The Guilt

Pic source here

by : dhila_アダチ

My fault, my failure, is not in the passions I have, but in my lack of control of them.”  – Jack Kerouac


Mataku menatap lekat sepucuk surat yang baru saja dilayangkan oleh dua orang berpakaian semiformal beberapa menit yang lalu. Aku diminta untuk membuka surat itu dan membacanya, namun tak diizinkan untuk mengomentari isinya.

“Silakan dijelaskan di kantor nanti, Bu.”

Aku tak pandai bermain kata-kata. Menyanggah kalimat orang dengan nada tinggi saja aku tidak pernah. Namun kali ini saja, aku sangat ingin melakukannya. Sungguh, orang-orang di kantorku pagi ini telah ramai menunggu kedatanganku. Aku telah berjanji kepada mereka. Kata-kataku dibuktikan dari kalimat yang tertempel di dinding tak jauh dari salah satu ruang kerjaku itu, bahwa aku akan datang lima belas menit lagi. Kalau begini, siapa yang hendak disalahkan? Aku lagi?

Pada akhirnya kuturuti langkah kaki mereka masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil aku meminta izin untuk menelepon seseorang, berharap mau menggantikanku sementara aku berurusan dengan orang berseragam coklat yang duduk di depanku ini. Teleponku segera dijawab, menyanggupi permintaanku untuk menangani orang-orang di kantorku sebisa mungkin dan akan meneleponku segera jika ada situasi darurat di sana.

Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali untuk kedua kalinya.

Kukira dengan melempar tatapan keluar jendela bisa memperbaiki suasana hati dan pikiranku saat ini. Tetapi sepertinya mengamati jalanan dari dalam mobil ini sama saja memperburuk situasi. Langit sudah mendung; awan di atas sana berkumpul menyatu membentuk payung kapas kelabu yang tebal. Ditambah dengan film kaca mobil yang terlalu gelap ini membuatku tak bisa menikmati keindahan kota sebagaimana semestinya.

***

Berdiri di atas sepatuku ini sebenarnya bukanlah hal yang mudah, aku tahu itu. Aku diharuskan bergulat setiap hari dengan profesi yang mengatasnamakan ‘penyelamat dua kehidupan’. Sejujurnya aku tidak terlalu menyesal karena, toh, harapanku sebenarnya menjawab harapan orang lain juga: ingin ditangani oleh orang yang se-gender dengannya.

Tetapi, aku lupa akan satu hal. Aku tak boleh meleng sedikit pun, apalagi sampai jatuh sakit. Kuduga itulah penyebab melayangnya sepucuk surat kepadaku tadi pagi. Aku lengah sampai aku tak sanggup menjaga kondisi badanku ketika itu.

Sebelum kejadian itu terjadi, selama hampir tiga hari berturut-turut aku diharuskan bergadang di kantor. Orang-orang tak henti-hentinya berdatangan ke sana, siang maupun malam. Walaupun jam kerjaku secara tertulis hanyalah sampai pukul empat sore bukan berarti aku bisa berleha-leha saat berada di rumah. Telinga dan mataku harus awas dengan panggilan yang mampir menuju gawaiku. Satu pun tak boleh luput sekalipun hanya berupa pesan dari operator telepon seluler yang menawarkan produknya.

Minggu malam yang lalu itu adalah puncaknya. Petugas yang berjaga pada garda terdepan di kantorku sempat tak tega meneleponku berkali-kali. Dia selalu memulai telepon dengan permintaan maaf karena menggangguku untuk yang kelima kalinya dalam hari itu. Aku tetap berusaha untuk tersenyum. Kupunguti energi negatif yang berserakan di atas sofa yang tengah kududuki, lalu dengan semampuku kuubah menjadi semangat dan tenaga untuk kembali mengebut di jalanan sepi. Biasanya aku akan memilih untuk tidur di kantor jika sudah berfirasat pengunjung akan membludak, tetapi untuk malam itu aku mengurungkan niatku. Anakku baru saja pulang dari pesantrennya dan mendapat libur satu hari di rumah. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bercengkrama hingga larut malam dengan anak semata wayangku itu. Walaupun pada akhirnya, aku tak sempat mengucapkan selamat tidur untuknya dan hanya tersenyum pahit menatap punggungnya dari ambang pintu kamar.

Singkat cerita, panggilan terakhir malam itu mampu kulakukan dengan baik. Kulihat jam tangan sudah pukul enam pagi. Kupijit tombol di gawaiku, meminta asisten rumah tanggaku untuk membantu anakku mengurusi segala kebutuhannya dan melepasnya pergi saat dijemput oleh mobil pesantrennya. Kakiku serasa agar-agar karena kubiarkan berdiri hampir semalaman tanpa henti. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki aku menyeret badanku masuk ke kamar mandi.

