[Special Event: The Inauguration] Between Piano and Violin

tumblr_lp7w8tUDum1r0h3l5o1_400

by Ami_cutie

Originally published on SJFF, December 2009

Namaku Kim Ryeowook, panggil saja aku Ryeowook. Aku adalah siswa kelas X di Gojung High School. Dan, bermain piano adalah keahlianku. Hal inilah yang membuatku terkenal di seantero sekolah.

Kriinnngg….bel masuk berbunyi…

Park sonsaengnim masuk. Buru-buru aku mematikan ipodku dan duduk manis di sebelah sahabatku, Lee Sungmin. Kami merasa cocok karena sama-sama senang musik. Bedanya dia jago main gitar. Dan, ehm, menurut cewek-cewek di kelasku, kami juga sama-sama imut. Tapi mereka lebih sering ngobrol dengan Sungmin, karena Sungmin orangnya periang dan easy going. Sedangkan aku, boleh dibilang sedikit tertutup dan penyendiri.

“Selamat pagi anak-anak…Hari ini kalian kedatangan murid baru dari Kanada. Henry haksaeng, silakan perkenalkan dirimu.”

“Annyeong haseyo…namaku Henry Lau. Panggil saja Henry. Salam kenal…”ujarnya sambil membungkuk.

Aku hanya melihat anak baru itu dengan tatapan dingin. Sedangkan Sungmin, kelihatannya sangat antusias. Dan aku mendengar bisik-bisik dari cewek-cewek yang duduk di belakangku.

“Orangnya manis juga ya…imut lagi…”

”Kayaknya bertambah lagi cowok-cowok imut di kelas kita…”

”Ah..aku pengen segera kenalan lebih jauh sama dia..”

Huh…komentar yang sangat tidak berbobot menurutku. Tidak bisakah mereka komentar yang lain?

”Tapi sepertinya orangnya ramah. Tidak seperti Ryeowook yang dingin dan pendiam.”

MWO??? Berani-beraninya mereka membanding-bandingkanku dengan anak baru itu. Kuakui aku memang pendiam, tapi pendiam tidak selalu buruk kan? Menurutku lebih baik diam daripada melontarkan kata-kata yang tak bermafaat…seperti yang dilakukan orang pada umumnya. Sebelum telingaku sakit karena mendengar kata-kata cewek itu, lebih baik aku memberikan sedikit peringatan…

”Bisakah kalian sedikit lebih tenang?”ujarku dingin dengan tatapan lurus ke depan. Seketika, cewek-cewek yang hobi gosip itu langsung diam tak berkutik.

”Hm..baiklah Henry, silakan duduk di sebelah Ryeowook…”

Di sebelahku? Lalu bagaimana dengan Sungmin?

”Dan Sungmin, silakan pindah ke bangku kosong yang ada di sebelah kananmu itu.”

”Ne, sonsaengnim…”jawab mereka berdua. Sungmin segera mengemasi tasnya dan pindah bangku, sementara Henry duduk di sebelahku, yang tadinya ditempati oleh Sungmin.

”Annyeong…”sapanya ramah. Aku hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.

”Namamu Ryeowook ya?”tanyanya. Ini anak cerewet amat sih…pikirku.

”Ya…”jawabku.

”Baiklah siswa sekalian, pelajaran akan kita mulai…”ujar Park sonsaengnim sambil menulis di papan tulis.

”Kita sekarang belajar apa ya?”tanya Henry.

Henry, kalau di papan tulis  ada gambar not balok seperti itu, berarti kita belajar Seni Musik…ingin sekali aku menjawab pertanyaannya dengan jawaban seperti itu.

”Ehm…seni musik..”jawabku singkat tanpa beralih dari buku catatanku.

”Oh…”ujarnya pelan. ”Boleh aku lihat catatanmu sebentar?”tanyanya lagi.

Aku tetap menekuni buku catatanku sambil sesekali melihat ke papan tulis, seolah tidak mendengar apa yang ia katakan.

”Ryeowook…”panggilnya sambil menepuk lenganku berulang-ulang. Garis lurus yang tadinya kubuat sekarang melenceng.

”Haissshhh…”ucapku geram.

”Ya Henry ssi!!! Bisakah tidak menggangguku terus? Ini, ambillah buku catatanku, dan jangan ganggu aku lagi, arasseo!!!”bentakku kepada Henry sambil menghempaskan buku itu di mejanya. Kontan semua siswa di kelasku, juga Park sonsaengnim menoleh kearahku.

Aku benar-benar malu sekarang. Reaksiku sepertinya berlebihan. Kulihat wajah Henry yang sedikit ketakutan.

