Riddle: Daddy’s House

pic source here

a riddle by Keii

Musim panas kali ini benar-benar yang terburuk. Aku baru saja kembali dari Walmart setelah membeli stok sereal, sayuran segar dan beberapa baterai—karena semua yang ada di rumah sudah membangkai habis daya—saat aku sadar, aku lupa membeli beberapa kotak Whiskas baru.

Alhasil, di dapur, Gary hampir mencakar kakiku. Kucing sialan milik mendiang ayahku itu memang tak pernah jinak sejak ia tinggal denganku. Mungkin karena Ayah terlalu memanjakannya dahulu. Meski aku darah dagingnya, aku, ‘kan, tetap berbeda dengan Ayah.

Sudah lama aku tak pulang ke Chicago—tempat tinggal Ayah—bahkan aku baru tahu kalau belakangan selama Ayah hidup, beliau rajin mengadopsi kucing jalanan, membawanya ke rumah dan memberikannya pada aliansi perlindungan hewan setelah peliharaannya tumbuh besar.

Aku tidak tahu sudah berapa ekor kucing yang dia “bantu”, tapi syukurlah aku cuma bertemu Gary. Punya seekor saja sudah sangat merepotkan.

Kalau mau jujur, sebetulnya aku tidak masalah dengan aksi cakar-mencakar Gary atau biaya makanannya yang setara dengan seporsi pizza untuk makan siangku. Hanya saja, saat ibuku wafat dahulu, aku sangat takut pada kucing.

Aku percaya kucing punya sensitifitas tinggi pada kehadiran makhluk gaib. Beberapa hari setelah ibuku wafat, Larry, kucing peliharaannya, mendadak gelisah dan mencakar-cakar pintu depan. Ia melotot ke arah jendela, dan menolak untuk berlama-lama di dalam rumah. Karena kerap mengacau, Larry akhirnya diserahkan Ayah pada tetangganya.

Beberapa hari setelahnya, barulah aku tahu apa yang membuat Larry ketakutan. Di jendela, aku melihat sesosok nenek-nenek berambut putih. Di kepalanya tersemat sebuah tiara berwarna perak, yang dari bagian tengahnya mengucur darah segar tiada henti, bak air mancur. Darah itu membasahi pakaiannya yang putih compang-camping, meluruh di wajahnya yang seram, hingga tumpah ke jendela rumahku. Giginya yang busuk ditunjukkan padaku, seolah ingin diakui eksistensinya. Pada saat itu, aku baru lima tahun, usia di mana orang-orang dewasa menganggap ceritaku sebagai fantasi kosong.

Karena aku yang gigih mengeluh, lantas pada saat usiaku sembilan—atau, setelah empat tahun lamanya aku hidup bersama hantu nenek-berdarah—Ayah menyetujui untuk menjual rumah kami dan pindah ke perumahan lain yang lebih baik. Terakhir kalinya aku lihat rumah itu, Ayah ada di sampingku, bilang bahwa sebaiknya aku lupa pada rumah cokelat minimalis itu, termasuk pada sederet kenanganku dengan Ibu. Kutebak, Ayah pindah karena beliau belum bisa melupakan kepedihannya sejak ditinggal Ibu.

Aku mencoba memahaminya dengan menyetujui untuk ikut hijrah ke rumah baru Ayah di Chicago.

Pada saat kami baru saja pindah, tak sedikit tetangga yang mengatakan bahwa rumah yang kami beli adalah rumah angker, seram, dan sebagainya, karena konon, dahulu bangunan induknya dibangun di tanah eks kuburan massal pembantaian tentara tahun 70-an. Aku tidak tahu soal ini, karena (untungnya) aku cuma sempat tinggal di rumah ini selama enam hari, sebelum akhirnya surat beasiswa datang dan memaksaku hijrah ke London.

