[Special Event: The Inauguration] Behind the Destiny

oxfordexchange-wedding-06

by Zhou Ri. Originally posted in 2013.

Dan selamanya akan terus begitu, walau sekeras apa pun usahaku untuk menepis kenyataan.

“Lihat, kau cantik sekali.”

Satu kalimat itu mampu membuat orang yang tak bersahabat dengan senyuman sepertiku akhirnya menarik kedua ujung bibirku secara berlawanan. Tapi aku cepat-cepat menyembunyikan hal itu dengan suara batuk singkat yang kubuat, lalu kulanjutkan dengan memutar sedikit tubuhku yang terbalut gaun putih sederhana yang indah sehingga cermin yang ada di depanku ini memantulkan bayangan diriku dari samping dengan sempurna.

Laki-laki itu berdiri gagah di sampingku dengan tuksedo hitam yang menggunakan segaris perak tipis sebagai aksennya. Ia memandang dirinya dan diriku secara bergantian melalui cermin yang di bingkainya terdapat hiasan bunga mawar merah dan daun-daun sebagai sahabatnya. Ia membenarkan kerah tuksedonya beberapa detik, lalu tersenyum puas. Lengkungan di wajahnya itu… adalah perpaduan yang sempurna untuk menggambarkan ketampanannya. Ia merapatkan tubuhnya padaku, kemudian menarik tanganku. Tanpa ragu, ia meletakkan tanganku di lekukan lengannya sehingga sekarang aku terlihat seperti sedang menggamit lengannya.

Kami bukan sedang melakukan fitting baju pernikahan. Kami tidak sedang bersiap-siap melakukan foto pre-wedding. Kami juga bukan model yang sedang akan melakukan pemotretan baju pernikahan. Dan laki-laki bernama Yesung yang sekarang sedang kugandeng lengannya dengan perasaan malu-malu ini bukanlah kekasih apa lagi calon suamiku.

“Sudah lama aku ingin sekali mengambil foto dengan pakaian seperti ini. Aku merasa sangat tampan.” Ia sedikit mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.

Tawa di antara kami pun merebak. Aku tak bisa menahannya lagi, begitu pula ia, tampaknya juga merasakan hal yang sama. Sejak tadi aku mendengar ia terus memuji dirinya sendiri, namun aku tak merasa bosan sama sekali. Ia memang mengatakan yang sebenarnya. Ia tampan.

“Apa aku terlalu percaya diri?” tanyanya sambil mencoba meredakan tawanya. Matanya yang sipit tampak tinggal segaris karena ia sedang tersenyum lebar. Tulang pipinya ikut naik seiring dengan senyumannya yang belum juga reda.

Aku hanya diam sambil memandanginya. Aku tak berani mengiyakan. Aku tak berani menjawab apapun. Aku takut, aku akan mengatakan hal yang seharusnya tidak harus kukatakan.

Nada dering ponselnya memecah alur pandangan kami yang sedang bertemu. Ia merogoh ponsel di saku celananya tanpa melepas lengan kami yang sejak tadi masih bersinggungan. Ia mengatakan beberapa kalimat singkat dengan ditambah anggukan, lalu menutupnya.

“Ayah ingin kita segera pulang. Ia memintaku untuk ikut menyiapkan acara nanti malam. Ia sedikit berteriak padaku saat aku menolaknya,” ujarnya sambil sedikit tertawa.

Ayahnya. Sejak setahun lalu, ayahnya juga menjadi ayahku. Kami dihubungkan bukan dengan tali pernikahan yang mengikat diri kami satu sama lain, melainkan pernikahan antara ibuku dan ayahnya.

Aku memandangi tanganku yang masih melingkar di lengannya. Beberapa detik lagi ia pasti akan melepas tanganku. Dan aku benci itu.

“Kau ingin terus menggandengku?” tanyanya, menghamburkan lamunanku yang sedang tidak pada jalurnya.

Cepat-cepat kulepas lingkaran tanganku di lengannya. Aku merasa seakan-akan seluruh tubuhku memanas secara tiba-tiba. Aku kehilangan akal sehatku untuk sesaat. Kumohon, hentikan ini semua!

Yesung menarikku ke dalam lingkaran tubuhnya dengan satu gerakan cepat. Sekarang aku bisa menghirup aroma tubuhnya dengan teratur. Aku bisa mendengar degupan jantungnya. Aku bisa mendengar hembusan napasnya yang mengenai pundakku yang tidak berlapis gaun. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang kini ikut menjalari seluruh tubuhku.