”Ada apa, Ryeowook haksaeng?”tanya Park sonsaengnim.

”A…ani..aniyo…”ucapku terbata-bata.

“Mata saya minus, sonsaengnim, jadi saya tidak bisa melihat tulisan sonsaengnim dengan jelas…”ujar Henry. “Kacamata saya ketinggalan…”

Oh…itu alasannya…aku jadi merasa bersalah sekali padanya.

”Baiklah, nanti sepulang sekolah kamu keruangan saya. Nanti saya akan berikan kopian bahan ajar dari awal…”

”Kamsahamnida sonsaengnim…”

Pelajaran dilanjutkan kembali. Seni Musik adalah pelajaran favoritku, tapi entah kenapa rasanya aku tidak semangat lagi…

”Ntar pinjam catatan Sungmin saja…”gumamku.

– – – – – – – – – – – – – – –

Rasanya putaran jarum jam begitu cepat. Sekarang saatnya untuk pulang. Semua siswa sibuk mengemasi buku-buku mereka.

”Ng…Henry ssi…”panggilku.

”Ya…kenapa?”jawabnya ramah sambil mengalihkan pandangannya kepadaku.

”Aku minta maaf soal yang tadi…”

”Oh..gapapa kok. Aku yang salah, mengganggumu pas mencatat…”jawabnya. ”Lain kali aku ga akan kaya’ gitu lagi, ga akan ganggu kamu lagi. Maaf, aku harus buru-buru ke ruangan Park sonsaengnim…”ujarnya sambil melangkah keluar kelas. Dan tidak lupa ia melemparkan senyumnya.

”Hei..Wookie…”panggil seseorang. Suara Sungmin.

”Yup..”jawabku singkat.

”Gimana rasanya duduk sama Henry?”tanya Sungmin.

”Biasa aja…”jawabku. Anaknya rada cerewet…

”Oh…gitu…Aku pengen banget ngobrol-ngobrol sama dia.”

”Yuk kita pulang…”ajakku. Sungmin mengangguk.

– – – – – – – – – – – – – – –

Keesokan harinya…

Aku sedang ngobrol-ngobrol dengan sahabatku itu. Tiba-tiba…

”KYAAAAA!!!!”kudengar jeritan kagum dari cewek-cewek di kelasku. Kenapa sih?

”Ya ampun…Henry ssi cool sekali dengan kacamata itu…”puji salah seorang di antara mereka. Teman-temannya turut menimpali.

”Biasa aja kenapa?”gerutuku kesal.

”Yah..kamu maklum ajalah. Cewek-cewek kan gitu, kalo melihat cowok cakep suka ga tahan. Coba kalau kamu liat cewek cantik, pasti rasanya juga sama kan? Yah..tentunya ga pake teriak-teriak segala…”jelas Sungmin. Aku hanya manggut-manggut. Kuakui Sungmin jauh lebih bijak dariku kalau soal pergaulan.

Mataku mengikuti kemana arah Henry berjalan, sampai akhirnya ia duduk di bangkunya. Ia meletakkan tasnya lalu membaca buku.

Bel masuk berbunyi. Aku segera kembali ke tempat dudukku. Kulihat Henry, ia sudah selesai membaca bukunya. ”Hai…”sapanya sambil tersenyum.

”Hai…”balasku.

Tak lama kemudian sonsaengnim masuk. Eh, bukan…bukan sonsaengnim. Itu kan Cho Kyuhyun, ketua klub matematika, sekaligus murid kesayangan Kim sonsaengnim. Dia kelas X1, sedangkan kelasku ini adalah kelas X2.

”Annyeong, chingudeul…Kim sonsaengnim sedang sibuk, jadi tidak bisa masuk hari ini. Jadi saya , Cho Kyuhyun, ditugaskan untuk mengantikan beliau.”

”Ooohhh…”semuanya manggut-manggut.

”Kalau tidak salah, sekarang bab 5 ya?”

”Ya….”

”Oke…”ucap Kyuhyun. Ia mulai menulis di papan tulis, mencatat bahan pelajaran yang dititipkan Kim sonsaengnim padanya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menuliskan semua bahan. Kulihat Henry sudah selesai mencatat.

”Sepertinya ia suka belajar matematika…”pikirku.

”Bagaimana, apakah semuanya sudah selesai dicatat?”tanya Kyuhyun.

”BELUUUMMMM…”

”Ya sudah, kalian selesaikan dulu…”ujarnya, lalu dia duduk di meja guru sambil membolak-balik buku matematika dengan serius.

”Apakah sudah selesai?”tanyanya lagi.

