Shots #2

by fikeey

photo by: Sonja Langford

Time travel.

Ilmuwan kami baru saja memberitakan bahwa mereka telah berhasil merancang dan menyelesaikan proyek besar-besaran menyangkut perjalanan waktu—yeah, aku menontonnya di berita pagi waktu sarapan dan rupanya fakta menyenangkan itu belum reda hingga bel pulang sekolah dibunyikan. Aku berdiri di halte seperti biasa, menunggu angkutan umum sambil sedikit-sedikit memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan raya.

Sekelompok murid SMP berjalan melewatiku—jumlahnya enam orang, empat laki-laki dan dua perempuan—lantas mengambil tempat tak jauh dariku sambil sesekali melempar lelucon.

Bocah laki-laki Satu melonggarkan dasi, kepalang pamer gaya di depan dua teman perempuannya. Dia bilang dirinya penasaran akan kerja mesin waktu ini—apa penggunaannya mudah, apakah sakit waktu dicoba, butuh pakaian khusus atau tidak dan pertanyaan lain yang teredam oleh derum segerombol kendaraan beroda dua. Hah pengendara motor jaman sekarang.

Lalu bocah laki-laki Dua menyikapi dengan toyoran singkat di kepala si bocah laki-laki Satu sambil melempar makian. “Udah lo belajar aja, Nyet, nilai aljabar masih D nggak usah mikirin mesin waktu.”

Kelompok itu tertawa namun kemudian suara bocah laki-laki Tiga menyeruak di antaranya. Pertanyaan yang ia lempar lebih masuk akal—menanyakan satu per satu dari mereka, span waktu kapan yang ingin mereka kunjungi apabila mendapat kesempatan untuk mencoba mesin waktunya.

Bocah laki-laki Empat menggeleng dan mengangkat bahu, lantas berbalik dan menentukan tujuan ke arah tukang gorengan di sudut dalam halte. Pantas daritadi ada wangi-wangi surga, ternyata tahu dan tempenya baru matang.

O, ya kembali lagi.

Anak perempuan Satu dan Dua berpikir keras—sepertinya—karena ketika si bocah laki-laki Satu menyebut jaman batu, bocah laki-laki Dua ingin kembali ke tahun di mana usianya masih sepuluh, sepasang kaum hawa itu masih belum menelurkan respons. Baru ketika si bocah laki-laki Empat kembali dengan kantong plastik berisi makanan panas, ada jawaban yang menggantung di udara selama beberapa detik.

“Kalo balik ke jaman penjajahan seru kali, ya?”

Dan tanpa disadari, aku memasang senyum kecil—mengejek lebih tepatnya—diam-diam. Lebih baik jangan, Dek. Malu generasi ini.

Ketika para generasi muda masa itu membawa-bawa bambu runcing di medan perang, kita bawa apa? Tongsis?

—-—

Advertisements

8 thoughts on “Shots #2

  1. Yehet!! nemu komen box hihi

    Dari pertama baca, endingnya bikin tersenyum kecut sekaligus geli sendiri, kak. Bayangin kita bawa2 tongsis terus ngajak para penjajah welfie hahaha mungkin malah ngga jadi perang itu 😁😁😁

    Nice, kak fikaaaa!!! keep writing 😘😘

    Like

    1. aniiiiii! hahaha tadinya mau kumatiin padahal wkwk. ini aku liat gambar gitu di mana ya dari home-nya line kalo ga salah. anak muda jaman dulu vs anak muda sekarang haha. yang dulu bawa bambu runcing, yang sekarang bawa tongsis xD

      makasi aniii suda baca dan komeen ehe.

      Liked by 1 person

  2. Wah makjleeb banget Kak endingnya ya ampun. Nyentil banget karena aku suka geleng-geleng kepala lihat anak SMA. Gayanya mau ke masa penjajahan, masa’ bawa-bawa tongsis (eh mana tahu bisa mengalihkan perhatian kompeni ya, nggak? ;D *oke abaikan*)

    Keep writing ya, Kak 🙂

    Like

    1. HAHAHAHA. ini tbh gara-gara aku liat gambar di akun apaaa gitu di line mi. dua gambar sebelah kiri pemuda jaman dulu. terus sebelah kanan pemuda masa kini. yang kiri lari-lari bawa bambu runcing, yang kanan foto-foto pake tongsis ahaha sumpah akunya juga miris liatnya :’

      makasi ya amiii. keep writing juga amiii 😀

      Liked by 1 person

  3. iya kaaak tbh kebikin ini karna aku liat gambar dari akun apa gitu di line. dua gambar sebelah kiri pemuda jaman dulu. terus sebelah kanan pemuda masa kini. yang kiri lari-lari bawa bambu runcing, yang kanan foto-foto pake tongsis ahaha sumpah akunya juga miris liatnya :’

    aaaaaa baiklah kaak! sudah aku benerin hihi makasi banyak kakpuuut ❤

    Like

  4. “Kalo balik ke jaman penjajahan seru kali, ya?” — gundulmu dek. yang ada kalian jadi bahan tertawaan di sana. ini titan antara ketawa nyesek sama meringis nih gegara kalian woy D:

    aduh lah, dat last line nyelekit banget ya, kafika huhu. dan sumpah, kadang gedhek ngunu liat anak sekolah jaman sekarang lyke, dek … sehat? dat kind of thing heu

    keep writing, kafika ❤

    Like

    1. HAHAHAHAH AKU NGAKAK BAGIAN GUNDULMU MASA! TITAN IH xD kenapa di mana pun, kapan pun titan sangat cobonyi ih xD iya ih anak sekola jaman sekarang tuh yha. udah dikasih yang enak, apa-apa gampang malah begono elah. heran sumpah. minta ditendang (lah) hahahaha.

      keep writing too titankuuuh! ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s