Double W

pinterest boy and girl

© cherryelf

Aku merasa kepercayaan diriku sering diuji. Terutama saat aku mengajukan pendapat dalam forum atau diskusi kelas. Keadaan seperti itu  adakalanya membuatku grogi. Orang di sekitarku bilang, aku tidak terlalu buruk dalam bercakap. Sebenarnya itu hanya kalimat penghibur saja. Menengok seseorang yang selalu ada di mana pun aku berada. Orang yang lebih pandai berbicara. Bahkan beberapa orang berpikir aku terlihat tolol jika berada di sampingnya.

Bukan kemarahan yang menghanguskan atau iri yang melemahkan, hanya terkadang aku merasa Tuhan begitu baik menciptakan aku dan dia saling berkebalikan. Kuharap ini tidak terdengar sarkasme. Oh Tuhan, ampuni aku jika Engkau tersinggung.

Pikiranku yang berputar-putar kembali berlabuh saat dingin menggetarkan tubuh. Peralihan musim panas ke dingin selalu membuat tubuhku meriang.

Gigiku bergemeretak, sementara kakiku terseret-seret berjalan di sepanjang lorong. Pintu yang tepat berada di samping kamarku terbuka. Tubuh Wyatt yang menjulang terlihat lucu dengan rambut terburai bagai pohon kelapa. Sambil menguap ia berkomentar, “pagi sekali kau mandi.”

“Kau saja yang bangun kesiangan!”

Wyatt mendengus dan pergi. Sepertinya akan buang air kecil lalu kembali merajut mimpi lagi sampai matahari tepat di atas kepala.  Sebelum pintunya tertutup, aku bisa melirik kegelapan di kamar Wyatt. Tidak mengejutkan. Wyatt benci matahari minggu pagi sebenci ia pada tikus.

Di hari-hari normal Wyatt adalah anak yang super rajin. Dia bahkan bangun lebih awal dan menjadi relawan untuk membangunkanku. Dengan senang hati ia akan mengetuk pintu kamarku sampai aku muncul untuk mengamuk di depan wajahnya. Dia hampir selalu jadi yang pertama dalam hal apa pun dan harus bersabar dengan kelambananku. Terutama saat kami berangkat sekolah. Apalagi ibu senang memaksa kami berangkat bersama di hari-hari tanpa jemputan bus sekolah.

“Kau terlahir untuk menjaga saudari perempuanmu, Wyatt.” Itu kata-kata ibu tiap Wyatt menyanggupinya dengan gerutuan.

Di akhir pekan, Wyatt akan berhibernasi sepanjang hari. Menjadi tukang pemalas nomor satu di dunia. Sementara tugas membersihkan rumah ditimpakan seluruhnya padaku.

Setelah mengepang seadanya rambut pirang kecoklatanku yang nyaris menyentuh pinggang, aku kembali turun ke lantai satu, berniat meracik telur mata sapi dan roti. Sementara rumah sepi. Pasti ibu sudah pergi pagi sekali demi menuntaskan rasa hausnya untuk menggaruk semua barang di pasar murah yang khusus buka di akhir pekan. Dan ayah sudah pasti menjadi korban, terseret paksaan ibu untuk menemaninya.

Aku bersiap dengan celemek katun yang terikat di pinggang. Hanya masakan kecil tapi tidak mau ambil risiko mengotori baju Wyatt. Aku memang suka memakai kaus Wyatt yang tampak terlalu besar untukku. Ibu selalu menolak membelikanku kaus dan lebih sering menimbun potongan rok dan gaun berwarna pastel dalam lemariku. Sungguh, aku tidak keberatan untuk jadi anak gadisnya yang manis. Tapi kadang aku ingin membuat diriku lebih nyaman, terutama saat aku berada di rumah. Dan begitulah aku yang gemar mengutil beberapa baju Wyatt. Wyatt tidak keberatan, meski terkadang ia berharap bisa balas dendam dengan mencuri balik pakaianku, yang tidak akan pernah ia lakukan. Tentu saja, tidak mungkinkan dia mau berkeliaran dengan gaun sewarna pastel dengan pita terikat di pinggangnya.

Bel pintu depan bergemerincing. Aku menghela napas, mengutuk para tamu yang tak kenal waktu.

