Twilight Hour [1]

tumblr_nq3op8n9q61s4nnijo1_500

by Lt. VON & Io

[cr image: here]

.

“You know how sometimes you tell yourself that you have a choice, but really you don’t have a choice? Just because there are alternatives doesn’t mean they apply to you.”

― Rick Yancey

.

Satu.

Terselubung oleh keramaian London dan tersembunyi dari ribuan CCTV yang terpasang, di salah satu gang kecil yang nyaris luput dari pandangan—kecuali kau benar-benar mengenali seluk beluk London—seorang lelaki jangkung berumur 26 tahun tengah menyandarkan punggung pada tembok yang catnya mulai mengelupas dimakan usia. Setelan jas serba hitam si lelaki melebur dengan kegelapan yang menyelimuti gang. Hanya surai pirang yang sesekali terlihat kala lampu kendaraan kebetulan menerpa dengan cepat.

Jemari yang terbungkus oleh sarung tangan kulit hitam mengetuk halus kepala tongkat yang dibawa si lelaki. Manik abunya terpaku lurus, sama sekali tak ada ekspresi berarti yang bisa digambarkan dari air muka lelaki tersebut kecuali kejemuan yang kiranya mulai menguasai.

“Halo.”

Ketukan pada tongkat terhenti.

“Kau terlambat,” ucap lelaki itu, nadanya sedingin baja. Ia pun menoleh ke arah sumber suara. Kendati hanya kegelapan yang menyambut, ia bisa membayangkan bagaimana bibir lawan bicaranya ini akan meliuk membentuk senyum manis yang menipu.

“Ah ya, maaf,” kata lawan bicaranya ringan, tampak acuh akan respons yang tidak bisa dibilang hangat itu. “Ada sedikit masalah di bandara yang harus kubereskan dulu. Kau menunggu lama, Elliot?”

Bibir Elliot membentuk garis tipis. Seandainya di sana terdapat sumber cahaya, maka akan terlihat jelas kejengkelan yang melintas menghiasi wajah mendengar namanya dipanggil dengan begitu akrab oleh lawan bicaranya ini. Ia menghela napas pendek.

Let’s get down to the business, Fei Long.”

Fei Long, seorang lelaki berwajah oriental dan bermata sipit, terkekeh. Surai hitam panjangnya terikat rapi membentuk buntut kuda di belakang kepala, mengayun perlahan seiring belaian angin yang menerpa.

“Selalu tak sabaran,” kata si lelaki sembari berjalan mendekat. Manik cokelat gelap tak lepas dari si lawan bicara. “Kapal dari negaraku akan tiba di Pelabuhan Portsmouth membawa marijuana yang kau pesan.”

Marijuana yang diinginkan oleh sekelompok ilmuwan Inggris, entah untuk eksperimen macam apa lagi.

Ia berhenti tepat di hadapan Elliot. “Aku membutuhkan kelonggaran pengawasan untuk dapat membawanya masuk kemari.”

Done.

Senyuman yang terukir di bibir Fei Long melebar beberapa senti.

I’m pleased to hear that.” Fei Long memiringkan kepalanya. “And my diamonds?

“Sedang dalam perjalanan ke Cina saat ini.”

“Kau benar-benar Anjing Pemerintah yang dapat diandalkan.” Lelaki itu lalu membungkuk singkat dan berkata, “Senang bekerja sama denganmu, Elliot. Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih lama denganmu, tapi sayangnya ini sudah terlalu larut.” Melemparkan senyuman terakhir, lelaki itu pun berkata, “Sampai jumpa di kesempatan berikutnya.”

Elliot tak menjawab. Ia mengamati si lelaki Cina yang berjalan menjauh meninggalkan gang, membaur dengan keramaian. Si pirang itu menunggu sampai sosok Fei Long menghilang dari pandangan baru beranjak dari posisinya, berjalan berlawanan arah diiringi dengan bunyi pelan tongkat yang beradu dengan aspal.

Sungguh, pekerjaannya yang ini tak semudah yang dipikir—karena selain menangani segala ancaman yang meresahkan sang Ratu, ia harus turut ikut campur dengan transaksi semacam ini menggunakan cara apa pun, tanpa sepengetahuan pihak luar.

“No wonder the Scotland Yards hate us,” gumam Elliot pada dirinya sendiri. Namun tak terdengar adanya empati di sana.

Elliot menghampiri Bentley hitam yang terpakir tak jauh dari mulut gang. Ia mengetuk pelan kaca mobil dan mendengar bunyi samar kunci yang terbuka. Tanpa menghabiskan banyak waktu membuka pintu dan masuk menempati kursi berlapis kulit itu.

How was it?” Suara halus seorang perempuan mencapai rungunya kala Elliot selesai memasang sabuk pengaman.

Nothing particularly interesting.” Elliot meletakkan tongkatnya dan mengerling pada adiknya yang menempati kursi pengemudi. “Kau tahu kau tak perlu ikut denganku malam ini, Elle.”

Estelle Corvin mengangkat bahu dan mulai menyalakan mesin. “Aku hanya khawatir. Dari semua klienmu, Fei Long yang paling membuatku tak nyaman. Dan kau belum sepenuhnya sembuh,” kata gadis berusia 19 tahun itu sembari menjalankan mobil, menuju jalan besar London yang kendati sudah larut malam masih padat oleh kendaraan dan pejalan kaki.

“Dia tidak akan berani macam-macam denganku,” kata Elliot tenang. Manik abunya tertuju pada ingar-bingar jalanan dengan ketertarikan mendekati nol. “Dan kondisiku sudah membaik. Kau dengar sendiri diagnosa Dokter Beaumont kemarin.”

Just humour me, Brother.

Elliot memutar mata dan bergumam, “Mother-hen.”

“I heard that.”

“Kau ingat The Gherkin?” tanya si lelaki berambut pirang, sengaja mengalihkan pembicaraan pada restoran yang baru saja dibuka sepekan lalu. Ia memusatkan perhatian pada sang adik. “Kau bilang kau ingin ke sana, ‘kan?”

Estelle menyipitkan mata mendengar peralihan topik itu, namun toh tanpa mengalihkan pandangan dari depan gadis itu mengiakan juga.

“Kau mau makan malam di sana besok?”

“Apa ini bentuk protes kau bosan dengan masakanku?”

