Peran Kehidupan

By qL^^

Disclaimer : Inspired by anti-starving pill’s Kak Put

—-

“Kurasa kita punya cukup banyak pekerjaan selain melamun sepanjang hari.”

Suara bass dengan nada sarkastik itu berhasil membuat Sophie terlonjak dan sadar dari lamunannya. Ia berbalik dan menemukan Marcus bersandar di ambang pintu ruang kerja mereka. Wajah Sophie langsung berubah cerah ketika melihatnya.

“Kau sudah kembali!”

Marcus mengangkat bahu, kemudian berjalan mendekati meja kerja Sophie. “Ada perkembangan terbaru?” Ia bertanya sambil menarik lebih dekat laporan riset yang sedari tadi dianggurkan gadis itu.

“Kurasa formulanya sudah stabil. Tes fisik memberikan hasil baik, tanda vital normal, berat badan stabil dan nilai nutrisi dalam tubuh cukup,” Sophie melaporkan.

“Cukup?” Kening Marcus berkerut. “Ini ideal, my dear.”

Giliran Sophie yang mengangkat bahu. “Aku tidak akan mengatakan nutrisi yang didapat dari sebuah pil sebagai ideal, sebaik apa pun nilai yang ditunjukkan.” Marcus mendengus, namun Sophie melanjutkan. “Kita mungkin berhasil mengekstrak zat gizi ke dalam sebuah pil, tapi memenuhi kebutuhan cairan dan mineral adalah masalah lain.”

“Menyediakan sumber air bukan masalah kita,” sahut Marcus sambil terus fokus membaca laporan riset. “Ada lagi?”

Sophie berdecak, dalam hati tidak puas dengan respon Marcus. “Selain hampir seluruh subjek penelitian mulai mengalami atrofi papila lidah dan otot pengunyahan, kurasa tidak ada masalah lain,” kali ini ia bicara dengan sarkasme yang ditirunya dari Marcus.

Marcus menghela napas, menutup laporan itu dan meletakkannya kembali di atas meja Sophie. “Kita ini peneliti yang dibayar. Kau tidak boleh terlalu bersimpati pada mereka, Soph,” ia menasehati.

“Tapi—“

“Kita sudah pernah membahas hal ini dan aku tidak ingin kita membahasnya lagi.”

Kalimat pamungkas dari Marcus itu membuat Sophie menutup mulut rapat-rapat dan menelan kembali segala yang ingin diucapkannya.

“Pergilah makan siang,” saran Marcus dengan cara bicara yang menunjukkan bahwa ia sedang memainkan peran sebagai mentor Sophie alih-alih supervisor riset. “Cobalah untuk berbaur dan berinteraksi. Kau masih muda, Soph. Mr. Darren kelihatannya terlalu takut untuk makan siang bersamamu hanya karena ekspresi wajahmu yang selalu dingin itu.”

Peter Darren is a brat,” decih Sophie tak suka.

Maybe he is,” kata Marcus. “Tapi bersikap baik dengannya sama sekali tidak akan merugikanmu, Soph. He is the son of our benefactor after all.”

Mata Sophie menyipit curiga. “Apakah itu yang dikatakan Mr. Darren Senior saat mengundangmu rapat?”

Marcus hanya tersenyum misterius. “Shoo, off to lunch,” serunya sambil mendorong punggung Sophie yang berontak sampai keluar pintu kantor dan menutup pintu itu sebelum Sophie sempat berkata apa-apa.

Dongkol dan kesal, Sophie menyumpahi Marcus dalam hati sebelum akhirnya melangkah menuju kafetaria.

***

“Boleh aku duduk di sini?”

Sophie tersenyum kaku dan mengangguk yang sebenarnya tak perlu karena Peter Darren sudah meletakkan nampan makan siang di meja Sophie bahkan sebelum gadis itu sempat bereaksi apa-apa. Biasanya Darren tak berani mendekatinya. Mungkin ia merasa lebih berani setelah melibatkan ayahnya dalam urusan makan siang bersama Sophie. Pemuda berambut cokelat itu tersenyum salah tingkah saat ia duduk dan bertatapan dengan Sophie.

“Aku tahu kau mengenalku dan aku juga ingin kau tahu kalau aku mengenalmu. Hai, aku Peter Darren,” ia mengulurkan tangan pada Sophie yang disambut demi kesopanan oleh gadis itu.

“Hai, aku Dr. Sophie Carter.”

