Tanpa Kata

Sayang sekali aku tak bisa membuat orang-orang kebingungan membedakan antara Flora dan Fauna.

by Primrose Deen

Mini Event: Truk Pantura

Ber-217-an (berdua satu tujuan)

Photo © I.H.

Aku hidup berdampingan dengan kakakku belum cukup lama. Belum pernah kudengar suara kakakku barang sekali pun, selain detak jantungnya. Belum pernah kutatap kedua matanya yang entah berwarna apa, lantaran untuk membuka kedua mataku sendiri saja aku belum menemukan caranya. Namun, entah bagaimana, ruang berspasi terbatas ini seakan-akan telah berhasil menyimpul ikatan batin yang erat antara aku dan kakakku—yang belum kuketahui namanya. Satu-satunya informasi penting yang kudengar dari Ayah dan Bunda adalah kami memiliki wajah yang serupa.

Aku pun belum mengetahui, wajah seperti apa yang membuat kami tampak serupa. Yang jelas, kata mereka, kami sulit untuk dibedakan antara siapa dan siapa. Aku pernah beberapa kali mendengar pula bahwa Ayah dan Bunda akan memberikan kami sepasang baju dan sepatu yang sama. Tak hanya itu, barang-barang lain seperti topi, tas, dan aksesori lain pun tak luput dari keserupaan yang membuat kami tak ada bedanya.

Aku sih terima-terima saja, lantaran mengetahui Ayah dan Bunda begitu terdengar bahagia untuk melakukan semua itu bersama-sama sudah membuatku tak sabar ingin segera bersua mereka. Menatap kedua manik mereka yang berkilat-kilat penuh semangat dan teduh di waktu yang sama.

Omong-omong, aku memang belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Ayah dan Bunda. Aku hanya bertemu via suara; suara Bunda yang lembut penuh keanggunan dan suara Ayah yang rendah penuh wibawa. Aku pernah mendengar mereka bersenandung, sesekali bernyanyi lagu bertempo lambat maupun cepat, atau sekadar bercengkerama. Anehnya, hanya dengan melalui hal-hal kecil itu, aku jatuh cinta pada Ayah dan Bunda, sehingga lama-kelamaan timbul suatu keinginan; menjadi alasan di balik ulasan-ulasan senyum dan derai tawa bahagia mereka.

Bicara lagi perihal kakakku, aku belum cukup mengenalnya. Namun jangan ditanya, rasa sayangku padanya nyaris menyamai rasa sayangku pada Ayah dan Bunda. Aku tidak ingin dia terluka. Aku ingin berkonversasi dengannya mengenai banyak hal, mulai dari yang paling penting sampai hal sepele yang paling tidak ingin dibicarakan oleh orang pada umumnya. Aku ingin membicarakan hal-hal itu di bawah selimut kami hingga tengah malam, sampai-sampai kami harus berpura-pura terlelap lantaran takut terkena marah oleh Bunda. Namun, sampai detik ini, aku belum juga mendengar suaranya. Apakah dia tidak menyadari presensiku di sampingnya? Apakah dia justru menungguku untuk terlebih dahulu menyapanya? Sungguh, aku ingin mengajaknya bicara, membayar semua rasa rindu yang bersemayam padanya sampai lunas, namun aku hanya belum mengetahui caranya.

Fisik kami memang dekat, tapi aku merasa jauh darinya.

Kendati kami belum mendapatkan kesempatan untuk mendiskusikan tentang banyak hal, semoga kakakku juga memiliki tujuan yang sama; membahagiakan Ayah dan Bunda.

Semua tanda tanyaku belum kunjung terjawab meski beberapa bulan telah bergulir tanpa terasa. Hingga pada akhirnya, suatu suara yang seringkali kudengar—selain suara Ayah dan Bunda—mengatakan bahwa aku dan kakakku tidak dapat hidup bersama. Salah satu dari kami harus ada yang direlakan pergi, walau Ayah dan Bunda bersikeras ingin mempertahankan kami berdua.

“Nak, namamu adalah Fauna. Dan nama kakakmu adalah Flora,” ujar Ayah, suatu hari. “Meski Ayah belum sempat mengumandangkan azan di telingamu, yakinlah Ayah tak pernah jenuh memanjatkanmu beribu doa.”

Kini, kudengar kembali isak tangis Bunda yang beberapa hari terakhir kerapkali pecah setelah suara itu mengabarkan bahwa aku dan kakakku tidak dapat hidup bersama.

“Ayah dan Bunda sayang padamu. Kami telah bahagia karena keberadaanmu. Kalian berdua telah berhasil mewujudkan satu tujuan, yaitu membahagiakan Ayah dan Bunda. Semoga kita dipertemukan lagi pada kehidupan selanjutnya.”

Kupikir, aku mulai mengerti arah pembicaraan Ayah yang sejak tadi agak terbata-bata. Kupikir, aku harusnya bahagia, lantaran telah mengetahui bahwa tujuanku telah tercapai tanpa cela. Namun kenapa aku tetap merasa sangat sedih kala mengetahui bahwa aku tak memiliki satu kesempatan pun untuk mengatakan sesuatu yang sejak lama ada di kepala? Apa lagi menghamburkan diri dalam dekapan mereka.