“Kalau beberapa tahun lagi aku sudah menikah, kau tetap boleh mengandalkanku. Kau boleh menggandengku. Kau boleh memercayakan segalanya padaku. Jangan takut.”

Hanya dalam waktu kurang dari tujuh detik, pelupuk mataku sudah tergenangi oleh air mata yang mulai membuyarkan pandanganku. Apakah ia akan tahu jika air mataku jatuh di tuksedonya walaupun hanya setetes saja? Aku tidak ingin dia tahu.

“Kenapa kau tak pernah memanggilku Oppa? Kau hanya terus memanggilku dengan ‘hei’ atau ‘kau’,” ujarnya masih sambil mengunciku dalam penjara terindah―pelukannya. “Aku kan bukan orang lain untukmu.”

Melihatku hanya diam, ia melepas pelukannya dan menggantinya dengan menggandeng tanganku. “Ayo kita pulang.”

“Tunggu,” selaku cepat. Ia menikam mataku dengan tatapan matanya yang seakan-akan bertanya ada apa. “Kita belum mengembalikan gaun ini.”

Seketika Yesung memandang dirinya yang masih terbalut tuksedo hitam, lalu tertawa keras. Matanya tinggal segaris lagi, benar-benar lucu. “Astaga, aku lupa!”

Entah kenapa ia mengajakku bermain-main di tempat penyewaan gaun pengantin seperti ini. Tapi aku cukup merasa senang bisa menjadi orang pertama yang menemaninya ke tempat seperti ini. Hmm… mungkin tidak hanya cukup senang, tapi sangat senang. Mengingat akulah yang mencoba gaun pengantin itu dan berpasangan dengannya. Walaupun ia mengatakan bahwa ia ingin pergi ke tempat itu hanya untuk bermain-main.

Perkataannya saat berada di tempat penyewaan baju pengantin tadi benar-benar membakar rasa keingintahuanku. Apa Yesung sedang mencoba mengatakan bahwa ia akan segera menikah?

“Apakah kau akan menikah dalam waktu dekat?” Bibirku rasanya bergerak dengan sendirinya untuk mengantarkan pertanyaan ini.

“Kurasa belum. Memangnya ada apa?” Ia melirikku sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.

“Kau bilang akan menjagaku. Bagaimana bisa kau menjagaku jika kau sudah menikah?”

Ia terkekeh. “Jangan khawatir,” ujarnya. “Aku tidak akan memiliki kekasih sampai kau lulus kuliah. Jadi aku akan menjagamu.”

Segelintir perasaan lega memelukku. Rasanya aku bisa bernapas dengan lebih mudah sekarang. Aku masih memiliki waktu bersama Yesung. Setidaknya untuk beberapa tahun.

Aku melempar pandanganku ke luar jendela mobil. Pohon-pohon yang berdiri kokoh di tepi jalan dengan teratur seakan-akan berlari seiring dengan melajunya mobil ini.

Aku kembali bertanya pada diriku sendiri. Apa yang sebenarnya kucari? Apa yang sebenarnya kuharapkan dari perasaan ini? Yesung adalah kakak tiriku. Sampai kapan pun hal itu akan sulit diubah. Sangat sulit. Aku tidak mungkin menjadi sangat egois dengan mengharapkan berakhirnya rumah tangga ibuku dan ayahnya yang tampak sangat harmonis. Mereka saling mencintai. Ya, saling. Dan perasaan mereka lebih kuat melebihi perasaan seorang gadis kecil yang baru akan meninggalkan status remaja kepada kakak tirinya sendiri. Ini tidak masuk akal.

Aku memutar kembali roll memoriku saat pertama kali bertemu dengan Yesung beberapa hari sebelum ibuku dan ayahnya disatukan oleh ikrar suci pernikahan. Hari itu, ia membungkukkan badannya padaku sambil tersenyum, sehingga menyebabkan matanya yang sipit hanya tampak tinggal segaris. Aku, yang jarang sekali tersenyum, bibirku sedikit tergerak saat melihatnya tersenyum. Hanya sedikit.

