Strangers: Perpetual Cycle [END]

warning: trigger material // previous: Damsel in Distress – Deus ex Machina

“Of loving and being loved.”

.

Aku ingat, pada suatu sore yang dingin, kau bertanya padaku ketika hujan salju sedang deras di luar.

“Kenapa kau menghindariku?” tanyamu.

Aku tak merta menjawab. Malah sibuk memandangimu dengan dua alis terangkat menyentuh deretan poniku. Aku tak menduga kau akan datang. Temperatur minus di luar, butiran salju membuat rambutmu seperti habis ketumpahan tepung. Apa yang kau lakukan, Jongin?

Aku masih menatapmu saat kau diam saja—di depan pintu apartemenku, menunggu jawabanku. Seharusnya aku tak lupa bahwa kau keras kepala, melebihi aku malah. Bahkan jika aku masih diam sampai tengah malam pun, kau akan meladeniku.

“Tidak juga,” jawabku.

“Buktikan,” tantangmu langsung. Lugas, tanpa basa-basi. Aku jadi ingat waktu kita berkenalan enam bulan yang lalu. Kau mengangkat sebelah alismu, senyummu timpang—haha, kau selalu tahu ya. “Biarkan aku masuk.”

Aku heran bagaimana kau dengan mudah membacaku, Jongin. Banyak orang yang mengenalku lebih lama darimu, tapi bahkan mereka tak tahu apa pun. Kau, Jongin, kau berbeda. Kau tak seperti mereka—apa yang kau lakukan?

Tapi kuyakin mengenai satu hal ini, kau pasti tak tahu. Aku menyimpannya darimu—entah, kupikir belum waktu yang tepat untukmu mengetahui. Atau malah tak pernah ada waktu yang tepat.

Aku menyesal bertemu denganmu, Jongin. Seharusnya aku tak pernah setuju saat Sehun menempatkanmu di departemen yang sama denganku. Seharusnya kita tak saling mengenal. Seharusnya kau tak pernah datang ke apartemenku dan menyelamatkanku. Seharusnya kau tak seperti ini.

Aku ini bodoh—aku melakukan banyak sekali kesalahan di hidupku. Aku menyesal, Jongin, sungguh aku menyesal. Mereka bilang apa yang telah berlalu dan tak membunuhmu membuatmu semakin kuat. Tidak, mereka salah—apa yang telah berlalu dan tak membunuhmu membuatmu menyesali hidupmu dan nyaris gila.

Kau, Jongin, adalah satu dari sekian banyak kesalahan terbesarku. Aku menyesalimu—menyesali kita, demi Tuhan. Aku tahu aku tak seharusnya mengijinkanmu memasuki duniaku—aku egois, Jongin. Dan sore ini aku melakukan kesalahan yang sama sekali lagi.

Kau tersenyum—satu jenis senyummu yang biasa, yang membentuk sabit di kedua matamu saat sudut bibirmu terangkat. Aku menghela napas—butuh setiap inci pengendalian dari diriku agar tak menatapmu, agar tak membalas senyummu.

Aku tak ingat berapa lama waktu yang kita habiskan dalam keheningan setelahnya—sepuluh menitkah, atau satu jamkah? Suara pembaca berita di televisi memantul di dinding—tapi tak ada dari kita yang benar-benar mendengarkan. Aku tahu kau menungguku—seperti biasa, menungguku bercerita, atau menanyaimu, atau basa-basi busuk pembuka obrolan. Tapi aku pura-pura bodoh—ah, aku memang bodoh, Jongin.

“Kau punya cerita apa hari ini?” tanyamu akhirnya.

Kau membuat begitu banyak perubahan padaku, Jongin—kau membuatku takut. Aku tak tahu apakah perubahan ini pertanda baik atau justru sebaliknya—kau menjungkir balikkan duniaku, kau membuatku mempertanyakan apa yang selama ini kupercayai. Apa yang kau lakukan, Jongin? Sungguh, kau seharusnya tak melakukan ini.

“Mengapa kau bertanya?”

Giliranmu yang mendesah keras—aku bisa mendengarnya. Kau diam lagi—memilih jawabanmu dengan hati-hati. Kau membuang waktumu, Jongin, hentikan saja.

“Kupikir kau sudah tahu jawabannya.”

