Twilight Hour [2 – END]

tumblr_nq3op8n9q61s4nnijo1_500by O Ranges & Ms. Pang

.

“Sometimes the slightest things change the directions of our lives, the merest breath of a circumstance, a random moment that connects like a meteorite striking the earth. Lives have swiveled and changed direction on the strength of a chance remark.”

― Bryce Courtenay

.

Prev: [1]

.

(warning for some adult language and minor violence)

Tiga.

Here.

Jane menerima kembali ponselnya. Si wanita bisa melihat kecemasan yang tergurat jelas di wajah Corvin. Lelaki itu baru saja selesai berbicara dengan adiknya, memastikan kebenaran dari mulut sang adik dan baik dia maupun adik lelaki Jane benar-benar sedang tidak bercanda.

“Apa kau membawa senjata?” tanya Elliot kemudian.

“Tidak.” Jane menjawab, teringat akan kemampuannya menggunakan senjata yang membuat sang ibu dan sang ayah geleng-geleng tak percaya. Wanita itu tidak menyuarakan mengapa Corvin langsung bertanya apakah ia membawa senjata atau tidak saat ini. Dari kenyataan si lelaki tidak mempertanyakan mengapa Jake membawa senjata api saja Jane dapat menyimpulkan bahwa lelaki ini adalah klien ayahnya—atau malah sebaliknya. “But I’m skillful enough in martial arts.

I don’t recommend you to perform any kind of close-distance combat, as we have no idea the things that they might capable of,” ucap Elliot sembari mengetukkan jari tak sabar pada dinding elevator yang dirasanya merangkak bergerak turun. “Dan bagaimana kau akan merawat luka adikku?”

“Ada apotek di daerah ini—Boots. Di sana cukup lengkap,” kata Jane. “Hanya lima menit jaraknya. Kita harus pergi ke sana dulu.”

Namun Elliot menggeleng. “Tidak. Kau yang pergi ke sana, Ms. Vaughan. Aku akan ke mobilku

“Untuk a

untuk mengambil senjata yang bisa kau gunakan sebagai alat perlindungan,” kata si lelaki, seolah Jane tidak memotongnya dari awal. Ia pun melanjutkan, “We will meet at Dirty Martini’s entrance.

What?

Just do it, Ms. Vaughan.

Jane mendelik. Sungguh, ia benar-benar ingin menonjok lelaki di sampingnya ini. “As you wish, Your Majesty,” desisnya.

Mereka berpisah di lobi, dan Jane benar-benar bersyukur tidak lagi berada dalam jarak dekat dengan si lelaki bersurai pirang. Permainan macam apa yang sebenarnya Takdir jalankan sehingga ia harus berurusan dan bekerja sama dengan lelaki macam Elliot Corvin? Lelaki itu jelas tidak baik untuk tekanan darahnya.

Kakaknya saja seperti ini, batin Jane, bergegas menyusuri jalan menuju Boots. Tubuh rampingnya dengan mudah menyelip di antara kerumunan orang yang memadati jalan. Lalu bagaimana dengan adiknya? Tapi dari nada bicaranya, Jake tidak terdengar kesal dengan si adik.

Jane mendongak, wormhole yang beberapa saat lalu ia saksikan kemunculannya masih mengambang di udara, sebuah anomali di langit sore London yang mulai meredup. Indra pendengaran wanita itu lantas mendengar suara helikopter yang melintas di atas kepala, tak diragukan lagi untuk menyelidiki penampakan di atas London Eye. Di sekeliling, orang-orang menghentikan aktivitas mereka dan turut menyaksikan wormhole tersebut dengan bermacam ekspresi, seolah mata telah mengelabui penglihatan mereka. Ada yang bahkan bergerak menuju London Eye, berniat menonton lebih dekat—tidak menyadari bahwa itu benar-benar bukanlah hal yang bagus.

Jane mengedik, lantas mengarahkan pandangannya kembali ke depan. Boots—akhirnya. Ia bergegas masuk, mengambil apa saja yang dibutuhkan nanti untuk merawat gadis yang saat ini tengah bersama adiknya. Kendati terjadi kehebohan di luar, untunglah masih ada yang menjaga kasir. Keluar dari bangunan berlantai satu itu, si wanita mengambil jalan tercepat yang dapat mengantarkannya ke Dirty Martini. Pikirannya berputar akan apa yang sebenarnya Corvin rencanakan.

Blok XII M-6, D5.

Mata Jane menyipit, teringat nama tempat yang dilontarkan dari mulut adiknya. Seumur-umur, ia belum pernah mendengar nama tempat itu. Dan itu membuat dirinya waspada juga, mengingat pekerjaan orang tuanya yang berurusan dengan berbagai tempat tersembunyi di Inggris dalam melakukan transaksi bisnis yang berujung pada pasar gelap.

Oh well, sebentar lagi ia juga akan tahu tempat macam apa itu.

Dari kejauhan, Jane menangkap sosok Corvin menunggu di depan bangunan Dirty Martini. Ia tampak mencolok dengan setelan jas hitam Burberry-nya, berdiri dengan tongkat hitam bergagang perak dan koper yang sama hitamnya. Tanpa banyak kata lelaki itu segera memasuki bar begitu melihat Jane mendekat. Dua bodyguard kekar yang menjaga pintu masuk bertindak seolah tak melihat mereka masuk, begitu pula saat Jane mengikuti Corvin. Wanita bermanik cokelat itu mempercepat langkahnya, agak sebal juga harus mengekor di belakang si pirang. Beberapa kepala menoleh, pandangan mereka singgah pada Jane, namun si wanita tak menggubrisnya.

