Between Two Sides

by fikeey

(mini event: truk pantura)

Dua anak cukup. Dua istri bangkrut.

Menjadi polisi itu kutukan.

Lou sudah menempa pendapat ini sejak minggu pertamanya bekerja  tetap di Scotland Yard, masuk ke tim yang diketuai William Baker—pria gemuk yang kumisnya selalu bergerak-gerak tiap ia menahan marah—dan harus rela pakaiannya basah ketika  ia menginterogasi. Calon tersangkanya tiba-tiba meledak dan melempar gelas plastik berisi air ke hadapan Lou. Tepat di wajah. Iya. Hanya karena Lou salah menyebut pengucapan nama. Hah. Memang dasarnya sial masih memiliki aksen perancis yang kental.

(Omong-omong, Anthony masih gemar mengulang pembicaraan ini  hingga Lou harus mengumpat dalam bahasa lain supaya sahabatnya berhenti bicara dan teralih dengan kosakata yang baru didengarnya. Anthony pelajar yang cepat. Ia berhasil lepas dari amukan istrinya setelah melayangkan kalimat rayuan dalam bahasa ibu Lou.)

Oke. Kembali lagi.

Menjadi polisi itu kutukan—bahkan setelah delapan tahun Lou bekerja di Scotland Yard pun, persepsi pria itu akan pekerjaan yang dulu benar-benar ia kejar belum banyak berubah.

Jadi di sinilah dirinya, duduk berhadap-hadapan dengan salah satu tersangka pembunuhan yang kasusnya mulai diproses kemarin siang. Arthur Wellington, empat puluh tahun, ditemukan tewas mengambang di kolam renang pribadinya. Rumah keluarga dalam keadaan kosong. Penyebab kematian—sesuai catatan kecil di buku Lou—luka cekik yang dalam dan paru-paru yang terbenam air. Penenggelaman secara paksa menurut Maxwell, ahli patologi Scotland Yard, dalam pesan teksnya kepada Lou pagi ini.

Tepat ketika Lou selesai menjelaskan ringkasan kasus diikuti dengan deduksi awal pihak kepolisian, wanita di hadapannya—Leonora Wellington—mengeluarkan suara seperti tercekik dan mulai menangis dalam diam. Sang detektif sudah terbiasa dengan pemandangan demikian—air mata buaya, air mata sungguhan, bahkan air mata buatan dari air mineral yang diteteskan pun Lou sudah hafal.

“Bisa kita mulai interogasinya, Nyonya Wellington?” Lou bertanya dengan nada sopan.

Di seberang meja, si wanita mengangguk pelan. “Ya, silakan,” balasnya, menolak  halus permintaan kuasa hukumnya untuk meminta waktu istirahat.

Lou memulai sesi interogasinya dengan sebuah pertanyaan standar, “Ada di mana Anda saat kejadian? Hari Selasa pukul delapan malam untuk lebih tepatnya?” Dan sekaligus adalah waktu perkiraan kematian korban.

Leonora Wellington mengambil waktu—yang menurut Lou terlalu lama—untuk mengambil napas. Wanita itu lantas menggerakkan lengan, menyilangkannya di depan dada. “Aku hadir di acara amal untuk menggantikan Arthur—dia sedang tidak enak badan, tapi namanya akan dipanggil untuk penghargaan jadi Arthur menyuruhku untuk pergi,”  jelasnya dalam satu tarikan napas. “Alexander, anak laki-laki kami, ada di New York untuk studinya dan Jonathan, adik Arthur, pergi merayakan pesta melepas lajang teman kuliahnya. Jadi, yeah, Arthur sendirian di rumah dan aku menyuruhnya untuk tidur. Amelia, anak perempuan kami, tadinya menawarkan diri untuk tinggal sementara dan menjaganya. Well, tapi Arthur tak pernah ingin menjadi beban dan ia tahu anak Amelia sedang demam.”

“Amelia Wellington sudah berkeluarga?”

Si wanita mengangguk. “Alter. Dia bersama suami dan seorang anaknya tinggal di Chelsea. Daniel sudah mengizinkannya pergi, namun Arthur keras kepala.”

Lou menggumam, menuang seluruh informasi baru ini dalam buku catatan mungilnya—bekerja auto-pilot ketika bibir Leonora tidak berhenti menelurkan cerita.

“Oke, jadi Tuan Wellington tinggal sendiri di rumah sampai kau pulang dan menemukan tubuhnya mengambang di halaman belakang, benar?”

