayahanda, mengingat bahwa saya berada di bawah pengaruh Serbuk Etika, izinkan saya untuk mengambil tiga hari dalam satu minggu, untuk keperluan saya sendiri. Saya akan menjalankan semua kewajiban di dalam istana pada hari Senin hingga Kamis, dari pagi hingga sore. Tiga hari sisanya, saya akan pergi keluar, mengawasi kegiatan rakyat monarki sampai jam malam saya berakhir.”

Permintaan yang tidak biasa, tapi juga tidak sulit untuk diluluskan. Dengan itu raja secara resmi menyetujuinya.

Pangeran melakukan tugasnya dengan lebih baik lagi. Ia tak lagi pernah terlambat untuk latihan pedang, tak pernah menghindari guru privatnya, dan mengembalikan kedisiplinannya pada hari Senin hingga Kamis.

Dorian akhirnya menerima apa pun alasan Pangeran Hayden meski ia tidak percaya mengenai Serbuk Etika dan semacamnya. Lagi pula, putra mahkota tersebut tak pernah menghentikan aliran dana untuk tuna wisma. Ia memang pulang seperti boneka opera setengah jam sebelum pukul dua belas, tapi Dorian tak lagi ambil pusing.

:::

Aku, selaku pencerita, memberikan kalian pembacaku yang budiman, sebuah pilihan. Jika kalian merasa bahwa pengaturan jadwal demi mengakali jam malam Pangeran Hayden sudah cukup, silakan berhenti membaca sampai di sini.

Namun bagi yang masih merasa tidak puas dengan jawaban si penyihir Monarki Selatan tepat sebelum pangeran berpamitan, silakan mengikutinya kembali. Tak begitu lama, aku jamin itu.

Suatu malam, ketika pangeran sedang berada di penginapan tuna wisma bawah tanah milik Dorian sahabatnya, sebuah keajaiban terjadi. Penanda waktu di tempat mereka bekerja, menunjukkan lima belas menit menuju pukul dua belas, namun Pangeran Hayden belum juga bangkit dan melangkah otomatis menuju undakan.

“Ini terlihat seperti gerakan Boneka-Opera-Jam-Malam-mu sudah sembuh,” Dorian menahan napas. Pangeran Hayden, sama terkejutnya, secara refleks memandangi sekujur tangan dan kakinya. Tidak ada yang kaku, tidak ada yang berada di luar kontrol. Semuanya di bawah kendalinya.

Jam berdentang tepat tengah malam, dan Pangeran Hayden masih di tempat. Dorian bersorak. Pangeran Hayden bersorak. Para tuna wisma bersorak. Pangeran dikerubuti dan diberi selamat.

“Jadi kau bisa menginap di sini dengan kami, eh, putra mahkota?” Dorian tenggelam dalam euforia. Namun pangeran justru terdiam. Setelah ia menerima keadaannya yang terpengaruh efek Serbuk Etika, tanpa sadar ia bisa mengatur waktu. Ia mungkin tidak bisa mengawasi kegiatan pasar di pagi buta, namun asisten kepercayaan yang ia pilih dari istana juga sudah melakukannya dengan baik.

Yah, ia memang perlu terjun langsung ke lapangan sebelum pengaruh Serbuk Etika itu habis, yang mana adalah sangat tidak mungkin. Tapi setelah semuanya sekarang menjadi mungkin, apakah dia perlu memantaunya tiap hari?

Kalian rasa tidak, pembacaku?

Kurasa juga demikian.

Maka dengan keinginannya sendiri, Pangeran Hayden bangkit. Ia menggeleng minta maaf pada Dorian, yang mana—kuberitahu sekali lagi—merupakan akhir dari cerita ini.

“Mungkin lain kali, Dorian. Aku ingin mematuhi jam malamku sesekali.”

FIN.

 

Advertisements

18 thoughts on “[Writing Prompt] Penangkal Jam Malam untuk Pangeran

  1. Huaaaa huaaa suka, serasa lagi didongengin xD
    Jarang aku nemu yang kaya gini, tbh aku menikmati sekali ceritanya.
    Thanks thanks author

    Like

  2. Kak eci, ini bagus banget. Bikin pembaca bener2 jadi budiman, hahaha. Dan trnyata si pangeran jadi patuh sendiri sama peraturan jam malam ayahnya. 😀
    Tapi, masa aku mikir scene terakhir itu ada tebakan tersembunyi gitu kak? La bertanya2 kenapa bisa sihirnya gak bekerja lagi? Atau mungkin sihirnya berlaku kalau ada keinginan untuk mengekang peraturannya, ya? Hahaha.
    #maapsotoy
    Terimakasih atas ceritanya, kak 😀 keep writing!

    Like

    1. Iya dhil jadi tuh pengaruh sihirnya jadi pudar karena pada akhirnya pangeran ‘ngakalin’ jam malam itu dengan membuat jadwal sendiri instead of memberontak, karena tujuan dari serbuk etika itu kan buat mendisiplinkan. hehehe. makasih dhila sudah mampir ^^

      Like

  3. Kak eci, sukaaaa!

    Disini aku berasa bener2 didongengin sama kak eci. Rasanya semacam kak eci yg lagi cerita gitu dan aku mendengarkan.

