Left Unspoken

left unspoken

pic here

by Cheery

.

“Some things aren’t better left unsaid.”

.

Good morning, Alice.” Sapaan tak biasa membuat Alice mendongak, melepaskan fokusnya pada data pasien hari ini. Alice terkejut ketika wanita dihadapannya tiba-tiba menghambur memeluknya bak teman lama.

Alice mengamatinya beberapa saat. Mini dress ketat merah maroon menempel pada tubuh rampingnya, kuku-kukunya dicat perak mengkilap, pun tangannya yang sedang menjinjing Louis Voitton emas dipakaikan beberapa perhiasan. Ketika Alice mendongak lagi untuk melihat wajahnya, bibir yang dipoles gincu merah terang itu tersenyum lebar. “Ah, Celine? Bagaimana kabarmu?” tanya Alice pada akhirnya.

Ekspresinya berubah murung, ia duduk menyilangkan kaki dan menopang dagunya dengan satu tangan, “Well, tak terlalu baik. You know, aku baru saja putus dengan kekasihku dua hari lalu.” O, Alice harap ia tak menangis lagi.

Ya, lagi. Celine pernah datang dua kali sebelumnya. Dua kali kunjungannya benar-benar membuat Alice mengurut kening. Terkadang ia bahagia sampai melompat-lompat, tak lama kemudian ia menangis tersedu-sedu. Pernah juga ia menggoda perawat laki-laki yang sedang bertugas.

Sekarang apa? Baru putus dengan kekasihnya? Yang benar saja, konseling terakhir sebulan lalu ia baru saja mendapat pacar dan menangis karena dikhianati temannya.

“Apa aku tidak cantik? Apa tubuhku kurang seksi? Kenapa dia sering sekali mengabaikanku?” Celine mulai berkaca-kaca, Alice menyodorkan tisu padanya. “Bahkan ia tidak tahu kalau aku mengganti warna softlens-ku. Alice, kau menyadarinya, ‘kan? Aku menggantinya jadi violet.”

“Oh, tentu. Kau cocok sekali dengan warna violet. Matamu benar-benar cantik.” Alice memujinya, meskipun tak yakin akan warna maniknya sebelum ini.

“Benarkah?” tanya Celine sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, memamerkan leher jenjangnya.

“Potongan rambutmu juga sangat bagus,” Alice menambahkan.

“Ah, ini memang model terbaru.”

Tok. Tok.

“Ya?”

“Maaf mengganggu.” Seorang pria yang Alice ketahui bernama Dean memasuki ruangannya.

“Ada apa?”

“Kepala departemen memanggilmu, aku bisa menggantikan-“

“Nanti aku akan ke sana,” potong Alice. Alice tahu Dean akan menawarkan diri menggantikannya dalam sesi konseling, tapi ia tak tega kalau Dean harus menghadapi Celine.

“Alice, kau ke sana saja sekarang. Bukankah dia juga psikiater? Aku bisa konseling dengannya.” Celine menggigit bibir bawahnya sensual saat menatap Dean.

Dean paham situasinya sekarang. “Maaf, Nona, tapi aku seorang dokter bedah,” lalu terburu-buru melenggang keluar.

“Apa benar dia dokter bedah?” Celine memastikan. Alice hanya tersenyum.

“Jadi, Celine, jika kau merasa kekasihmu mengabaikanmu,” Alice memulainya hati-hati. Mengambil secarik kertas kosong lalu menuliskan keterangan.

Celine. Gangguan kepribadian histrionik.

.

“Mau makan malam bersama?” ajak Dean ketika pria jangkung itu memasuki ruangan Alice.

“Oh, mengapa seorang dokter bedah datang jauh-jauh untuk mengajakku makan bersama?” Alice mengingat kejadian beberapa jam lalu.

“Sial. Yang tadi itu histrionik, ya?” Alice mengangguk, masih membereskan meja kerjanya. “Terima kasih, tadi hampir saja. Aku lebih baik mendengarkan psikopat bercerita tentang merdunya jeritan kesakitan daripada harus konseling dengan seorang histrionik.”

