Dance with Me

by fikeey

She denies it. But truth is she’s falling in love with him.

Ia selalu berkata bahwa dirinya adalah seorang penyendiri—yang datang ke dunia ketika derum petir tengah bersahutan di atas atapnya, yang selalu merasa aman ketika langit sedang mencurahkan air matanya. Ia selalu berkata bahwa dirinya selalu mencintai warna kelam yang menaungi seluruh penjuru kota, seolah membagi duka bagi siapa pun yang menengadahkan wajah mereka.

Dan fakta bahwa ia bertemu denganmu di kala awan kelabu tengah menggantung di atas sana, tak ada alasan lain ia selalu menyimpan memori atas dirimu di sudut paling apik di kepalanya.

Dance with me and pretend that the world doesn’t exist.” Ia berkata di suatu sore yang gelap. Rintik hujan yang kian deras di luar sana menjadi latar belakang deret kalimatnya yang diiringi nada meminta.

Kau melihat langsung ke arah matanya—dwimanik gelap yang beberapa menit lalu menyajikan sepiring kebenaran setelah tiga bulan ini ribuan pertanyaan berkecamuk di kepalamu. Siapa ia sebenarnya, di mana ia tinggal, pun pekerjaan apa yang mengharuskannya membalas pesan atau teleponmu belasan jam kemudian. O, jangan lupa dengan nada lelah yang luar biasa dan kadang kau bisa menangkap besetan luka kecil setiap kalian akhirnya bertemu.

Udara di luar dingin dan belum ada dua menit kau membiarkan dirinya menggiringmu, sweter rajutmu telah sepenuhnya basah, anak-anak rambutmu tak lagi beterbangan dan seulas senyum tipis sejak ia membeberkan sekelumit kisah hidupnya tadi muncul mewarnai wajahmu. Kau bahkan berteriak pelan ketika tiba-tiba ia memosisikan kedua tangannya di pinggangmu dan memutar tubuhmu.

Untuk sesaat, kau bisa melupakan seluruhnya—orang-orang yang mungkin menonton kalian berdua dengan ekspresi aneh, atau deadline kerja yang seharusnya kau selesaikan malam ini.

Ketika ia menarikmu mendekat dan mengistirahatkan dahinya di bahumu, ada detak asing yang tersulut, seolah perasaan getir yang tadi sempat menyelimutimu kian meluntur. Napasnya kontras dengan udara dingin yang di sekelilingmu dan ritmenya tenang seolah meninabobokanmu.

Ia mengangkat kepalanya setelah beberapa saat, tersenyum kecil seraya menempelkan dahinya padamu. “Come with me.

Pandanganmu tertuju padanya dalam hitungan detik, alis bertaut sembari berusaha mencari kebohongan—atau keraguan—di matanya. Well, nihil. Ia bahkan tak mengalihkan perhatiannya darimu barang sedetik.

“Tapi ….” Dan kau benci karena nadamu terdengar lemah dan penuh ketidakpastian.

I’ll keep you safe.” Ia berkata lagi—lebih yakin kali ini—seolah merasakan pergumulan emosi di kepalamu.

And when you nod, you know there’s no turning back.

—-—

  • ketauan lah ya pekerjaan si dia-nya apaan hahaha.
  • thank you for reading anw!
Advertisements