Silence

“Suffering is a gift. In it is hidden mercy.”

 ― Rumi

.

Aku berencana untuk pergi konsultasi ke seorang psikiater, karena sepertinya kakakku tersayang mulai kehilangan kendali.

Memiliki seorang kakak perempuan tidak selamanya menyenangkan, terutama jika ia bernama Jaqueline Rowan. Dengan dalih telah dilahirkan sepuluh tahun lebih awal, ia menolak segala macam permainan anak usia tujuh tahun yang kutawarkan dengan dingin.

Padahal yang ia lakukan jika tidak sedang terkurung bersama tutor bahasa asing adalah sekadar berkencan hingga larut malam dengan buku-buku tebal tanpa gambar, atau sesekali menyulam bersama ibu. Aku heran bagaimana ia bisa bertahan menjalani kehidupan yang begitu membosankan.

Sebenarnya aku juga tahu kalau ia gemar menyelinap ke ruang bawah tanah untuk memainkan berbagai jenis benda mungil yang mengeluarkan letupan-letupan pedas, tiap kali ayah dan ibu pergi ke luar kota di akhir pekan.

Tentu saja aku sudah pernah mengancam akan mengadukan hobi terselubungnya itu agar ia mau bermain denganku. Namun yang terjadi kemudian adalah moncong benda yang selama ini hanya kupandangi dari jauh, telah bersentuhan dengan permukaan kulit di pelipis dan terasa dingin bukan main. Jaqueline menjanjikan bahwa letupan yang dihasilkan benda itu akan jauh lebih hangat dari perapian musim dingin kami, tapi aku tidak tertarik, mengingat benda tersebut dapat menghasilkan jeritan melengking yang memekakkan telinga.

Untuk beberapa saat aku mencoba berdamai dengan keadaan. Sesekali kucoba menenggelamkan diri di antara sekat menjulang rak buku yang berjajar di perpustakaan, untuk memahami ketertarikan Jaqueline pada benda mati tak berbahaya yang satu ini. Tapi aku tidak menemukan apapun yang menarik, selain sebuah paragraf konyol yang tercetak pada salah satu halaman buku psikologi yang membahas kepribadian introver.

Di sana disebutkan bahwa mereka dengan kepribadian tertutup bisa jadi memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi psikopat dibanding mereka yang memiliki kepribadian terbuka, akibat minimnya intensitas interaksi yang menyebabkan kepribadian mereka menjadi lebih sensitif dan kaku.

Aku menolak memercayainya, sampai kakakku sendiri kehilangan kendali.

Tepat pukul tiga sore, aku berniat menggugah semangat Jaqueline dengan berlarian di dalam rumah bersama Silkie—anjing pelliharaan kami—tepat setelah kelas bahasa asingnya selesai. Karena tak kunjung mendapat respon, aku mulai menyanyikan sebuah lagu anak-anak kesukaanku kencang-kencang untuk menembus celah pada kedua daun pintu kamarnya yang tertutup rapat. Namun karena semua itu sia-sia, aku segera berlari ke halaman dengan membawa serta bola milik Silkie, lantas melemparkannya ke arah jendela kamar Jaqueline hingga kacanya pecah. Yang terjadi kemudian adalah Silkie berlari kembali ke dalam rumah untuk menjemput bolanya dan dengan senang hati aku menyusul di belakang.

Sebenarnya semua itu kulakukan semata karena khawatir persendian kakakku akan kaku di usia muda akibat kurang bergerak, tapi kurasa Jaqueline telah salah mengartikan tujuanku.

Well, hari itu aku cukup beruntung karena ia menggunakan salah satu pecahan kaca jendela kamarnya hanya untuk memotong lidahku, bukannya menggores salah satu arteri di leher seperti yang ia lakukan pada Silkie yang tengah meregang nyawa dengan bersimbah darah.

Dan kini aku sedang memikirkan bagaimana caranya berkonsultasi kepada psikiater dengan lidah yang terputus, karena sungguh, aku tahu berkirim surat hanya akan memakan waktu.

Jadi, apakah kalian ada ide untuk membantuku?

.Fin.

Advertisements

19 thoughts on “Silence

  1. Baca cerita kakpang kalau enggak bikin mangap, ya minimal bikin mulut kebuka 0o0
    Aku udah wanti2 banget kejutan apa yang ditulis di akhir, dan, well done cihuy hahaha aku merinding tanggung jawab =_=
    Ya agak niat banget itu kakaknya gesek2in kaca di lidah adeknya. Gesek2 ampe putus berdarah2 hmm. Well done, kakpang, aku padamu!
    Deskripsinya baguuuus gak buru dan simpel. Huhu, mupeng pokoknya!
    Keep writing kakpang! 😀

    Liked by 1 person

    1. Minimal mengundang sumpah serapah yha (slaps)
      Merinding dangdut gak, Dhil? Kalo iya aku baru mau tanggung jawab tar kukasi tiket dangdut pantura wqwqwq