“Mengapa kau peduli, Jongin?” Kau merajut hening sekali lagi—bukan desahan keras yang menjadi responmu. Melainkan bunyi derit ujung sofa yang kau duduki—kau memangkas jarak, tanganmu terulur menggenggam milikku. Tidak, Jongin, tidak. Aku tak siap—aku belum siap, aku tak pernah siap.

Tapi yang kau lakukan setelahnya membuatku kehabisan akal sehatku. Kau menciumku—rasanya seperti jantungku dicerabut paksa dari akarnya dan aku kesusahan bernapas. Caramu menciumku—rasanya seperti tak ada hal lain di dunia ini yang eksis selain kau dan aku, selain kita. Kau membuatku merasa dicintai, Jongin—finally.

Tidak.

Demi Tuhan, tidak. Ini salah, apa yang kau lakukan, Jongin? Kau seharusnya berhenti, kau seharusnya tak melakukan ini. Kau seharusnya pergi—kau seharusnya menjauh dariku selagi kau punya kesempatan. Kau seharusnya tak pernah berusaha memperbaikiku—kau seharusnya tak peduli.

Dan aku tak seharusnya mencintaimu, Jongin.

“Kenapa aku peduli, tanyamu,” bisikmu lirih. Sepasang iris yang menatapku masih menjadi favoritku, kedua alismu bertemu di tengah dahi—hingga menciptakan garis kerutan di sana. Aku bisa menghitungnya—satu, dua, tiga…

Aku merindukanmu, Jongin.

Now you know why I can’t give up on you.” Aku mendapati diriku tenggelam di pelukanmu setelahnya—seperti biasa, seperti yang kau lakukan. Sesuatu yang sangat kurindukan saat aku berusaha menjauhimu. Aku tercekat—napasku berat, sebentar lagi.

Tidak, tidak boleh. Ini bukan waktu yang tepat—kau tak boleh melihatnya, Jongin.

Tapi aku mulai kehilangan kendali atas diriku—aku tak bisa lagi merasakan tubuhku, atau merasakan pelukanmu. Pikiranku terlalu kalut—mungkin otakku non-responsive saat ini. Aku tak bisa bernapas—tubuhku menggigil, jantungku dipompa habis-habisan.

Terus peluk aku saja, Jongin, kau tak boleh melihatku.

Kau terlanjur menyadari—pelukanmu mengendur, memberi spasi yang cukup bagimu untuk menyaksikanku. Napasku habis—tubuhku bergetar semakin hebat. Aku memejam—pipiku basah, tapi aku kebas.

No, Jongin, don’t look at meI’m fine… I’m, I’m fine. I… I… can’t… I can’t breath.”

Aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya—rasanya seperti menyaksikan potongan film yang diputar secara acak dan dipercepat seribu kali. Mungkin kau terkejut—kalau aku tak salah, aku menangkap kilatnya di irismu. Mungkin kau berlutut di hadapanku—kedua telapak tanganmu di bahuku, menggenggam namun tak memaksa, seperti biasa.

Aku juga tak mendengarmu, Jongin—suaramu kalah keras oleh deru napasku. Kau menggumamkan beberapa kata—seperti perintah, tapi aku tak mendengar dengan jelas maka aku tak menuruti. Berbeda dengan genggamanmu—cara kau berbicara lebih memaksa, seperti ada yang mendesak.

Stay with me,” katamu. Jadi itu yang ingin kau katakan? Kau masih berlutut di hadapanku—kau tak sekaget tadi. Kedua tanganmu kini menggenggam milikku—aku ingin balas menggenggammu, Jongin, tapi aku tak bisa menggerakkan ototku.

Breath even, don’t think of anything,” katamu lagi. Sekarang saat aku bisa lebih fokus, aku bisa mendengarmu lebih jelas. Kau terus menyuruhku untuk bernapas teratur—bernapas satu-satu. Aku mencoba menurutimu—sentuhanmu terasa lebih hidup, aku suka. “Just take a deep breath.”

Saat kedua penglihatanku kembali fokus, aku masih mendapatimu berlutut di karpet nilon di hadapanku. Kau masih menggenggamku—aku membalasmu. Kau tersenyum—ada kelegaan yang bermain di matamu kalau aku tak salah menerka.

