Obscure Sorrow: Gnossienne

by dhamalashobita

Photo by Simon Rosengren

Apakah kita cukup dekat untuk dapat dikatakan dekat?

.

Seseorang pernah mengatakan jika hati adalah rumah. Maka kita si pemilik rumah, adalah seseorang yang memegang kuncinya. Sebelumnya, rumah itu tidak lengkap, tidak memiliki dinding, pintu, maupun jendela. Rumah menyatu dengan alam, tidak ada batasan yang membedakan. Lambat laun itu mengganggu. Siapa pun datang, kemudian merusak apa pun yang terlihat, mengambil apa pun yang ada di dalam rumah, kemudian dengan mudah mengatakan bahwa mereka mengambilnya dari luar. Begitu yang terjadi ketika rumah itu tidak memiliki dinding.

Kemudian kau menciptakan dinding. Tapi dengan dinding, kau butuh pintu untuk membiarkan orang masuk. Mulanya, semua orang dapat masuk. Mereka bisa masuk dan keluar kapan pun juga. Saking banyaknya orang yang masuk, kau tidak lagi tahu siapa yang benar-benar datang untuk bercengkerama, menghabiskan sore hari yang lengang dengan segelas the dalam cangkir keramik, dan siapa yang datang untuk meminjam barang kemudian tidak mengembalikannya. Beberapa mungkin juga datang untuk mencoret dinding rumahmu kemudian pergi.

Karena itulah kau mulai berhati-hati. Karena itu, kau butuh jendela.

Jendela kau perlukan untuk mengintai. Kau belajar untuk mengunci pintu rumahmu, kemudian membiarkan orang mengetuk. Selanjutnya, kau akan menengok lewat jendela, dan membuka perlahan pintu rumahmu. Tak selalu datang domba, meskipun kau berekspektasi akannya. Terkadang serigala memilih singgah, dan kau tetap membukakannya, karena ketika mengetuk, wujudnya masih serupa domba. Jika harimau yang datang, kau memilih bersembunyi, meskipun dinding rumahmu habis tersayat cakarnya.

Aku adalah tamu yang berkunjung. Aku adalah dia yang dipersilakan masuk dengan ramah, duduk di ruang tamu dan berbincang hangat. Aku tidak merusak dinding, memecahkan jendela kaca, pun mencuri beberapa bagian di dalam rumah. Waktu bergulir sampai habis, keesokan harinya aku datang dan datang lagi, membentuk repetisi. Jika kau tanya aku bentuk rumahmu, aku tahu dengan jelas. Di mana letak dapur, kamar tidur, meja persegi kecil berkaki empat. Aku tahu semuanya. Tapi aku melewati satu hal.

Bertahun-tahun aku menjadi tamu, menganggap rumahmu sebagai rumahku sendiri dan masih aku dibingungkan oleh keberadaan ruang di satu lorong sempit. Pintunya tertutup dan aku sama sekali tidak pernah melihatmu membukanya. Seketika aku merasa bukan apa-apa. Mungkin aku singgah tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, tapi mengapa tak pernah sekalipun aku menyadari keberadaan ruangan di sudut gelap rumah itu. Aku sadar cerah dinding berwarna lemon, tahu keberadaan pemutar musik yang membuat hati tenang ketika bercengkerama panjang lebar, bahkan aku tahu lukisan tersembunyi yang mampu membuatmu tertawa. Tetapi aku melupakan kegelapan. Aku lupa hitam di antara putih. Lupa bagian minor di balik bagian major. Terlalu yakin pada apa yang kupercaya hingga mengabaikan apa yang sebenarnya ada.

Dan ketika aku sadar, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuat diriku mengetahui bagian tergelapnya. Aku bertanya, kau tak menjawab. Bagian gelap di ujung lorong, mungkin ketika aku membukanya, aku akan melihat tebing curam dan langit, juga sayap rumah yang bisa terbang ke tempat di mana tidak ada manusia yang saling bersembunyi dalam kegelapannya. Atau terbang ke tempat di mana tidak ada siapa-siapa.

Tapi ketika aku menatap semakin lekat, kau dan kebingunganmu membuatku tak lagi mengerti. Aku bertanya di mana kau simpan kunci ruang terakhir itu, dan kau sama sekali tidak tahu. Mungkin sebenarnya tidak pernah ada yang tahu di mana kunci terakhir itu berada, tidak ada yang bisa tahu apa yang ada di balik ruangan terakhir itu. Dirimu adalah seorang empunya yang tak pernah habis mengeksplor rumahmu sendiri, karena kau tak pernah membuka satu ruang itu. Tidak ada kunci yang kau simpan, tidak ada yang tahu bagian tergelap dalam hatimu.

Dan ketika aku semakin kuat berusaha mendobrak pintu itu bersamamu, rumahmu tiba-tiba saja menghilang, berganti ruang kosong berwarna putih. Dan kita tak lagi tahu di mana kita berpijak.

***

Gnossienne n. a moment of awareness that someone you’ve known for years still has a private and mysterious inner life, and somewhere in the hallways of their personality is a door locked from the inside, a stairway leading to a wing of the house you’ve never fully explored-an unfinished attic that will remain maddeningly unknowable to you, because ultimately neither of you has a map, or a master key, or any way of knowing exactly where you stand.

[The Dictionary of Obscure Sorrows – John Koenig]

Advertisements

3 thoughts on “Obscure Sorrow: Gnossienne

  1. KAK MALAAAA INI BIKIN BAPER YA ALLAH~~

    Terlalu yakin pada apa yang kupercaya hingga mengabaikan apa yang sebenarnya ada.

    MANTAAP~~
    Emang sih ya selama apapun kenal pasti ada satu hal yang disembunyiin, uh~ bahkan sama keluarga pun /aku juga pun begitu sih/
    Entahlah, masih ngerasa sedikit rasa kurang percaya gitu. Takut jadi marah, takut diilfeelin hahaha
    /nahloh ini malah jadi ajang curhat/
    Keep nulis kak malaa♥ aku jatuh cinta sama penggambaran kakak uhuy♥

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s