“Akan kutagih bayaranku lain kali. Omong-omong, hari ini aku sudah ada janji. Maaf, ya.”

Dean mengangkat sebelah alisnya, “Janji?”

“Hari ini Van pulang, dia mengajakku bertemu,” kentara sekali raut bahagia Alice saat mengucapkannya.

“Ah, cinta tak terbalasmu selama sembilan tahun?”

“O, terima kasih sudah mengingatkan, Dean.”

.

“Bagaimana?”

“Kau sudah terlihat sangat cantik, Nona Alicia.” Nada sebal terdengar mencolok dari ucapan Dean. Ini sudah kesekian kali Alice bertanya tentang penampilannya.

“Benarkah?”

“Kalau kau tidak ingin menghadirinya, ya tidak usah datang. Sampai kapan mau mengulur waktu?” Alice menunduk, sepertinya Dean bicara terlalu keras. “Maaf, Lice.”

“Ayo berangkat.”

Perjalanan mereka diselimuti keheningan, hanya musik klasik yang terdengar karena keduanya saling bungkam. Alice menatap kosong jendela disampingnya sementara Dean memfokuskan diri pada rute mereka.

“Aku tidak keberatan kalau kau ingin putar balik,” Dean akhirnya buka suara, sebenarnya ia khawatir pada wanita di sampingnya.

“Tidak, teruskan saja.”

Alicia Young memang sekeras batu, pertemuannya dengan Van dua minggu lalu tak membuahkan kisah bahagia untuknya. Setelah empat tahun tak bertemu, Van memberinya undangan pernikahan dan berakhir dengan Alice yang membunyikan bel apartemen Dean pada tengah malam dengan muka lusuh.

Sekarang ia bersikeras untuk tetap menghadiri resepsi meski sehari sebelumnya matanya masih terlihat sembab. Dean sudah memberi saran terbaik sebagai teman, tapi yang namanya Alicia Young, tetaplah Alicia Young.

“Meskipun kau seorang psikiater bukan berarti kau selalu bisa mengatasi hal-hal semacam ini pada dirimu,” namun rupanya Dean harus rela ucapannya mengudara tanpa sahutan.

Resepsi pernikahan Van digelar di halaman terbuka. Tak begitu banyak tamu yang diundang, Van ingin acaranya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya saja.

Manik Alice menangkap sosok Van yang sedang bercengkerama dengan beberapa tamu. Rautnya begitu bahagia dengan jemari lentik dalam genggamannya. Senyum yang dulu ditujukan untuk Alice, kini terlihat jelas diberikan pada wanita di sampingnya.

Alice ingin tersenyum, namun bibirnya bergetar dan merasakan matanya mulai memanas. Genggaman tangan Dean pada Alice mengerat, menyadarkan Alice akan presensinya. “Kau baik-baik saja?” Dean memastikan.

Alice memberinya senyum menenangkan, “Ya.”

Alice kembali mengarahkan pandangan pada Van. Van tersenyum padanya kemudian menyudahi obrolan dengan tamunya, menghampiri Alice dan Dean bersama wanitanya.

“Lice, kukira kau tak datang.”

“Tidak mungkin aku tak datang. Selamat atas pernikahan kalian, ya,” Alice berusaha tersenyum.

“Terima kasih.” Van melirik pria di samping Alice.

“Oh, kenalkan, namanya Dean.”

“Dean,” ia mengulurkan tangannya

Van menyambut tangan Dean, “Van. Senang bertemu denganmu.”

“Van banyak bercerita tentangmu,” suara lembut pengantin wanita menarik atensi Alice.

“Sungguhkah? Apa ia masih mengataiku cerewet atau semacamnya?”

“Ayolah, Lice, aku tak seburuk itu,” sanggah Van.

Setelahnya, mereka larut dalam obrolan panjang, membiarkan diri mereka bernostalgia. Satu per satu memori masa lalu mereka bangkitkan kembali, menjadikannya kisah manis setelah empat tahun tak bersua.

