Perindu Malam

cov

Perindu Malam

OtherwiseM presented

Aku rindu malam.

.

.

.

Aku rindu malam.

Rindu bentangan hitam di cakrawala. Rindu bintik putih di langit. Rindu cara angin membelai nakal kulit. Rindu kursi taman yang sering kududuki.

—rindu kakak.

.

.

.

Kala kubuka mata, kepalaku langsung berputar ke arah jendela. Sudut bibirku terangkat tinggi. Kusibak selimut yang menutupi tubuh dan kedua kaki tak beralasku buru-buru bergerak melewati pintu, menuruni tangga, menginjak rerumputan, dan berhenti saat aku mendapati sosoknya di sana. Tersenyum hangat dengan lambaian tangan.

“Kakak datang lagi?”

Kak Joe terkekeh. “Sudah bosan melihatku, ya?”

Aku mengangguk pelan seraya mendudukan diri di bangku. “Saat aku melihat cermin juga aku seperti sedang melihatmu. Lama-lama jadi bosan.”

“Lagi pula, siapa suruh menyalin wajahku?”

Aku mendesis panjang. “Ingin coba tinjuku?”

Kak Joe tertawa. “Belakangan kau jadi sering mengancamku. Sedang PMS atau bagaimana?”

“Kakak!” Aku menjerit, namun tawa Kak Joe kian gencar menyumpal telingaku.

“Omong-omong tadi aku bertemu gadis cantik. Rambutnya hitam pendek sebahu, pakai gaun merah jambu selutut. Tidak seseksi gadis yang kutemui kemarin sih, tapi dia menggemaskan.”

Aku memutar mata malas. Kakak kembar enam menitku ini memang hobi sekali menemui gadis-gadis cantik. Memberi mereka secarik harapan palsu lantas menelantarkannya begitu saja saat sudah merasa bosan. Beruntung tampangnya mendukung.

“Mau sampai kapan kakak main-main begitu? Tidak takut kena karma?”

Kak Joe tertawa lagi. Entah kenapa malam ini ia lebih sering tertawa. Sepertinya sudah terjadi hal baik.

“Kau juga. Kapan mau cari pacar? Tidak bosan sendirian terus? Memang tidak ada satu gadis pun yang menarik untukmu?”

Aku mendengus. “Jangan nodai aku dengan doktrin playboy murahanmu itu, Kak.”

Kak Joe menatapku lekat—aku bisa merasakannya dari sudut mata. Malas-malas aku menghadapnya. Wajah alay itu lagi.

“Apa jangan-jangan … kamu itu homo?”

Mataku membelalak. Sejurus kemudian tinjuku melayang, namun Kak Joe yang entah sejak kapan terbiasa dengan serangan tak terdugaku itu mengelak dengan cepat. “Kau gila! Homo apanya? Aku masih normal tahu!”

Kak Joe tertawa lagi. Kali ini lebih keras.

“Jangan tertawa! Ingin kuhajar ya?”

“Zoe, Zoe, ya ampun! Kau harus lihat mukamu! Hahaha!”

“Joe, ini tidak lucu!”

Tawa Kak Joe perlahan berhenti. Paham betul kalau aku sudah memanggil namanya tanpa embel-embel ‘kakak’ berarti aku benar-benar marah.

“Kau sungguh tidak ingin mencari orang lain? Atau teman juga. Sungguh tidak berminat?”

Aku menatap Kak Joe yang tengah menengadah itu lekat-lekat. “Sudah berapa kali kubilang, aku sudah muak dengan mereka. Bagiku bersama kakak saja sudah cukup.”

“Kau tidak bisa terus begini, Zoe. Ayah dan Ibu tak akan senang di atas sana.”

Aku membuang napas kasar. “Sejak kemarin kakak bicara begini terus.”

Mata hitamnya bersirobok dengan milikku. “Berhenti menutup diri. Berhenti mengamuk. Berhenti egois. Bisa tidak kau lakukan itu untukku?”

Permintaan berulang yang terlontar di setiap percakapan kami. “Berbuat begitu pun, mereka akan tetap jahat padaku.”

“Tidak, Zoe! Aku tahu ini tidak adil—hidup memang tak pernah adil pada setiap orang. Tapi kau harus benar-benar berubah. Jangan begini terus.”

Aku menatapnya sebal. “Memang kalau aku berubah, kakak akan bisa menghabiskan waktu sepanjang hari lagi denganku?”

Kak Joe terdiam. Lama sampai aku kesal sendiri menunggu tanggapannya. Kak Joe memang selalu mendadak bisu saat aku bertanya atau memintanya bertemu denganku saat rembulan beristirahat.

“Memang kakak benar-benar sesibuk itu ya?”

