Peluk Tanpa Jarak

smart-mom

by Niswahikmah


Nenek punya tiga anak, yang seringkali dipanggil: Neni, Neno, dan Noni. Ketiganya perempuan, dan betapa mulianya orang tua yang dapat merawat dengan baik ketiga putrinya. Maka, Nenek tidak pernah lelah membesarkan mereka, sebaik mungkin.

Takaran baik yang sebetulnya keliru. Kekeliruan yang baru disadarinya berpuluh tahun kemudian. Saat ketiganya sudah berkeluarga.

***

Sore di tanggal 23 Januari, bertepatan dengan hari jadi pernikahan Neni yang kesepuluh. Nenek hafal tanggal itu, jadi dengan tergopoh-gopoh ia menyiapkan diri bertandang. Sore itu hujan menerpa wilayah putrinya tersebut, membuatnya sedikit basah ketika berjalan setelah turun dari minibus.

“Assalamualaikum. Neni, ini Ibu!”

Usia yang sudah lebih dari enam puluh tidak menyurutkan semangat dan kobaran senyumnya. Dilihatnya, seorang laki-laki yang keluar dari bilik rumah Neni. Bersungut-sungut seakan marah.

“Urus saja dirimu sendiri, aku pergi!” seru lelaki itu. Di tangannya ada koper besar beserta beberapa berkas di tangan satunya.

Nenek hafal, itu Darto, suami Neni.

Walah, ini mau ke mana? Ibu baru saja sampai,” ujar Nenek ketika Darto sudah membuka pagar kecil rumah itu. Rumah yang diwariskan Nenek kepada Neni.

“Sudah selesai pernikahan ini, Bu. Kami sudah sepakat berpisah. Maaf, Bu, mungkin waktunya nggak tepat sama kedatangan Ibu. Lain kali, aku janji berkunjung lagi, besuk Ibu,” ujar Darto setelah sedikit syok dengan kehadiran Nenek di depan rumah.

Nenek diam saja, namun hatinya terluka seketika. Bahkan ketika tangannya disalimi, ia sudah tak kuasa menatap mata menantunya itu—yang kini jadi mantan. Apakah gerangan masalah yang menimpa rumah tangga mereka sampai harus berpisah?

Maka, dengan segera Nenek melangkah ke dalam rumah, tentu untuk menemui Neni.

“Ada apa, Nak?” hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya ketika Neni muncul dengan daster yang berantakan, muka kusut seperti harus disetrika terlebih dahulu.

Neni membuang napas panjang. “Duduk dulu, Bu. Kusiapkan teh atau susu.”

Ketika putrinya itu hendak beranjak, Nenek tahan tangannya. Bertanya lagi ia dengan mata yang lebih berkaca-kaca, “Ada apa?”

Mau tak mau Neni duduk, setelah menuntun ibunya itu untuk duduk pula di sofa. Dijelaskannya bahwa ia tak mau rumah yang milik dia, kuasa dia, hendak dijual demi usaha keluarga yang belum tentu dapat Darto tangani sampai sukses. Darto sendiri baru di-PHK dan setiap hari Neni marah-marah karena suaminya itu belum juga dapat kerja.

Frustrasi, Darto memutuskan melayangkan talak satu. Pikirnya, mumpung mereka belum punya keturunan.

“Rumah ini pemberian ibu. Yang ibu beri untukku, ibu bilang harus kujaga. Yang milikku, itu milikku, jangan berikan pada orang lain. Ibu bilang begitu.”

Sore itu, hari ulang tahun pernikahan Neni. Nenek datang, namun nyatanya hari itu malah menjadi hari perceraian anaknya itu.

Dan, kesalahan pertama Nenek yang terbongkar sore itu: tak pernah ia ajarkan makna berbagi pada Neni, si putri sulung.

***

Bulan berikutnya, 23 Februari, entah mengapa Nenek mendapat mimpi mengenai Neno. Anaknya yang mahir agama sampai bisa berceramah di mana-mana. Keluarganya masyhur bahagia, tak perlu ada yang dikhawatirkan.

Namun, selepas mimpi itu, perasaan Nenek tidak nyaman. Ia tergopoh-gopoh menuju rumah putrinya itu, meski harus menempuh perjalanan yang tidak sebentar.

Setiba di sana, pagar menjulang itu seolah tak mau terbuka untuknya. Ia tekan bel di depannya, berulang kali, barulah ada yang membukakan. Namun, betapa terkejutnya Nenek karena yang keluar adalah remaja perempuan berkaus tanpa lengan, dengan laki-laki di gandengannya.