Mereka memasuki ruangan kecil bercat biru bertanda Staff Only. Lagi-lagi, tidak ada yang mencoba menghentikan mereka. Menutup kembali pintu ruangan, Elliot melangkah mendekati deret rak kayu berisi deretan alkohol, kemudian memutar salah satu botol yang ada di rak baris nomor enam.

Desis halus mesin bekerja terdengar. Dan di depan matanya, Jane menyaksikan rak-rak yang ada di ruangan itu bergeser ke samping tanpa suara, menampakkan sebuah pintu dengan keypad terpasang di tembok berbata, tepat di sebelah gagang pintu. Ia sempat tertegun sebelum akhirnya menggelengkan kepala, memilih untuk tak ambil pusing.

Atensi Jane berpindah kala rungunya menangkap bunyi koper yang dibuka. Wanita itu mendekati Elliot, yang sesaat kemudian menghadapkan koper tersebut ke arah Jane—koper yang rupanya berisikan senjata api dengan berbagai ukuran dan model.

“Pilihlah satu, Ms. Vaughan. For your own safety,” kata Elliot tenang, seolah tidak sedang meminta seorang wanita yang baru dikenalnya untuk memilih senjata berbahaya. Tapi mengingat salah satu kliennya adalah Mr. Vaughan sendiri, Elliot yakin wanita di hadapannya ini sudah tidak asing lagi dengan senjata api, apalagi menggunakannya. Bagaimanapun juga, mustahil jika Mr. Vaughan tidak membekali anaknya tentang cara menggunakan senjata yang merupakan barang wajib mereka saat berbisnis.

I’m not even going to ask how or why you have these,” gumam Jane, melarikan jemarinya pada senapan-senapan api tersebut, sebelum akhirnya menentukan pilihan—PP-2000. Ia menimbang berat senjata itu di tangannya, lalu mengangguk.

This one.

Elliot menutup kembali koper tersebut. Jemari si lelaki lantas menekan tombol-tombol di keypad dengan cepat. Bunyi beep pelan terdengar sebelum pintu membuka, menampakkan sebuah lorong yang tampak tak berujung berpenerangan lampu floresen yang cahayanya tak terlalu terang.

Let’s go.

.

Jane dan Elliot menyusuri lorong dengan langkah kaki panjang-panjang. Beberapa kali mereka melewati pintu besi kukuh yang semuanya membutuhkan akses kode untuk bisa masuk, namun si lelaki bersurai pirang mengacuhkannya begitu saja. Tak ada suara yang menggema di lorong itu selain suara sol sepatu dan hak yang beradu dengan lantai. Masing-masing disibukkan oleh pikiran mereka, Elliot dengan Estelle dan Jane dengan Jake.

Tanpa sadar, manik cokelat Jane bergulir ke tongkat yang berada di tangan Corvin. Entah kenapa ada kecurigaan yang tertanam di kepala Jane mengenai tongkat tersebut. Ada kemungkinan tongkat itu bukanlah tongkat biasa, mengingat ia tidak melihat tanda-tanda Corvin membawa senjata apa pun selain yang ada di kopernya. Dan sungguh, dalam situasi seperti ini, kendati baru saja mengenalnya, Jane tahu bahwa Corvin bukanlah tipe orang yang akan membiarkan dirinya tanpa senjata berada dalam genggaman, siap untuk digunakan kapan pun dan di mana pun.

Pikiran Jane terputus kala Corvin merogoh saku celananya. Samar-samar terdengar getar ponsel yang berhenti begitu si lelaki menyapu layar ponsel.

How’s the situation?

Percakapan selanjutnya tak bisa Jane ikuti karena tiba-tiba saja lelaki itu beralih menggunakan bahasa Latin. Jane menggigit lidah, mencoba menahan diri untuk tidak berkomentar miring. Lelaki itu tidak akan mengindahkannya, dan sungguh, ia bukanlah orang yang suka ikut campur urusan orang lain, tapi entah kenapa saat ini apa yang Corvin tengah bicarakan dengan siapa pun itu di telepon ada sangkut pautnya dengan peristiwa aneh yang tengah terjadi di tengah-tengah kehidupan normalnya.

Ia mendadak berhenti—tepat di depan sebuah pintu berdesain persis seperti pintu-pintu yang mereka lewati sebelumnya. Jane tidak melihat apa yang membuat pintu ini berbeda, tapi jelas Corvin tahu apa yang ia lakukan. Mengucapkan beberapa patah kata—masih menggunakan Bahasa Latin—dan mengantongi kembali ponselnya, tanpa ragu lelaki itu memasukkan kode akses dan segera membuka pintu.

Tanpa banyak kata Elliot bergegas menghampiri adiknya. Sementara Jake bangkit dari tempatnya duduk di sebelah Estelle, berjalan menuju sang kakak.

Took you long enough, Sis.

Menutup pintu, Jane menyodok rusuk Jake. “Shut it, brat.” Manik cokelatnya bergulir dari atas ke bawah, menginspeksi adiknya dari ujung rambut hingga ke kaki. “Kau tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka?”

Jake menggeleng. “Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Thanks to her,” kata si lelaki bersurai cokelat-kemerahan, mengangguk ke arah si gadis bersurai pirang.

Jane mengikuti arah pandang Jake. Ia melihat Corvin tengah memeluk seorang gadis dengan surai yang sama pirangnya dengan milik Corvin. Ada kelembutan yang sebelumnya absen dari Corvin saat dia melepas pelukannya, berbicara dengan halus disertai ekspresi yang membuat Jane bertanya-tanya ke mana perginya si pirang bermuka dingin yang tadi bersamanya menuju kemari.

