[Special Event: The Inauguration] Balloon

balloon.jpg

Originally published on August 5, 2013 at EFW (EXO Fanfiction World).

Title : Balloon

Author : HoneyLulu

Casts :

  • Xi Luhan
  • Park Jiyoung (OC)
  • Park Woojung (OC)

Genre : Sad,Angst maybe .-.

Rating : PG-13(?)

Length : 1500+w

Disclaimer : Plot and OC is mine.Don’t be plagiator.

Hay,ketemu lagi dengan saya ._.

Ini cuman fanfic lama yang nganggur di komputer .__. Karena nggak enak udah jadi author tapi baru nge-post 1 FF nista yang itu tuh(?),jadi saya post aja ini .-. Habisnya otak lagi nggak mau diajak kompromi,sih T_T Jahat! Bilangin Akang Kris,nih /eh/ /abaikan/ Well,Happy Reading! Maaf kalau ada typo atau semacamnya. Jangan mual ya abis baca ff saya ._. wkwk,nanti ga jadi mudik loh /inigapenting/ /ditendang/

______________________________

“Tuhan menakdirkan mereka untuk bertemu kembali,bukan untuk bersama.”

_______________________________

Seorang namja berbalut T-shirt biru dan celana jeans abu-abu sedang berjalan sambil menikmati sinar matahari yang hangat pagi itu.Taman kota menjadi tempat yang ia pilih untuk menghabiskan pagi yang indah hari ini.

Sendirian.

Biasanya dia ke sini bersama seorang gadis riang yang terkadang cerewet.

Tapi itu dulu.Dulu sekali.Sebelum gadis itu pergi meninggalkannya.

Tiba-tiba,terdengar suara seorang bocah laki-laki yang sedang menangis sekencang-kencangnya.Merasa iba pada anak laki-laki itu karena tidak ada seorang pun yang mempedulikannya,Luhan pun menghampirinya lalu berjongkok di depannya—bermaksud untuk menyamai tinggi bocah tersebut.

“Halo,”Sapa Luhan sambil tersenyum ramah.Anak itu berusaha untuk berhenti menangis—walau masih sedikit sesenggukan.Ia menatap Luhan dengan matanya yang basah karena air mata itu.

“Kenapa kau menangis?”Tanya Luhan lembut.

“Balon milikku terbang.Huwaaa~”Jawab anak itu kemudian kembali menangis lagi.Luhan melihat ke atas.Tampak sebuah balon berwarna hijau terbang tinggi di atas sana.Dan yang pasti,Luhan tidak bisa menggapainya.Luhan pun kembali menatap anak laki-laki yang makin lama tangisannya makin keras itu.

“Hei,hei.Tenanglah…”Ucap Luhan.Anak itu terisak.

“Jangan nangis,”Lanjut Luhan kemudian mengusap air mata anak tersebut.

“Kau kan laki-laki.Tidak malu jika dilihat oleh orang-orang sedang menangis seperti itu?”Ujar Luhan.Anak itu terdiam.

Kemudian mata Luhan beralih pada sesosok penjual es krim yang ada tak jauh darinya dan anak itu.

Ah,dia tahu harus apa.

“Tunggu di sini,ya.Aku akan kembali.”Kata Luhan kemudian berdiri dan berlari kecil menuju ke si penjual es krim.

Tak lama kemudian,Luhan kembali menghampiri anak itu sambil membawa es krim di tangannya.

“Aku kembali.”Ujar Luhan.Ia tersenyum ke arah anak laki-laki yang tengah menatapnya bingung itu.Jejak air mata masih terlihat jelas di wajahnya.

“Ini untukmu.”Kata Luhan sambil menyodorkan sebuah ice cream cone rasa coklat.Anak itu memandang Luhan tidak yakin.Luhan tertawa pelan melihatnya.

“Iya,ini benar-benar untukmu.Ambil saja.”Katanya.Anak itu pun mengambil es krim coklat itu dari tangan Luhan.