“Lo, Nenek? Nenek, ‘kan?”

Itu Shafa. Cucunya yang terakhir kali ia lihat masih berkerudung panjang. Ke manakah jilbabnya, dan mengapa ada laki-laki yang tidak dikenali Nenek di sebelahnya?

“Shafa, bajumu ke mana, Nak?” tanya Nenek.

Gadis itu hanya tersenyum kecil. “Nenek masuk dulu saja. Tunggu ibu pulang sore nanti, pasti bajuku berubah nanti.”

Sorenya, barulah Neno pulang. Keluar dari mobil yang dikendarai supirnya, dengan kerudung panjang yang biasa dikenakannya. Sejak suaminya meninggal beberapa bulan silam, ia memutuskan menghabiskan hari-hari sebagai muballighah.

Saat itu pula, Nenek tahu kalau Shafa sudah berubah jadi bunglon. Ia patuh dan baik di hadapan Bundanya, namun jika sudah ditinggal berhari-hari, kelakuannya tak ubahnya anak jalanan tak diberi ajaran agama.

“Ibu kenapa ke sini nggak bilang-bilang dulu? ‘Kan bisa kubelikan oleh-oleh dari Makassar.” Neno masih berbicara selagi menghidangkan teh dan biskuit di meja.

Nenek menggeleng. “Buat apa oleh-oleh, kalau keluargamu saja seperti ini?”

“Ada apa, Bu? Shafa baik-baik saja, kok, aku juga sehat.”

“Kata siapa Shafa baik-baik saja? Kamu sudah jadi muballighah, tapi mata hatimu belum sepenuhnya peka. Bahkan, ibu yang ada di luar kota saja tahu ada yang salah dengan kalian.”

Mengakhiri ucapannya, Nenek sudah tak mampu membendung air matanya. Seingatnya, ia sudah mengajarkan makna berbagi pada Neno, tapi ada lagi hal yang ia lupa ajarkan: bagaimana membagi waktu dengan bijak untuk keluarga.

***

Anggap saja masalah sebelum-sebelumnya sudah selesai. Karena bulan ini, tepat tanggal 10 April, Nenek memutuskan mengunjungi Noni. Bukan untuk firasat buruk, atau ulang tahun perkawinan, ia hanya rindu.

Rumah Noni berada di dekat pesisir pantai, begitu klasik dan menyejukkan. Suaminya pengusaha, anaknya masih harus digendong ke mana-mana—belum bisa jalan. Ketika Nenek tiba, Noni membukakan pintu masih dengan menyuapi anaknya.

“Ibu ke sini kok nggak bilang-bilang? Lagi berantakan rumahnya, Bu.”

“Ya sudah, ndak papa, nanti ibu bantu bereskan ‘kan bisa. Ibu kangen sama cucu ibu ini, lo.” Nenek merangsek hendak mengelus pipi Harun kecil, tapi Noni menepisnya.

“Cuci tangan dulu, Bu, mau pegang anak kecil.”

Nenek tersenyum paham. Ia segera meletakkan tas dan melangkah hati-hati menuju kamar mandi. Ketika baru menyalakan keran untuk mencuci tangan, didengarnya suara ribut-ribut dari pintu depan.

“Kuburin aja sendiri, saya nggak mau urunan kematian atau apalah itu. Orang kikir kayak dia mah mati aja susah. Salah sendiri kelakuan kayak gitu!”

Seruan itu milik Noni. Pelan, Nenek melangkah kembali ke ruang tamu. Dilihatnya Noni masih bersungut-sungut sebal.

“Itu tadi siapa, Nak?”

Noni angkat bahu. “Narik iuran kematian. Males banget, yang mati aja pelit banget. Ibu sendiri yang bilang ‘kan, hidup ini timbal balik. Jadi, kalau kita memang nggak dibaikin, buat apa berbuat baik ke dia?”

Nenek tercenung. Tatapannya nelangsa ketika melihat Harun, seperti ada seberkas kenangan tak terbaca di sana. Kemudian berpindah pada Noni, ia ingat kalau ia tidak lupa mengajarkan indahnya berbagi, juga selalu mengajarkan bagaimana membagi waktu dengan baik. Anaknya itu bahkan memilih berhenti bekerja sejak memiliki anak.

Tapi, ia lupa menambahkan satu hal dalam ajaran “berbagi”-nya: berbagi haruslah ikhlas tanpa pamrih, apalagi pada tetangga. Karena merupakan wajib menghormati dan memenuhi hak-hak tetangga.