Omong-omong …

You ran out of bullets right?” Jane mengangguk pada koper yang digeletakkan Elliot begitu saja di salah satu meja di ruangan. “There are several firearms there. Pick one.

Wanita bersurai cokelat itu tak menunggu respon sang adik dan menghampiri Estelle. Ia berjongkok di hadapan gadis itu.

“Halo, Estelle. Aku tidak tahu apakah adikku yang bodoh itu sudah memberitahumu, tapi aku seorang dokter,” kata Jane, mengabaikan Jake yang mengeluarkan protes saat disebut bodoh. “Bisa kulihat lukamu?”

Estelle meremas pelan tangan Elliot, sebelum akhirnya mengangkat jumper-nya, cukup untuk memperlihatkan pada Jane luka menganga yang tertoreh di sana—sayatan diagonal dengan panjang tak lebih dari lima belas senti.

“Jake,” ucap Jane kemudian tanpa mengalihkan atensinya pada luka Estelle. Wanita itu lantas memasang sarung tangan sekali pakai pada kedua tangannya. “Kau jaga pintu sana. Jangan menoleh ke arah sini sampai kuberi isyarat.”

Jake membuka mulut, hendak protes, namun saat melihat kakaknya yang hendak melepas jumper Estelle, ia menutup mulut dan cepat-cepat berbalik, berjalan menghampiri ambang pintu seraya memompa senjata pilihannya di tangan. Gerutuan terdengar keluar dari mulut si lelaki bersurai cokelat-kemerahan itu.

“Corvin, bantu aku.”

Corvin, di luar dugaan Jane, menurut tanpa banyak kata. Sepertinya ia lebih mudah diajak kerja sama jika ada sangkut paut dengan adiknya, Jane membatin seraya dengan cermat mulai bekerja merawat luka si adik. Luka itu tak terlalu dalam, tapi cukup bagi si penderita untuk merasakan kesakitan dan nyeri yang tidak bisa dibilang enteng. Yang jelas, Estelle membutuhkan lebih dari delapan jahitan untuk ini.

Dengan cermat Jane menyelesaikan pekerjaannya. Sembari menempelkan kapas di atas jahitan yang dikeratkan dengan plester, ia membuka mulut,

There you go,” ucap Jane, mengamati hasil pekerjaannya. “How’s your feeling?

Better,” kata Estelle, segera memakai kembali jumper-nya. Gadis bersurai pirang itu lantas melempar sebuah senyuman—yang kendati terlihat letih—penuh rasa terima kasih pada Jane. “Thank you so much for your assistance, Ms. Vaughan.

Just Jane is fine,” katanya sembari mengangguk kaku. Kalau boleh jujur, ia agak syok dengan ucapan terima kasih tulus itu. Sifat si adik ini benar-benar berlainan dengan si kakak. “And well, you saved my idiot brother after all. So we are even.

Still

Perkataan Estelle terputus dengan getaran ponsel dari Elliot. Melepaskan genggaman tangan pada adiknya, lelaki bersurai pirang itu berdiri dan mengangkat telepon tersebut. Manik abu Estelle dengan cermat memperhatikan raut wajah sang kakak yang berubah, mendengarkan apa yang penelepon sampaikan. Alisnya terangkat tinggi mendengar bahasa Latin yang keluar dari mulut kakaknya sebagai jawaban.

Gadis bersurai pirang itu membuka mulut kala kakaknya selesai berbicara dengan siapa pun yang ada di sambungan telepon, “Kakak?”

Elliot melarikan jemarinya pada surai pirangnya, lalu memusatkan atensi pada sang adik dan Vaughan bersaudara.

Well … aku baru saja menerima kabar baik dan buruk terkait situasi kita saat ini.” Ia memulai dengan suara dan ekspresi yang terkontrol baik. “Kalian mau dengar yang mana dulu?”

“Buruk,” sahut Jake cepat. Dari sudut matanya ia melihat Estelle mengangguk pada sang kakak.

The bad news is, we can’t use this exit.” Elliot mengedik ke pintu yang tengah dipunggunginya, di mana lorong berpenerangan floresen yang ia dan Jane akses sebelumnya berada. “Because apparently, a horde of aliens currently roaming in there, looking for a snack.”

Lelaki bersurai pirang itu mengetukkan jari pada kepala tongkatnya. “The good news, the tube tunnel where Estelle and Jake came from is free of alien right now.

.

Empat.

Perjalanan selanjutnya adalah menyusuri terowongan gelap dan pengap Liverpool Street Underground Station. Mereka tak punya pilihan lain selain bergantung pada LED flash dari ponsel milik Elliot yang untungnya masih cukup penuh. Keempatnya berjalan mengekor satu sama lain, dengan Elliot sebagai pemandu berjalan paling depan. Tepat di belakangnya, Jane berjalan bersisian untuk memapah Estelle, dan Jake berjaga di belakang dengan revolvernya.

Tujuan lelaki bersurai pirang pucat itu adalah sebuah lorong tersembunyi yang tidak jauh dari lokasi serangan—seperti kesepakatan yang telah diambil sebelumnya. Jarak yang selama ini ia rasa mampu dilahap dalam sekedipan mata oleh tungkai jenjangnya, entah bagaimana hari ini seolah mampu memakan seperempat jamnya yang berharga. Meskipun demikian, naluri pertahanannya memperlambat langkah kala pemandangan gerbong bekas sasaran invasi para alien terlihat.