Saat sudah tinggal satu atap dengannya, ia mulai mengenalku sedikit demi sedikit. Walaupun aku hanya sering diam, ia bisa sangat mengenalku bahkan lebih dari ibuku sendiri. Ketika perasaanku sedang tidak dalam keadaan baik, Yesung adalah orang pertama yang mengetuk pintu kamarku. Ia tidak perlu berbasa-basi untuk menanyakan tentang apa yang terjadi padaku seperti kebanyakan orang lakukan. Lebih dari itu, ia langsung memberiku susu stroberi—minuman favoritku dengan selengkung pelangi terbalik yang terukir manis di atas dagunya. Ia tahu itu hanya lewat kebiasaanku membeli sekaleng susu stroberi di mesin minuman di tepi jalan. Ia sering memperhatikanku, katanya.

Aku merasa senang dan terlindungi secara bersamaan untuk pertama kalinya. Ia kakakku, itu memang sudah menjadi tugasnya. Tapi otakku serasa tak bekerja sesuai fungsinya saat ia memelukku untuk pertama kali—saat aku tidak lolos seleksi untuk mendapatkan beasiswa untuk bisa kuliah ke Harvard University. Dan bagaimana mungkin saat aku sedih, tapi jantungku justru berdegup dengan begitu kencangnya? Apakah itu normal? Aku menyadari sesuatu saat itu. Tapi aku tak ingin mengakuinya.

Hingga suatu saat ia pernah membawa seorang wanita ke rumah. Ia memperkenalkannya pada ibuku—karena saat itu ayahnya sedang pergi. Wanita itu tampak sangat berseri-seri dan aku bisa yakin—hanya dengan melihat garis di wajahnya—bahwa ia merasa sangat bangga bisa menjadi wanita pertama yang dibawa Yesung ke rumah. Aku ingat, setelah Yesung mengantar wanita itu pulang, aku tidak berbicara dengannya selama seminggu penuh. Padahal ia sudah mencoba mengajakku bicara, memberiku susu stroberi seperti biasanya, dan bahkan menari octopus dance di depanku. Aku tetap diam. Saat itu aku tahu, aku tidak suka melihatnya bersama wanita lain. Bukan hanya tidak suka, tapi benci. Sangat benci.

Minggu depan aku harus pindah ke Amerika. Hanya aku sendiri. Karena minggu depan aku akan mulai kuliah di salah satu universitas top di sana. Ini berarti, aku akan jarang sekali melihat Yesung. Mendengar suaranya saat menyanyi ketika lewat di depan kamarku, tertawa lebar saat melihat kartun Spongebob yang ditayangkan di televisi, dan suara saat ia menyeruput mochaccino kesukaannya.

“Apa kau ingin pergi ke toko buku?” Pertanyaan Yesung menghentikan roll memori yang sedang kuputar ulang dalam otakku.

Ah, ia juga tahu bahwa aku suka sekali membaca buku. Ia sering menemaniku pergi ke toko buku.

Aku mengangguk singkat, tanda mengiyakan. Aku tidak berkata apa-apa—bukan berarti aku tidak senang mendengar tawarannya. Aku senang, ini berarti akan lebih banyak waktu yang akan kuhabiskan bersamanya untuk hari ini. Aku diam karena aku memang tidak suka banyak bicara.

“Baiklah,” ujarnya sambil tersenyum dan mengelus lembut puncak kepalaku.

Dan Yesung paham akan hal itu.

Hujan mengguyur tanpa jeda secara tiba-tiba sesaat setelah aku dan Yesung menginjakkan kaki di balik rak-rak buku bagian novel—bagian kesukaanku. Rak-rak ini terletak paling dekat dengan jendela besar yang ada di toko buku ini.

Ia berdiri di sampingku, ikut memperhatikan novel-novel yang berjajar rapi karena ditata dengan indah oleh para pegawainya. Aku tahu Yesung bukan orang yang suka membaca novel, tapi ia selalu berdiri di sampingku ketika aku mengamati novel-novel ini dengan hati-hati sebelum kubeli. Tak jarang keberadaannya justru membuatku tidak bisa fokus memilih. Perhatianku selalu kalah dan lebih memilih untuk mengamatinya yang mengerjab-ngerjabkan matanya karena tak mengerti apa pun soal novel.

“Apa kau ingin susu stroberi?” tanya Yesung tiba-tiba dengan sedikit berbisik. Di saat seperti ini? Di tempat ini ia menanyakan hal semacam itu? Jujur, terkadang aku tak mengerti dia.

“Memangnya kau mau berbuat apa?”

“Tunggu di sini,” ujarnya, masih dengan berbisik.