“… a little.

Git.” Senyum kecil terpoles di wajah Estelle, tahu kakaknya bercanda. Besok memang jadwal tetap mereka untuk makan malam bersama di luar. Suatu kesepakatan yang telah mereka buat sejak dulu. Ia pun menambahkan, “Kau tidak akan memesan Lantai 39 atau 40.”

“Tapi—”

“Kakak,” kata si adik tiba-tiba galak. “Kau tidak akan menghabiskan sebelas ribu pound hanya untuk makan malam.”

Dan Elliot mungkin menyangkal seumur hidup, tapi ia nyaris mengerucutkan bibirnya. Rupanya adiknya sudah tahu tentang ruang ekslusif itu.

Very well,” gerutu lelaki itu akhirnya. Ia hanya ingin mereka mendapatkan pramusajian terbaik di sana begitu pula dengan pemandangan memukau yang The Gherkin suguhkan pada Lantai 39 dan 40, tapi mungkin tidak untuk kali ini.

“Aku akan mengunjungi Mr. Corbett besok,” kata Estelle kemudian. Ia menghentikan mobil, manik abunya mengawasi lampu merah lalu lintas yang menyala terang. “Barangkali ada sesuatu yang ingin kau berikan pada beliau? Aku bisa membawakannya untukmu.”

Kerutan halus menghiasi dahi Elliot sebelum beberapa saat kemudian menggeleng. “Tidak ada. Terakhir Mr. Corbett memesan senapan buatan Rusia. Kudengar langsung darinya ia masih bereksperimen dengan itu.”

“Ah.”

Elliot memejamkan mata. Kalau perkiraannya tepat, masih ada waktu sepuluh menit sampai mereka tiba di rumah. “Sampaikan salamku pada Mr. Corbett, Elle.”

Mm, will do, Brother.

Bentley hitam itu kembali bergulir maju, dan keduanya menghabiskan perjalanan dalam kesunyian yang enggan dipecahkan baik oleh sang kakak maupun sang adik.

Keramaian menyambut Estelle kala ia menjejakkan kaki di stasiun Richmond yang padat oleh lautan manusia. Gadis itu bergegas menuju kereta Tube yang akan mengangkutnya menuju tempat tujuan terakhir hari ini. Tanpa disadari, mata para lelaki yang berpapasan dengan dirinya singgah agak lama. Estelle adalah gadis yang tinggi semampai dan sintal, dengan surai pirang—pucat, nyaris putih—tergerai bebas menyapu bahu, air muka jernih dan cemerlang, serta manik abu hangat. Menurut standar apa pun, ia adalah gadis yang atraktif.

Menapakkan kaki ke dalam, kerutan halus seketika muncul di dahi Estelle kala mendapati gerbong yang ia masuki tidak menyisakan kursi kosong—semua terisi penuh oleh penumpang. Menghela napas, ia pun bersiap menikmati perjalanan dengan berdiri—saat tiba-tiba suara berat seorang lelaki tertangkap indra pendengarannya.

“Here, Miss.”

Gadis bersurai pirang itu mengerjap. Ia menoleh ke asal suara dan melihat lelaki jangkung berkulit seperti pualam tengah menatapnya sembari bangkit dari tempat duduk, jelas sekali menawarkan kursinya pada Estelle.

“Oh.” Estelle melangkah ragu, menghampiri tempat duduk itu. “Kau tidak keberatan?”

Menggeleng, si lelaki lantas mengangguk ke arah kursinya. “Tidak. Silakan saja.”

Senyum penuh kelegaan mengembang di wajah si gadis. “Terima kasih,” kata Estelle, menatap hangat lelaki bersurai cokelat-kemerahan itu. “I appreciate it, truly.”

Bibir lelaki itu meliuk membentuk cengiran dan berkata, “It’s not a big deal.” Manik cokelat lelaki itu lantas menatap lekat manik abu Estelle. “Kau tahu, sepertinya aku pernah bertemu denganmu sebelumnya.”

Estelle mengangkat alis. Ia memiringkan kepala. “Benarkah?”

Lelaki itu mengernyit sejenak, namun kemudian mengangguk. “Yeah, pretty sure it was you. Aku melihatmu melewati rumahku sekitar jam dua tadi, di Montpelier Row, Twickenham?”

“Ah!” Bibir Estelle melengkung membentuk senyuman. “Aku memang berada di sana tadi …?”

Si lelaki mengulurkan tangan. “Vaughan. Jake Vaughan. A pleasure, Miss?

Senyuman Estelle melebar. Ia menerima uluran tangan itu. “Corvin. Estelle Corvin. You may call me Estelle if you wish so.

Call me Jake, then,” kata si lelaki—Jake—sembari kembali mengantongi tangannya yang bebas. “Jadi, ada urusan apa kau datang ke Richmond, kalau aku boleh tahu?”

“Aku baru saja mengunjungi rumah guruku,” jawab si gadis bersurai pirang. “Mr. Corbett. Barangkali kau mengenalnya?”

“Ah, dia.” Jake manggut-manggut. “Aku melihat truk barangnya melewati rumahku seminggu lalu. Dia tinggal seorang diri, ‘kan? Sayangnya hanya itu yang kutahu dari Mr. Corbett.”

I see.

“Jadi, kau baru pertama kali ke Richmond atau …?”

“Aku sudah beberapa kali ke Richmond. Tapi aku baru pertama kali mengunjungi Montpelier Row dan sempat tersesat tadi.” Estelle mengaku, cuping telinganya memerah. Kereta berderak-derak keras melalui terowongan yang panjang. “Untung ada pasangan suami-istri yang berbaik hati menggambarkanku peta. Kalau tidak, bisa-bisa aku telat hadir untuk makan malam nanti.”

“Oh?” Jake mengangkat alisnya. “Makan malam dengan kekasihmu?”

Estelle tertawa. “Gods, no. Makan malam dengan kakakku. Ia memesan tempat di The Gherkin. Kami berencana makan malam di sana.”

Lelaki bersurai cokelat-kemerahan itu membelalak. “Kau serius? Jane, kakakku, tadi siang mengabariku kalau kami akan makan malam di sana.”

Estelle mengerjap. “Huh, what a coincidence.”

Si lelaki memiringkan kepalanya. “I know, right? Kau tahu—”

Mendadak lampu gerbong padam.