Elliot menggeser sorotan lampu ponselnya, di depan terlihat sisa gerbong yang nyaris tak dapat dikenali serta jejak kedatangan para alien disuguhkan dengan nyata, lengkap dengan bau anyir yang menusuk indra penciuman. Lelaki itu memicingkan mata kala melihat betapa brutalnya makhluk-makhluk itu berulah. Potongan kaki dan tangan tak bertuan, dan tentunya genangan darah yang mulai mengering seolah dipatenkan menjadi dekorasi baru untuk gerbong tersebut. Ia bersyukur bukan main salah satu anggota tubuh adiknya tidak ada di sana.

Mereka melewati onggokan besi yang sebelumnya merupakan sebuah gerbong, dengan mata bergulir awas mengamati keadaan sekitar. Hanya ada suara langkah kaki yang menggema mengiringi langkah mereka.

Elliot memandu memasuki sebuah lorong sempit yang nyaris melebur dengan dinding terowongan dan kegelapan—mustahil terdeteksi oleh mata awam. Kelembapan dan bau pengap menyambut sesampainya di lorong yang dituju memperkuat kesan atas rendahnya intensitas kunjungan makhluk hidup pada area ini.

Bicara soal makhluk hidup, entah bagaimana alien yang lebih dari satu jam lalu seperti ditumpahkan ke lorong bawah tanah kini lenyap tak bersisa. Bahkan hanya terdengar rintik suara tetes air dari saluran yang bocor, tanpa bunyi geraman atau suara lain yang mencurigakan. Mau tidak mau, kelegaan yang semula datang sirna perlahan oleh kecemasan yang kembali merayap di tengkuk Jake dan Estelle kala pintu keluar lorong tampak beberapa jengkal di hadapan—kendati informan Elliot jelas menyampaikan bahwa tidak ada lagi alien yang berkeliaran.

Sementara itu, Elliot berkutat dengan keinginan berada di posisi Jane, berjalan bersandingan dengan Estelle, memastikan setiap langkah adiknya aman dalam perlindungan. Namun ini bukan saat yang tepat untuk jadi egois, karena bagaimanapun juga akan jauh lebih berisiko jika seekor alien muncul di hadapannya dan menyerang Estelle yang sedang terluka. Setidaknya, anak perempuan Mr. Vaughan, yang kendati tidak pandai bermain senjata api, lihai dalam bela diri dan dapat menjamin keselamatan adiknya.

Sembari menekan deret kode akses, Elliot buka suara setelah satu tarikan napas untuk menenangkan diri.

“Ini adalah pintu keluar menuju Liverpool Street,” ujar si lelaki pelan, namun tetap dapat terdengar oleh ketiga orang di belakang. “Aku ingin tidak seorang pun dari kita mengurangi kewaspadaan, apa pun yang terjadi.”

Tanpa menanti jawaban, lelaki bersurai pirang pucat itu segera meniti anak tangga dan tak lupa mengulurkan tangan kepada Estelle—membantu sang adik menaiki anak tangga yang agak licin karena lembap.

“Hei, perhatikan langkahmu. Nanti rokmu tersingkap lagi, Pirang,” celetuk Jake yang berdiri di garda belakang.

Tidak perlu menunggu alien datang untuk sebuah jitakan yang sakit bukan main mendarat di pelipis Jake, langsung dari kepalan tinju sang kakak. “Jaga bicaramu, Bocah!”

Jake protes. “Aku tidak lihat apa pun! Sumpah!”

“Kau jelas-jelas bilang ‘lagi’, dan aku tidak tuli!”

Sentakan terakhir Jane menutup perdebatan, yang syukurnya, dilewatkan oleh sepasang saudara bersurai pirang yang telah berjalan mendahului mereka.

.

Tiba di permukaan, di atas mereka terhampar langit London sewarna tirai hitam pekat. Lazimnya lampu perkotaan telah menyala dengan penuh gegap gempita, namun yang ada di hadapan mereka adalah London yang sekarat. Pendar lampu di sisi jalan bertahan semampunya—hanya tersisa belasan dari yang mulanya puluhan—sementara yang lain telah tumbang. Bahkan beberapa pengendara yang lelah berdebat dengan lalu lintas memilih meninggalkan kendaraan mereka begitu saja di tepi jalan.

Beberapa pertokoan terdekat tampak rusak parah dengan gunungan serpihan kaca etalase dan pintu yang terbelah atau bahkan terlepas dari engselnya. Sementara orang-orang berlarian ke sana kemari menyulut kepanikan luar biasa seperti api pada jerami.

Dari kejauhan, Jane melihat sebuah double-deck bus yang ringsek setelah menabrak sebuah tiang lampu kota dan tengah dijadikan area pesta brutal oleh sekelompok alien. Ia segera membimbing Estelle kembali mundur ke lorong sempit sebelumnya, kemudian menyandarkan si gadis pada salah satu sisi dinding.

“Lalu apa setelah ini?” tanya Jake yang mengarahkan pandangan cemas kepada tiga rekannya dari bibir gang. Ia tak sanggup membayangkan harus berjalan kaki kembali ke rumah yang jaraknya jauh bukan main. Keringat dingin menggantikan peluh yang semula bercucuran di permukaan kulitnya, setelah meniti puluhan anak tangga beberapa saat lalu.

“Kurasa pulang bukan solusi, tapi bertahan di London pun akan lebih riskan,” sahut Jane yang tengah memisah paksa heels-nya dari sepatu, mengantisipasi andaikan rencana berikutnya adalah maraton hingga ke perbatasan kota.

Gulir menit selanjutnya diisi dengan kebisuan. Masing-masing sibuk merunut satu persatu jalan keluar yang mungkin bisa membantu mereka pergi menjauh dari pusat kota dengan cepat ke tempat yang lebih aman.

