Desakan yang Perlu Dipertimbangkan

editphone

credit: Buecherwurm_65

by aminocte

 Nah, itulah masalahnya. Aku belum siap. Memikirkannya saja aku enggan.

“Wa’alaikumussalam. Ada apa?” sapaku dengan malas begitu menyadari siapa yang meneleponku di hari libur begini. Orang yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah kakak perempuanku, sekaligus saudaraku satu-satunya. Tampaknya ia cukup santai untuk bisa menghubungiku, mengingat statusnya sebagai istri sekaligus ibu yang bekerja mengharuskannya untuk senantiasa sibuk, bahkan di hari libur sekalipun.

“Kakak bela-belain nelepon kamu dan balasanmu sedingin itu? Dasar menyebalkan!” omel kakakku itu, yang tak ayal membuatku terkekeh.

“Iya, iya, Kak. Maaf. Ada apa emangnya?”

Diam di seberang sana. Jantungku berdegup kencang. Jangan bilang ada kabar buruk dari ibuku di kampung.

“Halo, Kak?”

“Kakak ingin berbicara serius denganmu. Kamu sibuk?”

“Nggak. Cuma lagi packing,” jawabku sekadarnya. Aku tidak bohong. Di hadapanku sekarang ada sebuah koper yang menganga dan baru terisi separuhnya. Setelan untuk presentasi, check. Baju kaus, check. Perlengkapan mandi … oh, aku baru ingat belum beli sikat gigi.

Packing? Kamu mau ke mana?”

“Ada konferensi di Bangkok lusa.”

“Oh … kamu presentasi oral lagi? Atau poster?”

“Ngg … aku diundang untuk jadi pembicara di panel session.”

“Wah, hebatnya Pak Dosen yang satu ini. Kakak mau, dong, sesekali nontonin kamu presentasi.”

Nontonin katanya? Memangnya aku pelawak?

“Ah, paling Kakak nggak betah dengernya. Topiknya, ‘kan, bukan bidangnya Kakak.”

Terdengar kekehan dari seberang sana. “Iya, iya, Kakak tahu. Eh, ngomong-ngomong, cewek yang foto bareng kamu itu siapa?”

Dahiku sontak berkerut mendengarnya. Aku memang bukan playboy, tetapi tidak hanya satu perempuan yang pernah berfoto bersamaku. Perempuan manakah yang dimaksud oleh kakakku itu?

“Itu, yang ada di Path kamu, yang kamu posting beberapa menit yang lalu.”

“Ck, dasar kepo.”

“Siapa? Pacarmu, ya?”

Aku mendengus pelan. Rasanya aku mulai paham ke mana pembicaraan ini akan dibawa. Bukan sekali ini saja kakakku menggiringku ke topik pembahasan yang sama dari sebuah pertanyaan yang terkesan remeh. Aku biasanya akan mengelak, tetapi kakakku terus memaksa. Kemudian, kami akan berdebat untuk mempertahankan argumen masing-masing dengan hasil yang tak pernah membuatku senang. Kakakku selalu menang dan menutup pembicaraan kami dengan nasihat klise, seakan-akan aku ini bocah nakal yang tak kunjung paham apa gunanya mengerjakan PR setiap malam.

“Halo, Rasyid? Kamu masih di situ?”

Tentu saja. Memangnya aku mau ke mana? Percuma saja aku memutuskan telepon sepihak. Kakakku pasti akan menerorku hingga aku mau meladeni permintaannya untuk berbincang jarak jauh.

“Iya, aku masih di sini, kok.”

“Jadi siapa cewek itu?”

Decakan lidahku tak bisa lagi kutahan. “Kakak ‘kan tahu aku nggak punya pacar.”

“Iya, iya. Kamu ‘kan tipe yang kenalan bentar, trus langsung nikah itu, ‘kan? Apa namanya? Ta’aruf ya?”

Hah, terserah dia sajalah. Yang aku tahu, aku belum ingin memulai hubungan dengan perempuan mana pun saat ini. Apalagi untuk komitmen yang lebih serius.

“Rasyid, kamu belum jawab pertanyaan Kakak, lho.”

Benar, ‘kan? Kakakku itu seperti hyena kadang-kadang. Mangsa sudah terjepit begini, masih saja dicecar tanpa ampun.

“Itu mahasiswi bimbinganku. Dia baru saja selesai ujian tesis kemarin.”