Alice pun perlahan tampak membaur dengan tamu yang datang, beberapa dari mereka adalah teman seperjuangannya semasa di perguruan tinggi. Dean membiarkan Alice berbincang sementara dirinya menghampiri Van yang sedang berdiri di samping meja minuman.

Dean menyodorkan segelas minuman pada Van, keduanya kini memperhatikan Alice yang sedang tertawa, “Bung, bukankah Alice benar-benar cantik?”

Van meneguk minumannya sekali, kemudian menanyakan sesuatu yang membuat Dean menatapnya tak percaya. “Alice itu temanku yang berharga. Jika dulu aku menyatakan perasaanku padanya, apa pertemanan kami masih akan sebaik ini?”

.

Advertisements

22 thoughts on “Left Unspoken

  1. (brb cari histrionik)

    ternyata …seru kayae kalo ketemu langsung sama yang gitu wkwk. kak cher, kusuka cerita yang dimasukkin tentang psikologi gini, sekalian nambah ilmu wkwwk doakan nabil jadi psikolog jugaaa kaak ❀

    si lice pasti nih pas disodorin undangan, "asem banget ni orang" si dean juga ngaku aja deh pasti ada rasa-rasa tersembunyi wkwk

    daaaan pas baca akhirnya…. kak cheer why van sweet banget in his way sih huhuuuu. jadi gajadi kesel deh karena udah ngegantungin orang.

    nabil sukaaaaa ❀

    Liked by 1 person

    1. Hai nabil πŸ‘‹ histrionik suka caper nih bil, seru2 agak nyeremin juga kalo cewek ke cowok aku bayanginnya._. uwoo semoga terkabul ya jadi psikolog
      Semoga dean belajar dari van ya kalo rasa tersembunyi itu ga baik wkwk
      Makasih nabil udah baca dan komen. First komen dapet ciyum dari aku mau gak bil?

      Like

  2. Si dean pasti langsung ngeringis tuh ngeliat celine πŸ˜‚

    Pas baca paragraf terakhir tuh langsung nyeessssss pedih-pedih macam luka kena jeruk nipis gimanaaa gitu.

    Eh iya, itu si van masih suka sama si alice ga sih?
    Dan dia beneran sayang sama alice sampe ga mau kehilangan gitu. Tapi caranya bikin nangis πŸ˜₯

    Liked by 1 person

    1. Udah langsung mau minggat aja si dean ketemu celine mah wkwkw
      Nggak kok, emang dulu van suka sama alice, tapi sekarang kan udah nikah (ga tega sama istrinya van kalo van masih suka sama alice). Dan iya sesayang itu huhuhu vanπŸ’”
      Makasih ya kak/? Kiyuroo udah baca dan komen, salam kenal

      Liked by 1 person

  3. helluw, cheery atau kak cheery? kita belum kenalan kn ya? hehhe penname kita hampir sama, :))) aku dr 94line, cherry

    dari celine kedip2 manja ke dean, aku udah ga seneng sama dia. eh, ternyata dia punya gangguan psikologi ya. kuturut bersedih kalau githu, x,D btw dean si dokter bedah, tp pengetauan psikologinya A+ ya, bsa langsung nebak kesakitanny celine. mungknkah krn dia terlalu sering nimbrung sama alice. aku jg gthu sbenernya, pernah punya temen psikolog trus kutanyai yg berbau psikologi gthu. tp ilmu psikologiku masih tanda tanya, waks :’)))

    banyak lompatan setting, tp tetep lembut dan masih dpt dipahami. mungkin bsa km tambahin sdikit detail pas alice tanya ke dean soal penampilannya. krn ga kelihatan itu settingny masih di kantor atau di rumah alice. jd alice dandannya di kantor atau di rumah. ehehehe tp itu ga ngerusak alurnya, kok. =)))

    dan endingnya, si van punya perasaan sama alice, tp ga berani ngungkapin ya? ambyar lah, klau hubungn gthu mah ga ada yg maju2. tp kudukung dean alice, cuz aku pribadi suka nama dean xD

    yosh, gthu aja, ditunggu postingn lainnya πŸ˜‰

    Liked by 1 person

    1. ah! aku baru nangkep kalau si dean si dokter bedah itu cuma settingan buat ngehindar celine. pdhal udah jelas, sejelas gajah /plak/ maaf, mungkn saya lelah X,D
      dan dialog alice ‘datang jauh2’ itu krn dean ke rumah alice buat ngajakin makan malam ya?
      mari makaaaan x,D