Selang beberapa menit terdengar teriakan dari segerombol orang berlarian melewati persembunyian mereka. Menolak untuk takluk pada kecemasan yang sedikit demi sedikit kian menggerogoti, Elliot pergi mendekat melihat keadaan dari tepi gang dengan Estelle yang menggandeng erat lengannya. Penyebabnya hanya satu, sekaligus menjadi jawaban atas rasa cemas yang merayap di tengkuk Elliot sebelumnya—wormhole baru menampakkan diri di sisi Big Ben.

“Kita harus segera pergi,” bisik Estelle, ada kengerian yang meresap dalam nada suaranya. “Kurasa wormhole itu akan menjatuhkan koloni alien lagi. Siapa tahu, kali ini jumlahnya lebih banyak dari yang sebelumnya.”

Bulu kuduk gadis itu meremang membayangkan sekelompok alien serupa yang menyerangnya dan Jake di bawah tanah merangsek mendekat sewaktu-waktu. Genggaman tangan sang kakak sedikit mengurangi degup cemas, meski tidak sepenuhnya.

“Kita membutuhkan mobil.” Elliot akhirnya buka suara. “Tapi aku tidak yakin kita dapat bertahan hidup sebelum tiba di The Gherkin untuk menggunakan mobilku.”

Sebuah ide muncul berkat sebuah benda di seberang jalan, lantas Jane menepuk bahu sang adik yang terpaku menatap wormhole. Manik kokoa pemuda itu mencerminkan ketakjuban yang bercampur dengan kengerian.

“Bagaimana kalau kau buat dirimu lebih berguna dengan mengecek mobil sedan di depan toko sepatu itu, Jake?” ucap Jane menyarankan. “Kalau lubang kuncinya konvensional, aku akan berusaha membukanya.”

Jake mendelik. “Kau ingin aku dimangsa alien?! Aku melihat mereka berpesta di bus itu!”

Mobil sedan yang dimaksud Jane berada persis di seberang gang yang menjadi tempat persembunyian mereka. Sementara para alien yang tengah berpesta berada tak jauh dari sana.

“Maka lakukanlah dengan cepat dan jangan sampai terlihat mereka, dear Brother.

Jake menatap cemas ke ujung gang. Cukup ramai oleh orang-orang yang berlarian mencari tempat perlindungan, mungkin ia bisa membaur di antara mereka sembari mengecek dengan cekatan.

“Oh ayolah,” desak sang kakak. “Aku hanya memintamu pergi dan mengecek mobilnya. Itu jauh lebih mudah daripada jadi Iron Man dan meledakkan rudal ke angkasa untuk menutup wormhole.”

Jane mencabut sebuah jepit rambutnya, segera setelah sang adik meluncur pergi dengan dengusan kesal yang kentara dilebih-lebihkan.

“Kau akan melakukan apa dengan jepit rambut itu?” Si gadis pirang melongok dari balik figur jangkung sang kakak, dengan sepasang alis yang bertautan. Kedua manik abunya berpendar takjub melihat gerak-gerik jemari tirus Jane yang bergerak lincah memilin kawat.

Jane tersenyum kecil. “Oh, hanya sebuah trik kecil yang kupelajari di waktu luang.”

“Sepertinya kau punya bakat terpendam untuk menjadi pencuri, Ms. Vaughan,” sahut Elliot tenang menimpali.

Andaikan heels-nya belum terlepas dari sepatu, tanpa berpikir dua kali pasti Jane sudah menancapkannya ke jidat lebar Elliot, kalau saja ia tidak mempertimbangkan keramahan si Corvin yang lebih muda. Syukurlah atas nama dewi keberuntungan, lelaki itu kembali selamat dari amukan Jane—kali ini datangnya dari panggilan masuk di ponsel wanita tersebut.

“Halo, Da! Ya, kami semua aman, sedang berusaha keluar London. Bagaimana dengan—tentu saja kami bersama mereka. Tapi, Da … aku tidak—oh baiklah.” Kemudian Jane menyodorkan ponselnya ke arah Elliot yang tengah berjaga di bibir gang.

“Ayahku ingin bicara denganmu. Penting.”

Sepasang manik abu pria itu kembali menatap Jane dengan sorot kecurigaan untuk kesekian kalinya—sepanjang hari. Atau memang pria itu hanya punya satu macam pandangan, pengecualian untuk adik perempuannya, tentu saja.

Menerima ponsel itu, Elliot beranjak menjauh ke dalam gang, dan di saat bersamaan Jake datang dengan wajah pucat pasi dan napas yang memburu.

“Kau pasti bahagia kalau kuberitahu aku nyaris terkena lemparan usus manusia.”

“Oh ya? Sayang sekali aku tidak melihatnya.” Terdengar jelas bagaimana sang kakak bersimpati dengan antusiasme minus. “Apakah mobilnya konvensional?”

“Positif. Dan siapa pun pemilik mobil ini, dia meninggalkan kuncinya di dalam.”

“Bagus.” Lantas Jane menyodorkan saputangan dari saku kepada Jake yang masih terengah. “Upah untuk informasi tambahannya.”

Sembari menanti ponselnya kembali, Jane berjibaku dengan jepit rambut di tangannya.

“Dengan begini, apakah kita siap pergi?”

“Si pirang itu masih ribut dengan ponselku, membicarakan suatu hal penting dengan Da.”

Alis Jake berjingkat antusias mendengar orang tua mereka mau meluangkan waktu untuk peduli dengan keselamatan nyawa kedua anaknya.