Empat tahun lamanya aku di London, sementara Ayah tinggal sendirian di Chicago. Tapi, selama aku merantau, aku tak pernah mendengar Ayah mengeluh soal kejadian-kejadian mistis, jadi kupikir isu itu cuma gosip murahan para tetangga yang tidak suka rumah kami lebih besar dari mereka.

Waktu aku menerima kabar perihal jantung Ayah yang kambuh, aku langsung terbang meninggalkan London secepat yang aku bisa. Sepanjang perjalanan, isi kepalaku dipenuhi semua memori tentang Ayah; momen-momenku bersama Ayah—yang ternyata tak sebanyak yang kupikir—membuat diriku menyesal luar biasa saat ia akhirnya tunduk pada penyakitnya.

Ingin kembali ke London pun rasanya aku sudah tidak sanggup. Di depan pemakamannya, aku bersumpah akan menghabiskan waktuku di Chicago, menyelesaikan apa yang Ayah lakukan setiap hari di sini. Aku berjanji menjadi seorang gadisnya yang baik dengan mengurus rumah, dan mengurus Gary setiap hari.

Yah, walaupun terkadang aku lupa soal Whiskas-nya.

“Miaw!”

Nah, Gary makin marah sekarang. Ia masih mencakar-cakar lantai, menggerung ke arah pintu.

Ya ampun, kucing nakal.

Lantaran aku capek, kutinggalkan Gary dan sekantung besar barang belanjaanku di dapur. Dari tadi aku benar-benar kepanasan. Jadi, aku masuk ke kamarku, merebahkan tubuh di atas kasur sembari menikmati pendingin udara yang baru saja kusetel maksimal.

Aku memejamkan mata.

Huft.

Mungkin para tetangga itu ada benarnya juga.

.

.

fin.

Serius ya aku muncul terus di beranda WS itu bukan ingin membuat bosan, beneran, deh.

Keii.

Advertisements

30 thoughts on “Riddle: Daddy’s House

  1. analisa aku begini:
    1. gary mencakar dan menggerung ke arah pintu itu berarti ada hantu di dalam/luar pintu. makanya si aku bilang bahwa ‘barangkali tetangganya benar’

    2. gary nyaris mencakar kaki si aku di dapur, mungkin hantunya masuk ke dapur?

    3. gary nggak pernah jinak pada si aku. mungkin di dalam rumah itu ada hantu.

    Like

  2. Kucingnya mencakar-cakar karena ada ‘seseorang’ disana /?
    Soalnya sebelumnya disebutkan kalau kucing punya tingkat sensitifitas yg tinggi akan munculnya makhluk gaib(?)

    Like

  3. biarkan zy dengan sotoynya menjawab :’v

    jadi yang pertama terlintas di pikiran Zy masa
    Si ‘aku’ itu hantu, soalnya Zy kepaku sama bagian dia enggak sanggup balik ke London. Entah hubungan rincinya bagaimana.

    :’v ditunggu jawabannya, ya ❤

    Like

  4. Aku tuh selalu deh kalau habis baca riddle tuh merasa sangat oon. Bahahaha.
    Karena kadang aku ga nemu juga, ini ada apa sebenarnya. wkwkwk.
    Tapi di riddle ini, aku nebaknya ada hantu di pintu.. gara-gara Gary cakar-cakar gitu.
    Anyway, Gary aku ngebayanginnya jadi siput, bukan kucing.. MAAFKAN AKUUUU.

    Riddle selalu keren di mataku! Ayo bikin lagi…. 😀

    Like

  5. halo kaknyun ^^ lama ga baca riddle nya heheh kangen jaman di ifk dulu
    tebakanku kok hampir sama ya sama yg lain, jadi pokoknya si aku ini bukan hantu tapi bapaknya mungkin ngikut. bapaknya meninggal kan?
    dan aku merasa kalimat penutup itu hanya pengalihan hahaha ga tau juga sih, pokoknya si aku sdh tahu ada ‘sesuatu’ tapi ‘sesuatu’-nya siapa memang kurasa ga ada petunjuk…
    trs ini mgkin oot tapi kok aku merasa … eh … maap nih kak–agak kurang rapi ya? atau mgkin aliran eydku aja yg sesat, yg menulis ‘ayah’ dgn ‘Ayah’ dsb.-nya gitu.
    tapi fic seperti ini memang harusnya dinikmati apa adanya ya ehe jadi abaikan saja yg barusan. flownya masih enak diikuti sih, sasuga kak nyun ^^ keep writing!

