Skeptisisme yang Tak Perlu

original

by Niswahikmah

.

Menyakitkan, ketika aku harus mengakui: aku tidak siap memiliki anak.


Hari demi hari, dunia berita semakin terasa mengerikan saja. Tidak sedap buat didengar, apalagi untuk disuguhkan bagi sepasang mata. Alih-alih membawa kesegaran bagi para orangtua, malah membuat batin semakin merana.

Bagaimana tidak? Setiap pagi, warga kota seperti aku terbiasa menerima sejumlah kabar tentang kejamnya orang dewasa memperlakukan anak-anak. Mulai dari tragisnya nasib bocah korban sodomi, pelecehan seksual terhadap remaja belasan tahun, sampai seks bebas seperti binatang. Belum lagi, ditambah dengan isu yang baru-baru ini merebak luas di media cetak dan elentronik, mengundang begitu banyak pro-kontra: legalisasi pernikahan sesama jenis.

Mungkin, kalian pikir semua berita itu tidak ada sangkut-pautnya denganku. Aku hanya pekerja swasta lulusan psikologi. Jabatanku di kantor berada di ruangan HRD. Biasa disebut “tukang wawancara”. Seharusnya, tidak perlu aku menakuti segala bentuk pemberitaan yang kadang dibumbui bermacam wacana—membuatnya semakin mengerikan.

Tapi, jelas ada hubungannya ketika beberapa hari yang lalu, akhirnya aku menerima lamaran dari seseorang. Seseorang yang tidak pernah kukhawatirkan kualitas mental dan fisiknya. Tidak sempurna, namun menyempurnakanku.

Rencananya, dua bulan lagi, kami menikah. Dan, melihat rencana itu, mau tidak mau, aku akan punya anak. Mungkin juga, tidak hanya satu, tapi dua atau tiga seiring berjalannya waktu. Otomatis pula, beban itu semakin menumpuki setiap malamku, bersama berita demi berita yang justru semakin melukai hatiku.

Menyakitkan, ketika aku harus mengakui: aku tidak siap memiliki anak.

***

“Semua pasangan itu pengin punya anak, Nin. Kok kamu malah takut iku piye, to?” pertanyaan ibuku seperti bom yang meledak pagi hari itu.

Aku tahu, adalah keputusan yang salah membagikan keresahan batinku berhari-hari terakhir dengan ibu. Ini sama saja menyedihkan hatinya, karena beliau pasti ingin menimang cucu. Memang, aku bukanlah anak semata wayang. Tapi, statusku ialah anak sulung yang akan segera menikah. Adikku masih kelas 1 SMA, jauh jangka perjalanannya sebelum mencapai pelaminan.

“Kalau aku … gagal dalam merawatnya?”

Ibu tersenyum kecil. Tangannya masih sibuk menjahit baju untuk acara pernikahan, supaya satu keluarga bajunya kembar, kilahnya. Bahkan, hari Minggu begini tidak menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pekerjaan itu.

“Ibu juga bukan ibu terbaik, Nin. Buktinya, kamu ya jadi sukses, to. Semuanya itu kekuatan doa dan petunjuk dari Gusti Allah,” balasnya kalem.

Aku terenyak sejemang. Sarapanku yang belum habis jadi semakin terasa hambar di lidah. Enggan rasanya untuk menghabiskan. Meski samar, aku tahu, hatiku belum yakin sepenuhnya. Jawaban ibu tidak memuaskanku.

Allah memang akan menolong dan memberi petunjuk bagi hamba-Nya, tapi bukan berarti tanpa cobaan. Bagaimana jika cobaan akan sikap anakku nanti tak sanggup untuk kutanggung? Pertanggungjawaban di akhirat kelak akan jadi sangat berat. Bagaimana jika anakku menjadi seperti anak-anak yang diberitakan di televisi atau koran itu?

Apakah aku kuat mengangkat beban itu nanti?

***

Kelakar ketakutanku tak pernah kuungkap pada calon suami, meski berkali-kali kami bertatap muka atau mengirim pesan singkat. Aku hanya akan katakan bahwa persiapan pernikahan kami beres. Atau, jika ada yang butuh bantuan, misal soal undangan atau gaun pengantin, baru aku menghubunginya.

Justru, kecemasan itu pada hari lain kuungkapkan pada rekan sesama HRD di kantor.

“Nggak perlu takut, Nindya,” katanya lembut, “Calon suamimu punya akidah yang baik. Kamu gadis baik-baik, berjilbab, dan patuh pada orangtua serta agama. Jika suatu saat Allah menguji, percayalah, Allah nggak pernah timpakan sesuatu yang kamu nggak kuat membawanya.”