Aku mengamatinya yang sedang melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar toko ini dengan cukup tenang. Entah dia akan melakukan apa.

Tepat saat aku menemukan novel yang kusuka, ia muncul di sampingku lagi. Namun ia langsung membungkukkan badannya dan mengeluarkan sesuatu dari balik kaos v-neck hitam yang sedang ia kenakan. Sekotak susu stroberi kesukaanku dan sekotak mochaccino kesukaannya. Rupanya ia baru saja membeli dan menyembunyikannya dari para pegawai di sini—mengingat di dalam toko buku ini tidak diperbolehkan makan atau minum.

“Minumlah dulu,” ujarnya sambil menarik tanganku sehingga aku ikut jongkok bersamanya di balik rak buku. “Kau pasti haus.”

Melihat sikap konyolnya yang berani seperti ini, secara otomatis seulas senyum tersungging di bibir kecilku. “Kau gila.”

Ia hanya menyeringai memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Kami duduk bersila menghadap ke jendela besar yang sekarang sedang ada di hadapan kami, memandangi rintik-rintik hujan yang membentuk tempo yang indah, seakan-akan menjadi lagu pengiring kebersamaan kami sore ini.

“Minggu depan kau sudah di Amerika. Aku pasti kesepian,” katanya, kemudian menyeruput mochaccino-nya melalu sedotan kecil yang menghubungkan mulutnya dengan kotak berwarna cokelat tua yang ada di tangan kecilnya.

Apa benar ia akan kesepian? Selama ini aku yakin aku tidak banyak mengajaknya bicara. Dialah yang banyak berbicara. Sedangkan aku hanya banyak diam.

Ia melihat ke arah novel yang sekarang ada di pangkuanku. Novel itu masih terbungkus rapi oleh plastik bening yang menyegelnya agar pengunjung langsung membelinya. Ia mengambilnya dan mengamatinya dengan cara membolak-balik novel itu.

“Kau ingin membeli ini?” tanyanya masih sambil membaca beberapa baris kalimat review yang ada di cover belakang novel tersebut.

“Tidak,” jawabku pelan. “Semula aku hanya ingin membacanya. Tapi ternyata masih dibungkus semua.”

“Aku tahu.” Ia tersenyum lebar kemudian mengintip para pegawai toko buku yang berlalu-lalang di balik rak buku di belakang kami. Ia mengamati langit-langit yang ada di atas kami. “Tidak ada kamera.”

Yesung membuka plastik buku itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. Namun sayangnya, seorang pegawai toko buku muncul dari balik rak dan memandangi kami berdua secara bergantian. Mimik wajahnya berubah saat mendapati Yesung sedang membuka plastik yang membungkus novel yang ada di tangannya.

“Kalian!” seru pegawai itu.

Yesung pun langsung meletakkan novel itu dan menarik tanganku. Kami berlari sekencang yang kami bisa, keluar dari toko buku tersebut. Kami cepat-cepat masuk ke mobil tanpa menghiraukan hujan deras yang membasahi hampir seluruh tubuh kami.

Napas kami menderu bersamaan karena berlari-lari di toko tadi. Namun Yesung cepat-cepat memutar mobilnya dan melajukannya pergi dari area parkir toko buku tanpa memikirkan napasnya yang masih ngos-ngosan.

Satu memori lain bersama Yesung tercipta lagi.

Aku akan sangat merindukan hari seperti ini saat berada di Amerika nanti. Lebih dari itu, aku akan sangat merindukannya. Yesung….

Berada di tengah keramaian suasana di bandara membuatku ingin menangis. Sungguh, ini membuatku menjadi sangat lemah. Aku benci sekali hari ini.

“Hei, bahkan di hari keberangkatanmu pun kau tak mau tersenyum sedikit pun kepadaku?” Yesung mencubit sebelah pipiku. Aku hanya melemparinya dengan tatapan tajam. Aku hanya sedang berpura-pura marah. Karena sebenarnya, aku senang saat kulit kami bersentuhan. “Jangan memandangku begitu.” Cubitannya semakin terasa keras. Tapi aku semakin senang. Aku memang sudah gila.

“Pegang kata-katamu,” ujarku, masih memandangnya tajam.

“Apa?”Ia melepaskan cubitannya dari pipiku.

“Perkataanmu saat di tempat penyewaan baju pengantin seminggu yang lalu.”