Aku membayangkan proses bersih-bersihku bisa berjalan lancar dan setelahnya aku bisa beristirahat di atas dipan yang disediakan kantorku dengan tenang. Namun, sedetik sebelum tanganku berayun membuka pintu kamar mandi untuk keluar, kakiku tak sengaja terpleset hingga membuat kepalaku terantuk keras ke lantai. Pada detik itu semua rasa ngilu menjalar menuju satu titik area di belakang kepalaku. Telingaku berdenging keras. Aku berusaha mengerjap-ngerjapkan mataku, namun yang kulihat hanya gelap sekeliling. Kaki dan tanganku bahkan tak mampu kugerakkan sama sekali. Ingin kuberteriak sekeras mungkin, namun hanya erangan bisu yang keluar dari mulutku.

Saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku seperti tengah mendengar sirine panjang dari alam kubur.

***

Di tengah-tengah ruangan tersebut terbaring seorang ibu hamil besar yang mengerang kesakitan. Kedua tangannya telah terpasang selang infus yang dialiri kencang oleh cairan bening. Mulut dan hidungnya disungkup oleh masker, membuat lengkingannya sedikit teredam. Bunyi alat perekam denyut jantung bayi masih menjadi suara latar suasana yang begitu mencekam tersebut. Sesekali bunyi tersebut menghilang, lalu muncul kembali. Sedetik saja alunan tersebut berhenti, maka semua tatapan akan beralih kepada wanita malang tersebut.

“Di mana dia sekarang? Tak kalian lihat istriku tengah sekarat seperti ini?”

Sekali lagi bentakan keras melesat menuju sesosok pria berwajah pucat pasi di hadapannya. Yang dibentak mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan sedikit gemetar; memohon-mohon agar bapak paruh baya itu bisa bersabar barang sebentar saja.

Temannya masih berusaha menelepon orang yang tersengketa, tetapi hasilnya nihil. Bunyi gedoran pintu yang berada di sudut ruangan besar ini terus mengalun memekakkan telinga. Kunci serap menjadi tak berguna karena sepertinya kunci milik sang dokter masih bergantung di dalam sana. Tiga orang tengah berdiri di depan pintu yang bertuliskan ‘kamar dokter jaga’ itu. Mereka  tak henti-hentinya meneriakkan sebaris nama berupaya agar sang dokter segera keluar. Mereka juga menjadi pagar betis, bersiap-siap jika keluarga pasien itu hendak melampiaskan kemarahannya kepada dokter dengan membabi buta.

Bala bantuan pun akhirnya datang. Dengan peralatan seadanya mereka langsung membuka pintu kamar. Tak ada siapa pun di dalam sana. Salah seorang di antara mereka berlari ke arah kamar mandi lalu menggedor pintunya. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, dengan sekuat tenaga dia mendorong pintu tersebut terbuka.

Sesosok tubuh yang tergeletak di lantai membungkam mulut mereka semua.

***

“Pelapor menyebutkan kalau pasien kemudian dirujuk oleh dokter jaga. Itu atas perintah siapa?”

“Perintah saya sendiri, Pak.”

Alis pria di hadapanku bertaut. Tampaknya ia kebingungan dengan jawabanku yang apa adanya itu.

“Bagaimana bisa?”

“Setelah jatuh saya masih cukup sadar untuk mendengar keributan di luar. Saya ingin segera menghampiri pasien dan keluarga pasien itu namun ketika itu saya bahkan tidak mampu menggerakkan tubuh seinci pun. Sampai akhirnya pertolongan datang dan saya dibaringkan di bed IGD. Dengan sisa kesadaran saya saat itu, saya segera meminta dokter jaga untuk merujuk pasien ke rumah sakit lain.”

Dia masih tampak tidak percaya. Tetapi semua yang kukatakan memang benar kejadian. Aku masih ingat dengan jelas betapa susah payahnya mulutku komat-kamit memberi tahu petugas yang memasang oksigen kepadaku. Rujuk pasiennya, rujuk! Aku bersyukur kata-kataku masih dapat dimengerti oleh mereka.

“Anda langsung merujuk padahal belum memeriksa pasien tersebut?”

“Saya percaya dengan dokter jaga di tempat saya bekerja.”

“Apakah Anda sempat berpikir jika nyawa pasien dan anaknya bisa saja tidak tertolong saat di perjalanan?”

“Saya beranggapan tindakan operasi adalah yang terbaik untuknya dan saya ketika itu tidak mampu melakukannya. Pilihan saya adalah merujuk dan menurut saya itulah satu-satunya pilihan dibanding tidak melakukan apa-apa di luar penanganan kegawatdaruratannya, Pak.”