      AKU PADAMU JUGA DHILLL!!! KEEP WRITING JUGAK ❤

      Like

  2. Jaqueline Rowan wow aku bisa ngebayangin dia banget, kakpang. Detail kayak mereka beda umur sepuluh tahun sebetulnya udah bisa dijadiin salah satu alasan penyebab Jaqueline jadi introvert, yaa. Apalagi jadwal hariannya begitu-begitu aja, kurang interaksi. Tapi tapi lidah adenya:( HUHUHU UNTUK KAKAKKU DI RUMAH, AKU MENCINTAIMU ❤ Sebagai adik yang suka gegulingan biar kakakku jengkel (HAHAHAHA) aku senang masih bisa hidup XD Iya betul kata kakdhila, tulisan kakpang selalu punya sesuatu yang bikin mangap (iya soalnya aku beneran mangap tadi, kak) X) in a good way tho! 😀 Yang paling aku suka di sini pemilihan nama buat si kakak, Jaqueline Rowan entah kenapa buatku cocok aja gituuuuuuu 🙂 aku suka iniiii ❤

    Liked by 1 person

    1. Pesan moralnya untuk para kakak adalah… sayangi adek kaleyan yha ❤
      Pesan moralnya untuk para adik adalah… sayangi lidah kaleyan yha ❤ wqwqwq

      THANKIES DHILU SUDAH BACAAAA! KEEP WRITING YHAA ❤

      Liked by 1 person

  3. ini ceritanya psycho tapi deskripsinya santai banget, tapi enak dibaca. kayak komentar sebelumnya, ini bikin mangap :OOO lyk hello???? motong lidah motong leher yastaga beta nda cuat. itu merinding disko gimana bacanya, apalagi kenapa si aku jelasinnya cuma kayak jacqueline motong wortel duh??? terus yang letupan2 itu (moncongnya juga, sih) pistol bukan sih maksudnya apa aku yang salah tafsir:”)

    eniwei, aku Gaby dari garis 99. salam kenal and keep writing yo Kakpang!!!!

    Liked by 1 person

  4. Mataku yang sipit karena baru bangun bobo ini langsung bulet begitu baca ceritanya kak pang!~
    Ya ampun, ga bisa dibayangin dah itu gimana rasa sakitnya lidah dipotong pake kaca
    Ya mending kalo piso gitu sekali tebas udah lepas /?/ kalo kaca butuh berapa kali gesekan sampe putus? Apalagi kalo kacanya tumpul :” /ini kenapa jadi bahas kaca/

    Fictnya kak pang emang keren mantep surantep deh T.T deskripsinya enak /?/, ga kecepetan ga lambat juga sukaakk!!

    Keep nulis kak pang sayang :*:*

    Liked by 1 person

  5. … dibaca berapa kali pun tetep aja bikin syok ._.

    tbh aku beneran ngga ngira Ms Rowan bakal tega ngelakuin hal macem itu ke adiknya sendiri. lyke, semacam culture shock bikos selama ini aku nulis corvin bersaudara dengan pegangan family first but what the hell, this is pretty interesting too! kuterlena dengan deskripsinya yang adem ayem di awal haha 😀

    yuk ah, thanks buat kejutannya kapang ❤

    Liked by 1 person

    1. KAKPANG I REALLY LOVE THIS ONE, genrenya psycho tapi enakeun buat dibaca gitu nggak terlalu berat dan njlimet, hahaha…
      Dari awal udah ngira ada yang ndak beres sama Jaqueline, sih. Tapi tetep aja kaget pas tau lidahnya “aku” dipotong sama Jaqueline. Ceritanya ngalir dan santai banget, kusuka deh! Keep writing and keep slaying, Kakpang!

      Liked by 1 person

  6. KAKPANG ATULAH INI SI JAQUELIENE (BENER NGGAK SIH NULISNYA) KOK……………………….. aslik kaget yang tiba-tiba potong lidah. POTONG LIDAH. PAKE PECAHAN KACA PULA. parah awalnya adem ayem padahal cuman adek yang mau ngajak maen kakaknya, EH TAUNYA 😦 ah udah ah mau kabur aku takut (lah). keep writing kakpangskiiii ❤

    Liked by 1 person

  7. Waduh….. bentar, tahan napas sebentar.

    Wah, emang ya…. ciri khasnya kak Pang banget, nulis genre serem kayak gini dengan bahasa yang santai. To the point gitu tapi ngena banget maksudnya. Aku nggak nyangka banget sih bakalan berakhir dengan lidah dipotong. Terus si tokoh ‘Aku’ ini tuh, juga kayak……… ‘ya udah lah yaaa, alhamdulilah deh bukan arteri gw yang dipotong. alhamdulilah gw masih hidup.’

    Keren banget, kak pang!

    Liked by 1 person

    1. Halo Ka Ecaaaaaaaa!!!

      Iya kak, jadi pesan moral tambahannya adalah: syukuri apa yang ada… (slaps) untung lidah doang yang dipotong, bukan nyawa….

      KAK ECA JUGA KEEP WRITING YHA KAAAKKK!! THANKIES SUDAH BACAAAA DAN KOMENTAAAAR ❤ ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s