”SUDAAAH…”

”Baiklah, akan saya jelaskan…”ujar Kyuhyun, lalu ia menjelaskan semua yang ditulisnya di papan tulis. Yang lain manggut-manggut.

Cara mengajar Kyuhyun boleh juga. Rasanya jauh lebih dapat dipahami daripada cara mengajar Kim sonsaengnim. Beliau mengajar terlalu cepat dan tidak memberikan kesempatan untuk bertanya.

”Adakah yang ingin ditanyakan?”tanya Kyuhyun sambil melemparkan pandangannya ke seluruh kelas.

”Ng…coba ulangi cara mencari persamaan fungsi seperti contoh soal nomor 2 tadi, Kyuhyun ssi. Saya kurang mengerti…”tanya seseorang di sebelahku, tidak lain dan tidak bukan adalah Henry.

”Baiklah…saya akan jelaskan kembali.”jawabnya. Lalu ia menjelaskan soal nomor 2 yang ditanyakan Henry tadi.

”Bagaimana, sudah mengerti?”

”Sudah. Gomawo atas penjelasannya…”

”Ya, sama-sama. Oya, Kim sonsaengnim tadi menitipkan tugas ini buat dikumpul besok lusa. Mian, saya harus ke kelas dulu. Annyeong…”

”Annyeong…”balas beberapa orang. Yang lainnya sibuk sendiri, tapi kelas tetap tenang.

Kyuhyun berjalan ke luar kelas. Dan lagi-lagi tidak kusangka Henry menyusulnya. Sayup-sayup kudengar percakapan mereka di luar kelas.

”Kyuhyun ssi..tunggu…”panggil Henry.

”Ya, ada apa?”

”Aku murid baru disini. Salam kenal…Henry imnida…”

”Oh..murid baru? Selamat datang di Gojung High…”

”Ngomong-ngomong kenapa kau bisa jadi tutor pengganti Kim sonsaengnim?”

”Oh…tidak ada…aku cuma ditunjuk, begitu saja. Tapi aku ketua klub matematika di sekolah ini. Mungkin itu alasannya.”

”Begitu ya… Oya, apakah kau tidak keberatan jika kita belajar matematika bersama?”tanya Henry.

”Tentu saja boleh. Kalau kau mau mengajak temanmu juga silakan.”

”Makasih ya. Aku ke kelas dulu…”

”Ya…”

Setelah itu Henry kembali ke kelas. Ia berjalan menuju setiap bangku yang diduduki siswa-siswa di kelas ini, buat kenalan sekaligus ngobrol. Dalam waktu singkat, ia sudah mendapatkan banyak teman, termasuk Sungmin.

Jam istirahat tiba. Henry pergi keluar kelas bersama anak-anak lainnya, sedangkan aku disini dari tadi tidak diajak bicara. Huh, menyebalkan!

Sungmin berjalan menghampiri tempat dudukku.

”Wookie…”sapanya.

”Ada apa?”tanyaku balik.

”Ternyata Henry anaknya lumayan menyenangkan ya…”ujarnya. Huh, bikin aku tambah kesal saja. Buat apa kau ke sini kalau cuma untuk memuji-muji anak baru itu…pikirku.

”Ya sudah, aku keluar dulu ya…Kau mau ikut?”ajaknya. Aku menggeleng.

Aku duduk di kelas sendirian, membiarkan musik yang mengalun dari ipodku menyusup ke telinga. Ya…beginilah aku, Ryeowook yang pendiam. Ryeowook yang menyukai kesendirian. Bukankah musisi hebat biasanya adalah orang penyendiri? Aku tidak peduli apa kata orang, yang penting aku menikmatinya.

Tapi kata-kata tadi hanya berlaku beberapa saat saja. Sekarang rasanya aku kesepian. Sekarang rasanya aku butuh teman. Tapi bagaimana? Mereka tidak pernah mengerti aku. Satu-satunya teman dekatku di kelas ini hanya Sungmin. Dan sekarang ia pergi bersama Henry. Jujur, aku iri dengan Henry, yang bisa mendapatkan banyak teman dalam waktu singkat. Sedangkan aku? Selama beberapa bulan di sekolah ini, temanku hanya Sungmin, Sungmin, dan Sungmin.

Bel berbunyi lagi, tanda waktu istirahat telah usai. Goh sonsaengnim masuk ke kelas kami, mengajar Bahasa. Aku tidak terlalu memperhatikan, pikiran ini sulit sekali diajak kompromi.

Jarum jam berada di angka 1. Goh sonsaengnim mengakhiri pelajarannya. Aku mengemasi buku dengan malas.