***

Di antara tiga kunjungannya, Nenek hanya mendapat hampa dan kekecewaan. Mengobati susah hatinya tersebut, Nenek mengadu pada Tuhan dalam sujud-sujud panjangnya di usia senja. Akulah saksinya, aku selalu melihatnya.

Sebagai cucu Nenek yang tak pernah terlahir, aku tetap tahu bagaimana Nenek menimangku dalam doa-doanya yang tak putus-putus. Nenek memang tidak pernah bisa memeluk cinta-cintanya (anak, cucu, menantunya, dan almarhum Kakek), namun aku saksinya, bahwa Nenek senantiasa memeluk mereka dalam doa. Begitu erat, tanpa jarak.

Karena terkadang kata dan perbuatan tidak menimbulkan efek berarti. Karena di dalam kata dan perbuatan untuk mengingatkan masih ada jarak antara manusia dan Sang Pencipta. Sedangkan sujud Nenek mengikis jarak itu dalam kesunyian.

 

fin.

Advertisements

15 thoughts on “Peluk Tanpa Jarak

  1. Terkadang emang ucapan orang tua itu kudu ati-ati soalnya si anak kalo nangkepnya juga bakal beda-beda, kadang ada yang bisa nangkep dalam sisi positif dan ada pula yg sebaliknya. baca ini jadi inget nenek saya dulu yang sudah meninggal pas saya sd. Hikmahnya sampai ke pembaca, penggambaran karakternya juga jelas. Dari dulu pengen nulis cerita yang kaya gini tapi masih belum mampu huhu

    Bytheway, aku Salsa dari garis 98 hehe. salam kenal ya~

    Like

    1. Iya, kalau kata Ali bin Abi thalib juga ‘Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena ia tidak hidup di zamanmu’. Jadi orangtua memang tanggung jawabnya besar :’)

      Salam kenal juga kak, Niswa dari garis 99 ^^

      Like

  2. Aduh Nis, aku terhening bacanyaa. Sukaaa!
    Cara Niswa ngasih contoh kejadiannya itu bikin aku kaget sambil manggut2 *?*. Memang kudu hati2 dalam mengajarkan kebaikan ke anak kelak, jangan sampai disalahartikan kayak bgini 😦
    Terimakasih Nis atas ceritanya 😀

    Liked by 1 person

    1. Aduuh sampai terhening ya, yuk bergerak lagi kak XD
      Hehe iyaa harus banget hati-hati dalam mengajarkan hal-hal baik, jangan sampai kurang lengkap atau ada yang terlewat. Terima kasih kembali sudah berkunjung dan meninggalkan jejak ^^

      Liked by 1 person

  3. duh duh duh udah lama gak baca fiksi, sekalinya baca lagi langsung yang berbobot banget gini :” ngedidik anak emang susah ya, bisa jadi pembelajaran buat kita-kita yang ini, terutama nantinya calon-calon ibu. aku juga jadi ngerti, tanggung jawab ortu itu gedeeeee banget, dan kita sebagai anak-anak juga ya, memang tetep bergantung sama ortu, tapi juga harus bisa menginterpretasikan dengan baik. ini bagus banget, nis! maknanya jelas banget, dan entah kenapa, aku selalu senyum-senyum sendiri waktu baca yang Nenek lupa mengajarkan … gak tahu kenapa. keep writing yaaa ❤

    Like

    1. Waah suka sama komentarmu. Betul banget, selain pengetahuan dari ortu, juga harus cari ilmu sendiri. Jadi ajaran ortu nggak ditelen mentah-mentah kayak anak-anak si Nenek ini, juga harus didasari ilmu yang telah didapat.
      Makasih sudah berkunjung yaa, keep writing too! ❤

      Like

  4. Ini sederhana tapi membekas :’) Begitu baca paragraf pertama aja udah ada semacam magnet yg narik buat mbaca; dari scene satu, oke, scene kedua, manggut2, scene ketiga, ngelus dada, nahh yang terakhir itu serasa ada gong yang ngebikin air mata keluar dan hati berdesir :’) Jadi sadar betapa beratnya peran ortu buat anaknya :’)

    Ini klasik tapi epic bgt :”

    Like

    1. Halo Kak Kevin, salam kenal sebelumnya. Terima kasih sudah berkenan membaca dan berkomentar. Yap, kenyataannya memang menjadi ortu itu sulit :”)

      Alhamdulillah kalau kakak suka. Tysm for comment ^^

      Like

    1. Haloo Kak Vey, makasih kunjungannya. Ini masih penuh kekurangan perihal plot, tapi syukurlah kalau Kakak suka. Semoga bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita semua ^^

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s