“Oh.” Yesung menepuk dahinya pelan. “Tentu saja.”

Yesung mengeluarkan sesuatu dari saku blazer putih yang sedang ia kenakan—yang entah apa itu—dan menyembunyikannya di balik genggaman tangannya yang kecil.

“Pakailah ini.” Kedua lengannya melingkar di leherku. Aku terkesiap. Wajahnya tepat berada di samping wajahku. Aku bisa mencium aroma tubuhnya lagi. Aku bahkan bisa mendengar hembusan napasnya.

Sebuah liontin berbentuk kunci kini tergantung oleh rantai kalung yang melingkar cantik di leherku. Yesung memandangku dengan senyuman puas. “Lihat, pilihanku memang tepat. Cantik sekali.”

Lagi-lagi kata-kata itu. Aku menahan diriku agar tidak tersenyum.

“Jika ingin tersenyum, tersenyumlah. Jangan ditahan. Wajahmu memerah.” Yesung terkekeh pelan.

Ah, sialan.

Kulihat orang tua kami juga datang untuk mengantarkan keberangkatanku ke Amerika.

“Hati-hati ya, Nak. Jaga dirimu baik-baik,” ujar ayah Yesung padaku.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku masih saja menyebutnya dengan “ayah Yesung”. Aku memang tak ingin menganggapnya sebagai ayahku selama perasaanku ini belum berubah. Rasanya tidak semudah itu menerima kenyataan yang terus-menerus menamparku dengan logika, logika, dan logika.

Ibu memelukku erat. “Sebentar lagi cita-citamu akan kau dapatkan. Berusahalah.”

Aku mengangguk pelan. Jantungku terpacu cepat. Sekarang adalah giliran Yesung. Apa yang akan ia katakan?

Ia berdiri tepat di depanku, lalu memandangku tanpa kata-kata maupun senyuman. Hanya memandangku dan terus memandangku.

“Aku akan melakukan apa yang selama ini kujanjikan padamu, semampuku. Kau hanya perlu percaya padaku dan buatlah aku bangga padamu.” Yesung memelukku erat. Dan lagi, air mataku jatuh tanpa sepengetahuannya.

“Gunakan liontin ini untuk membuka sesuatu yang ada di kopermu. Aku meletakkan sesuatu di sana.” Ia tertawa sambil sedikit menjulurkan lidahnya. “Tapi kau hanya boleh membukanya ketika kau sudah lulus kuliah.”

Alisku bertaut seketika. Tapi ia justru tertawa melihat ekspresiku.

“Oleh karena itu, cepatlah kau lulus. Dan kau akan segera tahu isinya,” ujar Yesung.

Cambridge, United States, Juni 2011

Aku sudah menginjak semester ketujuh. Tinggal satu semester lagi dan aku akan segera tahu isi dari kotak kecil yang diselipkan Yesung di koperku saat aku akan berangkat ke Amerika tiga tahun yang lalu.

Aku belajar dengan keras di sini. Aku ingin segera kembali ke Korea dan memenuhi harapannya yang ia katakan saat di bandara dulu.

“Buatlah aku bangga padamu.” Itulah kata-katanya padaku.

Terakhir kali aku pulang ke Korea adalah setengah tahun yang lalu. Saat itu semua masih sama—termasuk Yesung—dan membuatku lega ketika berada di sana lagi. Ia menyambutku dengan sangat antusias. Bahkan ia memakai kostum ala kotak susu―yang entah ia sewa dari mana―dengan simbol buah stroberi yang ia gambar sendiri dan ia tempelkan di dadanya. Aku tertawa saat melihatnya menari mengenakan kostum itu. Ia selalu memberiku kejutan.

Ia sering meneleponku, bahkan sekali menelepon ia betah berbicara selama bermenit-menit. Padahal aku tahu, tarif teleponnya tidak murah.

Ponselku berdering. Di layar ponselku tertera nama seseorang yang telah memenuhi hidupku selama dua tahun belakangan ini. Ya, aku mencoba membuka diriku untuk laki-laki lain. Aku memang selalu menyesali takdir yang terjadi antara aku dan Yesung. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba belajar menerimanya kan? Sesuatu akan terus terasa sulit jika kita tidak pernah berusaha membuatnya mudah.

“Halo?”

“Halo, Sayang?”

Ya, kubiarkan ia memanggilku dengan sebutan itu. Tapi aku tak pernah memanggilnya demikian.