Rasanya seperti aku hidup kembali, Jongin, aku tak pernah menyangka aku akan sebegini bersyukur merasakan perih yang sesaat lalu membuatku mati rasa. Aku tak ingat sejak kapan aku jadi seperti ini—ditelan perlahan-lahan oleh ketakutan yang kubuat sendiri. Yang kutahu siksaan ini akan menjadi tato permanen untukku—membekas sampai aku mati. Aku ini pengecut—aku tak punya nyali menghadapi ketakutanku.

Lalu kau memelukku dan aku pecah. Aku menyerah, Jongin, aku kalah. Aku tak akan menahan diriku lagi, akan kuselesaikan sebebas-bebasnya. Biarkan aku menjadi egois untuk sekali ini saja. Aku mau menangis—sampai aku puas, sampai aku lelah, sampai aku tak bisa lagi menangis.

Kau masih memelukku—pelukanmu hangat, tapi lebih memaksa dibanding yang sudah-sudah. Aku mulai mengantuk, Jongin, tapi aku masih ingin menangis. Maka aku menangis—melanjutkan lagi sampai kemejamu basah air mata. Tapi kau tak peduli—jari telunjukmu masih sibuk menggambar pola berbentuk lingkaran di punggungku.

Jongin, aku menyukaimu.

Tidak.

Aku mencintaimu, Jongin.

Thank… you,” kataku di sela-sela isakan. Aku kesusahan bernapas—karena tersedak air mataku, bukan karena yang tadi. Kau melepas pelukanmu—kau masih tahu menjaga privasi, rupanya. Tak ada ekspresi di parasmu—kau hanya diam, menunggu.

“Bagaimana?” tanyamu.

“Sudah lebih baik,” jawabku.

Kau mengulas senyum—menempatkan dirimu di ujung sofa lagi. Senyummu pendek—singkat dan ringkas, tapi aku masih suka. Aku selalu suka, Jongin, aku mencintaimu.

“Jadi, kau punya cerita apa hari ini?” tanyamu lagi.

Aku menghela napas keras—jarum gerak jam di dinding tak memberi jeda barang sepersekian detik. Napasku kurapikan—ada ketakutan yang apinya menyambar-nyambar di dalam kepalaku. Tapi aku tak mau kalah lagi—tidak kali ini.

“Kau tak seharusnya peduli padaku.”

“Kenapa?”

“Kenapa.” Aku terkekeh pelan—kau masih diam menunggu. “Karena aku tak mau jatuh cinta padamu. Tapi sudah terlambat sekarang dan aku bisa apa? Aku mau lari, tapi kau menahanku terlalu kuat. Aku keras kepala—kau melebihi aku, Jongin.

“Aku tak mau mengakuinya—bahwa aku jatuh cinta. Bahwa aku mencintaimu, dan aku menggantungkan harapanku setinggi-setingginya padamu. Kau harus tahu Jongin, aku sudah terbiasa sendirian—aku sudah kebas. Aku tak lagi sedih karena aku sendirian—aku tak lagi menangisi kesendirianku. Aku tak apa-apa.

“Lalu kau datang—lebih dari itu, kau bilang sendiri kau ingin menyelamatkanku. Kau tahu, Jongin, kau membuatku melupakan pil-pil anti-depresan yang selama ini harus kutenggak untuk menjaga kewarasanku. Kau, Jongin, membuatku bisa tidur lagi—setiap kali kau memelukku, aku selalu mengantuk. Aku tak pernah tidur dengan benar dulu—aku dihantui mimpi buruk.

“Kau, Jongin, kau menghancurkan tembok pertahananku—kau menghancurkan sistem yang selama ini kubangun. Kau membuatku mempertanyakan hal-hal yang selama ini kupercaya. Kau membuatku bergantung padamu, Jongin—aku yang selama ini menahannya seorang diri. It is nice to be dependant to you—but it also is so wrong.

“Tapi aku tahu kau akan pergi nanti, cepat atau lambat. Aku tahu—tahu saja—kau akan melakukan itu, Jongin. Semua orang seperti itu. Aku tak akan menyalahkanmu jika kau pergi, aku masih akan berterima kasih padamu. Aku hanya tak ingin menempatkan diriku pada risiko lain—aku mulai lelah. Aku mulai kehilangan diriku, Jongin—selangkah lagi dan aku sepenuhnya gila.