“Terima kasih,Ahjussi.”Ucap anak itu.Berhasil membuat mulut Luhan setengah terbuka begitu mendengarnya.

“A,aku tidak setua itu.Panggil Hyung saja,oke?”Kata Luhan sedikit memaksa.Baru kali ini dirinya yang berwajah baby face itu di panggil Ahjussi oleh anak kecil yang bahkan tidak beda jauh jika wajah -dan tingkah- keduanya dibandingkan.

Menurutnya panggilan Ahjussi itu tidak cocok untuknya.

Anak itu hanya mengangguk pelan.

“Namamu siapa?”Tanya Luhan.

“Woojung.Park Woojung.”Balas bocah yang ternyata bernama Woojung itu.

“Nama Hyung,Luhan.Xi Luhan.”Kata Luhan memperkenalkan diri.

“Kau sendirian?”Tanya Luhan.Anak itu menggeleng.

“Aku bersama Eommaku.Dia bilang dia ingin pergi ke toilet sebentar.”Jawab Woojung.Luhan mengangguk mengerti.

Luhan memandang Woojung yang asyik dengan es krim miliknya.Yah,setidaknya dia berhasil membuat Woojung berhenti menangis dengan es krim pemberiannya itu.

Tiba-tiba,Woojung menatap Luhan dengan raut wajah serius.

Hyung,”Panggil Woojung pelan.

“Ya?”Sahut Luhan.Woojung mendongakkan kepalanya ke atas.

“Kau tahu balonku itu pergi kemana?”Tanya Woojung sambil menatap sedih balon yang terlihat sepeti titik kecil berwarna hijau di atas langit itu.Luhan ikut mendongakkan kepalanya juga.Ia berpikir sejenak.

Namun entah mengapa,yang terbesit di otaknya malah sebuah kenangan dirinya dan juga gadis itu empat tahun lalu.

 

“Kenapa kau harus pergi?”Tanya Luhan pada gadis di depannya.Gadis yang tengah menatapnya sendu itu.Tangannya menggenggam erat pegangan koper yang bisa dibilang cukup besar.Mereka berdua ada di tepi rel kereta api yang sebentar lagi akan berangkat.

 

“Maaf,”Lirih gadis itu.Gadis itu menatap Luhan dalam.Sorot matanya menyiratkan bahwa ia benar-benar sedih saat ini.

 

Sebenarnya ada suatu hal yang membuatnya harus pergi.Ia akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya di kampung halamannya sana .

 

Dan ironisnya,Luhan tidak tahu tentang hal itu.

 

 “Aku pergi,ya…”Lanjut gadis itu sambil tersenyum tipis.Sedikit dipaksakan.Luhan hanya diam sambil memandang gadis itu.Ia tidak mau gadis itu pergi meninggalkannya.Benar-benar tidak mau.

 

“Kalau aku bilang jangan?”Tanya Luhan.Gadis berambut panjang itu malah tertawa pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.Padahal Luhan serius,ia tidak ingin gadis itu meninggalkannya.

 

Luhan mencintai gadis tersebut.Sangat.Tapi ia takut.Ia takut jikalau gadis tersebut tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya.

 

“Kau ini ada-ada saja.”Ujarnya.Luhan hanya diam.

 

“Aku pergi.”Kata gadis itu sambil tersenyum lembut pada Luhan.Cairan bening yang hangat pun mulai keluar dari sudut matanya.Ia pun membalikkan badannya lalu berjalan memasuki kereta api yang mulai dipenuhi oleh penumpang itu sambil menggeret kopernya.Luhan mematung di tempatnya.

 

“Hei,”Seru Luhan.Gadis tersebut menoleh.

 

“Kau akan kembali kan?”Tanyanya.Namun hanya dibalas dengan senyuman kecil dari gadis tersebut.Kemudian gadis itu kembali melangkah masuk ke dalam kereta.

 

Apa itu berarti dia tidak akan kembali?

