Obscure Sorrow: Kudoclasm

by dhamala shobita

.

“Siapa yang tahu apakah aku akan hidup di tempat yang paling rendah di bumi atau berkuasa di langit tertinggi, atau bahkan aku harusnya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu tinggi untuk bermimpi, tidak terlalu rendah untuk larut dalam gelapnya kenyataan.”

Aku tengah nyaman berdiri di puncak tebing yang tingginya tak terkira. Menembus awan hingga kakiku mampu mengayun menembusnya. Bumi di bawahku hanya tampak kehijauan, tidak jelas mana gedung kota metropolitan, mana yang berupa ladang dan sawah. Sungai bagaikan ular, laut bagaikan oasis. Di atas kepalaku, langit biru dan awan putih, seperti kepulan asap yang tidak pernah hilang.

Akhir-akhir ini, banyak mulut berkomentar tentang kebiasaanku bermimpi. Padahal bukannya aku bermimpi perkara kotor atau mimpi tak bermakna. Aku hanya memimpikan masa depanku yang sebenarnya tak ada satu orang pun berhak berkomentar atasnya. Jika kutanya sendiri pada diriku di depan cermin, tidak pernah kudapat jawaban atas pertanyaan dariku sendiri. Atas dasar apa aku dapat membiarkan orang-orang mengomentari mimpiku? Ah, persetan dengan orang-orang itu. Aku tidak sedang membicarakan mereka.

Sekarang aku ingin bertanya, mengapa perlu terlalu sibuk bermimpi sehingga dalam satu kedipan mata, duniaku yang mungkin kurasa hanya beberapa jam, berbalik menjadi beberapa tahun? Oh, aku lupa ini bukan di negeri kahyangan. Satu hari boleh punya dua puluh empat jam, tidak kurang dan tidak lebih. Lalu berapa banyak waktu yang harus aku sisihkan untuk bermimpi? Bukan sekadar mimpi. Aku merencanakan kehidupanku.

Aku di masa seragam putih abu-abu membayangkan dengan jelas menjadi seorang farmakologis, bergumul dengan obat-obatan, meracik, menghapal jenis dan khasiatnya, meramu sesuatu. Maka aku belajar, entah bagaimana untuk bisa meraihnya, setiap hari.

Aku bermimpi tentang buku dengan namaku yang berjajar di toko buku. Aku bermimpi tentang tulisan-tulisan yang membuat pembacaku merasa bahagia, merasakan makna ketika membacanya. Aku bermimpi tentang masa depan, wirausahaku yang memberikan lapangan kerja untuk orang-orang, kemudian rumah sederhana dengan perpustakaan di dalamnya. Sepasang anak kecil yang kudongengkan sebelum tidur, juga pasangan hidup yang selalu menyempatkan diri membagi ceritanya sepulang kerja.

Aku dulu menulis daftar, tentang tempat-tempat yang ingin kukunjungi. Tentang tabungan rinciku untuk menyambanginya. Bagaimana foto yang akan kuambil di sana, tempat mana yang kukunjungi, dengan siapa aku pergi.

Aku benar-benar merasa seperti hidup di atas langit, mengembara, dan mewujudkan semua mimpi-mimpiku. Tapi nyatanya aku bahkan tak punya waktu untuk itu. Aku bermimpi tentang usia dua puluh di usia lima belas, kemudian waktu berjalan hingga aku berusia dua puluh. Aku bermimpi tentang dua puluh lima di usia dua puluh, waktu berjalan sekejap saja menjadi usia dua puluh lima. Waktu berjalan dalam hitungan kedipan mata, dan ketika kau selesai berkedip, putarannya sudah terlampau jauh hingga kau sulit untuk kembali atau sekadar memperbaiki.
Aku berpikir lagi tentang hal-hal yang belum sempat kulakukan dalam daftar, tempat-tempat yang belum sempat kukunjungi, dan tujuan-tujuan yang belum sempat kuraih. Kemudian dalam sekejap mata, ketika aku berpikir tentang semua hal yang belum sempat kukerjakan, aku terjatuh dari ketinggian. Bagaimana rasanya? Jantungmu seperti terlepas dari tempatnya. Pandanganmu buram. Seluruh mimpi seolah luluh lantak, hancur berkeping-keping ketika aku sadar bahwa waktuku tak lagi banyak. Dadamu sesak dan kau seperti tidak lagi bisa bernapas dengan benar.