I’m a wreck, Jongin, aku butuh diselamatkan—tapi aku tak mau diselamatkan. Tidak, tidak oleh lelaki sepertimu. Yang dengan peduli menanyakan keadaanku—‘kau kenapa’ tak berarti apa pun bagimu, Jongin, tapi untukku, kau tak tahu. Kau mau meluangkan waktumu sampai aku selesai menangis lalu menawariku sebuah pelukan. Kau yang memaksaku berbagi cerita setiap sore—kau yang keras kepala. Tidak, Jongin, ini salah.

“Kau tahu, memperbaiki seseorang tak semudah itu, Jongin—ini aku yang sedang kita bicarakan. Aku tak ingin menempatkan seseorang yang kusayang menghadapi risiko yang sama—aku tak ingin kau sepertiku. Menyembuhkan seseorang berarti kau harus tahu seberapa dalam ia terluka—kau tak perlu tahu, Jongin.

Run, run away from me, Jongin, just go. Don’t come back, don’t ever look back—“

“Bagaimana kau bisa menyuruh seseorang yang peduli padamu pergi semudah itu?”

Kau memotongku. Satu hal yang tak pernah kau lakukan sebelumnya—membuatku merta menoleh ke arahmu. Kau sudah berdiri—dua langkah dan kau sudah berada di depanku.

Aku hendak memprotes—hendak meracau panjang lebar lagi, tapi kau tak pernah berhenti mengejutkanku, Jongin. Genggamanmu kembali mencengkeram pergelanganku—kali ini berupa sentakan hingga aku berdiri. Aku nyaris limbung—tapi kau cepat menangkapku.

Dance with me,” katamu. Kau tak memberi kesempatan untukku menolak—pun sepertinya kau tak ingin didebat. Perintahmu absolut—dan di detik setelahnya, kau sudah menyelipkan salah satu cabang earphone-mu di telingaku.

Kau menuntun langkahku, aku tak tahu caranya—dan tak mau tahu. Tanganmu melingkar di pinggangku, langkahmu satu-satu—tak memaksa dan tak juga menuntut. Rasanya aku jadi mengantuk lagi, rasanya aku ingin jam di dinding berhenti berputar—aku mau mati tenggelam di pelukanmu saja, Jongin, jangan selamatkan aku.

“Kenapa kita menari?” tanyaku.

Kita seharusnya berhenti menari, Jongin—kau seharusnya berhenti seperti ini. Egoismeku mulai tak terkendali, aku mulai tak bisa mengontrol emosiku. Aku jadi berpikiran yang tidak-tidak kala mendengar detakan jantungmu yang teratur seperti ini—you know, Jongin, how I wish your heart would beat faster every time you hug me.

Kau membuatku menginginkanmu, Jongin.

Kau tak menjawab—masih melanjutkan langkahmu, membuatku terseret pada gerakan yang sama. Tiga menit setelahnya, ketika cabang earphone-mu mulai mengalunkan lagu yang lain, langkahmu baru berhenti. Senyummu terulas—bukan senyum yang biasa. Aku ingat aku pernah melihat senyummu yang itu sebelumnya—sebuah seringai. Ah iya, sore itu.

Seringaimu menyeramkan—mirip punya Joker di film Batman. Aku tahu kau merencanakan sesuatu—aku tahu kau akan bertanya yang tidak-tidak setelah ini. Aku tahu—tahu saja—seringaimu bukan pertanda bagus, Jongin.

“Aku mau kau bertaruh denganku,” katamu.

“Bertaruh?”

Kau tak menjawab lagi—justru menggapai kantong jaketmu dan meraih sesuatu. Benar kan, aku tak pernah salah mengenali senyummu—atau seringaimu. Aku tahu kau merencanakan sesuatu—Swiss Army di genggamanmu yang menjadi bukti.

Seberapa jahat orang baik sepertimu mampu bertindak jahat, Jongin?

Kini giliranku yang diam—menunggu. Kau menatapku, seringaimu sudah diganti senyummu yang biasa. Ada kilat yang menyala-nyala di irismu—antusiasme yang menari di sana bukan buatan saat kau membuka lipatan Swiss Army, lalu menancapkan mata pisaunya di bantal sofa terdekat hingga kapuknya berhamburan.

“Taruhan sederhana,” katamu lagi. “Aku mau tahu seberapa besar kau mempercayaiku.”