 

Tak lama kemudian,kereta tersebut mulai berjalan perlahan.Tanpa sadar,Luhan melangkahkan kakinya untuk mengikuti kereta tersebut.Mungkin ini adalah tindakan paling bodoh yang pernah ia lakukan.Tapi,siapa peduli?

 

Luhan berlari secepat mungkin mengejar kereta itu.Merasa tidak ikhlas jika kereta tersebut membawa pergi orang yang ia cintai.

 

Nafasnya mulai memburu dan kakinya melemas.Perlahan,larinya mulai melamban.Dan detik berikutnya,ia tersadar bahwa apa yang ia lakukan ini tentu saja tidak ada gunanya.

 

Sia-sia.

 

Luhan menatap hampa kereta yang makin lama makin menjauh itu

 

Membawa orang yang ia cintai itu pergi begitu saja tanpa mengetahui perasaannya yang sebenarnya.

 

Salahkan Luhan yang lebih memilih memendam perasaannya daripada harus menerima kenyataan kalau saja gadis itu tidak mencintainya.

 

Hyung?”Suara Woojung membuyarkan lamunan Luhan.

“Eh,i-iya?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”Kata Woojung sambil memakan es krim miliknya.

Luhan terdiam sebentar.

“Soal balonmu itu?”Tanyanya.Woojung mengangguk.

“Balon hijaumu…pergi jauh.Jauuuuh sekali.”Jawab Luhan.Woojung menatap Luhan serius kemudian menghela nafasnya.

“Aku jadi menyesal tidak menggenggamnya dengan erat.”Gumam Woojung.

Jleb.Entah mengapa perkataan Woojung barusan seolah menusuk jantungnya dengan sebilah pisau tajam yang tak kasat mata.

Ya,Luhan menyesal telah membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya tanpa tahu kalau sebenarnya ia mencintai gadis itu.

Betapa menyesalnya dirinya.Namun,apa boleh buat.Nasi sudah menjadi bubur.

Hyung?”Suara Woojung kembali mebuyarkan lamunannya.Ia menatap manik Woojung dalam.

“Yah,penyesalan selalu datang di akhir,Woojung.”Ujar Luhan sambil tersenyum.Woojung menunduk sedih.Luhan terdiam kembali.

Hyung juga pernah mengalaminya,kok.”Ungkap Luhan.Woojung mendongakkan kepalanya,menatap Luhan antusias.

“Balon Hyung juga terbang karena Hyung tidak menggenggamnya dengan erat?”Tanya Woojung.Luhan tertawa pelan sambil mengacak rambut anak itu pelan.

“Yah,Hyung juga pernah mengalaminya.Tapi bukan itu yang ku maksud.”Balas Luhan.Woojung menjilat es krimnya kemudian mengernyitkan dahinya bingung.

“Lalu apa?”Tanyanya.Luhan tersenyum tipis.

“Orang yang Hyung cintai pergi jauh,Woojung.”Ucap Luhan.Woojung sedikit memiringkan kepalanya.

“Siapa dia? Ibumu?”Tanya Woojung.

“Ng…Bukan.”Sahut Luhan cepat.

 “Apa kau merasa sedih saat itu?”Tanya Woojung.Luhan terdiam sejenak.

“Hm,tentu.”Jawab Luhan pelan.

Tidak hanya sedih,Woojung.Tapi sakit.

“Tapi aku berusaha untuk merelakannya.”Sambung Luhan sambil tersenyum lebar.

“Jadi,kau juga harus sama seperti Hyung.Berusaha untuk merelakan balonmu itu.”Ujar Luhan sambil mendongakkan kepalanya lagi ke atas.Namun,balonnya sudah tidak tampak lagi.

“Hei,Woojung balonmu sudah menghilang,lho.”Kata Luhan sambil menunjuk ke atas langit.

“Tenang saja,Hyung.Aku sudah merelakannya.”Sahut Woojung santai.Luhan tertawa pelan mendengarnya.

“Secepat itu? Kau yakin?”

Woojung mengangguk.Luhan tersenyum simpul.

“Baguslah.”Ucapnya.