”Ryeowook, kau mau ikut kami?”tanya Sungmin. Di sampingnya ada Henry.

”Kemana?”

”Kami mau ke rumah Kyuhyun, belajar matematika bareng. Abis itu, baru main ke rumah Henry…”

Kenapa tidak Henry saja yang mengajakku secara langsung? Kenapa harus dengan perantara Sungmin?

”Maaf, aku tidak bisa ikut. Aku banyak urusan…”jawabku.

”Oh..ga papa kalau begitu. Kami pergi dulu ya…annyeong…”Sungmin melambaikan tangannya padaku. Sementara Henry hanya tersenyum tipis.

”Annyeong…”balasku. Setelah itu mereka pergi.

Aku melangkah dengan gontai menuju rumah. Biasanya aku naik bus, tapi sekarang entah kenapa aku ingin berjalan kaki. Pikiranku dipenuhi pertanyaan yang semuanya tak bisa kujawab.

Kenapa sikap Henry agak aneh ya? Ramah kepada semua orang, tapi tidak kepadaku. Apanya yang salah?

Ah..sudahlah. Mungkin sudah nasibku untuk tidak punya banyak teman…

– – – – – – – – – – – – – – –

Akhirnya, sampai juga di rumah. Seperti biasa, aku ganti baju dulu, lalu makan siang.  Setelah itu, aku berjalan ke arah piano dan duduk di depannya.

Mungkin hanya piano yang mau menjadi temanku…

Jari-jariku mulai memencet tuts-tuts piano yang berwarna hitam putih itu. Hitam dan putih…seperti kehidupanku sekarang, polos, tanpa warna.

Tak butuh waktu lama, aku mulai terhanyut ke dalam permainanku sendiri. Hm..melodi yang begitu indah…

– – – – – – – – – – – – – – –

Semakin lama, Henry semakin akrab dengan anak-anak di kelasku. Dan Sungmin semakin sering bergaul dengan Henry. Secara tidak langsung, aku merasa ditinggalkan. Tapi, aku tidak begitu peduli. Biar saja mereka berubah. Yang penting aku tetaplah aku.

Tak terasa, sekarang sudah akhir semester. Park sonsaengnim, guru Seni Musik, memberikan tugas kepada kami untuk menampilkan music performance. Tentunya aku tidak mau bekerja setengah-setengah demi mata pelajaran favoritku ini…

Beliau membagi kami menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua orang. Aku berharap bisa sekelompok dengan Sungmin, karena kami sudah sering memainkan musik bersama-sama, sehingga tidak butuh adaptasi lama. Hm…semoga saja…

”Lee Sungmin dengan Park Soonhee…”

Huh…ternyata Sungmin sekelompok dengan cewek jenius itu. Trus bagaimana denganku? Bisa-bisa nilaiku terancam nih…

”Dan terakhir, Kim Ryeowook dan Henry Lau…”

Hah? Aku-sekelompok dengan-dia?

“Saya beri waktu selama 2 minggu. Ingat, ini sebagai nilai untuk akhir semester. Jadi, berusahalah dengan sungguh-sungguh…”setelah itu beliau pergi keluar kelas.

”Hmmmhhh…”dengusku. Aku melihat anak-anak itu sudah sibuk berdiskusi mengenai konsep music performance yang akan mereka bawakan. Sedangkan aku? Masih mencoret-coret buku tulisku. Aku terlalu canggung untuk mulai bicara duluan. Dan dia? Masih sibuk membaca komik. Menyebalkan sekali!

”Emm…Henry…”panggilku.

”Ntar aja kita diskusiin. Aku lagi sibuk.”ujarnya dengan mata tetap fokus di komik.

Kenapa sih anak ini? Hari pertama ramahnya minta ampun. Sekarang malah dingin dan cuek. Ya sudahlah, kalau kau ga mau bekerjasama denganku, aku bilang saja mau tampil sendiri…tinggal bilang sama Park sonsaengnim, apa susahnya? Beliau kenal aku cukup baik…jadi tidak ada masalah.

Aku kembali sibuk mencoret-coret buku tulis, menulis kalimat-kalimat ga jelas. Aneh, kenapa aku jadinya malah ingin sekali tampil bareng dia ya?

– – – – – – – – – – – – – – –

Bel pulang berbunyi. Rasanya hari ini aku tidak semangat. Kukemasi buku dengan malas. Lalu berjalan keluar kelas dengan gontai.