      Like

    2. Haluuu kak fatim ya? Salam kenal, Nurul dari 97l hehehe
      Makasih masukannya kak, lain kali lebih diperhatikan
      Iya kak ini si van sama alice gak maju2 jalan di tempat mulu sampe van balik kanan/
      Buat yg dean ngajakin makan itu masih di ruang konseling sih kak, cuman alice bilang ‘datang jauh2’ soalnya kan dean sebelumnya ngaku kalo dia dokter bedah, jadi beda departemen sama psikiatri
      Makasih ya kak udah mampirβ™₯

      Liked by 1 person

    1. Hai kak liii, mungkin perannya dean kurang eksplorasi(?) ya kak
      Anyway, makasih udah baca dan komen kak li, semoga lain kali bisa diperbaiki yg kurang :))

      Like

  4. HIDUP LO MAS VAN, HIDUP LO!!!!!! KENAPA SIH?!!!!!!!

    Wah, Dean jadi saksi kunci nih dari hubungan Alice-Van. Tapi ya gimana dong udah nikah :’) Jodoh masing-masing deh, mas Van. Anyway ini menarik, kak Nurul! Aku baru tau tentang gangguan kepribadian histrionik. Tadinya kupikir ini bakal ngangkat topik itu, tapi rupanya hanya bentuk eksplorasi karakter Alice as psikiater. Lain kali boleh nih kak lebih dieksplor histrioniknya ketimbang topik romensnya πŸ˜€ Semoga Alice bisa buka hati buat orang baru (tjailah) X)

    Salam kenal, aku Dhila 98l! πŸ˜€

    Like

    1. Alooo Dhilu, maaf ya ini balesnya telat banget huhu
      iyaa nih dhil, belum nemu plot kalo buat histrioniknya jadi cuman muncul sekilas doang. Alice mah gak usah buka hati buat orang baru, buat yang nemenin dia dateng ke nikahan juga gapapa dhil hahaha
      anyway makasih dhilu udah baca dan komen ^^

      Like

  5. KAK NURUL YA AMPUN AKU MAU NABOK CELINE BOLEH?
    Aku juga sebenere pingin sekalian nabok van tapi paragraf terakhirnya bikin meringis T.T
    Dean keliatan ada samting ya sama alice hahaha, berharap dirimu belajar untuk ga terus menyembunyikannya wkwkwk
    Aku suka cara kakak nyampeinnya heheβ™₯ keep nulis, kak!! :*

    Like

    1. TABOK AJA MEL, TABOK. BOLEH BANGET, SAMA VAN SEKALIAN JUGA NGGAKPAPA
      Dean juga nih kalo diem diem mulu boleh juga ditabok hahaha. Makasih ya Imel :))

      Liked by 1 person

  6. β€œAlice itu temanku yang berharga. Jika dulu aku menyatakan perasaanku padanya, apa pertemanan kami masih akan sebaik ini?” — wah, kalimat ini :”)

    but still, some people are like that. mereka lebih nyaman dengan apa yang ada sekarang daripada memilih untuk memiliki lebih namun dengan resiko membayangi. dan hasilnya ya seperti ini. coba Van berani mengungkapkan perasaannya, Alice tentu tidak perlu mengalami patah hati. but on the other hand, Dean will stand no chance. I quite like this guy tbh πŸ˜€

    thank you for the story. keep writing ya, nurul πŸ˜€

    Like

    1. Apalagi kalo mereka tau kenyataannya ya kak, duh heartbreaking sekali. Tapi aku juga lebih suka Dean sih kak hehehe
      Makasih kak titan udah baca sama komen ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s