Keduanya terdiam.Woojung sibuk dengan es krim coklatnya.Sementara Luhan,pikirannya mengangkasa.

Sebenarnya ia belum betul-betul merelakan gadisnya itu.

Ayolah,bahkan ia masih mencintainya.

“WOOJUNG!”Teriak seseorang.Luhan dan Woojung menoleh ke arah asal suara.Nampak seorang yeoja tengah berlari dengan terburu-buru menuju ke tempat Woojung berdiri.

“Maaf,ya,Eomma agak lama.”Kata yeoja tersebut.

Seketika mata Luhan melebar ketika tahu siapa yeoja itu.Choi Jiyoung.Gadis yang ia cintai.Gadis yang pergi meninggalkannya empat tahun yang lalu.Gadis yang belum sepenuhnya ia relakan kepergiannya itu,ada di hadapannya.

Ia masih ingat betul mata indah milik Jiyoung,hidung mancungnya,bibir tipisnya,juga suara khasnya itu.Jadi dia tidak perlu takut salah orang.

Dan yang menjadi masalah saat ini adalah,Woojung memanggil Jiyoung dengan sebutan Eomma.Itu berarti Woojung adalah anaknya,bukan? Jangan bilang kalau Jiyoung…

Sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Eomma,”Panggil Woojung sambil menarik ujung blouse yang Jiyoung pakai.

Yeah,Woojung benar-benar memanggilnya dengan sebutan Eomma.

Hati Luhan benar-benar teriris sekarang.Bahkan mungkin rasanya lebih menyakitkan dibanding jika Jiyoung menolak cintanya.

“Ini Luhan Hyung.”Kata Woojung sambil menunjuk Luhan.

Dan,Bingo! Mata mereka bertemu.Keduanya saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama.Hingga Luhan tersenyum ke arahnya.Senyumannya tidak dapat dideskripsikan.Entah itu senyuman senang,atau pahit.Yang jelas hatinya merasa tersiksa.

“Lama tidak bertemu.”Kata Luhan.Jiyoung terdiam mendengarnya.

“Masih ingat aku,kan?”Tanya Luhan.Jiyoung tersenyum lalu menunduk.

“Kau sudah menikah rupanya.”Lanjut Luhan.Matanya beralih pada seorang bocah cilik yang sedang sibuk dengan es krimnya.Jiyoung mengangguk.

“Oh,bagaimana kabarmu?”Luhan bertanya kembali.

“Baik.Tidak pernah sebaik ini.”Balasnya.Luhan sedikit tertegun mendengarnya.Tidak pernah sebaik ini.Yeah,betapa bahagianya dia.

“Ya,aku bisa melihatnya dari wajahmu yang cerah itu.”Ucap Luhan.Jiyoung tersenyum lagi.

“Kalau boleh aku tahu,siapa pria beruntung itu?”Ujar Luhan sambil memanglingkan wajahnya.Tidak berani menatap wanita di depannya.

“Anak dari teman ayahku,”Jiyoung tersipu.Ia menarik sudut-sudut bibirnya kembali membentuk sebuah lengkungan.

Senyum bahagia.

“Kami dijodohkan karena ayah memiliki hutang budi pada temannya itu.”Sambungnya.

Dan seketika itu juga,langit seakan runtuh bagi Luhan.Wajahnya berubah menjadi muram.Kenapa ia tidak tahu-menahu tentang perjodohan itu? Kenapa Jiyoung tidak memberitahunya soal itu?

Luhan tersenyum kecut.

“Dan kau bahagia,Jiyoungie?”Tanyanya.Sebenarnya ini sindiran.Tapi Luhan berharap Jiyoung tidak menyadarinya.

“Tentu saja.”

Bagus,Jiyoung tidak menyadarinya.Lagi,Luhan tersenyum kecut.

“Bagaimana denganmu?”Tanya Jiyoung.Luhan tersentak mendengarkan pertanyaan dari Jiyoung itu.

Aku menunggumu,batinnya.

“Kau kan tampan sekaligus sudah mapan,”Ucap Jiyoung.Kalimatnya terdengar berima.