Bahwa kini aku bukan seorang ahli farmasi seperti yang pernah kuinginkan. Bahwa tulisanku hanya seperti butiran debu di antara ribuan bahkan jutaan ton pasir di bibir pantai. Bahwa aku masih berdiam di tempat yang sama dan belum mengunjungi tempat-tempat dalam daftar yang kususun beberapa tahun silam. Bahwa aku masih berkutat dengan tujuan-tujuan dalam hidupku yang menumpuk seperti tumpukan dedaunan kering di pekarangan rumah, dan sama sekali belum kubersihkan.

Dan ketika aku terjatuh, ketika di sekelilingku sudah tak ada lagi awan, aku terhempas ke bumi. Ke dalam sebuah gubuk di lembah yang sunyi. Aku terjatuh tapi tidak mati. Tepat di sudut, menemukan kegelapan dalam dunia nyata. Dan ketika aku membuka mata, di sanalah kenyataan itu berada. Berbanding terbalik dengan semua mimpi dan angan yang sudah dengan apik kususun. Menyedihkan. Tidak lebih baik dari apa pun. Tidak ada tanda centang dari daftarku.

Tapi mungkin aku tahu, bukan di situ aku berada.

Aku mencari jalan keluar dari setitik cahaya yang merangsang pupilku. Hanya setitik, tapi mungkin dapat membuatku kembali terbang ke langit. Siapa sangka, mungkin aku memang ditakdirkan untuk hidup di langit. Di antara angan dan impian yang kemudian hari akan menjadi nyata. Siapa yang tahu jika kenyataan yang gulita itulah yang sebenarnya berupa fantasi, angan terburuk yang kucapai ketika aku tidak bisa mencapai impianku. Siapa yang tahu apakah aku akan hidup di tempat yang paling rendah di bumi atau berkuasa di langit tertinggi, atau bahkan aku harusnya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu tinggi untuk bermimpi, tidak terlalu rendah untuk larut dalam gelapnya kenyataan.

Tapi di waktu yang sama ketika aku berpikir waktu terlalu cepat berlalu, mungkin sebenarnya yang terjadi adalah kebalikan. Kekhawatiran akan masa depan, akan semua mimpi tersebut yang membuat semua terasa lebih cepat. Seperti dalam kedipan mata. Dan saat itu juga aku tidak yakin, apakah waktu berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Yang jelas, jika dalam sekejap mata, waktuku kembali berlalu. Setidaknya aku tahu aku sudah mulai melakukannya, untuk terbang cepat dalam batasku. Untuk melewati titik rendah, menjadikannya sebagai ancang-ancang untuk sampai di tempat yang lebih tinggi, kemudian menjaga keseimbanganku di tengah. Tepat di antara mimpi dan realita yang kuhadapi. Tepat ketika waktuku berlalu dalam kedipan mata. Aku sudah tahu di mana harusnya letak diriku.

Kudoclasm
The future is already rushing towards you. Sometimes it feels like your life is flashing before your eyes, but it’s actually the opposite: you’re thinking forward, to all the things you haven’t done, the places you intend to visit, the goals you’ll get around to…

the end.

Advertisements

One thought on “Obscure Sorrow: Kudoclasm

  1. gatau mal, tapi aku ngerasa tersentil baca tulisanmu yang ini. apa, ya? aku juga dulu suka berencana ini-itu, blablabla, di usia lima belas membayangkan usia dua puluh, di usia dua puluh membayangkan usia dua lima, sampe akhirnya tahun ini usiaku dua puluh empat dan hal-hal yang aku rencanakan, aku impikan, masih jauh dari kata terealisasi. somehow itu nonjok aku banget huhuhu. waktu yang cepet banget berlalu, sementara aku masih segini-gini aja. boro-boro merayakan hidup, menyambung hidup aja kadang ngerasa udah kesulitan hahahahaha. omg, i love your writing maaaaaal xx

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s