Sambil memasang wajah sebal, aku membuka pintu. Phip muncul sambil nyengir. Hampir selalu terlihat konyol dengan kacamata oval tebalnya.

“Phip?”

Melihat tubuhnya yang kurus, aku tidak meragukan kalau dia melewatkan sarapan hanya untuk datang kemari. Aku jadi tak bisa kesal padanya.

“Hai, Wynne. Kita akan menangkap tikus hari ini untuk praktik biologi besok,” sahutnya dengan senyuman.

“Oh, benar!”

Wyatt, Phip dan aku sekelompok dalam tugas biologi. Wyatt memasrahkan rumah kami untuk jadi tempat pemburuan. Ia yakin sekali bahwa kebun gandum di belakang rumah kami adalah markas besar makhluk pengerat itu.

“Langsung ke halaman belakang saja, Phip. Aku akan membangunkan si tukang tidur itu.”

Phip mengangguk dan masuk dengan malu-malu.

Kelakuannya itu membuatku heran bagaimana Wyatt yang paling susah untuk diam, berteman dengan Phip, si pecandu biologi dan penunggu lab.

Aku segera naik, melongokkan kepala ke kamar Wyatt yang kosong. Melintasi pintu kamar mandi yang terbuka dan tak terisi. Sisa ruangan satu-satunya yang belum kuperiksa di lantai atas adalah kamarku sendiri, yang aku yakini Wyatt tidak mungkin ke sana.

Jadi aku pun turun kembali dan berhenti ketika menangkap percakapan samar dari dua anak di halaman belakang. Bahuku turun begitu kulihat Wyatt telah berada di sana. Sedang berkacak pinggang dan mendiskusikan sesuatu dengan Phip. Geli rasanya melihat Phip beberapa kali harus menaikkan kacamatanya yang melorot saat mendongak di samping Wyatt.

Ibu benar, Wyatt tumbuh terlalu cepat untuk anak seusianya. Karma atas perbuatan buruknya di masa lalu. Mencuri jatah susu pagiku.

“Kenapa harus tikus, sih, yang selalu jadi korban?” tanyaku tak penting. Ingin ikut nimbrung, tapi terlampau malas untuk adu argumentasi.

Phip yang melihat kedatanganku, hanya tersenyum maklum. Seolah aku anak kecil yang sedang menyela acara diskusi penting orang dewasa.

Alih-alih Wyatt menimpali sembari cemberut, “karena tikus layak dibasmi.”

Aku mengerutkan dahi. Butuh beberapa detik untuk menangkap maksudnya. Itu perihal dendamnya di masa lampau, kala dia baru tujuh tahunan. Wyatt meninggalkan biskuitnya di halaman belakang. Sekembalinya dari dapur, ia menemukan piringnya hanya menyisakan remah-remah. Wyatt langsung menuduh tikus yang berbuat demikian. Sambil menuding pantat tikus yang melesat masuk ke rumpun semak. Sejak saat itu, ia jadi pelopor bagi gerakan penangkap tikus. Katanya kami harus lebih tegas agar tikus-tikus itu tak berani menginjakkan kaki ke rumah kami lagi.

Sungguh kejam. Padahal akulah yang diam-diam mengambil biskuitnya. Tapi kubiarkan saja dia meyakini tuduhannya itu. Lagian, beberapa kali sabun di kamar mandi atas sering ditinggali jejak gigitan tikus. Aku berjanji akan membuat pengakuan saat ia sudah tak lagi punya waktu merancang pembalasan. Mungkin saat kami masing-masing memiliki pasangan dan beranak cucu.

“Penjelasan sederhana saja, karena 85 persen gen dalam tikus sama dengan manusia. Juga karena tikus lebih mudah disimpan dan dipelihara. Itu kenapa mereka jadi pilihan yang paling cocok terutama untuk percobaan medis yang berkaitan dengan manusia,” balas Phip setelah mengabaikan sungutan Wyatt.

Aku manggut-manggut.

Semesta harus mengakui bahwa Philip Reynold sebenarnya cukup keren÷terlepas dari penampilannya.  Adalah saat dia berteori segala hal yang berbau bahasa latin dan istilah-istilah sains.

Wyatt terbatuk dan menyela. “Terdengar cukup meyakinkan.”