“Berita baiknya” Jane berkata sembari mengerling pada sosok jangkung Corvin yang tengah sibuk dengan ponselnya. “Da dan Mum dapat menjemput kita. Berita buruknya, Da bilang sebelumnya kita harus pergi dengan pirang bersaudara itu untuk sementara waktu demi keamanan kita.”

Terdengar jelas bagaimana Jane meragukan bagaimana dirinya dan Jake bisa aman dengan pergi dengan Corvin bersaudara.

And speak of the devil, orang yang mereka nantikan berjalan mendekat dan menyerahkan kembali ponsel Jane.

We’re going to my house,” ucap Elliot. Ia menatap tajam Jake yang membuka mulut, tampak ingin protes. “All of us, including you and your sister, Mr. Vaughan. Ini permintaan dari ayah kalian sendiri.”

Dan demi apa pun yang ada di atas sana, kalau bisa Elliot tidak akan membeberkan informasi yang baru saja ia dapatkan dari Mr. Vaughan kepada anak-anaknya. Kendati itu bersangkutan dengan penyebab kemunculan wormhole yang dibarengi oleh kawanan alien pemangsa manusia, tetap saja informasi tersebut tidak boleh diketahui oleh pihak yang tidak berurusan dengan pemerintahan. Sudah cukup buruk ia mendapatkannya dari Mr. Vaughan dan bukan dari orang-orangnya.

Jane menggeretakkan gigi, lalu menghela napas panjang, memilih untuk tidak berkomentar. Enggan rasanya mengikuti instruksi yang keluar dari lelaki itu, tapi masalahanya, ayahnya sendiri yang meminta. Pasti ada alasan dibalik permintaan gila tersebut. Dalam hati ia mencatat akan menanyakan mengapa ayahnya bersikeras agar ia dan Jake pergi bersama dua bersaudara pirang itu. Untuk sementara, ia ingin menyimpan energi dulu.

Dan itu adalah suatu hal yang kandas dari pikiran seketika kala seekor alien melesat dari atap, mendarat lincah tepat di hadapan mereka.

Secara instingtif Jake menembak, dalam hitungan detik melepaskan peluru demi peluru, menghantam cepat makhluk mengerikan tersebut yang mengeluarkan geraman berat kala timah panas dari moncong revolver menembus kulitnya. Darah hijau menjijikkan mengalir keluar dari lubang yang dibuat Jake. Hal selanjutnya yang terjadi adalah ekor panjang berujung runcing melengkung milik si alien melesat bagaikan ular menuju ke arah Jake, mengincar jantung si lelaki bersurai cokelat kemerahan.

Namun sebelum ujung ekor mendaratkan serangan mematikan itu, Elliot telah lebih dulu bertindak, dengan menumpukan kekuatan pada tongkat pedang di tangan ia menebas ekor si alien tanpa keraguan sedikit pun pada gerakannya.

Tongkat pedang itu adalah wujud asli tongkat yang Elliot bersikukuh tetap membawanya selama dalam perjalanan. Ayunannya luwes namun kuat, tanpa adanya gerakan cuma-cuma di setiap tebasan. Elliot berhasil memotong tiga dari empat lengan si alien, memanfaatkan kesempatan terhentinya sesaat gerakan makhluk tersebut untuk mendekat dan mengayukan tongkat pedang pada leher si alien—menebas kepalanya. Kepala itu terlempar keluar gang, sementara tubuhnya jatuh dengan bunyi debum.

Jake bersiul pelan, mau tak mau kagum.

Si lelaki bersurai pirang mengayunkan tongkat pedangnya ke samping, menebas tajam udara dan menyingkirkan sebagian besar darah hijau kental yang mengotori tubuh pedang.

“Gunakan revolvermu dengan bijaksana, Mr. Vaughan,” seru Elliot. “Aku yakin akan ada yang lain yang akan menyerang kita.”

Well, lebih baik aku segera membobol mobilnya,” kata Jane kemudian, akhirnya mengalihkan atensi dari alien yang kini tak bernyawa, “sebelum teman-temannya datang menghabisi kita.”

.

Perjalanan seperempat jam selanjutnya tidak berjalan mulus begitu saja. Keadaan jalanan yang kacau balau benar-benar tidak menguntungkan. Elliot menyetir seperti kesetanan di balik kemudi demi menghindari para alien yang menghalangi jalan, dibantu oleh Jake yang mengacungkan revolvernya untuk menyingkirkan mereka yang sesekali hinggap di kaca depan mobil.

Semakin ke utara, jumlah alien yang menyerang di jalanan tidak sebrutal di pusat kota London—entah ini pertanda baik atau buruk. Mobil melaju dengan begitu cepat karena jalanan yang sepi, hingga tampak sebuah bangunan putih yang menjulang tinggi dikelilingi oleh pagar besi berujung runcing.

Setelah mesin mobil dimatikan, Jane, disusul dengan Jake, segera keluar dan menghirup udara segar. Astaga, rasanya jauh lebih buruk dibanding naik roller-coaster setelah menenggak tiga kaleng soda. Jane tidak peduli dengan kedua saudara pirang yang sepertinya tidak ingin lekas turun dari mobil apek yang dipenuhi aroma alkohol. Dalam hati ia mencatat baik-baik untuk tidak membawa pergi mobil pemabuk—lain kali.

“What’s the next plan, Brother?”

“There’s some things I have to take care of.”  Elliot menangkap gurat cemas dan gerakan lengan Estelle yang seketika enggan melepas sabuk pengaman.