Estelle mencengkeram tasnya, tak ayal akan keterkejutan yang dirasakan. Di sekeliling, ia bisa mendengar suara-suara kebingungan yang berseru silih berganti disusul oleh bisik-bisik yang tersulut di seluruh gerbong bagaikan api memakan kayu bakar. Pekikan kecil keluar dari mulut gadis itu kala kereta Tube mengalami guncangan hebat—seakan telah menabrak sesuatu, lalu mulai melambat berhenti.

“Apa itu?” tanya Estelle sembari merogoh tas, mengeluarkan ponsel dan memberikan penerangan samar untuk matanya.

No idea, honestly,” ujar Jake. Lelaki itu memegang erat pilar besi di sampingnya kala guncang hebat kembali terjadi. Detik berikutnya, lampu kembali menyala. Namun kali ini dibarengi oleh sesuatu yang kiranya hanya akan terjadi di film-film sci-fi.

Estelle membelalak melihat sepasang mata biru terang yang mengintip di jendela kaca.


“Sialan, tidak ada sinyal.

Jake kembali mengantongi ponselnya. Lelaki itu memicingkan mata, berusaha melihat menembus kegelapan total yang ada di depan. Ia berada di pinggir rel, mengatur napas dan detak jantung yang bekerja lebih cepat dibandingkan biasanya. Sebuah pistol berada dalam genggaman, siap untuk dipakai. Kecemasan terpantul di manik cokelatnya, sementara di sebelah, Estelle terduduk dengan punggung menyandar pada dinding terowongan. Kelopak matanya tertutup, wajahnya pucat pasi. Beberapa meter dari mereka adalah kereta Tube yang sebelumnya mereka tumpangi. Menyedihkan adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan bagaimana kedaaannya saat ini.

You still alive there?” tanya Jake sembari berjongkok di hadapan Estelle, ada kekhawatiran yang menyelinap di suaranya.

Mmh, I can bear it.

Jake lantas menyorotkan layar ponselnya pada tubuh Estelle. Melalui cahaya temaram itu si lelaki bisa melihat adanya noda merah yang tadinya tak ada menghiasi jumper biru laut yang dipakai oleh si gadis bersurai pirang. Lelaki itu berjengit.

I still can’t believe you jumped in front of me like that,” ucap Jake, mengacak rambut cokelat-kemerahannya dengan gelisah. “Padahal kita baru saja berkenalan di Tube tadi.”

Estelle, tanpa membuka mata, hanya tersenyum kecil. “Well, kau memberikanku tempat dudukmu tadi .…”

Jake menatap gadis di hadapannya dengan pandangan tak percaya. “Apa kau serius? Hanya gara-gara itu dan kau bersedia mengorbankan nyawamu? Bagaimana kalau kau mati? Kau ini—”

Oh hush, Jake,” potong Estelle, melambaikan tangan dengan lemah. “Aku tidak apa-apa. It’s not a big deal.”

Not a big deal?” ulang Jake, membelalak. “Not a big deal, my arse! You—!

Estelle membekap mulut Jake—pada saat bersamaan mengernyit kala gerakan kecil itu menimbulkan nyeri yang menyengat di perutnya. Ada perubahan dari tarikan napas Estelle yang membuat Jake menelan protes yang nyaris keluar dari tenggorokan. Lelaki itu menelan ludah, tubuhnya menegang, siap bertindak. Pegangan pada gagang pistolnya mengerat. Persediaan pelurunya habis tak bersisa, hanya tinggal satu peluru yang masih tak terpakai.

“Kau dengar itu?” bisik Estelle. Matanya terbuka lebar, menyapu terowongan. Namun ia tidak menemukan apa-apa selain kegelapan yang menyelimuti di depan. Estelle menoleh ke belakang, dimana penerangan dari lampu gerbong yang masih bekerja memberikan gambaran yang lebih dari cukup akan kondisi di sana saat itu.

“Apa yang kau dengar?” Jake balik berbisik.

“Sesuatu .…” Gadis itu menggeser tubuhnya dengan susah payah. “Kupikir—oh ya ampun.

Jake mengikuti arah pandang Estelle, dan baik si lelaki maupun si gadis berjengit kala melihat salah satu dari beberapa makhluk yang tiba-tiba menyerang mereka tengah berada di dalam gerbong yang jendelanya tinggal separo. Jake hanya berhasil menumbangkan dua ekor.

Makhluk itu berdiri tegak dengan ketinggian kurang lebih satu setengah meter; dua kaki kuat dan empat pasang lengan dengan kuku tajam mengilap di kelima jari masing-masing tangan. Setiap inci kulitnya dihiasi deret padat sisik berwarna ungu kehitaman dari ujung kepala hingga kaki. Kepalanya bulat dan lonjong, dengan sepasang mata biru terang keji dan baris gigi taring yang sanggup mengoyak daging dan menghancurkan tulang dalam satu gigitan. Ekor makhluk itu jauh lebih panjang dari keseluruhan tingginya pun mematikan dengan ujung tajam melengkung, yang siap mencabik mangsa di hadapan. Ekor itulah yang menorehkan sayatan pada permukaan abdomen Estelle.

Dan dari tempat mereka berada, keduanya dengan jelas dapat melihat sepotong kaki manusia berlumuran darah yang mencuat dari mulut makhluk itu.

Jake mengumpat pelan.

“Hei, kau sanggup berjalan?” bisik si lelaki, matanya masih mengawasi makhluk yang tengah menikmati makanannya.

“Bisa, tapi aku khawatir kecepatanku berjalan tidak bisa diharapkan,” jawab Estelle pelan, wajahnya kecut. Jantungnya berdetak kencang sekali.

Mengalihkan atensi, Jake lantas mengalungkan lengan gadis itu ke pundaknya, membantu berjalan menjauhi Tube yang kini menjadi seonggok besi mengenaskan di tengah rel, juga menjauhi makhluk asing yang sebelumnya mereka yakin eksistensinya hanya ada di dalam khayalan yang hanya terwujud dalam film sci-fi. Keduanya mengacuhkan amis darah yang mulai merebak memenuhi terowongan, menginterupsi indra penciuman dengan bau anyir yang mengocok isi perut. Sembari berjalan, mereka memasang kuping. Sesekali Jake akan menoleh ke belakang, memastikan tidak ada seseorang atau sesuatu yang mengikuti mereka.