Santi, wanita itu, tersenyum simpul. Dia selalu bilang senang mengenalku, karena dariku dia memahami tentang nilai-nilai agama dan budaya. Komparasi keduanya yang kadang jadi sumber olok-olok atau pertengkaran. Sesuatu yang harusnya tidak perlu.

“Aku masih takut, San. Tanggung jawabnya berat.”

“Manusia nggak akan bisa lepas dari tanggung jawab, ‘kan, katamu? Katamu, Allah itu nggak hitung-hitungan? Jadi, kalau kamu berhasil, Allah bisa lipatgandakan pahalanya, dong? Kalau kamu gagal?”

“Coba lagi sampai berhasil,” sahutku sendiri. Itu kata-kata yang pernah kuucapkan supaya dia semangat bekerja.

“Nah, itu tahu.”

Namun, kekhawatiranku belum benar-benar luntur.

***

Barulah ketika akhirnya kuputuskan mentahajudi pemikiranku itu, kutemukan sebuah gambaran.

Hidup ini adalah pusaran sebab-akibat, juga poros-poros takdir rancangan Allah. Aku dan calon suamiku nanti akan menjadi sebab bagi kelahiran anakku. Kelahirannya akan berakibat pada kebahagiaan satu keluarga besar. Asuhan kami nanti, akan jadi sebab terbentuknya karakter anakku. Doa kami nanti, akan jadi sebab suksesnya dia. Dan, doanya untuk kami akan berakibat pada bahagianya kami di alam kubur.

Mungkin, aku bukan wanita terbaik dalam mendidik putraku nanti. Mungkin, caraku sempat salah dan berakhir menyakiti hatinya suatu kali, atau malah membuatnya menangis tanpa kuketahui. Mungkin, kami akan bertengkar suatu hari, lalu berbaikan sambil berpelukan haru.

Semuanya itu lebih baik terjadi, menjadi sebuah rangkaian cerita hidupku. Lebih baik ada jatuh-bangun yang menjadi sebab aku semakin memahami segala yang Allah gariskan. Lagipula, anak itu, titipan-Nya, ‘kan?

Selepas perenungan panjangku, layar ponselku berkedip. Menampakkan satu pesan baru.

Dari: Muhammad

Nin, udahan yuk, nangisnya. Biarkan Allah yang mengatur segala skenario. Pundakku ada, kok, kalau kamu nantinya letih. Dan, lantai bumi masih ada, kok, kalau kita mau sujud sama-sama.

 

Pesan singkat yang mampu menghadirkan senyum serta kelegaan mendalam pada dinding hatiku. Melunturkan segala cemas, resah, serta takut itu.

Hari-hari selanjutnya, biarlah berita itu semakin membanjiri media. Aku tidak lagi risau atau gelisah. Aku seorang wanita dari pendidikan psikologi, dan calon suamiku seorang yang paham agama. Modal itu sudah lebih dari cukup Allah karuniakan.

Maka, ketika lafaz “qobiltu nikaahahaa wa tazwijahaa bil mahril madzkuur” itu terucap, tak ada lagi secuil pun ragu di dadaku. Karena seribu malaikat tidaklah kurang mendoakan keberkahan pernikahan ini.

Malaikat tahu, Allah juga tahu.

fin.

Advertisements

15 thoughts on “Skeptisisme yang Tak Perlu

  1. WAHAI FULANAH WHY THIS SO GREAAAAAAAT??????

    NIS

    GUE

    SUKA

    INI

    FIX

    BANGET

    BIKOS NABIL YANG BARU KELAS 3 SMA AJA, DARI DULU TAKUT BANGET YANG NAMANYA NGELAHIRIN (MESKI DI SINI PUNYA ANAK YHA BEDA BEDA TIPIS LAH XD)

    ini cerita islami yang pertama kali nabil baca dan …….. love it so muchieeee ❤ ❤ kamu nyelipin banyaak banget moral value tapi sama sekali ngga terkesan menggurui harus gini, gitu, ini bener, itu salah, which soo amazing ❤ you did amazing work my beloveed sissstttt ❤

    daan si mas Muhammad ini apalah mengacaukan mood ku saja jadi jungkir balik malam malam beginihh. eykee kaan gabisa diromantisiiin syariah model gituuuuuu ❤ suami nabil harus kaya mas muhammad ❤ gamau tau kalau gadapet kamu keluarkan dia dari fiksi ini, terus paketin ke bandung kan a6

    iya ga?

    iya ga?