“Yah, tentu saja aku tahu,” Peter berkata. “Ayah bicara banyak tentangmu. Muda dan berbakat. Ia bilang kau aset besar untuk perusahaan.” Peter tertawa kecil. “Ah, aku sungguh iri. Kau lebih muda dariku dan sudah menjadi asisten senior peneliti utama. Sedangkan aku mengerjakan laporan saja masih sering ditegur Ayah.”

Darren masih terus bicara sementara Sophie nyaris tidak mendengarkan. Ia tidak tahu tujuan Darren mendekatinya. Ia juga tidak mengerti apa maksud Darren bercerita mengenai hidupnya pada Sophie. Jelas-jelas Sophie tidak mau tahu dan tidak peduli. Tapi Darren sepertinya sama sekali tidak menangkap sinyal tak suka dari ekspresi atau bahasa tubuh Sophie. Ia terus mengoceh dan mengoceh sampai ia mengatakan satu kalimat yang akhirnya menarik perhatian Sophie.

“Tadi kau bilang apa?” tanya Sophie.

“Aku? Apa?” Darren terlihat bingung, namun ia langsung paham. “Oh, aku mengundangmu makan malam di mansion keluarga kami. Ayah sangat menghargai orang-orangnya dan beliau bersimpati padamu.”

“Simpati?” Alis Sophie terangkat.

Mendadak Darren terlihat tidak nyaman. “Yah, terlepas dari latar belakangmu ….” Dan ia tidak meneruskan ucapannya karena Sophie yakin kali ini ia sudah menangkap sinyal ketidaksukaan dari gadis itu. “Ah, lagi pula bukan itu yang mau kukatakan. Aku ingin kau mencicipi salad buatan koki kami. Bahan-bahannya sangat segar,” Darren buru-buru menambahkan.

Bunyi klang keras terdengar saat Sophie meletakkan sendok stainless steel-nya di atas nampan dengan keras. Hilang sudah selera makannya. Ucapan Darren membuatnya mual. Ia melirik makanan sungguhan yang ada di atas nampan membandingkan dengan imajinasinya tentang jenis makanan yang ada di rumah keluarga Darren. Lalu pikiran Sophie kembali pada beribu-ribu pil yang diproduksi di laboratoriumnya serta puluhan subjek penelitian yang hingga kini masih diamatinya.

Dunia benar-benar tidak adil.

“Aku harus pergi,” Sophie berdiri dan membawa nampan makan.

Darren menahan lengannya. “Mau ke mana? Kau bahkan belum selesai makan siang. Bagaimana dengan undangan makan malam dariku?”

Sophie harus menahan diri untuk tidak menepis tangan Darren. Ia menarik tangannya kemudian tersenyum. Senyum palsu untuk sang pangeran yang tak menyadari situasi. “Lain kali saja. Permisi, Mr. Darren.”

***

Kode akses ditolak.

Sophie sudah mencoba beberapa kali, namun hasilnya selalu sama. Tidak mungkin kartu identitasnya ditolak untuk membuka kode akses. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang punya wewenang berjalan bebas dalam bangsal akomodasi subjek penelitian. Ia sudah berulang kali ke sana demi kelancaran riset dan ia tidak pernah ditolak sebelum ini. Sophie mencoba lagi dengan menempelkan kartu identitasnya. Akses tetap ditolak.

Ia mengumpat keras.

“Kalau kau menyeludupkan mereka makanan, semua data kita akan tidak valid.”

“Persetan dengan data, Marcus!” hardik Sophie.

Ia mendengar Marcus terkekeh. “Woah, easy girl. Aku masih supervisormu, jadi perlihatkan sedikit rasa hormat.”

Kini Marcus berdiri di hadapannya dan dengan amat perlahan menarik Sophie menjauhi bangsal akomodasi subjek penelitian. Ia menggiring Sophie kembali ke kantor mereka, mengambil bungkusan makanan yang akan diseludupkan gadis itu kemudian membukanya.

“Yang seperti ini lebih baik dimakan sekarang,” ujar Marcus jenaka sambil mencomot sepotong pai buah dari bungkusan makanan.

Sophie meliriknya dengan sebelah mata. “Bagaimana kau tahu aku akan ke bangsal?”

“Sepertinya percakapan dengan Peter Darren tidak berlangsung menyenangkan,” respon Marcus berkomentar.