Kak Joe menatapku sebentar lantas mengangguk. “Kau harus kembali bersosialisasi. Kau harus hidup dengan baik. Duniamu tidak boleh hanya terbatas denganku saja.”

“Hanya kakak yang akan dan selalu melindungiku. Aku tak butuh orang lain.”

“Aku bukan kura-kura yang umurnya panjang, Zoe.”

“Kita ‘kan bisa bersama selagi masih ada waktu.”

Kak Joe membuka mulut, namun beberapa detik kemudian mengatupkannya kembali. Seulas senyum terbentuk setelahnya. “Baiklah. Kalau begitu kau harus kembali ke kamarmu. Tidur dan makan yang benar, ya!”

Aku memberengut. “Kakak mau pergi lagi?”

Kak Joe mengangguk. “Orang tampan kan punya banyak urusan.”

Aku mendengus. Wajah alay itu lagi. “Ya sudah. Hati-hati, ya! Besok malam jangan lupa datang lagi.”

Kak Joe mengangguk.

.

.

.

“Apa kau lihat pasien dari kamar 305?”

“Dia tidak ada di kamar? Apa pergi ke taman belakang lagi?”

“Ya tuhan, apa kita sungguh harus mengikatnya tiap malam agar tidak kabur terus begini?”

.

.

.

“Tapi aku sudah tidak punya waktu lagi, Zoe.”

-end-

.

Ng … halo … ini … gaje … ya ….
Btw, happy debut di ws si kembar kesayangan Joe-Zoe♥♥

Versi OC si kembar tampan Youngmin-Kwangmin♥
Versi OC si kembar tampan Youngmin-Kwangmin♥
Advertisements

8 thoughts on “Perindu Malam

  1. Sebentar. Jadi si joe-nya ini udah nggak ada di bumi terus si zoe nih di rumah sakit kan yaa? That’s why mereka ketemunya cuman bisa malem-malem, terus tiap malem mesti si zoe dicariin sama para perawat??? ARGH kirain si joe gapunya waktu lagi kenapa, eh taunyaa heuheu. Terus terus yang pas si joe bilang dia ketemu wanita… jangan-jangan itu penunggu rumah sakit lagi heu :” ah sumpah ganyangka ternyata si joe-nya malah udah ga ada huhuhuhu atuhlah 😦

    Liked by 1 person

    1. Aloh kak fika maapin baru kubalas huhu T.T
      Iyaa benar kak wakakaka joe-nya makhluk malem /?/ jadi mereka berdua cuma bisa ketemu malem-malem wkwkwk
      Makasih udah baca kak^^ hihi~

      Like

  2. Awalnya pas baca ini di awal aku pikir si tokoh ‘aku’ ini tuh cewek, tapi ternyata cowok wkwkwkwkwk daaan, aku sebenernya udah was-was(?) karena kok cowok sama cowok percakapannya se-so sweet ini hahaha aku sampe mikir, jangan-jangan si tokoh ‘aku’ beneran homo, terus dia naksir kakaknya sendiri. Hahaha.
    Tapi ternyata……… kayaknya si kak Joe ini udah meninggal, ya? Terus dia emang suka nyamperin si Zoe ini malem-malem, dan terus si zoe ini juga udah woles-woles aja ya ketemu sama si kakak walau udah tau kakaknya udah meninggal. Duh, emang ya… ikatan sayang antara anak kembar memang lain daripada yang lain XD

    Liked by 1 person

    1. Halo^^ maapkeun telat banget balasnya huhu T.T
      Woahh makasih banyak ya haha xD ternyata susah jadi cowok /?/ wkwkwk
      Iya aku jadi pingin punya anak kembar jadinya T.T /apa hubungannya/
      Makasih banyak ya udah baca hehe^^

      Like

  3. Aw jadi kak Joe-nya pasien rumah sakit toh:( Jadi udah kayak pesan terakhir gitu ya. Soalnya kan mana tau besok dia masih bisa kabur atau enggak:( Aduh ayo dong Zoe! Bersosialisasi! Kasian kan kalo begini yang satu teriris karena gak bisa ngungkapin, yang satu teriris kala yang lainㅡbakalㅡ gak kunjung datang:(

    p.s : tadinya kukira juga Zoe itu perempuan loh, dari namanya, terus dengan sebutan PMS dan cara dia menceritakan fic ini since pake sudut pandang ‘aku’. Makanya agak ngerutin kening ketika di bawah ada kata ‘homo’. Pas baca a/n-nya akhirnya ditetapin kalau Zoe itu cowok.

    Liked by 1 person

  4. Boleh ikutankah? Selain agak bingung dengan karakter adik yang cewek banget, juga agak heran dengan hubungan mereka yang seperti selisih umur jauh (sekian tahun, bukan menit). Tapi kalau soal cerita/alur/finesse dll.. asyik deh! 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s