    "Pundakku ada, kok, kalau kamu nantinya letih. Dan, lantai bumi masih ada, kok, kalau kita mau sujud sama-sama."

    tolong dong kamu doain supaya jodoh kita semua bakal kaya gitu ❤ ❤ ❤

    ini panjang, kuharap kau tak mual membacanya ❤ ((dan untuk tindakan pencegahan, nabil copy komentarnya taqut tak terpost)) ((sedya payung sebelum longsor))

    lafyaaaaaa ❤

    Liked by 1 person

    1. ternyata langsung tepost wahai fulanah XD oiyaaa poin plusnyaa lagi, kuingin jadi psikologi jadi meniii resepp karasa pisan kaa hatee aiih ❤

      Like

    2. Ini ngga kurang panjang duhai cintakoeh?????? Ampun dah pake dipaketin ka bandung segala lagi wahaha pake paket ekspres ya kalo bisa. Biar Muhammadnya ga keburu megap-megap gitu wkwk

      Duh aamiin deh bil dapet yg kayak mas muhammad. Dan aku nda mual kok bacanya, cuma agak sakit perut nih pen ke kamar mandi /candaa/ wkwkwk laffyaaa tooo makasih ya nabil aku padamuuhhh :*

      Like

  2. Niswaaa, ini manis dan kamu simpan sesuatu di setiap kalimat yang sudah ditorehkan.

    Sama seperti kata-kata Nabil di atas, kalimat yang mas Muhammad kasih rasanya… asdfghjkl

    Suka, Nis. Terima kasih sudah menghadirkan fiksi semacam ini. ^^

    Like

    1. Sesuatu apa, ya? Heuu padahal ini hanya ditulis lewat hape karena pada saat itu listriknya mati. Alhamdulillah kalau suka. Kembali kasih sudah meninggalkan jejak ^^

      Like

  3. Hai niswah, lama tak bersuaa. Akhirnya aku baca postingan kamu lagi yaaa 🙂

    Terus aku mau kesel dulu karena masih pagi udah baca ginian. Ahh, ini masih pagi juga tapi aku udah berasa romance banget hahahaha. Pokoknya aku suka gimana narasi yang niswah buat ditambah keraguan si mbak yang terasa sekali.
    Dan buat mas muhammad, aku gatau mau bilang apa bikos aku sangat kesel. Hahaha

    Semangat teruss ya niswah nulisnyaa!! ^^

    Like

    1. Kakvanaaa ih aku juga udah jarang liat tulisan kakak. Entah karena aku cuma tukang liatin dashboard doang, atau gimana heu.

      Daaan ya alhamdulillah kalo nyampe pesennya ke kakak :’) Makasih komentarnya ^^

      Like

  4. Niswa! Ampun ini bagus sekali? Kekhawatiran Nindya di sini sweet banget, dan cara Muhammad buat nenangin dia lebih sweet lagi. Ini menyentuh tanpa perlu banyak dialog. Aku suka pemilihan kata-katanya dan gimana cara kamu ngebawa cerita sampe akhir. Iniㅡampun ini cantik banget. Serasa ngeliat muslimah yang taat dan sesuai kaidah Allah 🙂 You did great ❤ ❤ ❤

    p.s : semoga kelak kita semua mendapatkan jodoh yang bisa membawa kita ke surga. (berat) (omg masih pagi tapi isi kepalakuㅡ)

    Terus menulis, Niswa! 😉

    Like

  5. ampun nis, tulisanmu itu yah ngademin banget sih??? gemes. aku hanyut banget dari awal sampe akhir karena aku juga punya ketakutan yang sama dengan nindya, dan mudah-mudahan kelak aku juga punya partner kayak muhammad deh, bisa ajaaaa nenanginnya. ah niswa, kujadi ingin menikah #EH keep writing nis!

    Liked by 1 person

  6. Nis, astaga nis, astaga
    Aku udah liat cerita ini di dasbor semalam tapi takut bacanya #halah. Ternyata ketakutanku bener : aku mendadak baper :””””

    Niswa nih ya bisa aja nyelipin hot news berita nasional ke dalam ceritanya. Trus bumbu kebaperan tak terkira. Uwoo, mas2 nya suamiable banget, dunia akhirat, huhu.
    Trus aku suka sama paragraf yg nulisin sebab akibat itu. Duh, kepikir aja bikin kalimat2 bgituan, huhu.

    Joss niswa, i like it! Maap kalau komenku gak jelas karena baper, huhu. Trimakasih ceritanya niis 😀

    Like

    1. Lah takut tapi pengen baca gitu yha? wkwk alhamdulillah stok anak yg kubuat baper bertambah /slapped XD

      Wahaha karena beritanya sangat booming jadi sangat pas bila dimasukkan. Suamiable… itu kosakata gado-gado buatan siapa lagi tuh wkwk. Hihi kembali kasih kak dhila sudah mampir ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s