Aku mendengus, tahu itu kalimat kedengarannya kau lebih pintar dariku versi Wyatt.

Lalu kami mulai menyiapkan perangkap dengan beberapa potong sayuran. Menurut Wyatt, kita tidak selalu membutuhkan keju untuk menjebak tikus. Orang pintar menggunakan sesuatu yang lebih murah untuk mendapat keuntungan yang lebih besar. Rupanya itu hanya alasan belaka. Wyatt lebih sayang pada keju-kejunya daripada sayur hijau.

Setelah semua perangkap terpasang di hampir tiap sudut dan lubang tempat tikus lewat, kami kompak merayakan dengan saling mengadu moncong slang air. Dua slang telah dipakai, menyisakan aku seorang yang kerepotan menyerang mereka dengan seember air.

Aku basah total ketika Phip akhirnya berhenti. Ia mengusap kacamatanya dengan lengan baju dan mengintipku dari kacamatanya yang berembun.

Menangkap sinyal apa yang Phip tuju, seketika Wyatt menyemprotnya dengan tenaga maksimum. Tanpa perintah, aku tahu Wyatt ingin aku segera pergi. Aku berlari masuk dan terkikik geli hingga napasku tersengal. Menyadari bagian depan tubuhku,  aku jadi agak malu.

Sekali lagi kuintip halaman belakang lewat jendela. Tempat Wyatt sedang menyemprot Phip habis-habisan sampai anak itu terguling-guling dan memekikkan ampun.

Wyatt terbahak puas, masih enggan berhenti. Aku menggeleng dan tersenyum.  Merasa lega, lelaki itulah kawanku berbagi rahim.

Advertisements

16 thoughts on “Double W

  1. Ya Allah siblings goal bangeeet kak cherry!!!!! habis kemarin bawa yang melow melow puitis, sekarang dikasih yang manis ala ala sodara begini koq enak banget dibacanya? kak cherry ini ngaliir bangeeet, asa ga tega liat ujungnya wkwk
    setuju sama wynne, di rumah mah pake kaos oblong celana pendek asal kita nyaman maah sudah lebih dari cukup bangeeeet. kak cherry nulis tentang mereka lagi yaaaa. kutungguhhhh ❤

    Liked by 1 person

    1. nabiiil, jadi yang pertama lagiiii!
      kok ga tega liat ujungnya? kan tersiksa si phip xD
      iya, mah di rumah bebas ya, nanti baru kalau ada tamu ‘gedebukan’ cari pakaian yng lebih pantas X,,D
      ditunggu curhatan versi wyatt nya yah <333

      Like

  2. Ngutip kata2 nabil, ini sukses bikin baper..huhu. Aku selalu gak tahan baca cerita adek kakak beda gender kayak gini. Huhu. Ceritanya mana warm2 kayak bunga matahari gitu, suka pokoknya kak 😀
    Oiya, ada koreksi dikit kak. La pikir ‘kau’ di kalimat ini harusnya di kapital, ehe.
    >> Oh Tuhan, ampuni aku jika kau tersinggung.

    Boleh lah kaaak ini kakak beradiknya dijadiin series..wkwk. Semoga produktifnya awet kak 😀

    Liked by 1 person

    1. helluw, dhilaaa,
      warm ya, asal warmnya ga sewarm lidah matahari (panaaass)
      makasih koreksinya, kurang teliti nih aku <333 cus aku benerin
      niatnya emang mau nulis versi wyatt nya, ditunggu yaw :)))

      Liked by 1 person

  3. kak cherry, hai! in case kita belum kenalan, aku aisya dari garis ’00. pleasure to meet you x))

    mau ikut ngutip kata kak nabil ah, ini sibling goals banget! indeed. apalagi cowok-cewek gini huhuhu jadi pengen punya kembaran cowok 😦 suka diksinya apik dan nggak ruwet, tapi tetep cantik. oiya kak cher, ini personal preference aja sih tapi di bagian ini: “Kau terlahir untuk menjaga saudara perempuanmu, Wyatt.” sebenernya ‘saudara perempuan’ itu bisa diganti jadi ‘saudari’ aja. biar lebih efektif gitu.