“Ada apa?”

“Apa kau ada waktu luang hari ini?”

“Kurasa tidak.”

“Kau sedang sibuk atau menyibukkan diri?”

“Nick, aku sedang tidak ingin marah.”

“Baiklah, baiklah. Tapi bisakah kau luangkan waktu sebentar saja untuk menemuiku? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

Kulirik jam tanganku malas. Kuliahku baru akan mulai tiga jam lagi. Mungkin tidak apa-apa jika aku menemuinya sebentar. Lagi pula aku penasaran dengan apa yang ingin ia bicarakan denganku.

“Baiklah. Kita bertemu di mana?”

Sekarang aku sudah duduk di hadapan laki-laki blasteran Amerika-Korea yang berusia dua tahun lebih tua daripada aku. Secara garis besar, ia bisa dikatakan nyaris mendekati sempurna. Tampan, sudah memiliki pekerjaan yang mapan, berlatar belakang keluarga yang berpendidikan tinggi dan cukup terpandang, dan satu hal lagi yang membuatku yakin ia nyaris sempurna: sabar menghadapi sifatku.

Itulah yang membuatku memutuskan untuk menerima perasaannya dan mencoba memulai semuanya dari awal. Nick menyatakan perasaannya padaku saat musim dingin di semester tiga.

Ia mengatakan bahwa ia ingin melindungiku, sama seperti yang pernah dikatakan Yesung.

Ia mengerti semua kebiasaan dan kecintaanku pada susu stroberi serta novel, sama seperti Yesung.

Ia selalu menemaniku memilih novel walaupun ia tak mengerti tentang novel, sama seperti Yesung.

Ia hampir sama seperti Yesung―tipe laki-laki yang kusukai semenjak aku mengenal Yesung. Tapi dia bukan Yesung. Rasanya ada yang kosong saat aku memikirkan hal itu.

“Berhentilah menghindariku,” ujarnya dengan suara parau. “Aku tahu sesuatu sedang mengganggumu.”

“Aku hanya… sedikit lelah akhir-akhir ini.”

“Kau tahu, kau selalu memiliki tempat untuk berbagi.” Nick mengelus lembut pipiku dengan ibu jarinya.

Ya, dan aku selalu bahwa tempat itu adalah Yesung. Bukan yang lain.

“Terima kasih, Nick.”

Ia sangat baik. Dan aku tak membencinya. Kenapa aku tak bisa mencintainya?

Teleponku berdering lagi, dan kali ini dari ibu. Tumben sekali ia meneleponku. Kupikir ia sudah sibuk dengan anak barunya bersama ayah Yesung.

Yeoboseyo?

“Kapan kau pulang?” tanya ibu. Samar-samar kudengar suara bayi yang sedang menangis.

“Entahlah. Kuliahku padat.”

“Usahakan minggu ini kau pulang ke Korea. Yesung akan menikah.”

“Apa, Bu?” Aku mengusap-usap telingaku, berharap aku salah mendengar perkataan ibuku.

“Yesung akan menikah minggu depan.”

Aku tidak ingin pulang. Yesung tidak menepati janjinya. Aku bahkan belum menginjak semester delapan tapi dia sudah akan menikah?

Kututup telepon ibu tanpa kata-kata lagi. Aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku sekarang. Yang jelas rasanya sangat sakit. Sampai-sampai air mataku terus jatuh dan sulit kuhentikan….

Memang, sudah sebulan ini Yesung tidak pernah meneleponku. Ia hanya mengirimiku e-mail sekali dalam seminggu. Aku merasa ia semakin jauh. Tapi aku tak pernah bisa lepas dari sifatku yang sulit untuk menyapa terlebih dahulu. Aku hanya takut jika ia akan mengabaikanku. Padahal selama ini hal itu tak pernah terjadi kan? Entahlah, aku hanya takut.

“Nick,” panggilku lirih. “Aku tak tahu harus mengatakannya dengan cara apa.”

Ia tersenyum lembut padaku. “Pelan-pelan.”

“Berhentilah melindungiku. Aku tak akan pernah bisa melakukan hal yang sama.”

Ekspresinya sedikit berubah. Tapi ia tetap tersenyum. “Aku tak pernah memintamu untuk melindungiku.”

“Aku….”

“Pergilah.”

Aku menatapnya tak mengerti.

“Kau ingin pergi kan? Lakukanlah.”