This is so bloody surreal,” ucap Jake kemudian, suaranya pelan. “A wormhole suddenly appear in the underground railway, then aliens attacking the passangers. What’s next? Enslavement of humankind?

“Kita seperti berada dalam film-film yang menceritakan kehancuran bumi di tangan alien,” imbuh Estelle, mati-matian menekan histeria yang sedari tadi mengancam untuk menguasai.

Lelaki itu mendengus. “Alien apocalypse, huh? Harusnya yang semacam ini terjadi di tahun 2012, bukannya 2015.”

Bibir Estelle melengkung lemah, teringat isu kiamat di tahun 2012 lalu. Konyol, tapi anehnya banyak orang yang mempercayai hal itu.

“Kita menuju ke arah Liverpool Street Underground Station, bukan?” tanya si gadis bersurai pirang kemudian, memecah keheningan yang sebelumnya hanya diiringi oleh langkah kaki nyaris tanpa suara beserta tarikan napas teratur.

“Benar,” jawab Jake. “Kenapa?”

Give me a moment,” pinta Estelle. Ia lantas menyeret si lelaki menyeberangi rel, menempelkan telapak tangannya ke dinding terowongan yang lembab dan dingin, mencari sesuatu yang seharusnya berada di sana. Estelle mengernyit kala gerakan itu menimbulkan ketidaknyamanan pada luka di perut. Ia benar-benar berharap ponselnya selamat agar bisa dijadikan penarangan, tapi benda itu terlepas dari genggaman saat di dalam kereta Tube dan ia tak tahu lagi ke mana perginya.

Sementara Estelle menggumam pada dirinya sendiri, Jake membuka mulut. “Hei, apa yang kau laku—”

Click.

What the bloody fuck?

Language, Jake.”

Jake mengacuhkannya. Dari kegelapan, rungunya menangkap bunyi halus mesin bekerja disertai suara dinding terowongan yang melesak, menggeser membuka dan membawa bau ruangan yang anehnya tercium seperti marijuana.

“Again, what the bloody fuck?” Jake bisa dengan mudah membayangkan sebuah lubang yang entah mengarah ke mana menganga tepat di depan mereka saat ini. Ia ingin merogoh saku celana dan menyorotkan sinar ponselnya, paling tidak memberikan penerangan akan apa yang ada di depan mata, namun tangannya sibuk menyangga beban si gadis bersurai pirang ini. “Oi, apa yang kau lakukan barusan, Estelle?”

“Membuka akses ruangan yang kuharap bisa memberikan kita perlindungan,” jawab Estelle, menarik Jake untuk memasuki ruangan tersebut. Kendati berada dalam kegelapan, tak ada keraguan yang tercermin di langkah kakinya, seolah ia telah terbiasa keluar masuk ruangan itu.

I didn’t know this kind of room exist before.

Well, now you know,” sahut Estelle, mengabaikan sorotan tajam Jake yang jelas sekali berharap mendapatkan jawaban yang lebih memuaskan. “Ayo, Jake. Cepatlah.

Bibir Jake membentuk garis tipis. Ia benar-benar tak yakin masuk ke dalam sana adalah ide yang bagus. Apalagi dengan gadis yang baru saja dikenalnya beberapa saat lalu. Namun gadis ini adalah gadis yang sama yang memakai tubuhnya untuk melindungi Jake sebagai balas jasa atas kursi yang diberikan. Sinting, tapi bukti hidup ada dan bernapas bersamanya saat ini. Mengedik, lelaki itu lantas menggerakkan tubuh, berjalan bersama memasuki ruangan yang tak kalah gelapnya dari terowongan di belakang mereka. Saat mereka telah masuk, kembali bunyi klik pelan terdengar, diiringi oleh suara halus dinding yang bergeser menutup kembali.

“Estelle,” Jake berkata, menyamakan langkah kaki gadis bersurai pirang itu. “Bagaimana bisa kau tahu tempat seperti ini?”

Lelaki itu merasakan gerakan halus bahu si gadis.

What?

Estelle mendecak pelan. “Jake, this is not the time.” Gadis itu mengingatkan sembari melarikan jemarinya pada dinding ruangan yang kasar. Suara kemenangan keluar dari tenggorokannya kala ia menemukan apa yang dicari—saklar lampu. Gadis itu menekan saklar tersebut, menerangi ruangan dengan nyala kuning bohlam lima watt.Seharusnya kita bisa mendapat sinyal bagus di sini. Coba cek ponselmu.”

Jake menggerutu, namun toh ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mengecek. Dua bar sinyal terpampang di layar.

Oh hell, you are right.

Jemari lelaki itu segera bergerak lincah di atas keypad ponsel, men-dial nomor yang telah sangat familier baginya.

“Halo? Hei, Jane. Ack! Not too loud, woman! Honestly—

Tanpa basa-basi Jake segera panjang lebar menceritakan keadaannya saat ini, sementara di saat yang bersamaan membantu Estelle untuk duduk bersandar pada dinding bercat merah marun ruangan tersebut. Ia berhenti berbicara kala dirinya merasakan tepukan pelan dari gadis di sampingnya—memiringkan kepala sembari mengangkat alis pada si gadis.

“Kakakmu ada di The Gherkin, ‘kan?” kata gadis bersurai pirang itu. Saat Jake mengangguk, ia meneruskan,

“Kakakku juga ada di sana. Elliot Corvin. Kaukasoid. Laki-laki berambut pirang, memakai setelan hitam Burberry. Tinggi 1.8 meter. Dia ada di Perrier Jouët. Mereka bisa ke sini bersama-sama.” Estelle diam sejenak. “Dan bilang padanya kalau ponselku rusak.”

Kembali mengangguk, lelaki bersurai cokelat-kemerahan itu mengulang deskripsi yang diberikan Estelle padanya, memastikan tidak ada yang terlewatkan. Selanjutnya ia menggambarkan ruangan tempat mereka tengah berada—termasuk keadaannya yang baik-baik saja dan kondisi Estelle yang membutuhkan perawatan.

a moment,” Jake mengalihkan atensinya pada si gadis berambut pirang pucat. “Apa yang harus kukatakan agar mereka bisa menemukan kita?”

