Suitcase

by Adelma 

“I’ve got my life in a suitcase and ready to run, run, run away.”

(The Suitcase Song, Copeland)

.

“Apa aku boleh membawa vinil ini?”

Lou mengacungkan benda pipih yang masih terbungkus cover itu sejajar dengan bahunya. Wajahnya selurus apa aja yang terlurus di muka Bumi. Ia tidak tersenyum. Entah karena sedang malas atau memang sudah kehilangan kemampuan untuk melakukannya. Masa bodoh, Syd jengah memikirkannya. Tak masalah, sih, jika perempuan itu memang berniat untuk tidak tersenyum selamanya, karena yang paling penting sekarang adalah soal kesiapan dirinya untuk menjalani hidup dari awal lagi, benar-benar dari awal, jauh dari titik nol.

“Bawa saja kalau perlu,” sahut Syd pura-pura cuek.

Lelaki itu melirik ke arah sofa; di sana ada koper besar berwarna cokelat yang nyaris penuh. Isinya pakaian-pakaian Lou yang ia yakin belum tersingkir semua dari lemari—yah—sudah pasti perempuan itu masih membutuhkan satu atau dua koper lagi dengan ukuran yang sama. Syd menggeleng pelan, tiba-tiba teringat sesuatu yakni tentang Lou yang nyaris meminta bantuan padanya untuk mengemas pakaian. Tapi, semacam keburu tersadar kalau hal itu memalukan, jadilah perempuan itu menjejalkan semua pakaian-pakaian tersebut ke dalam koper tanpa menatanya lebih dulu.

“Tapi, kenapa? Kau, kan, tahu kalau aku tidak suka Neil Young?”

“Maumu sebenarnya apa? Kalau tidak suka, ya tidak usah dibawa.”

Lou membuang tatapannya dari mata Syd. “Jaga-jaga saja, siapa tahu aku merindukanmu,” jawabnya enteng. “Yang jelas aku tidak mau menyimpan fotomu, itu terlalu biasa.” Toh pada akhirnya ia tetap membawa vinil Neil Young yang tak disukainya itu, menyimpannya begitu saja di atas koper sebelum kembali berkeliling mencari barang-barang yang sekiranya tak pantas ia tinggalkan.

“Jangan dirusak, apalagi dihilangkan.” Syd memperingatkan.

“Jangan khawatir,” sahutnya sambil membawa tungkai kakinya ke arah pantry.

Nyaris empat bulan Lou tak menginjakkan kakinya di rumah ini dan semua tampak sama saja. Barang-barang masih berada pada tempatnya, termasuk pakaian kotor yang selalu Syd lempar sembarangan ke atas ranjang. Sebenarnya Lou mengharapkan sesuatu yang ekstrem, menemukan pakaian dalam perempuan yang bukan miliknya, misalnya? Tapi tidak, nyatanya setiap sudut rumah ini steril dari benda-benda seperti itu.

“Kau benar-benar tak pernah membawa perempuan ke mari?” Lou bertanya sembari membuka laci konter lantas mendapati cangkir merah kesayangannya tersimpan rapi di dalam sana, bersampingan dengan yang berwarna biru tua milik Syd.

Mendadak ia penasaran, apakah Syd masih sering menggunakan cangkirnya yang ini?

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Suara Syd terdengar dekat dan saat Lou menoleh, lelaki itu berada tak jauh di belakangnya. Sosoknya tinggi menjulang seperti biasa, tak lupa dengan kedua lengan terlipat di dada.

“Katanya laki-laki lebih rentan kesepian, Syd,” katanya sinis sambil mendorong laci sampai tertutup.

Syd mengerling. “Itu berlaku kalau laki-lakinya bukan aku.”

“Arogan.”

“Dari dulu.”

“Jadi, pernah bawa atau tidak?”

“Maaf, tapi itu bukan urusanmu, kan?”

“Oh, iya juga, sih.”

Kadang-kadang Lou rindu berdebat seperti ini. Calon suaminya yang sekarang lebih kalem dan kalaupun berdebat, Lou selalu menang dan anehnya ia tak pernah menikmati kemenangan itu.

“Kau takkan bertanya perihal pernikahanku?” Lou menggoda sambil membuka laci yang lain lalu menemukan sisa peppermint tea miliknya di kotak transparan. Ia tidak tahu jumlah teh itu berkurang atau tidak. Tapi yang jelas, kalaupun berkurang pasti bukan Syd yang minum. Laki-laki itu tidak suka teh.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Sama saja seperti bunuh diri.”

Lou ingin tertawa, tapi malas. Ia tidak mau meninggalkan kesan yang terlalu bagus di kunjungan terakhirnya. Bagaimanapun juga, sekarang Syd adalah orang asing, kalaupun memiliki hubungan, ‘teman’ mungkin sudah status yang paling oke, meski terasa sedikit aneh.