“Anda tahu pasien Anda dan bayinya tidak tertolong di tempat rujukan?”

“Benar. Saya sudah mendapat kabar tersebut lewat telepon dari teman sejawat saya yang bekerja di sana.”

“Anda tahu kalau tindakan dokter jaga Anda adalah sebuah kelalaian karena terlambat merujuk pasien segera?”

“Dia tidak salah apa-apa, Pak. Saya yang salah karena terlambat memberikan instruksi kepadanya.”

“Apakah Anda satu-satunya dokter kandungan di rumah sakit tersebut?”

“Ya, saya bertanggung jawab sendirian atas pasien kebidanan di sana.”

“Berarti Anda mengakui kalau ini adalah kelalaian Anda sendiri?”

Dengan mata yang masih memandang lurus pria berseragam di hadapanku ini, aku menjawab lemah. “Sepertinya memang salah saya, Pak. Saya bersalah karena membiarkan kaki saya terpeleset jatuh di kamar mandi saat pasien gawat itu datang.”

THE END

Author’s note :

  1. Kritik & masukan aku terima dengan senang hati, mumpung masih belajar juga, ehe.
  2. Sebelumnya salam kenal! Saya Dhila, 96l. Semoga bisa bertemu kembali lewat tulisan di sini.

 

Advertisements

12 thoughts on “The Guilt

  1. Kakput aku kaget dapet notif ini dipublish *0*

    Trimakasih ya kak udah ngereview dan terima tulisan ini :^D Iya kak, nanti aku bandingin ulang biar tau koreksinya di mana aja, hehe.
    Sip kak, aku juga merasa begitu, niatnya cuma pengen memperkuat kesan tapi malah bablas T.T tulisan berikutnya aku akan berhati2 lagi dalam soal ini. 😀
    Iya kak, aku juga bingung sebenarnya pengen nerangin scene igd-nya gimana persisnya dan cuma kepikiran utk dibikin dua pov aja, huhu.
    Soal karakternya iya sih kak, soalnya aku ngebayangin pemeran dokter obgyn yang di drakor obgyn itu, kayaknya dokternya rada maskulin, makanya aku buat bgitu. Tapi kayaknya eksekusi akunya macem cowok banget, huhu. Noted kak! Pokoknya tulisan berikutnya aku harus lebih aware sama karakter yang aku bikin 😀

    Trimakasih banyak sekali lagi kakput 😀

    Like

  2. Haluuuu Dhilaaaaa

    Kalimat terakhirnya cesss gitu yha iya salah saya sih pak kepleset hvt

    Masukannya lebih kurang sama seperti kaput, dan dual pov tadi memang sempet bikin aku pribadi binun tapi oh yeah I got the point!

    WELCOME TO THE CLUB
    AND
    KEEP WRITING DHILAAAA ♡♡♡

    Like

    1. Halooo kakpang!!!!! ^0^
      Sejujurnya aku udah ngebet bikin kalimat terakhirnya itu XD Aku sndiri miris mmbayangkannya, huhu.
      Iya, tricky sbnrnya bikin dual pov kayak gitu, huhu. Aku pernah baca cerita yg pakai teknik itu dan coba praktekin, tp di akunya malah kurang mulus kayaknya 😦 syukurlah masih bisa dimengerti akhirnya ya kakpang aku terharu :^

      Terimakasiiih kakpaaang!!! Yosh capslock kakpang sukses ngegas aku. Huhu, smoga aku bisa catch-up di sini :^
      Keep writing too, kakpang! 😀

      Liked by 1 person

  3. helow, dhila~
    duh, ini kenapa aku sering ngehindar pakai pov pertama krn mau ga mau kita harus bercerita lewat sudut pandang tokoh yg kita mainin, jd gaya cerita, asyik ga nya si aku kudu sesuai sama karakter si tokoh aku;;;

    wew, ya, kalimat endingnya nyes parah;; kusuka </3 dan emang iya, kadang aku jg dpt ide yg kalimat endingny udah tersusun rapi. jd memulainya tinggal buat jalur untuk ke endingnya xD

    smangat nulisnya, dhila! :))

    Liked by 1 person

    1. Kak fatim haloo! ^0^/
      Iyaaa, susah-susah sulit *?* emang bikin pov I yang mantep, huhu. Emang aku kudu latian banyak2 lagi ke depannya, wkwkwk. Semoga ceritaku berikutnya gak mengecewakan amat ya kak :^
      Makasi banyak ya kaak udah mampir ke cerita inii 😀

      Liked by 1 person

  4. hai, dhil, welcome to the club yah hehehe 😀 anw sebelum ngebahas yang lain, aku ada beberapa koreksian minor dulu nih. mungkin kamunya kelewat pas lagi baca ulang.