“Sampaikan pada kakakmu untuk memberitahu kakakku” Estelle mengalihkan atensinya, menyapu pandangan ke ruangan tempat mereka berada, menilik setiap detail yang ada. “bahwa kita berada di Blok XII M-6, D5.”

Alis Jake terangkat tinggi begitu mendengar nama lokasi yang seumur-umur di dua puluh tahun kehidupannya, belum pernah ia mendengarnya barang sekali pun. Sejuta pertanyaan muncul dalam benak, namun ia segera menyingkirkan pikiran itu—untuk saat ini. Lelaki itu pun menyampaikan pesan Estelle pada kakaknya.

All right. We will be waiting. Be safe, will you? Funeral ceremony is expensive as hell, not to mention the gravestone.

Jake mengakhiri panggilan. Ia menunduk—dan disambut oleh tatapan penuh heran yang ditujukan Estelle padanya.

Lelaki itu kembali mengangkat alis—sesuatu yang sepertinya sering dilakukan saat berhadapan dengan gadis yang satu ini. “Apa?”

Estelle menggeleng. Ada ekspresi aneh yang melewati wajahnya, seperti tidak tahu apakah Jake bercanda atau tidak di kalimatnya terakhir tadi. “Tidak. Kau kelihatan sangat … er, akur dengan kakakmu.”

Sementara Jake hanya mengangkat bahu. “Don’t worry, this is normal for us.” Manik lelaki itu lantas bergulir ke noda merah di jumper yang mengintip di sela lekukan lengan si gadis bersurai pirang. “Bagaimana lukamu?”

I’ve had worse.

That’s not an answer.

Estelle memutar mata. “Aku akan baik-baik saja, Jake. Sungguh.”

Jake memicingkan mata. Ia benar-benar mempertanyakan seberapa tinggi pain tolerance yang dimiliki gadis itu. Namun si lelaki bersurai cokelat-kemerahan lantas menghela napas, akhirnya memilih untuk mempercayai jawaban yang diberikan. Ia pun melempar pandang ke sekeliling ruangan, menangkap detail ruangan yang sebelumnya terlewatkan. Hanya ada jejeran lemari besi bergembok dan bergerendel, beserta beberapa meja kayu kukuh bersama kursinya. Sebuah pintu besi bergagang tebal berada di seberang ruang. Kotak kecil tembaga berisi deretan angka yang rupanya menjadi akses utama pintu tersebut terpasang tepat di sebelah pintu.

Now what?

Estelle merapatkan kaki dan melingkarkan lengannya di sana, meringkuk seperti anak kecil.

Now we wait.


Dua.

Jingga belum sepenuhnya pias ditelan horizon ketika Jane meniti anak tangga terakhir Liverpool Street Underground Station, kendati jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Hiruk pikuk stasiun tak terelakkan atas nama jam pulang kantor. Jane akhirnya memahami derita macam apa yang dilalui sang adik saat harus mengirim paket untuknya menggunakan kereta beberapa hari lalu. Tentu bukan hal yang nyaman berada di tengah keramaian, khususnya bagi seorang socio-phobic seperti Jake.

Sisa lima puluh langkah sebelum tungkai Jane sampai di muka bangunan The Gherkin. Namun ia memperlambat langkahnya kala menangkap dua sosok yang tengah berbincang di sana. Jane yakin mengenali salah satu dari dua siluet pria di muka lobi, terlebih saat bariton salah satu pria yang mengenakan jas sewarna putih tulang mengudara.

“—you for the cooperation, Mr. Corvin. I assure you, there will be no problem arises regarding this matter.”

Sementara sang pria yang jadi lawan bicara—yang berambut pirang—menganggukkan kepala. Ia mengulurkan tangan, menjabat lawan bicaranya, dan membalas tenang.

“Then I shall bid you a goodbye. Have a safe journey, Mr. Vaughan.”

Jane menunggu hingga lelaki itu pergi sebelum bergegas menghampiri si pria setengah baya yang hendak melangkah masuk ke mobilnya.

“Da, is that you?”

Pria tersebut menghentikan gerakannya sebelum berbalik dan sebuah senyum lebar tersungging di wajah sementara kedua lengan miliknya merangkum tubuh Jane, erat dan hangat.

Jane! What are you doing here, Sweetheart?”

“Going to spoil my dear brother for a dinner tonight. Would you like to join us, Da?”

Nah, I have to pass, Sweetheart. Have a nice evening. Sampaikan salamku pada adikmu, hm?”

Gerakan ayahnya begitu cepat hingga Jane belum sempat menanyakan keperluan beliau datang ke kota dan bertemu si pria pirang di sebuah restoran mewah. Mungkin akan ia tanyakan di rumah, nanti.

Ketika ia melangkah masuk menuju meja lobi, sosok pria berambut pirang yang sama rupanya sedang berdiri agak memojok dan tampak disibukkan dengan ponselnya.

“May I help you, Miss?” Sapaan seorang pramusaji dengan rambut keemasan yang digelung rapi, mengalihkan perhatian Jane.

“Reservation for seat 18 Perrier Jouët under the name of Jane Kathleen Vaughan, please.”

“Sure, please wait a minute. I will check your reservation, Ms. Vaughan.”

Pramusaji dihadapannya tampak sibuk membolak-balik halaman buku catatan bersampul hitam beludru, sebelum beranjak ke arah komputer.

“I’m sorry, Ms. Vaughan, but seat 18 in Perrier Jouët has been already booked. And I can’t seem to find a record of your booking.”

Kernyitan menghias dahi Jane. “How come? I booked it for six o’clock tonight. I have a reservation number if that helps.”

Wah, bisa gila ia menempuh perjalanan jauh dari Cambridge University—setelah merampungkan perannya sebagai pembicara seminar dihadapan para mahasiswa penuh antusiasme, hingga menguras tenaga dan kesabaran—ke The Gherkin hanya demi seorang adik tidak tahu diri, dan sekarang apa? Reservasinya tidak tercatat? Yang benar saja!

Jane menyerahkan selembar kertas yang berisi bukti pemesanan kepada si pramusaji yang kemudian segera mohon diri menemui direktur. Selang beberapa menit si pegawai yang sama datang dengan seorang pria paruh baya berjas necis dan seorang pramusaji lain berambut jelaga.

“I’m sorry, Miss, I guess there was a glitch with the booking system. Unfortunately, someone else has already booked the seat.”