Leonora memberi jawaban dengan hela napas berat dan anggukan kepala—yang Lou artikan sebagai gelagat awal wanita itu tidak ingin lagi meneruskan interogasi ini. Normal, sebenarnya. Siapa bisa tahan membicarakan orang terdekatmu yang baru saja kehilangan nyawanya, dalam kondisi tidak mengenakkan pula. O dan satu lagi, wanita ini adalah orang pertama yang menemukan mayatnya. Double shots, jadi Lou maklum akan hal itu. Dia menangkap pandangan mata memohon dari pengacara keluarga Wellington dan setuju akan jeda tiga menit sampai emosi Leonora kembali stabil.

Tiga puluh menit selanjutnya—setelah Nyonya Wellington akhirnya menegakkan posisi duduk dan menguatkan dirinya sendiri lewat tarikan napas ringan—diisi dengan seputar pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak. Lou belajar untuk mengulang pertanyaan yang sama setidaknya tiga kali dalam rentang beberapa menit dan mengingat tiap responsnya. Mengambil pelajaran dari tes psikologi bahwa alam bawah sadar seseorang akan selalu menjawab jujur bagaimanapun pola soalnya.

Interogasi pagi itu dengan saksi—merangkap tersangka—utama mengantarkan Lou pada satu kesimpulan. Ya, dan pria itu perlu mengklarifikasinya dengan jadwal interogasi lain yang sudah menunggu di luar pintu.

“Fernandes!”

Ketika figur tinggi Anthony Rutherford terbentuk dari ujung lorong, Lou tidak bisa menahan diri untuk tak memutar bola matanya. “Tony ….” Ia membeo, namun alih-alih menggunakan sapaan formal, Lou justru melempar sebaris ejekan—yang disambut dengan wajah culas sahabatnya.

“Sarapan dulu, Mate. Kau membuat jadwal temu terlalu pagi.” Ah ya, semenyebalkan dan cerewet apa pun Anthony, pria itu bisa dibilang satu-satunya orang yang ia percaya di gedung ini—di kota ini, malah.

“Bukankah Baker memberimu jadwal juga?” Lou balik bertanya setelah mencicipi sarapan paginya.

Anthony mengangguk. “Ya,” katanya. “Bagaimana? Ada pencerahan?”

Lou mengangkat bahu atas pertanyaan Anthony—adakalanya orang tak bersalah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga dan hal itu justru membahayakan posisi mereka. Petugas kepolisian yang berpikiran pendek mungkin akan langsung menarik kesimpulan dengan bukti yang terbentang di hadapan mereka tanpa sedikit pun merevisi atau menilik lebih jauh kemungkinan-kemungkinan lain. Sekali lagi. Menjadi polisi itu tidak mudah dan dengan hasil interogasinya pagi ini, Lou makin mantap menempa pernyataan itu di kepalanya.

Menangkap aura familiar yang menguar dari sisi sahabatnya, Anthony melepaskan tawa ringan. Sebelah tangannya—yang baru minggu lalu menjadi kanvas untuk tato-entah-bergambar-apa-lagi menepuk pelan punggung Lou, memberi semangat dengan cara non-verbal.

“Mulanya kupikir ini adalah kasus yang didasari rasa cemburu.”

Di hadapannya, Anthony mengangguk. “Yeah, terlebih begitu nama wanita lain muncul ke permukaan,” desaunya. “Jadwal interogasi berikutnya adik laki-laki Wellington dan istri keduanya. Kuserahkan Wellington padamu.” Pria itu berkata sambil melempar ekspresi culas yang ingin sekali Lou tendang.

“O, tunggu sampai Dianna tahu tentang hal ini.”

“Lou, don’t you dare.

Dan interogasinya berjalan lagi.

Lou memulainya dengan pengenalan diri, ringkasan keseluruhan kasus diikuti status terakhir terkait bukti yang sudah mereka dapatkan.

Jonathan Wellington—berbeda jauh dari kesan yang ditebarkan lewat namanya—adalah seorang lelaki berumur kurang lebih di akhir tiga puluhan, berkulit langsat yang mampu membuat para model wanita saling membunuh untuk memilikinya dan garis rahang yang tegas. O, jangan lupakan sorot tajam dari bawah bulu matanya yang lentik. Lou mulai curiga bahwa ada perbedaan asal-muasal dari Arthur dan Jonathan, tapi mengingat silsilah keluarga yang kemarin dibicarakan Baker, pria itu akhirnya mundur selangkah dan menelurkan pertanyaan-pertanyaan standar.

“Pesta lajang?”

Sang detektif mengangguk. “Ya. Leonora Wellington mengatakan bahwa Anda diundang ke pesta melepas lajang teman Anda, maka dari itu Anda tidak ada di rumah.”