Tanpa bisa menahan diri, Sophie bercerita mengenai kejadian makan siang tadi pada Marcus dengan berapi-api. “Lalu aku berusaha meringankan rasa bersalahku dengan menyelundukan makan, tapi kartu aksesku ditolak! Ditolak, Marcus! Padahal biasanya aku selalu bisa masuk— Oh! Tunggu,” Sophie menatap Marcus yang kembali tersenyum misterius. “Kau! Kau yang mengganti kode aksesnya!” tunjuknya pada lelaki itu dengan berang.

Well—“

“Kenapa?!”

“Perbaikan teknis,” jawab Marcus kalem.

“Jangan bohong, Marcus!”

“Aku serius, Soph.”

Sophie malah semakin menatapnya curiga.

“Oke, oke, baiklah,” akhirnya Marcus mengaku. “Dengar Soph, alasan Mr. Darren senior mengundangku rapat bukan hanya untuk membicarakan cinta monyet putranya padamu. Ia curiga padamu. Ia tahu kau akan terus bereaksi dengan impulsif seperti ini. Jadi ia separuh memperingatkan dan separuh mengancam, kalau-kalau kau benar-benar bertindak di luar batas, ia tidak akan segan-segan menendangmu keluar dari sini. And well, I am protecting you that’s why I changed the passcode,” jelas Marcus.

Sophie menggeleng. “Kau tidak perlu melakukan itu.”

Of course, I am. Aku tidak mau kehilangan asisten lab terbaik,” jawab Marcus santai. “Lagipula, aku tidak bisa membiarkanmu hidup di luar sana sendirian, Soph.”

“Aku …. Mereka ….”

“Sophie, dunia adil dalam caranya sendiri. Kita dan mereka punya lakon sendiri dalam kehidupan ini. Kau pintar dan berbakat, maka peranmu menjadi peneliti agar kehidupan menjadi lebih baik di masa depan. Peter Darren tidak secemerlang dirimu tapi ia beruntung lahir pada keluarga miliarder, maka perannya membayar segala hal tentang riset ini. Para subjek penelitian, mereka tidak cemerlang dan tidak pula beruntung. Satu-satunya yang mereka lakukan untuk bermanfaat adalah berpartisipasi dalam riset ini,” Marcus menguraikan. “Kau lihat kan, Soph, we all have our own roles.”

Hening. Sophie kehilangan kata-kata untuk merespon Marcus.

“Jadi … sekarang bagaimana?”

“Kembali pada peranmu,” jawab Marcus simpel. “Bukankah kau bilang kita punya masalah atrofi papila dan otot? Kita sempurnakan riset ini, lalu subjek penelitian kita setidaknya akan lebih beruntung.”

Kini ia mengerti mengapa Marcus benar-benar sangat fokus dalam setiap riset mereka. Sophie pikir ia tidak peduli, tapi ternyata ia menunjukkannya dengan cara yang lain. Dunia mungkin memang tidak adil, tapi setidaknya Sophie bisa membantu menyeimbangkannya.

Dengan tekad baru, Sophie menerima laporan riset yang sudah dikoreksi Marcus.

Waktunya memenuhi peran dalam hidup.

©2016 qL^^

 

Advertisements

5 thoughts on “Peran Kehidupan

  1. Aaaah keren…. aku suka marcusnya. Dan Sophie sepertinya juga suka, jadi Marcus pilih aku atau Sophie? /Apa sih

    Temanya masa depan gitu ya ka? Waah jadi yang bisa ‘makan’ cuman orang orang tertentu dan sisanya makan pake pil… wuiiih kebayang dah.

    Aku gak bisa komen apa apa lagi hahahaha pokoknya sukaaaa

    Like

    1. halo sunyafly! salam kenal, aku Qiqi 🙂

      yep, betul sekali dan Marcus bersama Sophie adalah orang-orang yang memproduksi pil tersebut. Hmm, semoga Marcus memilih yang terbaik, eh. #loh

      wkwkwk.

      Liked by 1 person

  2. Hai qL^^, lama gak baca tulisanmu. Jadi kangen. Ini topiknya menarik ❤. Aku suka baca tulisanmu, rapi dan jadi belajar beberapa kosakata yang awalnya belum aku gunakan waktu menulis. Semangat ya qL^^, ditunggu karya-karyamu yang lainnya. 😁

    Like

    1. halo, Titis! Aku emang sudah lama ga nulis, hiks dan kangen juga baca komenmu hehe. Terima kasih sudah baca dan semangatnya ya tis ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s