“Who?”

One Mister Elliot Corvin, Miss.”

Corvin? Sepertinya ia pernah mendengar nama itu.

“Then get me another seat.” Jane mengetukkan jemarinya di meja lobi, tak sabar. “I already paid for the reservation.”

“I’m afraid we can’t do that, since the entire seat has been—”

“—Ms. Vaughan, am I right?”

Tanpa sadar Jane memicingkan mata menatap pria yang melangkah mendekat—pria bersurai pirang yang dilihatnya berbincang dengan sang ayah sebelumnya. Indra penciuman Jane dengan mudah mengenali aroma elegan yang khas dari Creed 1760 Spice and Wood menguar dari sosok jangkung bersetelan jas kelam keluaran terbaru Burberry—yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.

“You may have the seat, Ms. Vaughan. I will book another seat.” Penawaran cuma-cuma dari si pirang asing dengan imbuhan liukan tipis serupa senyuman diplomatis.

Sementara Jane tengah memproses apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya, si lawan bicara sudah beralih kepada sosok berjas necis yang kemudian memperkenalkan diri sebagai direktur The Gherkin, Mr. Safra.

“Our sincerest apologies, Mr. Corvin, but all of the private dining room has been booked. We only have the space on the 39th and 40th floor, Sir. But it requires for the gala exclusive event.”

“I will get that room. You may add that to my bill. And give my seat to Ms. Vaughan here—”

“What?!”

“—and please tell me as soon as possible when the room is ready.”

Merasa tak digubris, bibir Jane dengan terang-terangan meliuk membentuk cibiran. “Show off.”

“… pardon?”

“Well, I’ll gladly took the offer, Mr. Corvin.” Jane menyibak rambutnya. “You have my thanks, and please excuse me. I’d better hurry to my seat, since the air is getting a little bit stuffy here.”

Syukurlah salah satu pramusaji—kali ini yang rambutnya sewarna jelaga—segera beranjak mengantar Jane menuju ruangan yang dituju. Sembari mengikuti si pramusaji, ponselnya berdering memunculkan kontak yang sedari tadi dinanti.

“Oh, finally you have the courage to call me back, hm? I’ve tried to call you thousand times, Brother dear. Where on earth are you?”

Kerutan menghiasi dahi Jane mendengar jawaban di seberang telepon.

“Who is Estelle? Are you trying to say that you invited your new girlfriend to have dinner with us?” Jane memasang kuping mendengarkan baik-baik ucapan sang adik yang agaknya melenceng dari akal sehat. Ia mengangguk singkat pada si pramusaji dan duduk menempati meja delapan belas.

“Let’s talk about this new girlfriend first, not the worm … wait! What kind of wormhole are you talking about? Who’s injured?”

Fokus Jane yang harusnya ditujukan pada racauan Jake justru tersita oleh sebuah lubang hitam yang tiba-tiba saja muncul tepat di atas London Eye. Diameternya itu cukup besar, dengan tepi yang seolah menarik paksa partikel udara di sekitarnya. Ia bisa melihat lubang aneh itu dengan jelas melalui dinding kaca yang menjadi fitur dekorasi ruangan. Sementara itu, dari sudut matanya Jane melihat kerumunan orang-orang yang menghentikan aktivitas mereka, sepertinya juga terheran-heran akan apa yang mereka saksikan saat ini.

‘What the hell? Am I dreaming?’ Tanpa mengalihkan perhatian, Jane mencubit lengannya. Sakit.

‘Is that the thing that Jake mentioned just now?’

Meski ketertarikan Jane pada bidang fiksi ilmiah bisa dipastikan mendekati nol, namun ia tidak dapat mengabaikan benda bulat besar—yang kini menyerupai pusaran angin—terlihat begitu kontras dengan padatnya bangunan di bawah sana. Perkara benda asing itu berpotensi menjatuhkan monster berlendir atau bahkan alien serupa kecoak mutan adalah hal terakhir yang ingin Jane prediksikan. Fokus utamanya adalah benda asing yang—sepertinya—sama telah menghambat laju kereta Tube yang ditumpangi sang adik dan melukai si gadis pirang yang bersamanya.

Jake, hey, boy! Keep your phone on, I’ll be there as soon as I can! Make sure she doesn’t move too much and do anything for her wound to stop bleeding.”

Untuk terakhir kalinya Jane memastikan lubang hitam itu belum beranjak dari posisinya semula, sebelum bergegas keluar dari ruangan tempatnya berada. Ia tidak yakin mampu melakukan hal yang selanjutnya, yaitu menurunkan harga diri untuk kembali meminta bantuan kepada Elliot Corvin—si pirang yang ingin sekali ia tonjok mukanya—demi menyelamatkan nyawa sang adik yang saat ini terjebak di bawah tanah, dan sedang mengamankan diri dari makhluk pemakan manusia.

Tapi rupanya gemuruh dalam dadanya sudah lebih dahulu menarik Jane meniti anak tangga menuju lantai 39—sesuai petunjuk dari seorang pramusaji yang ditemuinya—dan syukurlah pria itu belum beranjak ke lantai yang dituju.

“Excuse me, Mr. Corvin.”

Di sana, di dekat anak tangga, lelaki itu membalas sapaan Jane dengan kedua alis yang berjingkat asimetris.

Ya, Ms. Vaughan?

Apa kau membawa mobil?”

Lelaki itu melempar pandangan aneh ke arah Jane. “I did.  But why do you—”

“Great!” potong Jane. “With your car we can reach Liverpool Street tube station within minutes.”

Jane memperkirakan setibanya di sana beberapa reporter sudah mengepung stasiun yang kedatangan keretanya terlambat karena sebuah kecelakaan misterius di bawah tanah. Maka, harapan terakhirnya adalah Elliot-yang-kaya-raya-bukan-main memiliki akses khusus untuk menembus barikade polisi yang disiagakan di lokasi.

“Now wait a minute here, Ms. Vaughan. Just what are you talking about?”

Di luar dugaan, sepertinya pria yang satu ini bukan tipe yang bisa diajak bekerja sama dalam satu jentikan jari.

“We’ve go to the Liverpool Street tube station, now! It is an emergency situation.”

“What kind of emergency? And any reason why should I go there? With you?” ujar Elliot sembari memicingkan pandangannya, sebagai penekanan. Sementara lawan bicaranya memutar mata dengan tidak sabaran.

