02.47

“Cut paper, not wrists.”

.

.

Malam—ah, tidak—pagi ini aku terkepung lagi. Kurasakan mereka datang; awalnya bergantian, lantas bersamaan. Aku diam, tak menyambut ataupun mengusir. Biarkan saja, walau bagaimanapun aku juga ingin tahu seberapa besar usaha mereka untuk menghancurkanku pagi ini.

Tubuhku bergelung di lantai, menghadap pintu kamar yang kuncinya sudah kuputar sebanyak dua kali. Tanpa komando, air mataku mengalir tak berjeda. Napasku terganggu karena lendir, pipiku juga basah karena cairan asin.

Aku memang kedinginan, tapi aku tak butuh selimut untuk dihangatkan. Aku memang kesakitan, tapi aku tak butuh obat untuk disembuhkan. Rasa sedih, gelisah, dan marah yang datang adalah bangsat yang sebenarnya. Mereka datang entah dari mana; membuatku merasa bersalah dan lelah, membuatku bingung dan juga merasa tak berguna. Entah sudah berapa banyak telinga dan bahu yang orang-orang berikan kepadaku. Aku senang dan lega, tapi aku juga cukup tahu diri untuk tidak meminta mereka meminjamkannya setiap waktu.

Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri, menghadapi mereka semua tanpa menyisakan luka kasat mata di sekujur tubuhku. Rambutku tinggal tersisa beberapa senti, kedua tanganku juga sudah habis oleh garis-garis tipis sewarna kulit manggis.

Aku bangun, mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa membuatku kabur dari kepungan gila ini. Aku mencarinya di mana-mana; di dalam lemari, di rak sepatu, di tumpukkan baju, di sudut ingatan, di ambang kesadaran … tapi tidak ada. Aku sudah malas menangis, pun mendadak lupa bagaimana caranya berteriak. Teringat masih ada ruang untuk kulukai, maka tanpa babibu kucari benda itu kembali.

Sekarang dia sudah berada di tanganku, tampak menjanjikan seperti biasa. Jika biasanya semua kuawali dengan tangis, maka pagi ini adalah sebaliknya.

“Cut paper, not wrists.” Suara itu tiba-tiba terdengar, membuatku terkikik lantaran kertas ataupun pergelangan tangan tak masuk ke dalam daftar pilihanku pagi ini.

Terlintas sebuah spasi di tubuh yang tak pernah sekalipun kujamah, pun kuyakin akan membuat situasi ini membaik untuk selamanya,

 leher.

-fin.

Advertisements

11 thoughts on “02.47

  1. Kak nisaaa… kok bunuh diri sih?? huhuhu ngeri bacanyaa 😭😭
    Tapi tetep deh yaa bahasanya mengalir indah dan tau tau udah fin.

    Keep writing kakak 😘

    Like

    1. iya niiiih, soalnya aku lagi gloomy tapi untungnya tidak kepikiran bunuh diri hahaha masih betah hidup :p makasih ya anee udah baca dan berkomentar:)

      Liked by 1 person

  2. Aku udah mampir ke sebelah tp komennya gak kepublish2 xD jd komen di sini aja ya kak..wkwkwk
    Beneran pemilihan kata2nya joss banget kak. Detail gitu feelingnya, huhu. Mantap kaak… apalagi kata penutupnya itu >> Leher. Lumayan juga nyayat leher sndiri .=.

    Trimakasiih buat critanya kak! Keep writing 😀

    Like

    1. hahaha dilaaa, komennya kemarin belum diapprove makanya gak muncul 😀 makasih ya udah baca di sini dan dan di sana.
      iyanih ternyata kalo dipikir-pikir lagi mah ngeri ya nyayat leher :O sekali lagi makasih dila udah baca dan komen^^

      Like

  3. NISA ATUHLAH 😦 bentar aku literally yang melotot pas baca line terakhir huhu. aku pernah (sering malah, dan akhir-akhir ini lagi kaya gini) yang malem-malem gabisa bobo. tiba-tiba pengen nangis gituu tapi makin ke sini makin susah hahaha. pengen dikeluarin, pengen teriak gitu tapi asa gabisa ih tapi masih mendep aja gitu jadinya gaenak :” ah tapi kugaksampe menyayat-nyayat gitu ya allah jangan sampe ah 😦 nisa cantik banget tulisannya ah kusuka nis! keep writing!

    Like

    1. iya mungkin karena doi depresinya udah level dewa makanya sampe self-harming fik huhuhu. makasih ya fik udah baca dan komentar ^^

      Like

  4. Kak ini kok serem……. Gloomy vibe-nya beneran kerasa serius deh. Ceritanya si “aku” ini depresi, ya?
    Tbh aku pernah sih ngerasa stress (tapi nggak sampe depresi beneran) dan dorongan (entah darimana) untuk self-harming tuh emang kuat sekali, beruntung aku berhasil ngelawan stress itu sendiri, sehingga nggak sampe kejadian yang namanya nyayat sana nyayat sini //ini kok malah curhat
    Diksinya sakjose tenan, Kak! Line terakhir itu beneran bikin speechless huw :” Kusuka ini kak terus menulis yaw ^^

    Like

  5. dosakah aku apabila line favoritku di sini adalah ‘Rasa sedih, gelisah, dan marah yang datang adalah bangsat yang sebenarnya.’ Penggunaan kata ‘bangsat’ di situ somehow bikin tulisannya jadi gamblang dan kuat dan aku suka omg kaknisa!!!!! aku suka sekali dengan diksi kaknisa yoksi our adelma! ❤

    p.s : aku beneran suka line itu omg kuat banget kata per katanyaaaaaaaa ❤ ❤ ❤ Mangat terus kaknisa jangan kebawa stres! 🙂 😉

    Like

  6. MANTEP LEHER MAH LANGSUNG GAADA ATUH AAARRRGGHH
    kak nisaaa ini mantep sekali deh T.T ngalir banget duh gloomy-nya /?/ sukaaakkk~
    Tapi nyayat leher pake gunting … ngeri duh kalo guntingnya mintul xD pasti geregetan kagak putus-putus /?/

    Keep nulis ya kakak nisa adelma♥

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s