”Wookie!!!”panggil seseorang. Aku yakin sekali itu Sungmin, karena hanya dia yang memanggilku dengan sebutan itu. Tapi hari ini aku tidak ingin ngobrol banyak dengannya, apalagi kalau yang dibicarakannya adalah Henry. Aku terus mempercepat langkah, tidak peduli dia mau menyusulku.

”Wookie…tunggu…”panggilnya sambil mengatur nafas.

”Kenapa kamu ngejar-ngejar aku?”tanyaku. Dengan ekspresi sedingin mungkin.

”Ada yang ingin kuomongin. Tapi ga enak kalau disini. Aku main ke rumahmu ya….Please..please…”pintanya.

Kenapa ga main ke rumah Henry aja sono?

”Boleh…”ujarku pendek.

– – – – – – – – – – – – – – –

20 menit kemudian, kami telah sampai di rumahku. Setelah makan siang dan istirahat sebentar, kami mulai ngobrol-ngobrol, dari hal penting, sampai yang ga penting sama sekali.

”Kenapa sih kamu sama Henry ga akrab? Kalian kan sebangku…”tanya Sungmin to the point.

”Ga tau. Rasanya aku canggung aja ngomong sama dia.”

”Sebenarnya Henry itu anaknya baik dan ramah loh…”

Ramah dari mana? Aku ngomong aja dicuekin.

”Pas kami diskusi, aku liat kamu lagi manggil Henry. Dia lagi baca komik kan?”

Aku mengangguk. Malas sekali rasanya buat menjawab pertanyaan itu.

”Dia itu ga bisa diganggu kalau lagi baca, makanya kamu dicuekin…”

Oh…gitu. Itu alasan buat yang tadi. Alasan dia buat selama ini ga pernah ngajak aku ngobrol apa?

”Oke, yang itu aku ngerti. Yang bikin aku kesal itu, dia heboh banget kalau udah ngomong sama anak-anak yang lain, tapi kalau sama aku ga pernah ngajak ngomong. Diem melulu!”

”Hooo..begitu…”ujar Sungmin manggut-manggut. Baguslah kalau kamu ngerti…

”Coba kamu pikir, ada ga perlakuan kamu yang bikin dia ga senang…”

”Cuma insiden hari pertama dia masuk kelas. Setelah itu aku langsung minta maaf.”

”Hmm..gitu ya…”kata Sungmin. Sepertinya dia mulai bingung.

Aku masih sibuk pikir-pikir. Apa ya salahku sama dia?

”Hm..waktu itu, dia pernah bilang kayak gini,’ Lain kali aku ga akan kayak gitu lagi, ga akan ganggu kamu lagi’. Tapi apa hubungannya?”ujarku.

”Berarti dia menganggap, kalau dia dekat denganmu, dia cuma gangguin kamu. Makanya dia jadi …ehm…menurutku menjauh gitu…”nasihat Sungmin bijak.

”Tapi dia salah. Aku ga pernah merasa dia itu mengganggu, insiden hari pertama itu kan kesalahpahaman…”ujarku membela diri.

”Nah, itu tugas kamu. Jelasin ke dia baik-baik. Pasti dia bakalan ngerti…”saran Sungmin.

”Oh..gitu. Makasi ya Sungmin, udah bantuin. Rasanya aku hampir stres karena dicuekin terus…”

”Sama-sama. Aku ngiri banget sama kalian  kalau kalian ntar bisa dekat lagi…”

”Waeyo?”

”Kalian sekelompok kan? Asal kamu tahu aja ya…Henry itu jago main biola. Piano dan biola…komposisi yang bagus menurutku. Sama-sama klasik.”

”Mwo??? Biola?”tanyaku tidak percaya. Walaupun banyak orang bilang skill main pianoku bagus, tapi aku iri sama yang bisa main biola. Karena biola itu susah banget buat dipelajari. Dan bisa dimainin kapanpun karena bisa dibawa-bawa.

”Iya…waktu aku main ke rumahnya, aku liat ada biola di kamarnya. Langsung deh aku suruh dia mainin. Keren banget permainannya…kalau kamu denger pasti bakalan nangis deh…”ujarnya. Tahu aja dia kalau aku suka nangis sendiri kalau dengerin lagu-lagu instrumental.

Aku terdiam. Bodoh sekali kau ini, Ryeowook, tidak tahu apa-apa tentang teman sebangkumu…

”Ya sudahlah..aku pulang dulu. Ga sabar liat kalian akrab lagi di sekolah..”

”Doain aku ya…aku..ng..aku..minta nomor hp Henry, boleh?”

”Buat apa? Oh..buat ngejelasin yang tadi ya…Boleh..boleh…ini nomornya…”ujarnya sambil memperlihatkan nomor hp Henry di hpnya.

