Blitzkrieg [1]

by aminocte

blitzkrieg (n.): lightning war; a military technique used by Germans in WW II  based on speed and surprise

A set of short fictions, consists of <200 words.

So Close

[153 words]

Oke. Tarik napas dalam. Hembuskan. Tarik lagi. Hembuskan. Jinjit sedikit. Sedikit lagi. Ayo, kamu pasti bisa. Ulurkan tanganmu ke atas. Lagi. Lagi. Bisa lihat buku itu? Bukan, bukan yang warna hijau itu. Geser pandanganmu ke kiri sedikit. Nah, kamu bisa melihatnya, bukan? Ya, buku yang warnanya kuning cerah itu.  Pada sampulnya ada tulisan Botchan, Natsume Soseki.  Buku yang kamu idam-idamkan sejak beberapa minggu yang lalu, bukan? Stoknya tidak banyak. Hanya tinggal satu menurut pencarian komputer dan entah kapan akan bertambah lagi.

Kenapa malah bengong? Tahan posisimu, lupakan rasa kram itu. Lengah sedikit, kamu harus menunggu lagi sampai entah kapan. Ayo. Terus. Gapai buku itu. Sedikit lagi kamu bisa meraihnya. Apa? Kamu mau menyerah? Hei, mana bisa seperti itu? Jangan patah semangat begitu, dong! Biarpun kamu tidak terlalu tinggi, jangan mau kalah dari si jangkung di sebelahmu itu. Tunjukkan bahwa kamu juga bisa mendapatkannya. Berjuanglah!

Ah,  terlambat. Kamu keduluan dia. Salah sendiri pakai acara menyerah segala.

Hunger

[199 words]

Glek.

Aku bahkan bisa mendengar bunyi tegukan ludahku sendiri, disusul oleh raungan perutku. Gadis di sebelahku menatapku sinis. Aku meliriknya sekilas. Bukan wajahnya yang membuatku penasaran, melainkan roti isi yang baru saja digigitnya. Aroma moka bercampur mentega menggodaku, membuatku ingin melakukan apa saja untuk bisa mencicipi sedikit saja dari kelezatan yang dimilikinya.

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengemis kepadanya? Mengemis roti atau mengemis uang? Mbak, boleh minta rotinya? Saya lapar, belum makan dari semalam. Begitukah? Apakah sudah terdengar cukup sopan? Atau haruskah aku bertanya dengan cara lain? Mbak, boleh minta uangnya? Saya lapar, belum makan dari semalam. Maaf, Mbak, jangan salah sangka. Saya bukan perampok, bukan penodong, apalagi pencuri. Tapi saya juga bukan pengemis. Saya cuma orang lapar yang sedang kere. Atau orang kere yang sedang lapar. Tunggu, mana yang benar? Lapar dulu baru kere, atau kere dulu baru lapar?

Kenyataannya, aku hanya mampu mencuri pandang kepada roti yang digigit gadis itu. Sekarang rotinya tinggal separuh. Perutku sekali lagi bergemuruh. Gadis itu menatapku sekali lagi, seakan jijik denganku.

“Pikiranmu berisik banget dari tadi! Kalau mau minta, minta aja, nggak usah kebanyakan mikir!”

Sebuah bungkusan berisi roti sisa tiba-tiba mendarat di pangkuanku. Pemiliknya telanjur berlalu. Bagaimana bisa dia tahu?

Boredom

[85 words]

Bahwa sesungguhnya kesenangan adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, kebosanan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Bagaimana cara menghapuskan kebosanan?

Menguap. Menggeliat. Bersandar. Meregangkan tangan dan kaki. Membaca buku. Meramban internet. Mendengarkan lagu. Mengobrol dengan teman sebelah. Mengobrol dengan teman di dunia maya. Menggulir linimasa. Menonton film. Makan cokelat. Minum kopi. Jalan-jalan ke ruangan sebelah. Merapikan isi boks alat tulis. Merapikan isi box file. Menguap lagi. Menggeliat lagi. Melirik jam. Sudah pukul setengah tiga.

Ayo kita pulang.