“Jongin, jangan—“

“Aku tidak sedang bercanda,” kau memotongku. “Aku hanya ingin kau sadar seberapa besar kau bisa mempercayaiku. Aku mencintaimu, kau tahu itu—dan aku tahu kau juga merasakan yang sama.”

It’s not—“

It’s yes,” potongmu lagi. “Sudah waktunya berhenti berlari, My Lady, kau punya seseorang yang menunggumu kini.”

Jongin, kau tak pernah kehabisan akal membuatku kusut, kau gila. Kau membuatku gila—kau membuatku menginginkanmu, Jongin, demi Tuhan, kau tak mengerti. Kau tak akan mengerti, aku tak boleh bergantung padamu—aku tak mau bergantung padamu. Jangan memaksaku, Jongin, kumohon hentikan.

Karena kau tahu, Jongin, aku tak bisa berkata tidak untukmu.

Aku ingin membalasmu—tapi aneh aku malah kehabisan kata-kata. Kau memelukku lagi—dan aku meledak tangis lagi, padahal kupikir tangisanku yang tadi sudah yang terakhir untuk minggu ini. Aku tak tahu apa yang salah denganmu—dengan kita, mengapa kau sebaik ini padaku, Jongin? Aku bukan orang lain yang pantas mendapat perlakuan baik darimu—dari siapa pun. Tapi lihat apa yang kau lakukan?

Demi Tuhan, jika sekarang kau menikam punggungku dengan Swiss Army, mungkin aku rela. Tapi kau tak melakukannya—tentu saja. Seberapa jahat orang baik sepertimu mampu bertindak jahat, Jongin? Aku tahu—tahu saja—kau tak sejahat itu.

Ya, Jongin, mungkin aku percaya bahwa kau orang baik.

“Masih mau bertaruh?” tanyamu ketika tangisku mereda. Kupikir kau akan melepas pelukanmu, tapi kau tidak. Aku masih tenggelam di satu-satunya tempat yang paling kusukai—aku masih bisa merasakan jantungmu berdetak lebih cepat di balik rongga dadamu. Kenapa, Jongin? Apa kau takut?

Aku mengangguk—kau menarik napas panjang lalu pelukanmu lepas. Satu tanganmu masih menggenggam milikku—yang satunya mencabut Swiss Army dari bantal sofa. Kau menutup lipatannya, lalu kau serahkan padaku.

“Pisau ini milikku, tapi aku ingin kau yang membawanya,” katamu. Senyummu lenyap—kedua irismu menatapku tunak. “Aku mau kau mengembalikannya padaku di kali pertama kau bertemu denganku setelah ini.

“Saat taruhan dimulai, aku ingin kau tidur—kau lelah kan? Kau butuh istirahat,” lanjutmu. “Jika kau mendapatiku masih di sini sampai kau bangun nanti—aku yang menang. Kau harus berubah—kau tak bisa terus seperti ini. Kau harus mulai percaya pada seseorang—aku.

“Tapi jika aku tak ada, kau yang menang dan kau yang simpan pisau itu. Aku tak akan lari darimu jika kita bertemu di kantor besok Senin—aku tak akan melawan bahkan jika kau melempariku dengan pisau itu sampai aku mati.”

Mungkin sepuluh menit—mungkin setengah jam, aku tidak ingat seberapa lama kita saling terdiam. Irismu masih tunak memindaiku—tapi aku tahu aku pasti tak memberimu respon apa pun. Otakku sedang berasap, Jongin, kelebihan beban menyerap informasi.

“Kau gila,” kataku akhirnya.

“Tidak juga,” kau terkekeh—singkat dan hangat, seperti biasanya. “Cuma kehabisan akal membuatmu percaya. Aku tahu masing-masing dari kita punya pemikiran yang sama—bahwa janji dibuat untuk dilanggar, iya kan? Aku juga tak mau berjanji apa pun—kau juga tak akan percaya. Membuktikan seberapa besar aku bisa percaya padamu adalah satu-satunya cara aku bisa mengubahmu.”

Kau menggambar senyum di lengkung bibirmu saat kau bangkit dari sofa—aku menatapmu lekat, ingin tahu apa yang akan kau lakukan setelahnya. Tapi kau malah menjatuhkan dirimu di karpet nilon di bawahku.