“Oh ya? Wah, pasti dia orangnya tabah banget, ya? Kamu ‘kan, standarnya setinggi langit.”

“Wajar, dong. Aku ‘kan nggak ingin asal ngelulusin mahasiswa bimbinganku. Toh itu juga buat kebaikannya, kok.”

“Dia cantik, ya? Pinter juga kayaknya.”

Nah, ini yang kumaksud tadi. Kakakku pintar sekali membelokkan arah pembicaraan perlahan-lahan. Tenang saja, kali ini, aku tidak akan semudah itu untuk masuk ke dalam perangkapnya.

“Hm-hm. Lumayan.”

Bukan sekadar cantik dan pintar, sebenarnya. Kalau boleh jujur, dia adalah mahasiswi bimbingan favoritku. Dia aktif, rajin, dan  entah apa lagi. Rasanya semua kriteria mahasiswa bimbingan favorit ada padanya. Nalarnya tajam, alur berpikirnya runut. Ia tidak perlu lagi kuajari cara menulis yang baik karena kalimat-kalimatnya memenuhi kaidah tatabahasa yang benar dan mudah dipahami. Selain itu, apa pun saran yang kuberikan, biasanya akan dipenuhinya segera. Namun, dia bukan tipe yang pasrah saja disetir oleh dosen. Mahasiswi bimbinganku itu tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan ‘tidak’ kepada dosen pembimbing dan dosen penguji. Belum lagi argumen-argumennya dalam setiap seminar selalu bernas, membuatnya layak untuk menangguk nilai yang cemerlang. Tidak hanya itu, kudengar dia terpilih menjadi lulusan terbaik karena IPK-nya yang menjadi pemuncak di antara rekan-rekannya yang akan diwisuda September mendatang.

“Lumayan bagus atau lumayan jelek?”

Aku tidak sebodoh itu untuk mengatakannya lumayan jelek. Namun, aku juga tidak akan semudah itu untuk mengatakannya lumayan bagus. Seperti yang kujelaskan di awal, jawaban yang salah akan mendorongku masuk lebih jauh ke dalam perangkap kakakku.

“Yah … lumayan. Yang namanya lumayan selalu ada di tengah-tengah, ‘kan? So-so … begitulah.”

“Kamu nggak tertarik sama dia?”

Aku mendengus. Kenapa harus membawa-bawa perasaanku segala?

“Kak, dia cuma mahasiswi bimbinganku. Nggak lebih.”

“Kalian kayaknya cocok lho.”

Ini namanya proses penjodohan dengan pemaksaan dan logika yang serampangan. Memang, sih, mahasiswiku itu masih melajang di usianya yang lewat dari pertengahan dua puluhan. Akan tetapi, aku tidak seimpulsif itu untuk tiba-tiba mengajaknya terlibat dalam interaksi yang lebih intens. Atau dalam istilah yang lebih sederhana, mengajaknya untuk jadian atau menikah sekalian.

“Terserah Kakak, tapi aku belum kepikiran ke arah sana.”

Terdengar desahan panjang. Kakakku mungkin lelah dengan alasanku yang kurang kreatif. Belum kepikiran ke arah sana. Belum waktunya. Mungkin nanti, kalau aku sudah selesai ini atau itu.

“Sampai kapan kamu menghindar seperti ini? Belum kepikiran lah, belum waktunya lah, mungkin nanti lah. Ingat Rasyid, umurmu udah lewat kepala tiga.”

Lihat, kakakku bahkan bisa merangkum alasanku yang hampir sama dari tahun ke tahun itu.

“Aku nggak menghindar, kok.”

“Terus apa? Belum siap?” tanyanya bertubi-tubi dengan nada meninggi. Telingaku seakan pengang sesaat. “Apa lagi, sih, yang kamu tunggu? Kamu itu punya semuanya, Rasyid. Fisik oke, kecerdasan jangan ditanya, finansial sudah mapan.”

“Iya, aku sudah punya semuanya. Aku belum butuh yang lain. Lalu untuk apa Kakak membahas ini sekarang?”

“Tetap saja kamu tetap butuh pasangan hidup. Sekarang memang kamu  bisa melakukan semuanya sendiri. Tapi nanti ada masanya kamu butuh dikuatkan, butuh dukungan dari seseorang.”

“Aku bisa minta support dari Ibu atau dari Kakak, ‘kan?”