    – di kalimat: Pada akhirnya kuturuti langkah kaki mereka masuk ke dalam mobil. kurang efektif dhil. as we know yang namanya masuk kan pasti ke dalam, ehe. jadi kata “dalam” yang sebelum mobil sebaiknya diilangin aja.
    – coklat itu bakunya cokelat yaaa jangan lupa hehe.

    yang masalah dual pov emang agak mengganggu sih ya, dan iyes sama kayak kakput kujuga ngiranya si Aku tadinya cowok xD but its alright di tulisan selanjutnya harap diperhatiin pembangunan karakternya, okay? semangat!

    di luar koreksi-koreksi yang tadi, tbh aku suka banget ceritanya. lyke, ya ampun padahal dianya kepeleset doang. cuma emang kepelesetnya di waktu yang sangat-sangat tidak pas (but mengingat jam kerja si Aku yang agak nggak manusiawi juga sih huhu). aku beneran yang nyess, ces, dan kesel entah kenapa pas di akhir si Aku bilang: “iya saya yang salah soalnya saya kepeleset” YA SIAPA SIH YANG KEPELESETNYA DIRENCANAIN ._. (maaf aku jadi kesel sendiri huhu). suka banget pokoknya sama idenya dhil, huhu. keep writing yaaa, ditunggu tulisan selanjutnya 😀

    Liked by 1 person

    1. Hai kakfika!!!! Huhu, terimakasih kaak.
      Iya kak, nanti aku bakal lebih hati2 lagi bikin kalimatnya. Aku masih newbie banget ngekombinasiin kata2 biar gak terkesan mubazir gini, huhu. Tentang masalah karakter juga 😦 Next story kuusahakan banget lebih baik dari ini 😀
      Oiya, cokelat ya? Sip kaak! 😀

      Aku seneng kak fika suka ceritanyaa, ehehehe. Iya kak, kasian orang2 yang ‘single-fighter’ kayak gitu buat istirahat aja susah 😦

      Yosh kak, makasi banyak kakfika masukannya. Terimakasih juga sudah berkunjung ke sini, kak 😀

      Like

  5. Kak Dhila, welcome! Semoga bersenang-senang ya di sini!

    Cerita-cerita yang ngomongin dokter + kematian + guilt itu emang semacam a whole new level ya, udah diusahakan sebaik mungkin tapi tetep aja 😢😢 dan jatuhnya still kesalahan dokter yang ngurus.

    Kak IMO, manajemen kerja rsnya ada yang off, but I don’t know, sebagai seorang mahasiswa non ilmu kesehatan, aku gak tau prosedurnya jadi mungkin ini aku aja karena buta urusan rs HAHAHA.

    Anyway, nice story, dari cara nulisnya sampe inti ceritanya sendiri. Sedih :”” keep writing something beautiful kak dhila! ♥♥

    Liked by 1 person

    1. Haloo Sher! Hahaha, aamiiin Sher, harus dipuas2in lah pokoknya ;D
      Iya Sher, kesannya sebelah kaki mereka itu udah di neraka, kudu hati2 banget 😥
      Ooh, kalau di cerita ini aku setting agak off krna aku bikin rs di pinggiran gitu yg cuma ada satu spesialis di rs-nya. Agak longgar gitu krna berbagai keterbatasan yg ada, ehehe. Aku juga mnta maaf kalau sotoy di sini soalnya pengalamanku di rs blom banyak juga, huhuhu.
      Aku terharu kalau Sher bisa mnikmati cerita inii. Terimakasih juga Sher sudah berkunjung kemari. Yosh! Keep writing juga buat kamu 😀

      Like

  6. kalimat terakhir… ada pahit-pahitnya gitu :”( siapa juga sih yg punya rencana kepleset. talk about wrong turn of events yha :”(

    kalau udah bicarain soal hubungan dokter dan pasien, yang seperti ini memang ngga bisa dihindarin lagi. nyawa pasien memang ada di tangan dokter sih. tanggung jawab berat banget pokoknya. kesalahan sedikit aja, meskipun ngga sengaja, bisa menimbulkan efek gede banget.

    thank you buat ceritanya, dan keep writing ya dila! 😀

    Liked by 1 person

    1. Halo kak titan! 😀 btw ini aku, dila. Aku ganti nama sama alamat wp, jgn kaget ya xD
      Huhu, iya kak. Sedih aja gitu pas tau ini cuma karena masalah yg sepele 😦 semoga gak ada kejadian kayak gini di dunia nyata 🙂
      Sama2 kak titan, aku seneng pesan ceritanya dapet dan disukai kak titan 😀 terimakasih sudah mampir ke cerita ini kaak 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s