”Gomawo Sungmin…kamu emang sahabatku yang paling baik…”

”Iya…aku pulang dulu. Anyeong..”

”Annyeong…”balasku.

Di kamar..aku masih sibuk memandangi hp. Rasanya masih sangat canggung. Ya! Aku harus telepon dia…

”Yoboseyo…”sapaku.

”Hm…yoboseyo. Maaf, ini siapa?”jawab Henry.

”Aku Ryeowook, teman sebangkumu. Aku…ng..pengen menjelaskan sesuatu.”

”Oh..Ryeowook. Menjelaskan apa?”

”Maaf ya…aku udah meninggalkan kesan buruk di hari pertama…Aku ga pernah nganggap kamu sebagai pengganggu. Malah aku seneng banget kalau kita bisa jadi sahabat.”

”Harusnya aku yang minta maaf. Aku takut kalau aku bikin kamu marah lagi. Makanya aku menjauh. Maaf ya…ternyata aku salah paham.”ujarnya. Walaupun aku ga bisa liat mukanya, tapi aku tahu kalau ucapannya itu tulus.

”Ya sudah…kalau begitu, mulai sekarang kita sahabat…”ujarku.

”Oke! Senang rasanya punya teman sesama pecinta musik klasik.”

”Darimana kamu tahu?”

”Pas Sungmin main ke rumah, dia lihat ada biola di kamarku. Trus langsung dia minta aku buat mainin satu lagu. Pas aku selesai, dia bilang,’Kamu cocok sama Ryeowook. Sama-sama suka musik klasik. Dia jago main piano…’Dari situ aku tahu.”

Aku jadi malu. Sungmin emang orangnya gampang kagum.

”Kalau gitu, bisa ga kamu main ke rumahku, Geosang street no. 11, warna putih. Dan jangan lupa bawa biola. Sekalian kita latihan.”

”Oke..tunggu aku ya…Annyeong.”

”Annyeong..”

– – – – – – – – – – – – – – –

Setelah 15 menit nunggu, akhirnya dia datang.

”Maaf ya, aku datang telat…”

”Gapapa kok.”ujarku sambil berlari ke dapur. Dan membawa dua gelas es jeruk.

”Di luar pasti panas banget. Ayo, silakan diminum.”

”Gomawo…”

”Henry, Sungmin juga bilang kamu jago main biola. Aku pengen dengar permainan biolamu…”

”Ah..ga kok, biasa aja.”ujarnya merendah.

”Ayolah…”bujukku. Dia lalu bangkit dan mengambil posisi.

”Jangan ketawa ya denger permainanku…”ujarnya. Lalu ia mulai memainkan biolanya.

OMO! Permainanmu ga pantes buat diketawain. Rasanya aku pengen nangis sekarang. Dia mainin ’Teardrop Waltz’ dengan sangat bagus…Baru sekarang aku denger yang versi biolanya.

”Kamsahamnida…”ujarnya, mengakhiri permainannya. Lalu ia membungkuk.

”Permainanmu keren sekali…”pujiku.

”Ah..bukan apa-apa.”

”Bagaimana kalau kita mainin ’Teardrop Waltz’ aja…Aku main piano dan kamu main biola…”

”Ide bagus…ayo kita latihan…”ujarnya. Kamipun mulai memainkan lagu itu bersama-sama. Dan aku memberi usul kapan seharusnya dia main biola, dan kapan seharusnya aku main piano.

” Jadi lebih bagus kalau kita main berdua.”pujinya. ”Sepertinya kamu ada bakat buat jadi komposer.”

”Iya…aku suka bikin komposisi musik sendiri, tapi pakai komputer.”

”Wah…hebat! Kapan-kapan aku main ke rumahmu lagi ya…Aku harus pulang. Udah sore…”ujarnya pamit.

”Oya, rumahmu dimana?”tanyaku.

”Gangsang street no. 20…Warna biru.”

”Kapan-kapan aku main ke rumahmu. Hati-hati ya…”ujarku. Dia hanya mengangguk.

– – – – – – – – – – – – – – –

Tidak terasa, hari ini adalah saatnya kami menampilkan music performance di ruang kesenian. Semoga saja kami bisa dapat nilai terbaik.

Semuanya sudah dipanggil dan menampilkan music performance masing-masing. Kuakui semuanya bagus. Sungmin memainkan ’More Than Words’ dengan gitar akustiknya, dan Park Soonhee menyanyikan lagunya. Mereka keren sekali. Aku jadi curiga, jangan-jangan mereka menaruh perasaan suka satu sama lain…

”Terakhir, Kim Ryeowook dan Henry Lau.” Kenapa kami selalu terakhir ya? Tak apalah.