Ya, kurasa dukungan dari kedua wanita yang kusayangi di dunia ini lebih dari cukup. Untuk bisa sampai pada posisiku saat ini, entah berapa kali aku harus menghadapi masalah berat. Toh, nyatanya aku berhasil melalui semuanya tanpa kehadiran pasangan hidup atau apalah itu namanya.

“Iya, tapi nggak selamanya kamu bisa mengandalkan kami.”

“Karena umur ada di tangan Tuhan? Ibu bisa saja mendahuluiku, juga Kakak? Aku juga bisa, ‘kan?”

“Rasyid, jaga omonganmu.”

Sebelah ujung bibirku terangkat. Mujur aku sedang tidak berhadapan dengannya. Kakakku pasti akan menamparku hingga pipiku lebam.

Hening mengisi jeda pembicaraan di antara kami. Cukup lama hingga aku merasa bahwa ini pertanda kemenanganku atas kakakku. Ia harus memahami alasanku dan berhenti membujukku untuk segera mengakhiri masa lajang.

“Kamu nggak tahu, ‘kan, capeknya Ibu menghadapi kerabat yang sering sekali bertanya tentang statusmu? Ibu memang nggak pernah marah sama mereka, apalagi sama kamu. Tapi Kakak mohon, mengertilah keadaan Ibu sekali ini, untuk yang satu ini.”

Satu pukulan pamungkas dilancarkan kepadaku. Kalau sudah membawa-bawa Ibu, siapa yang berani melawan? Melawan kehendak Ibu sama saja dengan durhaka. Namun, prinsipku masih terlalu teguh untuk diabaikan begitu saja.

“Aku mengerti, Kak. Serius. Tapi aku masih punya tanggung jawab besar di sini. Ada tawaran kerja sama penelitian dari University of York. Belum lagi deadline naskah buku teksku tinggal seminggu lagi. Terus, dua minggu lagi tim monev datang untuk melihat progress tim PKM Penelitian bimbinganku. Aku nggak bisa membagi perhatianku untuk urusan lain.”

“Menikah nggak membuatmu harus memilih salah satu, Rasyid. Kamu bisa berkeluarga dan berkarier tanpa harus mengorbankan salah satunya.”

“Seperti suami Kakak?”

“Iya, seperti abang iparmu.”

“Aku masih punya rencana untuk post-doc ke Amerika. Menurut Kakak, itu juga bisa kulakukan walaupun aku sudah punya tanggung jawab baru yang lebih besar?”

Aku sengaja mengutarakan alasan-alasan yang sebenarnya tidak terlalu kuat, semata agar kakakku bosan dan letih sendiri mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Bukankah jawabannya sudah jelas? Jika menikah, aku akan menjadi suami dan kepala keluarga. Tidak ada aturan yang memaksa seorang suami untuk mengorbankan kariernya demi istri dan anak. Asalkan nafkah dan kewajiban lain terpenuhi, ia tidak akan dicap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.

Namun, itulah masalahnya. Aku bisa tahan menghadapi tekanan dari profesor-profesor yang lebih senior, dari berbagai kementerian, dari mitra peneliti dalam dan luar negeri, tetapi aku tidak yakin dengan kemampuanku untuk menghadapi tekanan dari pasangan hidupku. Jamak kudengar teman-temanku yang mengeluh istrinya yang tidak pernah absen membeli perhiasan mewah setiap bulan meski penghasilan sang suami pas-pasan. Atau istrinya yang tidak mau mengalah untuk kebaikan keluarga, berkarier dengan kesibukan kerja gila-gilaan. Atau istrinya yang diam-diam menjalin hubungan dengan lelaki lain di luar sana, padahal sudah memiliki dua anak. Temanku yang terakhir – yang istrinya selingkuh itu– kini bertahan membesarkan anaknya sendirian.

Aku tidak ingin masalah-masalah seperti itu mempengaruhi performaku di kampus. Ambisiku masih sama, masih terpatri dalam hatiku sejak masih menjadi mahasiswa. Aku ingin mencapai puncak karir akademis sebelum menginjak usia 40 tahun, dan itu tidak mudah. Sama sekali tidak mudah, terlebih dengan feodalisme yang berakar kuat di tempatku mengabdi.

“Rasyid, Kakak tahu kamu hanya mengelak. Kamu sebenarnya tahu, ‘kan, nggak ada yang mustahil di dunia ini. Teman Kakak juga melanjutkan sekolah ke luar negeri setelah menikah. Dia memboyong keluarganya dan hidup bahagia di sana. Dia bisa lulus tepat waktu dengan hasil yang baik. Kamu nggak perlu khawatir dengan keseimbangan antara karir dan keluarga kalau saja kamu siap.”