Lucu.

Tapi hal itu tidak dapat menghibur Luhan.Hatinya seperti sedang di tembak oleh puluhan peluru sekarang.

“Mana gadismu?”Tanya Jiyoung sambil tersenyum lebar.

Luhan menghela nafasnya berat.

“Belum.Belum ada.”Sahutnya.

Keduanya pun terdiam.Jiyoung mengelus kepala anaknya pelan.Sedangkan Luhan…

Luhan merasakan rasa sakit yang dahsyat di dadanya.

Di hatinya.

Perih.

“Terima kasih,ya.Sudah menjaga Woojung ketika aku tak ada.”Jiyoung membungkukkan badannya.Luhan mengangguk kecil.

“Tidak masalah.”Balasnya singkat.

“Kami duluan.”Ujar Jiyoung sambil menggandeng tangan anaknya.Luhan menatap wanita itu sendu.

“Kirim salam untuk suamimu.”Kata Luhan dengan agak berat hati.

Jiyoung tersenyum tulus lalu menganggukkan kepalanya.

“Sampai jumpa.”Pamitnya kemudian membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya meningglkan Luhan.Woojung menoleh ke arah Luhan.

“Terima kasih,Hyung!”Seru anak itu.Luhan tersenyum kemudian mengacungkan ibu jarinya.Lalu anak itu kembali menatap ke depan.

Luhan menatap kosong punggung kedua orang yang semakin menjauh itu.

Apakah ia harus betul-betul merelakannya? Merelakan gadis yang ia cintai itu pergi meninggalkannya dan menjadi milik orang lain? Apakah ia harus melakukannya? Melakukan hal yang sama seperti Woojung ketika balonnya itu pergi jauh?

Ya,ia harus.Karena Tuhan menakdirkan mereka untuk bertemu kembali,bukan untuk bersama.

Setidaknya itu yang ada di benak Luhan sekarang.

 

END

 *hening*

ASDJKGHJLK~ Apaan ini?! W(OAOW) /hebringsendiri/ Gimana,readers? :< Gak jelas tingkat TeKaWe,ya? Emang,hakhak XD  Oke,oke,karena ini masih jauh dari kata ‘Bagus’,maka kritik dan saran sangat dibutuhkan. Sama saya fun aja(?),keluarin aja uneg-uneg kalian ._. Gapapa,kok. Saya jinak(?). Thanks for reading~ :’3 /tebarbunga/ Yang mudik ati2 ya ._. /abaikan/

  1. YA ALLAH INI APA.
  2. Ada yang butuh kantong kresek nggak? )):
  3. Maaf dan terima kasih banyak sudah baca sampai akhir yha gaiz. You are da real MVP! (peluk a la teletabis)
Advertisements

2 thoughts on “[Special Event: The Inauguration] Balloon

  1. SERIOUSLY INI 3 TAHUN YANG LALU???? DAN SEKARANG TULISAN KAMU ASDFGHJKL YHAAA HUHU YAAMPUN :””””) sumpah kerasa banget bedanya. another proof usaha dan belajar nggak akan pernah bohong hehe. yaampun beda banget sumpah bedaaaaa omg :”) (masih takjub) (tapi tetep takjub soalnya di awal aja aku udah melotot hahahaha. seorang namja……..) but udah rapi banget sumpah soalnya kata-kata asingnya udah dimiringin. keep writing dekhaan! hehe. sumpah progressnya kerasa bangettt ❤ ❤

    Like

  2. ANYYEEEOOONG DEKHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANKUH!

    HAHAHAHAHAHA DEMI GOD AUTHOR NOTES DI DEPAN SAMA BELAKANG SAMA-SAMA GOKIL!!!

    SYEK, gajelas tingkat TeKaWe kuwi piye yha Han, berikanlah aku pencerahan… kalo ngga kubilangin akang Kris nich

    Anyway Han selamat redebut yha 🙂 Selamat kembali suci 🙂 Selamat sampai tujuan dan keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s