Estelle Corvin. My brother met her on the subway, and she’s injured right now because of bloody aliens—yeah, I know that sounds barmy, but hey! Your little sister may be in life and death situation because of them!”

Berita yang sampai di rungunya terdengar terlalu tidak masuk akal untuk dicerna akal sehat, sampai sebuah kalimat sakral—yang harusnya menjadi rahasia di antara keluarga Corvin dan mereka yang bersangkutan—terlontar dari seorang Vaughan muda di hadapannya.

“Sekarang mereka tengah berlindung di Blok XII M-6, D5.”

Seketika kerutan di dahi Elliot lenyap bersamaan dengan air wajah yang semakin kehilangan warna kala Jane melanjutkan ucapannya, “Aku tidak mengharapkan mereka berdua dikoyak hidup-hidup karena adikku kehabisan amunisi untuk melawan para alien yang tiba-tiba berada di bawah sana.

“Dan tentu akan sangat berguna jika kau mau bekerja sama, Mr. Elliot Corvin.”

.

To be continued.

.

Notes:

  1. this is our first project and honestly, we’re rather nervous here. Kami mengharapkan koreksi dari pembaca jika pembaca menemukan kesalahan di sini. Informasi yang kami temukan di Google sangat membantu, tapi tidak melepas kemungkinan kami salah paham dalam mengartikannya. We gladly welcome any contructivism critism
  2. we sincerely thanked Ka Fika (fikeey) as our beta-reader!!!
  3. you may wanted to check this out, in case you were wondering how we imagine the characters and the places that appear in this story

 

 

Advertisements

19 thoughts on “Twilight Hour [1]

  1. aw, angkat tangan deh kalau soal genre semacem ini. action, alien bukan ladangku kayaknya X,D
    dan tolong kembalikan memori saya soal jake dan jane, aku pernah nemu mrk di tulisan filza, kan? iya, ga sih? /plak/

    nyinggung soal dialog estelle yg nyebut cacing jejadian itu alien, aku mikir sejenak, kok estelle bsa tahu itu alien yg datangny dr langit. padahal tempat mrk ada di bawah tanah. apa cacingnya jatuh dari lubang hitam yg ada di langit dan nembus melubangi lorong kereta bawah tanah? tp ada kata2 temaram, gelap, yg kuartikan ga ada lubang raksasa di terowongan. ;A; maaf, aku sesat, nih. my bad;;;

    anyway, aku cemburu jg sih filza sama titan bsa featuring gini hihihi. cus lanjut, smangat, kutunggu <333

    Liked by 1 person

    1. halo kafatiiim ❤

      genre semacam ini sebenarnya juga bukan ladang kita kak, tapi ya buat percobaan bolehlah ehe. dan yap, jane sama jake itu sudah muncul di tulisan kapang sebelum tulisan ini publish. jadi kafatim mungkin memang udah baca mereka di tulisan-tulisan kapang sebelumnya 😀

      terus soal dialognya, kafatim bisa tunjukin (copas mungkin?) dialog mana yang kafatim maksud? buat klarifikasi, soalnya titan nyari-nyari kok ngga ada ya :"

      semoga kafatim suka kelanjutannya. sudah kapang publish kok yg part 2 ehe 😀

      Liked by 1 person

    2. maaf, baru bisa on hehe yng dibagian ini. mungkin emang akunya yng ga mudeng sama selorohny mrk x,D

      “A wormhole suddenly appear in the underground railway, then aliens attacking the passangers. What’s next? Enslavement of humankind?”

      “Kita seperti berada dalam film-film yang menceritakan kehancuran bumi di tangan alien,” imbuh Estelle, mati-matian menekan histeria yang sedari tadi mengancam untuk menguasai.

      Like

    3. Ah! Jadi itu maksudnya kaya gini, kak:

      1. “A wormhole suddenly appear in the underground railway, then aliens attacking the passangers. What’s next? Enslavement of humankind?” – kurang lebih Jake bilang “Sebuah wormhole tiba-tiba muncul di jalur kereta bawah tanah, lalu alien menyerang penumpang. Selanjutnya apa lagi? Perbudakan manusia?”

      Wormhole itu lubang cacing, kak. Semacam terowongan ruang dan waktu. Dan ya, sebenarnya Jake bilang seperti itu untuk memberi clue ke pembaca kalau ada wormhole yang terbuka di jalur kereta bawah tanah sebelum wormhole tersebut menghilang. Tapi kayanya kurang jelas ya, huhu :”

      2. “Kita seperti berada dalam film-film yang menceritakan kehancuran bumi di tangan alien,” imbuh Estelle, mati-matian menekan histeria yang sedari tadi mengancam untuk menguasai. — yang ini sih, karena semua film alien yang Estelle tonton selama ini selalu bermula dari kedatangan alien ke bumi (entah sengaja atau tidak) terus menyerang manusia. Tbh kebanyakan film alien yang Titan tonton alurnya juga kurang lebih seperti itu haha

      Semoga penjelasannya membantu ya, kak. Kalau ada yg buat Kafatim bingung lagi monggo ditanyakan 😀

      Like

  2. Ini superrrr sekali aku nganga fix. :O
    Jujur ini bukan makananku, tapi aku penasaran banget kalian duetnya kayak gimanaa. Dan seriusan aku speechless kemasannya london banget, huhu :”)
    Biasanya kalau aku baca cerita serial kayak gini dinikmatin wae jadi gak fokus ini bener atau enggak infonya, wkwk. Udah apik aja gitu, huhu. Aku gak sabar nunggu kelanjutannya, thor!!!!!!

    Liked by 1 person

    1. haii dilaa! first things first, maaf ya titan baru sempat bales sekarang :”)

      makasih banget udah nyempatin baca meskipun bukan your cup of tea ehe. kita seneng loh baca komen dila terutama soal pendapat dila soal kemasan fic ini yg london banget awawa 😀

      semoga dila bisa menikmati kelanjutannya ya. kalau ngga salah chapter 2 udah kapang publish sabtu lalu ❤

      Liked by 1 person

  3. HUYEY AKHIRNYA RILIS YHA HAHAHAHA xD udah nggak sabaran banget masa akunya nungguin ini muncul di ws (lha yang punya proyek siapa, yang excited siapa hahahaha).