Nah, itulah masalahnya. Aku belum siap. Memikirkannya saja aku enggan.

“Tapi aku belum siap, Kak.”

Ya, ini memang terdengar cemen, tetapi itu kenyataannya. Setidaknya aku sudah jujur mengakui alasan terbesarku untuk tidak mencari cara mengakhiri masa lajang hingga detik ini.

Hanya desahan pelan yang menembus dinding telingaku. Kakakku pasti sudah lelah mengulang-ulang topik yang sama dengan hasil yang sia-sia pula.

“Dan aku bahkan tidak tahu kapan aku akan siap menikah. Jadi, please, Kak, jangan merecokiku terus seperti ini, oke? Tunggu saja kabar baik dariku. Kakak doakan saja semoga aku bisa menyusul secepatnya.”

“Baiklah kalau begitu yang kamu mau. Kakak nggak akan membahas ini lagi. Tapi satu yang harus kamu tahu, doa kami nggak putus-putus buatmu. Kami ingin sekali kamu dapat jodoh yang baik dan sesuai denganmu.”

“Aku mengerti. Terima kasih, Kak.” Kugosok hidungku yang mendadak gatal. “Salam buat Ibu. Bilang sama Ibu, jangan khawatir sama anak bungsunya yang belum bisa bawa calon menantu ke rumah.”

Kakakku terkekeh pelan.

“Iya, nanti Kakak sampaikan. Sudah dulu, ya? Kamu packing yang bener. Jangan sampai ada yang ketinggalan.”

“Iya, iya, bawel.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Alih-alih lega, dadaku justru terasa sesak begitu perbincangan kami berakhir. Bila aku memikirkan diriku sendiri, seharusnya aku tidak perlu gelisah. Yang penting, aku bisa tetap berkarya dan bukannya berakhir menjadi sampah masyarakat. Namun, ada Ibu yang mencemaskanku, ada kakakku yang tidak bosan-bosan mengingatkanku. Aku tidak ingin membuat mereka terbebani lebih berat lagi hanya karena si bungsu yang ragu-ragu sepertiku.

Pertahananku perlahan runtuh. Haruskah menikah menjadi prioritasku yang baru? Atau justru menjadi yang utama, menggantikan rencanaku untuk mengambil post-doc dan rencana-rencana lainnya?

fin

Author’s note:

  • Hmm … mungkin ini usaha perbaikan nama pascaospek.
  • Cerita ini mungkin mengangkat isu yang rada sensitif karena menyangkut pertanyaan ‘kapan?’ ya. Maaf kalau jadinya malah bikin pembaca tersentil atau malah tersinggung (yang kuharap nggak kejadian).
  • Semoga cerita ini nggak bikin ragu pembaca yang lagi memantapkan hati. 🙂

 

Advertisements

14 thoughts on “Desakan yang Perlu Dipertimbangkan

  1. Alhamdulillah, sampe detik ini baru dpt pertanyaan “udah lulus?” krn walau bnyak yg seumurku udah punya 2 baby, kubelum pernah ngebayangin naikin status ktp yg lebih tinggi x,D
    si aku ini kok malah dibayangku dosenku yg masih jomblo dan ehem lumayan OKE (sengaja dicapslock) X,D

    ada typo dikit di ‘Kakakku’ yg bukn diawal paragraf tp kapital.

    diending sbenernya aku lg nunggu momen cubitannya, tp mungkn km lebih kepingin nunjukin kenyataannya ya. jd ga perlu yg neko2. krn memang keadaan orang2 seperti si aku yg serba punya sudah merasa nyaman di zonanya. ga sadar hidupny di mata orang lain terasa timpang, apalg kalau udah berumur matang (ngomong opo kue, nduk nduk) =))))

    oke lah, Ami. kujuga lagi ngejar buat ngembaliin nama. walau namany jg masih di situ2 aja. pft.
    smangat trus, ami <333

    Like

    1. Halo, Fatim 🙂 wah ternyata yang seperti ini kejadian juga ya di sekitar fatim 🙂
      Makasih banyak atas koreksiannya, sudah kuperbaiki. Dan yaah… aku juga awalnya kepingin bikin ending yang lebih mengubah pendirian si aku, tapi ya dia cowok dan kayaknya dia masih belum seyakin itu untuk berkomitmen 🙂