    Dari yang aku dapet disini ya, apapun yang kelihatannya ‘enggak bangt’ bisa jadi malah Bagus banget. Jd si pangeran ini karena waktunya mepet ya mau gak mau harus ngatur sedemikian rupa supaya semuanya dapat dijalani. Ehehe. Maaf atuh kalau sotoy:(

    Pokoknya suka, kak. Nice ff!:3

    Liked by 1 person

  4. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA KAECI INI APA KETJE BANGET SUMPAH ❤ ❤ ❤

    awawawa, titan terpesona dengan narasi kaeci di sini. aduh, kehabisan kata-kata! dan ya ampun, selama baca ini tuh titan serasa didongengin hahah ❤

    terus ini,
    [ Maka dengan keinginannya sendiri, Pangeran Hayden bangkit. Ia menggeleng minta maaf pada Dorian, yang mana—kuberitahu sekali lagi—merupakan akhir dari cerita ini.

    “Mungkin lain kali, Dorian. Aku ingin mematuhi jam malamku sesekali.” ] — waaaaahhhh gorgeous ending, kaeci!! kusukaaaa ❤ ❤ ❤

    dan titan bertanya-tanya sih, kok tiba-tiba efek sihirnya hilang? apa sihirnya itu bekerja selama pangeran bandel ((bandel yha lord)) pengen pulang lebih dari jam malamnya? terus sihirnya lenyap saat pangeran sudah bisa mengatur waktunya sendiri atau semacamnya gitu, kak??

    aaahhh, laf laf sama cerita ini! ❤ ❤

    keep writing, kaeci!! 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya jadi kan tujuan dari serbuk etika itu untuk mendisiplinkan pangeran. Nah efeknya hilang karena pada akhirnya si pangeran memilih untuk menyiasati aktifitasnya gitu, instead of memberontak. Makasih Titan sudah mampir ^^

      Like

  5. Wah, Kakeci ngedongeng, tapi ga bikin ngantuk.
    Bener ya, kalau udah terbiasa mentaati peraturan, walau terpaksa, akhirnya malah bakal janggal di hati kalau ada kesempatan buat lolos dari peraturan. Hayden manis skaliiii
    Tapi aku masih penasaran kenapa sihirnya hilang. Aku mikirnya malah ada yg meninggal, si penyihir itu. Ekstrim ya xD
    Atau atau karena Hayden sudah mulai tulus menaati peraturan :)))

    Like

    1. yang bener adalah yang kedua, bahwa ketimbang memberontak, pangeran hayden justru ngakalin jam malam gitu, jadinya kan serbuk etika yang tadinya dimaksudkan untuk mendisiplinkan efeknya justru pudar hehehe. makasih fatim sudah mampir ^^

      Liked by 1 person

  6. KECEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE KAECI KECEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE CERITANYA KECEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE PANGERAN HAYDEN KECEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE SERBUK ETIKA KECEEEEEEEEEEEEEE ENDINGNYA LEBIH KUECEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

    UWOH KAECI SUMPRITLAH IM GONNA LUVIT FROM SHAF JAMAAH TARAWEH TERDEPAN HINGGA SHAF TAK TERHINGGA~~~

    KECENYA POL-POLAN!!!!

    Suka sekali model narasinya huhu kak dongengin kak (slaps) daaaaaan moral valuenya!!! Hastagah! Aku hening sejenak kek di upacara ngunu tapi lebih khidmat memahami endingnya iki Hayden lapo… dan taraaaaaaaa huhu kucintah kepslok untuk merefleksikan after-effect yang duahsyat pol kecenya. Dan sungguh kucinta bagaimana kaeci tida membuat hubungan kedua kerajaan semakin runyam dan omomo penyihir ahjussi nomu wise yhaaa ❤

    Ini bukan sembarang night curfew!!! Yoksi kak nam-nya kaeci paling kece ❤ ❤ ❤

    Like

    1. Kakpang yuhuuuu! Ini after effect apa gimana kakpang hahaha Alhamdulillah kalau suka cerita ini. Makasih kakpang sudah mampir ^^ salam dari pangeran hayden!

      Like

  7. manisnyaaaa ini kyk dongeng anak2 yg ringan tapi bahasanya agak diberatin dikit. lucu sih gmn penyihir selatan itu ngasih bubuk etika, aku juga mau pake biar jadi anak baik kyk hayden ^^
    keep writing kak eci!

    Like

    1. halo liana! iya sebenernya ga ada ruginya juga jadi anak baik ya pangeran hayden, malah jadi bisa ngatur jadwal sendiri, hehehe. makasih liana sudah singgah kemari ^^

      Like

  8. KAK ECIIII!!!!! (eh bener kan?)
    INI KOK AKU MALAH BAPER BAYANGIN PANGERAN TAMPAN YANG?!?! KENAPA–oke abaikan aja
    ini unik banget deh kak! bener-bener macem didongengin, ngalir bangeett seru~
    sumpah pas pangerannya tersinggung sama kata-kata si penyihir itu, aku udah waswas, waahh ini perang lagi ga ya? eehh ternyata si pangerannya bisa ngatasin masalahnya sendiri ❤ (SEKALI LAGI KENAPA AKU MALAH BAPER SAMA KAMU WAHAI PANGERAN!)

    keep nulis kak eci ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s