“Tidak apa-apa, aku excited, kok, melihatmu mati.”

Jika boleh jujur, Lou tak menyangka jika kehidupannya bersama Syd akan berakhir secepat ini. Well, ia memang selalu percaya bahwa semua hal yang sifatnya indah akan berlangsung sementara. Hanya saja, yah, seingatnya ia selalu berdoa dengan benar setiap malam, meminta jika hal-hal indah yang ada di hidupnya berlangsung sedikit lebih lama termasuk soal pernikahannya dengan Syd.

“Bukannya pernah, ya?” Syd bersuara di sampingnya, membuka laci yang sebelumnya ia buka.

“Kapan?”

“Waktu di persidangan,” jawab laki-laki itu sambil mengambil cangkir yang merah.

Sorry, saat itu aku terlalu bahagia jadi mana mungkin aku memikirkan keadaanmu?” Lou memandangi lelaki itu. Memerhatikan setiap gerak-gerik yang biasanya ia temukan setiap hari, sejak bangun tidur hingga tidur lagi.

“Sialan.” Bahkan cara lelaki itu mengumpat pun masih menggemaskan seperti biasa, membuat Lou tersenyum tipis sekali. “Cangkir ini tidak terpakai, jadi lebih baik dibawa saja. Favoritmu, kan?”

“Ya, tapi aku tidak mau membawanya.”

“Tapi aku tidak butuh.”

“Tapi tak ada yang tahu kalau suatu hari kau bakalan butuh.”

“Tapi aku sebal melihatnya, aku terlalu sering melihamu ngeteh pagi pakai cangkir ini.” Syd tampak kesal, ia meletakan barang itu di atas konter dengan kasar.

“Aku pikir kau tidak selembek itu,” ejek Lou.

“Lembek? Apanya yang lembek? Enak saja.”

Lou memutuskan pergi sebelum Syd melakukan perlawanan yang lebih panjang. Entah kenapa ia merasa puas saat mengetahui jika lelaki itu sebenarnya tidak … sekuat kelihatannya. Hal sepele seperti cangkir saja bisa membuatnya kelabakan, dan itu mengejutkan. Mumpung tak kelihatan, ia tersenyum sepuasnya saat berjalan menuju bekas ruang kerjanya. Mengabaikan mantan suaminya merutuk di belakang.

“Pengap sekali,” sahut Lou sembari menyibak tirai berwarna hitam yang biasanya ia sentuh setiap pagi. Cahaya matahari berebut masuk ke dalam, menerangi setiap penjuru ruangan itu. Ia menyapukan pandangan, lagi-lagi sekilas tak ada yang berubah dan barang masih berada pada tempatnya.

“Aku tidak pernah masuk ke daerah yang bukan teritoriku,” kata Syd seraya duduk di atas meja kerja yang berdebu, bertukar tatap dengan Lou yang berdiri di depan jendela.

“Untuk sekadar membersihkannya?”

“Aku pikir kau akan kembali, jadi aku biarkan saja ruang kerjamu tetap begini. Tapi ternyata kita benar-benar berpisah,” jedanya sembari tersenyum sinis, “dan keinginan untuk bersih-bersih tidak pernah muncul bahkan sampai detik ini.”

“Memang kaunya saja yang pemalas. Bahkan kamar tidur ki—ah, sorry—kamar tidurmu saja sekarang lebih berantakan dari biasanya. Kalau terus-terusan begini, mana ada perempuan yang mau jadi istrimu?”

Syd hanya merespon dengan senyum timpang lantas menggantung ucapan Lou begitu saja. Baiklah, sebenarnya ia sama sekali tak berniat untuk menikah lagi. Bukan karena ia tak bisa melupakan Lou, tapi karena tak mau dihadapkan lagi pada masalah-masalah yang sama. Masalah yang begitu menguras energi dan pikiran, masalah yang tampak mudah namun ternyata sulit untuk diselesaikan. Ia tak ingin lagi terlibat dalam hubungan yang seserius itu, bahkan, terkadang ia menyesali keputusannya untuk menikahi Lou. Kalau saja mereka tak pernah menikah, mungkin mereka tak akan berpisah. Kalau saja mereka tidak pernah menikah, mungkin mereka masih bisa berbagi perasaan sampai detik ini. Pernikahan telah membuatnya kehilangan banyak hal, pernikahan membuat mereka menjadi lebih egois dan alergi terhadap perbedaan. Sangat menyebalkan. Dan seperti biasa, Lou selalu mengejutkannya. Tak lama setelah mereka resmi bercerai, perempuan itu memutuskan untuk menikahi lelaki yang hadir jauh sebelum dirinya datang. Ya, ia menikahi teman masa kecilnya. Seorang lelaki yang mungkin lebih baik tapi ia yakin takkan lebih berkesan dari dirinya.

“Apa kau yakin akan bahagia dengan lelaki itu?”