“Ingat lorong yang tersambung dengan tempat transaksi tadi?” Elliot melihat Estelle mengangguk. “Tadi kubilang banyak alien yang ada di sana, bukan? Para tentara ingin memburu mereka, dan mengingat betapa membingungkannya jalan di sana, pimpinan mereka meminta bantuanku untuk memandu mereka.

“Aku diminta segera kembali ke sana begitu selesai mengantarkanmu ke tempat aman,” jelas sang kakak.

“Bukankah mereka punya badan intelegensi sendiri untuk hal seperti ini?”

Elliot mengangkat bahu. Ada kejengkelan yang sekejap melintas di wajahnya. “Perintah Sri Ratu.”

Estelle mendesah pelan.

The Queen’s order were, are, absolute.

“Go and get inside our house, Elle. I can assure you those siblings won’t harm you.”

Telapak tangan Elliot yang dingin—efek melewati satu perjalanan ala blockbuster—memberikan satu sapuan halus pada surai pirang Estelle yang nyaris kusut, sebelum menampakkan senyum tipis.

Aku akan kembali sebelum fajar.

Dengan satu helaan napas tidak rela, si gadis turun dari mobil menyusul Jane dan Jake memasuki gerbang depan rumah keluarga Corvin.

Derum mesin terdengar kembali menyalak, dan Estelle menatap mobil tersebut melaju menjauh sebelum dengan enggan berbalik, meraih pintu pagar untuk memasang kembali gerendel besi yang ada. Namun sebelum tangannya menjalin kontak dengan gerendel itu, terdengar suara debam memekakkan telinga disertai logam yang berderik remuk.

Ketiganya mendongakkan pandangan dan seketika tenggorokan Estelle tercekat melihat mobil yang dikendarai sang kakak ringsek, nyaris rata dengan aspal, ditindih seekor alien dengan ukuran tiga kali lipat lebih besar dari yang sudah ia temui sejauh ini. Tanpa berpikir panjang ia meneriakkan nama sang kakak keras-keras, seolah dengan begitu ia mampu menyeret sang kakak keluar dari bangkai mobil. Namun yang terjadi hanyalah ia berhasil menarik perhatian alien tersebut yang kini mengarahkan pandangan menelaah kepada ketiganya.

Jane menahan kuat-kuat lengan gadis yang meronta hendak berlari melewati pagar—dengan susah payah menyeret gadis itu masuk. Bahkan ia sudah siap mencerca adiknya yang hanya berdiri mematung, bukannya memberi bantuan menahan gadis histeria di rangkulannya.

“Kau tunggu apalagi? Bantu aku membawanya masuk, sebelum alien itu kemari!”

Well .…” Jake menjilat bibirnya. Air mukanya aneh. “Sayang sekali kurasa tidak akan ada cukup waktu untuk itu, Jane.”

Cengkeraman Jane pada lengan Estelle berangsur merenggang, hingga si gadis terduduk dengan lemas karena kehabisan tenaga sehabis meronta tanpa ampun. Sementara manik kokoa sang adik yang menampakkan keputus asaan kini tengah menatap balik miliknya. Dengan tanda tanya ia mengikuti arah jemari adiknya yang menunjuk ke arah langit.

Dan di atas sana, sebuah lubang spiral dengan diameter yang luar biasa besar bertepikan debu dan kristal yang membentuk cincin kelabu, membuat dirinya kontras dengan kepekatan langit malam, muncul seolah mencemooh mereka yang ada di bawahnya.

Wajah Jane memucat drastis. “… Bollocks.”

 

End.

 

Catatan:

  1. Finishing 9K words dengan dua kepala bukan hal yang mudah, sungguh.
  2. Lagi, lagi, dan lagi kita mau berterima kasih kepada Kak Fika karena sudah mau sabar menghadapi EYD-error kita berdua yang jumlahnya tiada tara. (sungkem) ((laf laf kafika))
  3. Senang sekali bisa diberi kesempatan main bareng di satu fiksi dengan The Corvins, juga bekerja sama dengan O Ranges! Bikin lelah tapi ngga bikin trauma, seriously worth it!
  4. We planned this for… months? Changing the plots, fixing the characters, searching places, and dafuq IS THE ROUTE FROM RICHMOND TO LIVERPOOL STREET?? things like that and it was exhausting! Tapi seperti kata Ms. Pang, ngga bikin trauma. Untunglah haha cuma bikin brain bleeding aja pfft ((dibegal)).
  5. Thanks juga ke Ms. Pang yang mau-mau aja kolab dengan Titan yang rada kagok kalau urusan tulis-menulis eheh :”D
Advertisements

9 thoughts on “Twilight Hour [2 – END]

  1. Wuooh finally! Apakah ini akhirnya? Aku masih nggak rela kisah Corvins dan Vaughans berakhir sampai di sini. Tapi itu bergantung pada Titan dan Kakpang, sih 🙂
    Thank you for writing this fabulous story 🙂 ❤ ❤ ❤ Aku yakin menulis ini berdua nggak mudah, tapi kalian berhasil!

    Liked by 1 person

    1. Uwoh ka ami haluuuuhhh!!! Aku aku aku juga tbh ketagihan mainin corvin bareng vaughan huahaha ♡♡♡♡♡ aaaa ka ami tengkyu suda ngikutin TW! #HULGHUGGGGGS

      Liked by 1 person

  2. KAKPANG KAKTITAN AKU DATAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG!!!!!!! 😀 Leganya sudah bisa membaca dan menulis komen dengan lancar di sini! 😀

    Jadi inilah ending dari bagian ini. Huhuhu honestly aku tidak mengharapkan akhir yang happy dan mainstream SEHINGGA INI EXCEED EXPECTATION SEKALI KAKA KAKA SEKALIAN I LUV U TWO!!? ❤ ❤ ❤ Nulis berdua itu susah-susah-gigit gimana gitu aku mengerti rasanya heu tapi kalian sukses menghasilkan ini wow aku ingin bertepuk tangan 😉 Dari perkenalan karakter, sampe emosi satu sama lainnya :'''''' Estelle you have to be strong!