Running

[123 words]

Kau bilang mau mengejarku? Kau sinting, ya? Apa? Kau anomali dari seluruh manusia di muka bumi? Sombong sekali. Memangnya berapa, sih, kecepatan larimu? Paling-paling 50 meter per detik. Aku bisa lebih cepat lagi, kau tahu.

Oh, tunggu. Lebih cepat bukan istilah yang tepat. Aku adalah dimensi dengan fluiditas yang luar biasa, sekaligus mengandung misteri yang luar biasa. Fisikawan kuno bilang aku mutlak, fisikawan modern bilang aku relatif. Terserah mereka saja. Yang jelas, sekali bergerak, aku tak kenal surut. Berhenti pun aku enggan.

Tidak percaya? Kau bersikeras ingin mengejarku rupanya. Oke, aku juga akan mengejarmu seperti biasa. Kita lihat apakah kita bisa bertemu di satu titik atau justru aku yang mendahuluimu seperti yang sudah-sudah?

Ngomong-ngomong, namaku Waktu. Sekadar mengingatkan kalau kau lupa dengan identitasku.

Sticky

[139 words]

Hati-hati, Kamerad! Jangan sampai imajinasimu akan harta karun ini membuatmu lengah. Sudah kubilang, ‘kan, darah manusia yang satu ini sangat lengket? Kental seperti sirup. Dia memang suka minum sirup, sih. Suka makan yang manis-manis pula. Tak heran darahnya sampai bergelimang gula begini.

Perhatikan langkahmu. Jangan sampai tergelincir. Kau yang di sana, jangan memisahkan dari rombongan! Hei, kau juga, jangan berjalan terlalu cepat. Perhatikan anggotamu yang di belakang. Nah, bagus. Terus berjalan dalam rombongan. Sebentar lagi kita akan sampai.

Kalian lihat itu? Kawah kecil yang basah karena darah. Itu adalah harta karun kita, Kamerad! Ambillah, makanlah, dan eksploitasilah sesuka hati kalian! Tenang saja, tentara di tubuh si manusia ini tidak akan sanggup mengejar kita.

Bagaimana denganku, katamu? Jangan hiraukan aku. Aku mau meminta maaf terlebih dahulu kepada manusia ini. Ia pasti membenciku karena aku membawa kalian untuk merusak jaringan tubuhnya.


Catatan penulis:

Terima kasih kepada La Princesa atas idenya yang sangat bermanfaat untuk memberantas penyakit susah menulis :).

Terima kasih sudah membaca :).

(I just changed the explanation of this shortfics set because I made a mistake on the word count)

Advertisements

4 thoughts on “Blitzkrieg [1]

  1. 1. Aku ingin sumpah serapah pas baca so close.. kerasa banget ngos2annya, ckckck. Daebak!
    2. Alhamdulillah dapet roti juga walau kyknya rasa laparnya ilang krna diganti sama rasa penasaran xD
    3. Boredom : cuma kalimat2 kegiatan geje tp hasilnya bagus gitu, ckckckck
    4. Running : sempet givap pas baca fluiditas dll, nyahhaa. Ternyata waktu, wow..wow..wow…
    5. Sticky : alamak kepikiran aja itu lengket krna darah tinggi gula, huhu.. tuggu, itu sejenis apa? lintah apa lalat apa bel-athunk? Mak .=. Kamerad di sana maksudnya comrade bukan? hhehehehe.

    As usual kalau baca drabble emang suka mencak2 kok kpikiran aja gitu, huhuhu. Joss kak amii, hihi. Ditunggu #2 nya, wkwkwk

    Like

  2. Iya ya Kak, ngeselin banget ya aduh, aku nulisnya juga geregetan sendiri XD.
    Yang terakhir itu aku ngebayanginnya bakteri Kak, jadi mereka bikin lukanya infeksi gitu :D. Yang roti itu aku juga ngebayanginnya roti boy, Kak haha. Dan iya ini aku bikin waktu kayak atlet lari ya ahahaha, aku senang Kakput suka 😀

    Makasih juga Kakput sudah menginspirasi 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s