      Semangaat fatim, keep writing ya 🙂

      Like

  2. (Memikirkannya saja aku enggan.) (Kalo kasus fika pribadi mah bukannya enggan lebih ke takut wakakaka) sedih lah emang kalo udah ditanyain masalah kek gini tuh (apalagi kalo udah lebaran, keluarga ngumpul, pffft seharian ditanyainnya ituuuuu terus haha). Mana seumuranku ada yang udah punya bayi, sementara akunya masih pengen happy-happy begeneh hahahahaha (lalu curhat). Suka mii sama ceritanya ehe. Sematjam menyuarakan isi hati xD keep writing yaaa mi 💓💓

    Like

    1. Aloha kakfika. Iyah ini sebenarnya jadi bahan pemikiran sendiri buatku. Kalau temen yang benar-benar seumuran sih belum ada, Kak, tapi teman kuliahku BANYAK (musti banget ya dicapslock) banget yang udah ahaha. Mana kalau ketemu kenalan ortu suka ditanyain secara tidak langsung huhu. Yasudahlah :D. Makasih kakfika, keep writing juga ya kak 🙂

      Like

  3. Bahasannya Ami… 😦
    Rasa-rasanya pertanyaan semacam ini memang akan selalu menjadi bahan pertimbangan panjang untuk semua orang seperti Rasyid. Beruntung Rasyid cowok, andaikan cewek, rasanya tidak akan semudah itu kakaknya menyerah untuk membujuk. Hahaha.
    Ami, seperti biasa, tulisan ami rapi sekali.
    xD
    Keep making something, Ami!

    Like

    1. Hai Kak Mala 🙂
      Ini entah karena kejadian di sekitarku atau apa, jadi kepingin bikin cerita seperti ini. Bener kata Kak Mala, untung Rasyid cowok, bukan cewek. Kalau cewek, kayaknya ibunya juga bakal turun tangan buat nyariin :D. Tapi ya itu, kalau memang belum tergerak untuk komitmen, kayaknya yang harus disegerakan itu ya perubahan prinsipnya (aduh apaan sih aku sotoy banget)

      Makasih Kak Mala, keep writing yaa 🙂

      Like

  4. kak amiiii nabil sih belum tujuh belas, tapi selalu berdoa pengen nikah dulu sebelum kiamat heheee. tapi rasyid maah enak, kalau udah siap tinggal lamar haha 🙂 semoga cepet bawa caloooon yaaa om/? wkwk

    mengutip kata kak mala, tulisan kak ami selalu rapi seperti biasa. keep writing kaaaaa :))

    Like

    1. Hai Nabil kenapa kamu unyu sekaliii? Aku dulu nggak pernah kepikir buat nikah pas umur belasan hahaha (pas masuk kepala dua baru deh *duh kenapa tsurhat*). Mari kita doakan Rasyid supaya cepat bawa calon istri 🙂

      Makasih Nabil, keep writing juga yaa

      Like

  5. kaami, haloo ❤

    perbaikan nama pasca ospek itu memang perlu ya. haha XD

    dan wah, habis baca ini tuh bikin titan termenung deh, kak. apa yang dialami Rasyid di sini memang sedang gencar-gencarnya menyerang kaum lelaki ((kaum lelaki, ya ampun bahasa titan)) dan perempuan ya, terutama pilihan antara karir dan menikah. biasanya sih, kalau individu seperti Rasyid ini wajar aja punya konflik batin seperti yang kaami ceritakan di sini. dia merasa baik-baik saja tanpa pendamping hidup. but hey, manusia diciptakan berpasangan, bukan untuk sendiran! ((ngomong apa sih titan))

    yuk ah semoga si om cepet dapet jodoh ya. Rasyid ini kayanya idaman buat setiap perempuan haha XD

    thank you buat ceritanya, kaami. keep writing ayy ❤ ❤

    Like

  6. apa pun alasannya, kalau belum siap ya belum siap ya mi :(( mau latar belakangnya karir kek atau dia punya trauma di keluarga atau apa pun itu. mau segimana direcoki juga tetep aja ga akan ngaruh. hahahaha duh rasyiiiiiiid, sabar yaaaw.

    Like

    1. Iya kaknis, kalau dari dirinya belum siap ya tetap ga ngaruh, walau dibujuk gimanapun juga. Kecuali ada satu dan lain hal yang bikin dia berubah pikiran :”. Makasih ya kak, sudah berbagi komentarnya di sini 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s