    Ohiya, kak, aku belom re-read lagi. Tapi, kemarin pas baca dari browser (dan ngabisa langsung komen heu) aku nandain, ada yang disebut 'sebuah alien' [dua kali disebut] ada juga yang 'seekor alien' [satu kali disebut]. Agak susah sih ya soalnya kita nga tau alien itu masuknya ke mana????? tapi karena di sini aliennya bentuknya cem binatang dan ada ekornya (ekornya serem btw:( ) (aku gamau ketemu ekor-ekor kayak begitu) (kakpang kaktitan save me) apa nggak sebaiknya diseragamin aja jadi 'seekor alien' pas nyebut soal aliennya, kak? 🙂 It's up to you, tho! 😀

    Aku suka banget Elliot-Estelle huhuhu abang, kamu did a great job jagain Estelle huhuhuhuhu ㅠㅠ Wah, kalo kayak gini, Elliot, Estelle, Jake, dan Jane bakal terkenang nih :') Terima kasih sudah membuat fic ini, kakpang dan kaktitan ❤ Aku jarang banget baca yang begini dan aku sukaaaaaaaak banget. Udah mana panjang pulaaa. Kalian top banget sih :*

    Much love,
    Dhilaㅡdhilu

    Liked by 1 person

    1. DHILA DHILU HAEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

      KITA BERTERIMA KASIH ((PAKE BANGET, PLUS SANGAT)) KARENA KAMU MAU NGIKUTIN CERITA KITA #TERHARUBANGETDHILBENER

      TERIMA KASIH BUAT SARANNYA, TENTU KITA NOTED, TERIMA KASIH SANGAT SUDAH MEMBACA DENGAN TELITIIIIII ❤

      TERIMA KASIH JUGA BUAT MUCH LOVENYA DHILU WE LUPYU SO MUCHMUCHMUCHMUCHIE!!!!!!!!!!!!!

      MUCH LUVH,
      ❤ ❤ ❤
      MS.PANG-O Ranges

      Liked by 1 person

  3. TITAN KAKPANG MAAFKEUN AKU BARU DATENG LAGI ABISAN KEMAREN-KEMAREN ASA NGGAK MOOD BACA NIH AKHIRE LAGI MOOD TERUS LANGSUNG KE SINI HAHAHAHAHA. BENTAR YA BENTAR INI BAKAL PANJANG SILAKAN DISPAM GAPAPA TAPI SERIOUSLY AKU HARUS NGOMONG INI OKEY. OKE MATIIN KEPSLOK DULU.

    – masih sebel.
    – KENAPA ELLIOTNYA DIINJEK ALIEN SIH HUHU.
    – kampret aliennya kampreeeeeeet!
    – aku suka banget cerita ini. selain ngambil setting tempat di london, bawa-bawa alien yang notabene menurutku paling susah digarap di lingkup sci-fi, terus terus pake karakter-karakter kesukaanku jugaaa! i hope vaughans and corvins will make future duets lah hahahaha. (kedip-kedip ke kakpang sama titan)
    – SERIOUSLY BADASS JANE IS MY FAV. TERUS ESTELLE JUGA! dia tuh tipikal girl next door but with thousands secrets inside :’) yeokshi dua-duanya tipikal karakter wanita kesukaan aku awawaw.
    – (kocak banget sih jane ama elliot berantemnya hahahaha) (nikah aja sana kalian) (panggil penghulu alien)
    – masih sedih sama elliot 😦
    – peluk kakpang sama titan.
    – KALIAN BIKIN COLLAB LAGI DONGS HEHEHEHEHE.

    udah ah kepanjangan. entar aku dimarahin sama kakpang sama titan xD makasih udah percaya sama aku buat dibetain hahaha. semoga nggak kapok yaaa gaes :’) (masih lowkey mengharapkan kakpang ama titan kolab lagi hahahaha).

    yosh keep writing you guys!! 😀

    Liked by 1 person

    1. KAFIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ALIEN HUG YUK MAREH FEAT TITAN-FILZAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

      AIGU KAK PANJANG ANEDH KITAMAH APA ATUH BISA MAKASI SAMPE JONTOR DOANG BENERAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!

      WHY DO WE DESERVE THIS KAAAAK :” TERHARU BENERAN KAK BENERAN THANKS FOR BETAIN
      THANKS DAH BACA
      THANKS FOR THE KOMEN
      THANKS FOR THE SUPPORT KAFIKA WE ARE TRULY SARANGE YUUUUUUU ❤ ❤ ❤

      Oke tarek napas huvvvvvvvvvvvvvvvvv haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~

      -Aliennya mang jahanam kak landingnya seenak dengkul ampe penyet Elliotnya 😥
      -Estelle yoksi kak aku pun suka gedek dan tida tenang hati kalo Estelle dah muncul. Mampus nih anak mo ngapahen neh mampus.
      -Jane – Elliot berjodoh alien bisa kesurupan kakek cangkul kak…serem X')
      -TERIMAGAJI KAK SUPPORTNYA YASH SEMOGA KITA BISA BERSATU KEMBALI SEPERTI POWERENJES ULTIMATE ALLIANCES!!! ❤ #yha
      -KAFIKA KUTUNGGU JUGA PROJECTNYA YAWWWWWWWWWWW

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s