Aku berjalan menuju piano, sementara Henry mengikutiku dan berdiri kira-kira sepuluh langkah dariku. Kami berpandangan, dan penampilan kami dimulai. Aku terhanyut dalam lagu yang kami mainkan. Rasanya hanya ada kami berdua dengan instrumen masing-masing.

Music performance dari kami berakhir. Aku berdiri di sebelah Henry lalu kami membungkuk hormat. Kulihat semua orang bertepuk tangan.

“Bagus sekali permainan kalian. Tidak salah saya menempatkan kalian dalam satu kelompok.”puji Park sonsaengnim.

”Kamsahamnida sonsaengnim…”

Nilai akhir diumumkan. Ternyata kami yang mendapat nilai paling tinggi. Rasanya senang sekali.

– – – – – – – – – – – – – – –

Sejak saat itu, aku mulai berubah. Aku menyadari bahwa teman sangat penting. Aku belajar untuk lebih ramah kepada orang lain. Dan tidak sia-sia. Orang-orang yang dulunya hanya mengenalku karena kemampuanku, sekarang mengenalku lebih jauh. Aku mulai mendapatkan banyak teman. Terimakasih buat Sungmin yang telah menjelaskan semuanya dan membujukku untuk kembali akrab dengan Henry.

Dan juga untuk Henry, terimakasih karena telah bersedia menjadi sahabatku yang kedua. Dan secara tidak langsung membuatku keluar dari tembok penghalang yang kubangun sendiri. Menyadari bahwa kesendirian itu indah, tapi akan lebih indah lagi kalau mempunyai banyak teman.

I am your piano, and you are my violin…

Hope that we can play beautiful and sincere music from our heart…

 

THE END

By : Ami_cutie

Ini one shot pertama yang aku bikin sendiri, sekaligus ff pertama tentang Henry…semoga kalian suka…^_^

Cerita ini disalin rekat untuk ditampilkan di blog ini (beserta catatan penulisnya) tanpa perubahan apa pun.

Dan yah, beginilah tulisanku dulunya :grin:. Semoga aku nggak kembali lagi ke masa-masa jahiliyah itu (Astaga, tulisan oweee). Untuk kalian, keep writing ya :). Hasil nggak akan mengkhianati usaha, kok.

Advertisements

17 thoughts on “[Special Event: The Inauguration] Between Piano and Violin

  1. KYAAAAAA!! Kak ami maafkan nabil tapi kungakak total liat pen namenya wkwkwk ami_cutie why so creative wkwwk xd

    eonni kutakmenyangka koreyakoreyaan nya banyak sekali wkwk tapi amanatnya tetep ada bangeeet /gakaya punya nabil huhu 😦 /

    selamaat atas redebutnya kak amiiii ❤ setujuuu banget, hasil tidak akan menghianati usaha

    Like

    1. Kyaa Nabil-ah gwaenchana 🙂 sebagai anggota skuad intp nabil kumaafkan ahahaha. Aku malah mikir penname ku alay pisan dan nggak kreatif samsek masaa. Iya dulu kayak yang bangga gitu kalau koriakoriyaannya bejibun *padahal banyak sotoynya aku mah*. Makasih Nabil, keep writiing 🙂

      Like

  2. Ini jamannya kyuhyun masih gila sama matematika ya x,D mana kuambyar baca kutipan sungmin “cewek kan githu kalau lihat cwok cakep suka ga tahan.” X,DDD

    aw, ami cutie pie, kita genre buat debutnya sama. bukan ke romance, krn kusendiri ga nahan ngecouplein oppa sama cewek lain. jd pilih genre yg aman, ngefriendship X,D

    Like

    1. Iyah Fatim. Semacam ff Kyu kalau nggak gila matematika atau nge-game maka nggak afdol. Nggak berdasarkan canon ahaha. Iyah dialogku alay banget huhu *tutup muka*. Aku nulis friendship juga untuk alasan yang sama, kok *toss*. Makasih Fatim, udah mampir dan baca 🙂

      Liked by 1 person

  3. Kakak bahkan pernah masukin haksaeng aku lupa, ahahaha. Padahal itu istilah lumayan langka di cerita .=.

    Lain kali aku ga akan kaya’ gitu lagi, ga akan ganggu kamu lagi >> dialognya aja unyu munyu gini sama kayak nama pena yang nulis umumu.