Pertanyaan itu telah mengendap di sudut kepalanya sejak sekian lama, dan ia merasa lega bisa mengutarakannya sekarang. Ia takkan melupakan sore di mana Lou memberitahukan rencana pernikahannya. Perempuan itu tampak sangat bahagia, terlihat dari sorot matanya. Alih-alih mengucapkan selamat, ia memilih untuk meminum kopinya hingga tandas, lantas bertanya kapan Lou akan mengambil barang-barangnya.

Delapan tahun kebersamaan mereka hancur oleh pernikahan yang umurnya hanya dua tahun. Kurang berengsek apa?

“Ya, tentu saja.”

Lou pernah bilang bahwa mereka berdua seperti Yin dan Yang; berlawanan tapi saling mengisi. Katanya ia sangat menikmati segala perbedaan-perbedaan itu, tapi sepertinya itu hanya omong kosong karena pada akhirnya Lou tetap pergi untuk lelaki yang ka-ta-nya memiliki banyak persamaan dengannya.

“Kau benar-benar tidak mau kembali padaku?”

“Tidak, terima kasih.”

“Kau pernah bilang kalau kesamaan cuma akan membuat segalanya membosankan. Jadi lebih baik kau kembali saja padaku. Bagaimana?”

Untuk kali pertama setelah sekian lama, akhirnya perempuan itu tersenyum sinis di depannya. “Sekali lagi terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya aku lebih memilih untuk dihadapkan pada sesuatu yang membosankan daripada menyulitkan.”

Syd mengedikan bahu lantas beralih menuju rak yang dipenuhi buku-buku humaniora—jenis bacaan favorit Lou. Ah, entah mengapa rasanya mendadak berat membayangkan bahwa ia takkan lagi menemukan perempuan itu duduk di terasabelakang sore-sore sambil ditemani buku kesayangannya dan secangkir peppermint tea. Rasanya aneh mendapati kenyataan bahwa takkan ada lagi yang memprotesnya karena menjadi perokok, keseringan bangun siang, memutar musik dengan volume gila-gilaan, atau karena terlalu lama di kamar mandi.

Sialan, bukankah selama beberapa bulan ke belakang ia sudah mulai hidup tanpa itu semua dengan baik-baik saja? Lalu kenapa siang ini ia merasa disorientasi?

“Jangan bangun siang.”

Dan apakah perempuan itu benar-benar bisa membaca pikiranku? Lucu, pikirnya. “Aku akan tetap bangun siang.”

“Jangan merokok lagi.”

“Apa pun yang terjadi aku akan tetap merokok.”

“Jangan berlama-lama di kamar mandi.”

“Aku akan tetap berlama-lama di kamar mandi.”

“Jangan putar musik dengan volume kencang.”

“Demi Tuhan itu seru, Lou. Aku akan tetap melakukannya.”

“Jangan lempar pakaianmu sembarangan ke atas ranjang.”

“Kenapa jangan? Itu menyenangkan.”

Biasanya percakapan ini selalu ada setiap hari; setiap malam ketika mereka hendak tidur. Syd menoleh ke arah Lou, tampak perempuan itu tengah menatap ke luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya, ia berusaha untuk tak mau tahu. Biarkan saja. Toh semuanya sudah benar-benar berakhir. Apa lagi yang harus diharapkan? Tidak ada.

“Jangan lupakan aku.”

“Kalau soal itu aku tidak bisa janji,” dusta Syd, ”rasanya tolol jika aku harus terus-terusan mengingatmu dengan sengaja,” tandasnya sinis.

-fin.

  1. Recycle.
  2. Dibuang sayang, di-publish bikin malu.
Advertisements

6 thoughts on “Suitcase

  1. mun yang kaya gini dipublish malu yang ga malunya bakal sepetjah apa?

    KAKNISSSSSS INI TSADEST, ASYIQUE, AH POKONYA MAH SLAAAAY. Nabil seura-seuri mesem kayak jadi Lou aja yang cowonya ngajak rujuk belum bisa move on xd kaknis selalu enak konversasinya ihhh ❤

    Like

  2. Wah, pas ke ending! Kusuka!
    Eh iya, tau novel divortiare nggak? Hahahaha aku ngebayanginnya yang jadi Lou dan Syd ini tuh si dua tokoh utama novel itu, si Alex sama Beno XD
    Duh, padahal ending ceritanya sebenernya sedih sih karena Syd belum bisa move on, tapi aku bacanya malah senyam-senyum sendiri apalagi pas Lou ngasih nasehat-nasehat sederhana kayak gitu……. GEMESSSSS!

    Like

  3. kak nisa, aku pernah baca versi pertamanya yang dulu, hihi. dan re-read ini rasanya tetep sama, ga berubah, tetep kick my feels dan classy-nya tetep top top top. just wanted to say that you’re really awesome so you can keep kicking with amazing masterpieces, my maestro 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s