    – mulai dari mana yha intinya aku suka banget sama idenyaa! serius deh ini ngingetin aku sama film-film sci-fi yang settingnya di kota besar gitu. kayak yang di the lost world, dinosaurusnya kebawa ke chicago (atau di mana ya lupa) terus ngamuk di tengah kota. kalo ini kan alien kan haha. terus terus ngegambarin settingan tempatnya juga ketjeh. yey!
    – MBAK JANE VAUGHAN IS MY HERO OKAY. cinta banget aku sama karakternya, dan aku suka banget sama portrayernya. hihi. oiya jake sama jane ini yang pernah muncul di fiksinya kakpang kan ya? yang di prompt sun-kissed skin. cmiiw, pokoknya kuyakin pernah baca tentang mereka deh.
    – relationship kakak-adek elliot sama estelle will always be my favorite juga. elliot gentle banget ke adeknya sedangkan estelle megang peran as adek yang baik (estelle adeknya kan yaa??? malu nih kalo kebalik huft) really, really beautifully. ah cinta banget lah pokoknya sama corvin bersaudara ehe.
    – sumpah ngakak karakternya jake sunshine banget. bingung ini bingung itu. tapi tetep stay beside estelle selama nungguin jane ama elliot dateng xD
    – aku bayangin aliennya yang hampir raksasa gitu, terus badannya basah (?) terus bau…. ah pokoknya semua hal yang menggelikan lah wkwk. DAN WORMHOLENYA KEBAYANG JELAS BANGET PLS HUHU GOOD JOB GUYS!! :”)

    (duduk manis nungguin part 2-nya keluar) (tuhkan malah aku yang excited hahahaha). oiya, dan makasih juga udah ngasih kepercayaan ke aku buat jadi beta reader kalian, huhu. maafkeun pabila ada yang masih kelewat belum sempet aku edit, but srsly seneng dikasih kepercayaan ehe. jangan kapok aku betain ya guys :”)

    lastly, DITUNGGU PART 2-NYA HEHEHEHEHEHEHE. keep writing titan dan kakpaaaangs! ❤

    Liked by 1 person

    1. haiii kafikaaa ❤

      asdfjklhghglau thank you so muchie kafikaaa. dan iya, jane sama jake ini pernah muncul di prompt sun-kissed skin punya kapang. mereka karakter tetap punya kapang, jadi ya kemungkinan besar bakal muncul di fiksi-fiksi kapang yang lain haha. terus terus, kafika bener kok, estelle itu adeknya elliot ehe 😀

      titan literally bingung mau bales apalagi laf laf kafika deh pokoknya uwuu ❤

      makasih juga lho kak udah bersedia jadi beta reader kita. kakak yg jangan kapok buat jadi beta kita bikos omg, kita beneran lega kafika ngga demam mendadak gegara ngoreksi gunungan typo di naskah kita awawa :"D

      ps: kita nambahin deskripsi aliennya di part 2, kak. semoga bisa membantu kafika membayangkan aliennya dengan lebih jelas haha

      Like

  4. Akhh ya ampun ini gegara aku ga baca summary ato apa tapi ga nyangka ini bakal jdi sci-fic 💕💕
    Alurnya juga rapi dan bikin nyaman trus ga bosenin meskipun panjang 😄👏👏
    Ini keren overload sumvah T^T
    huhuhu ayoo semangat lanjutinnya kaka berduah 🙌🙌
    aku padamuuh ❤❤

    Liked by 1 person

    1. halooo ❤

      thank you sudah menyempatkan mampir dan membaca cerita ini yaa. awawa Ms. Pang dan Titan seneng loh ohclaren berpendapat alur cerita ini rapi dan ngga bosenin 😀 ❤

      semoga ohclaren juga menikmati part 2 dari cerita ini ya ❤

      Like

  5. YAAMPUN WHAT DID I DO TO DESERVE SUCH A GOOD FICTION LIKE THIS?!!!!!

    Aku sama sekali gak nyesel baca ini wow??? kakpang dan kaktitan kalian did a great job here!!!! Ini projek yang gak main-main banget menurutku soalnya, english-nya oke, tempat-tempatnya oke, karakternya apalagi. Aku suka gimana kakak-kakak nulis ini tuh se-real yet se-surreal ini! hahahaha. I really really love this! Ketegangan di bisnis Elliot pas awal cerita sampe ketegangan yang dialami elle sama jake tuh kegambar banget kerasa banget aku sukaaakk.

    Pokoknya aku suka ini. Aku seneng banget bacanya sehingga belum melihat kesalahan (if there any). Huhuhu i luuuuvvv thiiiis!! Ditunggu kelanjutannya! ❤ ❤ ❤

    p.s : aku suka hubungannya both elliot-elle dan jake-jane. you did a great job there!

    Liked by 1 person

    1. HAEE DHILAAA ❤

      wah, makasih banyak loh. titan gelundungan seneng nih bikos it seems that you really enjoyed this story haha gatau juga gimana reaksi kapang. mungkin dia akan salto?? /dor

      semoga dhila nanti juga menikmati part 2 ya. sudah kapang publish kok ❤

      Liked by 1 person

  6. Halo, Titan dan Kakpang 😀
    Sebelumnya aku minta maaf karena udah baca ini sejak kapan tapi belum berani komen karena aku khawatir nggak bisa komen dengan optimal (?) (kayak sekarang bisa aja). So I finally managed to read it thoroughly and found that this story is really interesting! Aku bisa menangkap chemistry yang bagus antara Titan dan Kakpang, juga perbedaan style (aku hampir merasa membuktikan pengaruh tipe MBTI terhadap gaya tulisan tapi kayaknya aku masih pemula ahaha) yang justru bikin ceritanya jadi unik dan berkesan. Belum lagi setting London dan British accent (also, cursing? XD) yang menguar di mana-mana. Pokoknya aku suka banget cerita ini. Aku akan bergegas ke chapter berikutnya.

    Like

    1. haiii kaamii ❤

      duh, dateng2 udah cobonyi aja deh kaami XD and thank you very much!! we're glad with the fact that you found this story interesting ayayy ❤

      also pls don't mind the cursing XD that's just jake for ya haha ((terus dibegal jake))

      makasih ya kaami yang udah ngikutin TW laf laf kaamii ❤ ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s