    Tadi pas liat taun debutnya, ih seriusan 2009 akhir ya kak? Sjff bahkan udah ganti alamat jadi sjff2010 xD huhu, kk ternyata udah cukup lama melalang buana di dunia ff koriya sebelum akhirnya beralih nulis fiksi original. Dan, yup usaha tidak mengkhianati hasil xD. Kak ami yang sekarang makin IEPIP&PM banget, wkwkwk.

    Selamat re-debut kaak! Terimakasih telah menjadi inspirasiku sampai sekarang 😀

    Like

    1. Waiyaa.. nggak ada haksaeng, nggak ada seonsaengnim dong ahahaha. Dialog unyu munyu kayak jiwa anak SD terperangkap dalam tubuh anak SMA maafkeuuun. Apaan IEPIP&PM ???
      Makasih ya dan senang bisa jadi inspirasi (walaupun entah apa yang bisa jadi inspirasi di sini) 😀

      Liked by 1 person

  4. Kak ami yaampun tulunq aku gakuat untuk tida ngakak setiap kali ada tanda titik tiga. Berasa bicaranya lemes banget padahal lagi jawab sapaannya orang hehehehe. Terus kalau uda berseru tanda serunya harus tiga juga, jadi kayak marah-marah wkwk. Tapi sekarang tulisannya kak ami rapiiii dan khas dg informasinya hehe. tetap semangat kak! terus berkarya yaa ♥

    Like

    1. Aaak niswa daku maluu hahaha. Iya waktu itu kebiasaan pake apa-apa tiga, nggak tanda titik, nggak tanda seru huhu. Makasih ya Nis, terus berkarya juga yaa 🙂

      Like

  5. henryyyyyyyyyyyyy
    dari semua anggota SJ aku paling suka sama duo zhourynya sj-m ahaha dan aku nggak nyangka dia muncul di sini. ceritanya manis banget! ga biasanya penulis debut pake genre friendship hehe dan jadinya kyuuut
    keep writing ami_cutie ^^ *tadinya mau nulis keep writing thor tapi gajadi :p

    Like

    1. Haloo liana maaf aku baru bales komenmu (udah ganti tahun padahal) iyah bikos romance adalah kelemahanku jadi aku pilih friendship hahaha. Makasih liana sudah sudi baca ff debutku ini 🙂

      Like

  6. AMI KENAPA PENNAME KAMU LUCU BANGETTT HUHUHU SINI PELUK DULU BIKOS WHY ARE YOU SOOOOO COBONYI :”””””) (cubitin ami berkali-kali). terus tetep yha kata-kata koreanya nggak ketinggalan hehe. udah jadi ciri utama fanfic jaman jahiliyah (tos!) sama backsound kriiiinnnggg!! hahaha sumpah aku beneran yang lost my cool pas di situ xD AND YASH SETUJU MI SAMA NOTESNYA!! usaha dan hasil nggak akan bohong hehe. KEEP WRITING TOO AMII 😀

    Like

    1. Hahahaduh kakfikaa aku malu asli sama pennamenya asa sok imut :”. Iya ff jaman dulu apa sih yang nggak ada, ya kak, bahkan backsound itu wajib jib jib (duagh, brakk, kriing, teeett, dlsb dlsb). Makasih Kak sudah sudi membaca artefak masa jahiliyah ini. Aku padamuuu ❤

      Like

  7. HALO HALO HALO TO KA AMI!!!
    KAK I DO HAVE A GOOD LAUGH!
    KAK MESKIPUN INI DEBUT TAPI MORAL VALUENYA UDA ADA KUGEMAS KAK
    KAK KEEP WRITING!
    KAK AMI CUTIE SELAMAT REDEBUT KAAAAAAAAAAAAAAAK!!!

    Like

    1. Haeeee Kakpaang. Aku ngerasanya ini semacam cerita untuk bocah (?) haha maklum aku kebanyakan baca majalah Bobo kayaknya hahahaduh ku maluu. MAKASIH KAKPANG LUPH YUUU

      Liked by 1 person

  8. KAK AMI_CUTIE WHY SO COBONYI KAAAK. ini telat banget haha tapi selamat udah melewati masa ospek dengan sukses ayy!! 😄

    titan nguquq sumpah tapi kece banget sih kaami naskah debut udah ada amanatnya. interaksinya Ryeowook-Henry juga bikin gemez 😄

    dan thumbs up buat ini:

    “Hasil nggak akan mengkhianati usaha, kok.” 😀

    Liked by 1 person

    1. Aloo titaan maaf aku baru nyadar kalau belum balas komennya titan t_t
      malu nih karena alay banget hwahaha
      Makasih titaan sudah mampir dan baca 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s