“Taruhan dimulai, My Lady,” katamu—tanganmu terulur menjangkau jaketmu, lalu menyampirkannya di bahuku. Kau tersenyum lagi—aku mengerti arti senyummu. Beralaskepalakan bantal yang tadi kau sobek, aku mulai merebahkan tubuhku.

Kau tahu, Jongin, tidur adalah sesuatu yang mewah bagiku. Dulu aku takut tidur—bahkan dengan bantuan pil-pil tidur saja, aku selalu tak pernah nyenyak. Ada mimpi buruk yang menghantui—satu-satunya cara agar lepas dari jeratannya adalah dengan tetap terjaga.

Tapi kau, Jongin, kau adalah sebuah anomali. Pelukanmu adalah salah satu hal yang menjadi favoritku darimu, sekaligus hal yang sampai sekarang tak bisa kupahami. Kau tak tahu, Jongin, kau selalu membuatku mengantuk tiap kali aku tenggelam di sana. Kau membuatku tak lagi takut jatuh tidur—aku merasa tenang.

Kuamati punggungmu yang menghadapku—kedua netramu terfokus pada layar televisi. Taruhan ini bodoh—seharusnya aku tak pernah setuju. Jika nanti aku bangun dan kau tak ada, mungkin aku tak bisa lagi memaafkan diriku. Mungkin aku tak akan melemparimu dengan pisaumu sampai kau mati—mungkin akan kupakai untuk menyayat diriku.

Jika benar begitu, kau tak perlu merasa bersalah, Jongin, ini bukan salahmu. Salahku lah yang terlalu bodoh—salahku yang terlalu berharap darimu. Luka-luka itu yang nanti menjadi tebusan dosa—jika aku beruntung, sakitnya bisa menggantikan remuk di hatiku.

Kau berbalik—tatapan kita saling terkunci selama beberapa detik. Ekspresimu datar tapi cuma sebentar—digantikan kedua alismu yang bertemu di tengah dahi hingga ada tiga kerutan di sana. Kau mengulurkan tanganmu—untung aku lebih cepat menampiknya. “Hentikan,” kataku. Kau mengerti—senyummu singkat dan kau berbalik lagi.

Saat aku menjejak alam tak sadar, aku bermimpi. Aku berada di atas jembatan kayu yang sudah lapuk—di bawahnya ada sungai dengan bebatuan besar-besar.  Aku berdiri tepat di tengah—kedua tanganku terentang mencengkeram tali-tali tua penyangga jembatan yang sudah mau putus.

Ketika aku mendongak, aku mendapatimu di ujung seberang. Kau hanya diam—menunggu, kedua tanganmu terlipat di depan dada. Ekspresimu tak menunjukkan letupan emosi apa pun—hanya datar. Tapi saat aku mengambil langkahku dan nyaris jatuh, kau tertawa.

Kau tahu, Jongin, aku menyukai derai tawamu yang unik. Tapi derai tawamu yang kudengar kala itu ibarat lonceng kematian yang siap menjemputku kala itu juga. Jadi begini rasanya ketika seseorang yang kau percaya menjatuhkan ekspektasimu? Hahaha, aku seharusnya tahu, Jongin, aku seharusnya sudah kebal. Tapi kau membuatku terkejut sekali lagi.

Derai tawamu masih mencapai runguku—membuatku kehabisan napas lagi. Tubuhku bergetar—sepanjang jembatan kayu ini ikut bergetar. Tawamu makin keras—aku mau menangis saja. Tapi harga diriku tak terima—kau sudah menjatuhkanku, Jongin, kau tak boleh melihatku menangis lagi.

Aku mengambil langkahku serampangan—aku mau ini semua lekas berakhir, tapi langkahku tak secermat itu. Di detik selanjutnya, tubuhku sudah melayang di udara—jaraknya hanya sepuluh sekon sebelum tubuhku bertumbukan dengan permukaan air.

Kau masih tetawa, Jongin—tawamu semakin lantang. Napasku berantakan—aku berusaha mengontrol diriku seperti yang pernah kau ajarkan di suatu sore yang dingin, tapi aku sadar itu semua tak ada gunanya. Toh sebentar lagi aku mati, tak ada gunanya menjadi lebih baik.