“Adikku, kita berdua adalah satu. Kita berdua memiliki satu tujan yang sama. Dan sekarang, biarkan aku untuk terus memegang teguh tujuan kita di dunia yang baru, kendati kita tak lagi bersama-sama.”

Itu adalah kalimat pertama dan terakhir yang kudengar dari kakakku yang akhirnya kuketahui namanya; Flora. Meski tanpa kata, setidaknya kini aku tahu bahwa sedari awal kami berada pada satu perahu yang sama.

Sayang sekali aku tak bisa membuat orang-orang kebingungan membedakan antara Flora dan Fauna.

end.

  • Mohon koreksinya. Udah lama nggak nulis. :”
  • Masih semi-hiatus.
  • Buat yang bingung sama posternya, itu adalah tato simbol gemini, which is universal symbol for twins.
Advertisements

11 thoughts on “Tanpa Kata

  1. promptnya bagus, 217 haha. dari prompt itu aku pikir bakalan cerita romance gt ((otaknya gamikirin yg lain, mikirnya romance mulu-_)) eh taunya bisa dibikin kayak gini… bagus mulus lagi

    dr atas juga aku pikir ini cerita binatang gt krn ada fauna2 gt, tapi taunya… eh ini kembar y? siam kah?

    Like

  2. Kakprim haii. Bentar, bentar. Ini ceritanya mereka masih janin kan? Btw btw, nggak ketebak sih kalau dari promptnya bakal digubah seperti ini, keren banget kak! Dan selama baca, menurutku sih aku nggak nemu koreksi apa pun. Lancar jaya. Enak sekali dibaca! Terus nulis kakprim ❤

    Like

  3. Sudah mulai ketahuan pas di tengah-tengah tapi kukira yang bakal dipilih itu dia, bukannya kakaknya huweee. Waeyooo :””

    Memang sulit jikalau harus memilih. Aku merasa ini ngga kembar siam cuma ada sesuatu yg bikin salah satu memang ndabisa dipertahankan, karena kembar biasa pun bisa kaya gitu heu :” Fauna gapapa deh enak ko ga ngerasain dunia :”) anyway keep writing kak arii, aku ga merasa ada yg perlu dikoreksi. All is well 🙂

    Like

  4. aw:( belum lahir 😦 ini…. huhuhu 😦 hatiku 😥

    Singkat tapi indah. Kalimat favoritku pas omongan Ayahnya yg belum sempet ngadzanin :’) ❤ yoksi truk pantura ternyata bisa dijadiin fiksi beginiiiiiii

    Liked by 1 person

  5. halooo, kak ari! akhirnya kubisa komen juga di fiksi kakak yaa, hehe :))

    ini… kasian sekali fauna harus dikorbankan demi kakaknya. aku selalu ambyar bayangin anak kembar di mana yg satunya harus pergi (atau anak kecil mana pun yang harus pergi) dan ini ambyar sekali. prompt truk pantura aja bisa disulap se-classy iniiii.. hebat bgt kaaak!

    semangat terus yaa, kak ari! 🙂

    Like

  6. Awal2 aku mikir ini masih di dlm rahim, tp bisa juga masih di inkubator. Ah tapi gak pnting2 amat sih untuk aku, wkwk
    Tpi serius inih sediih. Kak ari pinter banget bkin cerita yg pararafnya panjaaang tp gak ngebosenin huhu, aku mupeeng.
    Trus ttg critanya, ih nyesek lah pokoknya liat salah satu di antara yg kembar pergi duluan. Kliatan banget wajah sedih kmbaran lainnya ituu pdhl masih sama2 bayi baru lahir 😦 aku sampai mikir jauh gmna rasanya sih pas gede dikasih tau kalau sbnrnya punya sodara/kembaran, tp sayangnya gak pernah ngeliatnya langsung 😦
    Komenku kemana2 huhu. Ah, pokoknya ajib kak ari… trimakasii atas ceritanya 😀 kpikiran aja prompt 217nya dibikin bginii

    Like

  7. Kak ari haloo, ini kayanya pertama kalinya nabil baca fiksinya kaka yaa? dan kak arii ini bagus sekaliii, terharunya itu diceritain dari sudut pandang fauna yang direlain pergi :(( kak ari bisa aja niih nyambungin sama panturanyaa 🙂

    Like

  8. MASIH MELONGO YA ALLAH ITU DARI PROMPT TRUK BISA JADI KAYAK GINI YA ALLAH ARI AKU GEMES BANGET :(( iniiiiii ya ampun bittersweet literally. yang bicarain tentang sodaranya tuh beneran yang bikin hangat gitu, tapi pas udah menuju akhir ya allah aku gatega :’ sumpah gatega. apalagi yang bagian cuma satu dari kami yang bisa hidup. ari atuhlah :’ aku suka banget. bahasanya cantik bangetttt ya ampun yokshi!

    Like

  9. KAARI INI APA DUHLAH MALMING JADI GALAU NIH :”(((

    dan seperti kata kafika, ini tuh bittersweet banget. titan literally nyubit pipi buat nerusin baca bikos this is too much for me??? i can’t read angst like pls help me im drowning in feels????? huhu :”

    nonetheless, ini cantik banget yeokshi. keep writing ya kaari 😀

    Like

  10. Kembar siam ini nih pasti nih. Wuidih, eksekusi yang brilian dari prompt yang sederhana. Leh ugha nih, kenalan dulu ah, Nyun di sini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s