    Like

  6. kemungkinan versi absurdnya pemikiran angel:
    1. si aku itu hantu karena dia ga pernah akur sama gary (kucing sensitif dengan makhluk gaib)
    2. si kucingnya yang hantu, karena entah kenapa si aku lupa mulu beli whiskas (bisa jadi cuma suara kucing nyakar lantai aja dan ga ada wujudnya)
    3. si nenek-berdarah jadi stalker si aku xD

    Like

  7. Aku gak nangkep riddlenya apa, huhu. Aku nyimak komennya aja kak nyun. 😦
    Tapi dari komen2 yg masuk akalku sih yg tebakan marseu, eh bener gak sih? Hahaha
    Keep riddle-ing *?* kak 😀

    Like

    1. Astaga, ternyata clue-nya ToT
      Yosh kak, aku gak akan kapok nebak riddle berikutnya :^

      Like

  8. Hmmm, tebakanku cuma dikit. Rumah itu ada hantunya, yg mungkin arwah mendiang ayahnya, krn kelakuan Gary yg ga tenang sejak dia tinggal sama si aku.
    Kalau soal hantu nenek, dia muncul stelah kematian ibunya aku, ya? hmmm /loading xD

    Like

  9. Kak Nyun, ini pertama kali kah aku baca riddle-nya? Idk kenapa aku nebaknya tokoh “aku” di sini adalah hantu bikos Gary nggak akur melulu sama dia, “aku” lupa beli Whiskas terus, dan “aku” nggak bisa balik ke London lagi? Tapi logikaku terlalu cetek buat mikir riddle sih :” Omong-omong, “ayah” itu harusnya ditulis pake awalan huruf kapital nggak, sih? Maaf kalo aku sok tahu, EYD-ku sendiri juga masih amburadul soalnya. Keep writing, Kak ^^

    Like

  10. KANYUN LAGI SERING POST, NABIL MALAH GAADA KUOTA WHYYYY :((

    Yang nabil pikirin pas baca ini, kalau bukan ada hantu di rumah itu, si akunya ini yang hantu wkwkwkwk semoga bener :))

    Yeoksi kaaaak, kalau riddle mah pasti kaknyun banget ❤ (maaf komennya pendek huhu)

    Like

  11. baru rau kalau Riddle tuh mnarik, sbeleumnya prnah bca cman gk prnah lanjut hehe~ pdhal yg kyak gini bantu bgef buat ngasah otak 😀

    aku tunggu riddle lainnya kak nyun, btw aku gk jawab riddle-Nya -_- aku lngsung buka jawabannya ajah alias nyontek spertinya wkwk
    gak tau nih otakku yg gmna atau apah, yg jelas riddle slanjutnya moga aku bsa jawab tnpa nyontek dlu wkwk hahah

    udh lama gk maampir ke wp kak nyun 😦 , aku ingin tau kak nyun hbat dlam mnulis tuh resepnya apa??? soalnya aku trtarik bnget buat nulis apalgi nulis yg tulisaannya berbobot kyak milik kak nyun ini…pkok e KAK NYUN Jjang!!!!! 🙂 🙂

    Like

  12. Yehet aku sudah bingung di akhir..
    Jadi ini di rumahnya si aku ada hantu nya kan?
    Katanya batre pada abis total tapi kok bisa nyalain ac? Apa manual yha?.-.
    Well sudah lama aku kangen sama riddlemu kanyun❤❤thank you buat riddle ambigunya inii.. fightinggg gbu~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s