“Nick….”

“Kau bukan tipe orang yang suka dikekang dengan komitmen.” Suara Nick terdengar serak. “Aku menyadarinya sejak awal. Tapi aku tak memiliki keberanian untuk mengakuinya, bahkan melepasmu.”

“Jika kau ingin perlindungan, kau selalu memiliki tempat untuk itu.”

Aku beranjak dari tempat dudukku dan memeluk Nick. Kenapa ia sebaik ini? Kenapa aku tak bisa mencintai orang sebaik ini? Bahkan selama dua tahun penuh aku telah mencobanya, namun tetap saja harus berakhir begini.

“Aku mencintaimu,” bisiknya lirih.

Seoul, South Korea, September 2012

Yesung menikah dengan wanita yang pernah ia perkenalkan pada ibu waktu itu. Sekarang ia sudah pergi dan menetap di Busan. Tak ada yang tersisa untukku.

Aku sudah lulus beberapa bulan yang lalu. Tapi aku tak memiliki keberanian untuk membuka kotak yang diberikan Yesung waktu itu. Kenapa aku tak seberani dan seantusias dulu? Mungkin karena Yesung tidak seperti dulu lagi.

Kukumpulkan keberanianku. Kuambil kotak berwarna abu-abu yang masih bersih―tanpa debu sedikit pun―karena aku menyimpannya di antara lipatan jaketku di lemari. Kulepas kalung pemberian Yesung dan mulai memasangkan liontin berbentuk kunci tersebut ke lubang kunci kotak.

Aku menghela napas panjang. Aku merasa gugup. Apa isinya?

Kotak sudah terbuka. Aku tak melihat apa pun kecuali secuil kertas kecil berwarna biru muda yang dilipat rapi. Kubuka dan hanya satu baris kalimat di sana yang ditulis sendiri oleh Yesung.

“Aku selalu menepati janjiku.”

Lagi-lagi ia mengingatkanku tentang janji yang ia buat dan ia langgar sendiri. Jadi selama ini, dia menyuruhku untuk bersabar dan cepat-cepat lulus hanya untuk membaca kalimat omong kosong seperti ini? Dia bahkan sudah menikah sekarang!

“Kau sedang apa?” tanya ibu, yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamarku.

Aku menutup kotak pemberian Yesung dan menyisir rambut dengan jari-jariku untuk menutupi kekalutanku.

Ibu datang mendekat dan duduk di sampingku. Ia memandangi benda-benda yang berserakan di atas tempat tidurku: tas, kotak susu stroberi yang sudah kosong, novel, dan kotak pemberian Yesung.

“Kuharap kau harus terbiasa pergi ke toko buku sendirian mulai sekarang,” ujar Ibu.

Kenapa Ibu mengatakan hal itu?

“Yesung sekarang sudah menikah.”

Aku menatap ibuku dengan tatapan lalu-apa-hubungannya-denganku.

“Kau juga harus mulai terbiasa hidup tanpa perasaan itu.”

Ini….

“Kami tahu apa yang kalian saling rasakan.”

Kalian saling rasakan? Apa maksudnya dengan kata-kata “kalian” dan “saling”?

“Kau memiliki perasaan khusus―lebih dari adik kepada kakak tirinya―pada Yesung kan?”

Sejak kapan Ibu menyadari hal itu? Kupikir Ibu tidak memiliki kontak batin denganku karena kami memang tidak cukup dekat.

“Yesung juga seperti kau.”

“Apa―”

“Ayah Yesung mengetahuinya saat Yesung sedang menuliskan tentang perasaannya padamu di sebuah buku,” jelas Ibu. “Ayahnya memarahinya habis-habisan, bahkan sempat menamparnya.”

Ditampar?

“Ayahnya langsung membakar bukunya. Ia mengatakan bahwa Yesung tidak boleh memiliki perasaan tak wajar pada adik tirinya sendiri. Sejak itu ia melarang Yesung untuk meneleponmu.”

Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mataku.

“Beberapa hari kemudian ayahnya mengajakku menyiapkan acara pertunangan dan pernikahan untuk Yesung. Ia diminta―atau lebih tepatnya dipaksa―untuk menikahi wanita yang pernah ia perkenalkan padaku dulu.”

“Kenapa kalian tak pernah memberitahuku?”

“Ayah Yesung melarangku melakukannya. Kami pun juga berpikir bahwa kedatanganmu nanti hanya akan meluluhlantakkan semuanya.”