Enam detik lagi, tawamu merangsek gendang telingaku—menghantui sampai aku disiksa di neraka nanti. Kau menunduk, menikmati pemandangan aku sedang jatuh—tawamu semakin lepas. Aku ingin pura-pura tuli, aku tak mau mendengarmu. Tapi telingaku berkehendak lain.

Tiga detik lagi, kita saling bertatapan. Ada monster yang menari di irismu—di jarak sejauh ini, aku masih tak gagal mendapatinya. Tatapanmu diwarnai belas kasihan—tapi aku tak ingin kasihan darimu, Jongin. Lalu aku sadar aku sedang terisak keras.

Sedetik lagi dan tubuhku menyentuh permukaan air. Aku bisa mendengar alirannya yang deras—tapi derai tawamu masih menghantuiku. Kedua lutut dan sikuku tergesek bebatuan sungai, ada perih yang menyengat—tapi aku tak peduli. Sakitnya tak ada apa-apanya dibanding kekecewaan yang kurasakan.

Saat tubuhku menyentuh air, aku tersentak—dinginnya menggigit kulit. This is it—this is inertia.

Aku masih hidup—nyatanya aku masih terduduk di sofa ruang tengah apartemenku. Ruangan gelap gulita—aku pasti lupa menyalakan lampu tadi. Tubuhku menggigil keras—hujan salju semakin lebat di luar tapi bukan itu alasanku menggigil. Keringat justru membanjiri tubuhku—membasahi kaos yang kupakai, jaket yang tersampir di bahuku terasa berat.

Kau tak ada.

Aku tak menemukanmu—mau aku panik, mau aku dengan tenang menoleh kesana kemari mencari sosokmu, aku masih tak menemukanmu. Seharusnya aku tahu kan—seharusnya aku tak berharap apa-apa padamu. Tentu saja kau pasti pergi—untuk apa kau tetap di sini?

Ada bunyi saklar yang ditekan lalu lampu di langit-langit menyala. Sosokmu berdiri di ujung koridor dapur, membawa segelas air mineral yang isinya nyaris tumpah. Kau terlihat panik—aku baru sadar ini kali pertama aku melihatmu panik, Jongin. Kau bergegas ke arahku.

“Ini, minum dulu,” katamu. Kuraih gelas yang kau angsurkan—isinya kutandaskan sampai nyaris setengah dan gugupku berkurang. Kau menatapku prihatin—tidak. Kau menatapku khawatir. Kau tak pernah mengasihaniku, Jongin. Aku tahu kau menganggapku kuat.

Iya kan?

“Jongin…” Aku ingin bercerita, Jongin, tapi aku kehabisan kata-kata. Entah, mungkin juga karena aku tak ingin mengingat mimpi terburukku. Aku tak ingin melihatmu yang berbalik punggung dan menjadi tak peduli. Tolong jangan lakukan itu, Jongin, tolong temukan aku sekali lagi.

Dan kau melakukannya. Kau menenggelamkanku ke pelukanmu lagi—lalu aku menagis, untuk yang kali ketiga, sejadi-jadinya. Air mataku tumpah membasahi kemejamu—tapi kau tak peduli. Pelukanmu yang ini berbeda dengan yang biasa—lebih erat dan memaksa. Aku tahu—tahu saja—mungkin karena degupan jantungmu yang lebih kencang dibanding sebelumnya.

Aku menangis lagi—menangis sampai mataku bengkak dan napasku habis. Menangis sampai mataku sakit dan sedetik lebih lama lagi aku memperpanjang tangisanku, mungkin aku akan menangis darah. Tapi kali ini aku tak lagi menangis karena aku sedang sedih. Kau ingat—aku sudah lupa bagaimana rasanya sedih.

Aku juga tak lagi menangis karena aku sedang kesepian, atau karena aku sedang ingin, atau apalah seribu satu alasan bodoh lainnya. Kali ini aku menangis karena aku merasa lega. Aku percaya padamu.

Do you feel the same sentiments like I do, Jongin?

Because I’m ready now, this is the time.

I’m home.

.

-end-

.

  • please do re-read previous chapters to maintain the continuation of the plot. and please do make sure you are done reading all three chapters before you read the explanation of the whole story here.
  • unbetaed! I’m sorry it took me so long to repost this, I sorta … lost interest in writing world (hope it’s just temporary). in the meantime, I’m gonna puff into thin air. happy reading.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s