    nice one kak. keep writing 😀

    Liked by 1 person

    1. helluw, Aisya~~ namanya mirip temen deketku, deh hehehe
      aw, iya. karena keinginan terpendam lahirlah tulisan ini hehe
      iyaa, pikiranku ga nyampe ke detail saudara saudari itu;;;; makasih aisya udah ngingetin dan mampir <33 :)))

      Like

  4. hai kak cherry. aku engga tau pernah ninggalin jejak di postingan kak cherry sebelumnya, tapi kayanya engga salah juga aku kenalin diri. Vana, 96, A, baik, perhatian, dan rajin menabung. trims. 😀

    aku baca dua fiksi tentang anak kembar hari ini dan dua-duanya why so gemashin. Aku suka gimana gimana Aku gambarin Wyatt epik sekali. Hahahaha apalagi pas bagian wyatt yang ngira biskuitnya dimakan tikus padahal Aku yang ngelakuin. Btw, ngomong tentang tikus, aku juga punya pengalaman hampir sama kaya tikus. Buat perangkap dimana-mana, tapi dasar si tikusnya pintar /namanya juga 85 persen gen tikus sama kaya manusia/ jadi susah banget buah ditangkap. Syukur, ada yang nemu permen yang khusus dibuat untuk membasmi tikus. Hasilnya top banget lah, sampai sekarang engga ada tanda-tanda kunjungan tikus lagi (maafin aku jadi bahas tikus ya, kak). terus, endingnya. Duh, adegan Wyatt nyemprot Phip tanpa ampun itu lovely banget. Cuma karena pandangan-phip-yang-tampaknya-tak biasa- terhadap si Aku dan demi nama persaudaraan berbagi rahim, Wyatt sampai bisa segitunya.

    aku jadi panjang komennya kan, kak. hahaha keep writing yaaa, kak. salam kenal kak cherry ^^

    Liked by 1 person

    1. heyyo vana, kayaknya aku juga belum pernah ninggalin komen di postingan km ya? padahal aku udah ngefollow blog km hehe. ini aku malah lagi kena musibah. lapyku hangus habis kena hujan. jadi beberpa hari nanti ga bisa ol. kalau baca postingan blog ws di hp ga bisa, ga keliahatan postingannya. jadi entah kapan kita bertemu lagi huhu
      aw, sama. tikus di sini rakus. smua diembat, sampai sabun dijadiin cemilan :((( kok aku ga tahu ada permen khusus tikus x,D keluargaku sendiri nyatai aja sama tikus asal ga asuk rumah. padahal aku udah jijik lihatin mereka larian di sumur dan krn aku satu2ny yng liat penampakan mrk sih.
      makasih vana sudah baca <3333

      Like

  5. Halo, salam kenal aku Aya 🙂

    dan ikutan mengutip dari komentar di atas ini BENAR BENAR SIBLING GOALS. Sayang sodaraku cewek semua. haha *gapenting*
    Aku suka cara kamu bernarasi deh, terasa ringan gitu. LOVE deh pokoknya ❤❤❤

    Liked by 1 person

  6. astaga, wyatt sama wynne lovely banget sih. siblings goals material haha ❤

    dan phip! ya ampun, gemes sama cowok yang satu ini. kafatim ceritanya sweet banget deh. tbh mood titan agak jelek pagi ini, tapi untung ya putusan titan buat marathon cerita di WS tepat. mood titan naik loh gegara cerita kakak 😀

    terus ya si wyatt ini agaknya ngingetin titan sama kakak titan sendiri di bagian ini:
    "Di akhir pekan, Wyatt akan berhibernasi sepanjang hari. Menjadi tukang pemalas nomor satu di dunia. Sementara tugas membersihkan rumah ditimpakan seluruhnya padaku." — INI KAKAK TITAN NIH. rajin banget sehari-hari, nyolekin titan buat bangun pagi tapi yha lord kalo akhir pekan. jangan ditanya deh haha XD

    thank you buat ceritanya, kak. keep writing ayy ❤

    Like

    1. syukurlah kalau w-w bisa ngepompa mood titan hihihi
      aw aw aw unyuk donk ya. aku mah iri sama orang yng punya abang;;;; cuz aku sendiri anak tunggal, jadi gampang kesepian huhuhu

      makasih jg titan syudah baca <333

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s