Air mataku yang jatuh kini tidak hanya satu-dua bulir. Tapi cukup deras. Hingga aku sesenggukan. Hingga aku tak sanggup mengatakan apa-apa lagi.

Ibu memelukku erat. “Maaf, Ibu tidak pernah memberi perhatian padamu seperti Yesung. Sehingga sekali diperhatikan, kau langsung menyayanginya hingga lupa batas.”

Ibu benar. Aku melupakan batas-batas yang seharusnya tidak kupijak.

“Yesung menitipkan sesuatu padaku.”

Ibu memberikan secuil kertas kecil berwarna biru muda―sama seperti dengan kertas yang ia letakkan di kotak tadi. Kubuka kertas itu dengan segera. Dan kutemukan beberapa larik kalimat di sana.

Aku selalu menepati janjiku.  Aku tak pernah memiliki kekasih sampai sekarang. Walaupun aku sudah menikah. Aku tak pernah berniat memiliki kekasih. Karena hatiku telah diambil secara diam-diam oleh seseorang yang lebih banyak diam.”

Ini adalah cara bagaimana Tuhan memberi ending pada kisah yang kupikir hanya ada di novel-novel. Kami harus tahu tempat. Dan kami tak akan melawan takdir lagi. Dia adalah kakakku. Dan selamanya akan terus begitu, walau sekeras apa pun usahaku untuk menepis kenyataan. Ini bukan cerita yang ada di novel, yang tiba-tiba Yesung bisa dengan mudah membatalkan pernikahannya dan pergi bersamaku. Bukan.

Kuberi tahu satu hal: jangan pernah melawan alur yang sudah digariskan. Aku yakin Tuhan selalu memiliki pelangi yang indah dan terbaik untukku. Walaupun bagiku, ada pelangi yang lebih indah daripada pelangi mana pun―senyumannya. Tapi Tuhan tidak pernah salah kan?

end.


  1. Hello! I’m Prim. Nice to meet you. xo.
  2. Membuka kembali cerita ini, rasanya… parah cuy. ((facepalms)) However, tanpa fanfic ini, aku tidak akan banyak belajar. HAHA.
Advertisements

7 thoughts on “[Special Event: The Inauguration] Behind the Destiny

  1. Kak ari debut aja udah gemilang gini huhuhu. Aku yang sekarang aja belom sampai taraf ini :^)
    Nicee ceritanya kaak. Setiap aku baca ff yesung yang dikasi genre romance emang kayak gini, pahit2 getir terus. Wkwkwkwk. Nulisnya santai, gak buru-buru. Sip gi. Padahal debut ini loh .=.
    Keep writing kak 😀

    Like

  2. ari mah yha debut aja udah rapih begini huhuhuhuhu. btw aku dari dulu jujur aja nggapernah baca fanfic yesung-centric yang genrenya romance, bikos i cant grasp the emotion. gatau yha hahahaha selalu kebayang yesung yang sering ngetroll kalik ya. dia kan gitu banget sumpah semua member suju mesti ada aja yang dikerjain pft. tapi tapi yaampun aku suka banget di sini pace-nya enak banget huhu. kayak bukan fanfic debut ah ri :(( bikos ini udah rapi banget. arggggh! aku iri :” anw keep writing yaaaa ariii hehehe. ❤ ❤

    Like

    1. Kafikaaaa! Ini tuh ya, apa ya, ceritanya hiperbol nggak sih wakakakak. 😦
      Iya, Kak, bener banget. Kalau dipikir-pikir sebenernya dia tuh konyol gitu yha, tapi gatau kenapa waktu itu aku lagi suka bikin romance-nya Yesung hahaha.
      Ini mah oneshot pertamaku, Kaaak. Kalau debutku itu chapter2 gitu tapi ga tamat. Malas. Haha

      Anyway, makasih banyak, Kafikaaa! Keep writing too❤

      Like

  3. HALOH KA ARIIIIII

    KAK PROTES DONG
    INI DEBUT KOK KECE SIH
    KENAPA
    KENAPA
    KENAPA DUNIA TIDAQUE ADIL
    ACQUE QEZAL
    HVT

    Selamat redebut kak beneran selamat ini mah, bikos ketika kita mengabaikan eyd dan mencari yoboseyo oppa uni dan aku hanya menotis yoboseyo :’)

    Keep writing yha kaaaaaak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s