Ada derak tawa tidak mengenakkan yang membahana di ruangan kemudian—jenis yang sengaja kau tinggi-tinggikan untuk mengejek sekaligus menendang kejujuran. “Leonora yang bilang?” tanya sang saksi—kini tersangka, Lou mencatat—dengan penekanan. “Jalang itu. Kau tahu ia hanya meracau waktu memberi kesaksian. Dia hanya ingin mengusirku dari kehidupan keluarganya. Pft. Memprihatinkan.”

“Maaf ….” Lou mengulur suaranya, memasang tampang meminta penjelasan atas informasi baru ini. “Mengusir Anda dari kehidupan keluarga Wellington?”

“Begini Detektif, Arthur selalu menyediakan uang yang lebih dari cukup untukku, oke? Arthur bahkan tinggal sedikit lebih lama untuk menemaniku di rumah sakit dan memastikan bahwa aku baik-baik saja sebelum dia pergi,” katanya. “Semuanya berjalan lancar sampai Leonora menaruh hidung jeleknya ke dalam urusan kami.”

Lou mengangkat sebelah alis. “Apakah Nyonya Wellington adalah orang yang mengatur keuangan keluarga?”

“Jangan panggil dia dengan sebutan Nyonya. Aku jijik.” Si tersangka menyerobot dan Lou menghela napas. “Sebelum dia tahu soal ini, tidak. Setelah dia berteriak di depan hidungku tentang operasi ini, ya. Terlebih saat kondisi keuangan keluarganya memburuk, Leonora selalu meneleponku. Kata pertama yang kudengar adalah umpatan kotor. Selalu.”

“Operasi?” Lou mengulang.

Si lawan bicara melempar senyum timpang sembari melipat kedua tangannya di permukaan meja. Lou tidak gagal menangkap sebaris kuku hasil manikur, aroma parfum mahal berbau bunga-bungaan yang terbawa aliran angin pendingin ruangan dan lingkaran mungil yang terkesan mahal di jari manis kirinya. Lou—lagi-lagi—kehilangan arah. Leonora tidak menyebutkan bahwa Jonathan Wellington pernah menikah, tunangan atau memiliki hubungan. Well, sebenci apa pun wanita itu pada adik suaminya, setidaknya dia perlu tahu hal-hal macam begini, ‘kan.

Lou hendak menajamkan indra pendengarannya saat mulut sang tersangka siap menelurkan jawaban, namun hal itu bersamaan dengan ketukan halus dari balik pintu. Pria di hadapannya tidak datang dengan pengacara keluarga seperti Leonora—dan jujur saja, Lou sangat berterimakasih untuk itu—jadi ia minta izin untuk undur diri selama beberapa saat. Si pria mengangguk, mengatakan, “Santai, aku juga sedang tak terburu-buru.” disertai senyuman ramah.

Tubuh tinggi Anthony dan ekspresi wajah bingungnya adalah hal pertama yang menyambut Lou setelah ia membuka pintu.

Mate! Kenapa kau mengambil posisi interogasiku? Kau tahu? Baker baru saja berteriak di depan hidungku selama sepuluh menit dan serius, Mate, kau har—“

“Tony ….” Lou memijat kening. “Kau ingin aku menginterogasi Jonathan Wellington, ‘kan? Aku memenuhi permintaanmu, oke? Sekarang dia masih di dalam dan—“

“Lou.” Anthony memulai, sebelah tangannya menangkup bahu sahabatnya. “Jonathan Wellington baru saja meninggalkan gedung, oke? Aku sendiri yang mengantarnya ke lobi karena ia terlihat sangat terpukul atas kematian kakaknya.”

Baiklah. Sebaiknya harus ada yang mengingatkan Lou untuk segera tutup mulut sebelum pria itu mati tersedak lalat.

“Tapi yang di dalam ….”

Dari seorang teman dekat yang memasang wajah prihatin atas cobaan yang dihadapi Lou, kini Anthony bertransformasi seperti penonton acara lawak yang sudah menahan tawanya selama lima jam.

“Katakan, apa dia terlihat … um, agak cantik?”

Lou bergidik. “Yeah, dia menyebut tentang operasi.”

—-—

  • masuk gak sih sama promptnya heu :”
  • mau bikin yang lebih ke pantura-panturaan tapi pundung huft. yasudahlah.
  • welcome back lou fernandes sama anthony rutherford! (yang dulu pernah baca runaway pasti kenal deh haha) (ge-er banget fika, astaga) (maap).
  • thank you for reading!
Advertisements