Running Men

by Liana D. S.

(mini event: truk pantura)

Credit pic: reddotblog.com

.

Buronan mertua.

***

Jongdae berencana menutup acara jalan-jalan santai Sabtu siangnya dengan segelas kopi, sebetulnya, tetapi niat itu urung akibat perasaan tidak nyaman yang mendadak muncul. Telapak pemuda itu berhenti tepat sebelum menyentuh gelas kertasnya dalam mesin minuman lantaran merasakan aura yang familier dari seberang jalan. Perlahan ia menegakkan punggung, menyejajarkan matanya dengan bagian berkilap dari mesin minuman supaya bisa melihat ada apa di seberang sana tanpa perlu menengok. Pancaran aura ini begitu intens, kalau ia menengok dan bertemu tatap dengan orang itu sama saja cari mati.

Benar kan dugaanku?

Bayangan para pejalan kaki yang lalu-lalang tidak menutupi presensi orang itu dari penglihatan Jongdae, membuatnya mematung seketika dan tak tahu harus berbuat apa. Dalam kepala Jongdae, berputar puluhan jenis sumpah serapah yang pernah dikenalnya, menunjukkan betapa buruk situasi saat itu buatnya. Mau bergerak menjauh tiba-tiba jelas aneh; melalui pantulan di kaca mesin minuman, pandangan orang itu terkunci pada Jongdae (jadi kalau Jongdae tiba-tiba menjauh, orang itu pasti akan sadar kalau Jongdae menghindarinya). Mau diam saja? Sudah barang tentu orang itu akan melangkahkan kaki panjangnya menuju Jongdae sebelum menyembur Jongdae dengan api. Kedua jalan sama-sama tidak menyenangkan, sayangnya tidak ada alternatif lain. Selain itu, Jongdae tidak punya waktu berpikir lebih banyak.

Orang itu telah menyeberang jalan, lurus ke arah Jongdae.

Gawat! Dia serius akan menangkapku!

Mengabaikan kopinya, Jongdae bergegas berlalu dari depan mesin minuman. Yang penting, buat jarak yang jauh dan jangan berkontak mata dengannya, perintah Jongdae berulang-ulang pada diri sendiri, menanamkan komando itu kuat-kuat di kepala supaya refleksnya kalah, sehingga ia tidak menoleh atas alasan apa pun. Namun, seseorang menyenggol tempat sampah, menjatuhkannya dengan bunyi yang begitu keras, dan membuat refleks Jongdae kembali bekerja. Melawan kemauannya, Jongdae menoleh ke belakang …

… dan pria paruh baya tadi berlari dalam kecepatan penuh menujunya!

Manik Jongdae melebar dan, sebelum diterkam pemburunya, segera berlari pula.

Sial, sial, sial! Mengapa Yoochun-ssi tiba-tiba mengejarku?! Mati aku!

***

Cinta bersemi tanpa mengenal batas, apalagi di kalangan anak muda macam Kim Jongdae. Rasa yang semula hanya bara dalam waktu singkat berubah jadi api yang menjilat-jilat, lalu mereda lagi bagai nyala di perapian, hangat nan nyaman. Dalam kenyamanan itulah, akhirnya Jongdae memberanikan diri mengungkapkan keinginan untuk menikahi gadisnya. Si gadis menerima tawaran itu dengan hati berbunga, tetapi ayahnya lain cerita. Entah karena penampilan Jongdae yang tidak meyakinkan saat lamaran atau karena pekerjaannya yang tidak seberapa menghasilkan (Jongdae cenderung ke yang kedua sebab dia sudah latihan dua minggu hanya untuk menghadapi si calon mertua, masa masih tampak tidak siap?), Park Yoochun dengan tegas menolak pinangannya, menyimpan si gadis dalam kamar, dan tidak mengizinkan sepasang kekasih ini bertemu. Yah, keduanya memang tidak bertemu, tetapi fasilitas pesan, telepon, dan video call ada, mengapa tidak? Nah, barangkali tindakan mereka yang diam-diam selalu memberi kabar pada satu sama lain ini telah terbongkar, sehingga si calon mertua jadi kesal dan mengejar Jongdae demi menghukumnya.

Horor! Yoochun-ssi larinya cepat betul! Apa gara-gara kakinya panjang? Hah, kaki pendekku ini memang tidak bisa diandalkan!

Sejak masih SMA, Jongdae sudah mengenal Yoochun sebagai ayah dari sahabatnya, kakak dari pacarnya sekarang. Beliau merupakan pribadi yang humoris dan penyayang. Pada teman anak-anaknya pun, Yoochun selalu bersikap menyenangkan, termasuk pada Jongdae ketika masih berstatus sebagai rekan kerja biasa Park Sunyoung sang kekasih. Sikap baik itu membuat Jongdae mengira Yoochun tidak akan keberatan kalau ia datang sebagai seorang peminang, tetapi siapa sangka, sebuah lamaran justru merusak hubungan Jongdae dengan kepala keluarga Park tersebut?

Sejenak, Jongdae berpaling ke belakang. Park Yoochun tengah memasang muka seram yang tak biasa, membuat buruannya bergidik ngeri.

Apakah Yoochun-ssi jadi agresif gara-gara dia sudah tahu aku mencium Sunyoung kapan hari? Hah, bagaimana bisa? Waktu itu kami kan hanya berdua—tunggu, jangan-jangan Sunyoung sendiri yang melapor! Dia terlihat menikmati ciumannya, tetapi bukan tidak mungkin dia sebenarnya merasa ternodai dan ‘membalasku’ menggunakan ayahnya …. Argh!

Ciuman yang Jongdae maksud ini adalah ciuman pertamanya dengan Sunyoung tiga hari lalu, sentuhan yang senantiasa meninggalkan rasa bersalah dalam hati jika diingat-ingat rasanya. Ia mengerti tidak seharusnya ia mencicip bibir sang kekasih yang hari itu tampak begitu lembut tanpa pulasan. Kendati demikian, ia tetap saja maju dan merebut apa yang belum menjadi miliknya. Sunyoung bisa jadi merasa sama-sama berdosa, terlebih ia berasal dari keluarga yang strict soal pacaran.

Benar, Jongdae mestinya minta maaf. Ia lupa melakukan itu, biarpun sudah berkali-kali menelepon dan mengirim pesan pada sang gadis. Bodoh.

Tikungan di depan adalah ke mana Jongdae selanjutnya lari. Nyaris saja ia terpeleset karena berbelok ketika tubuhnya masih belum seimbang, tetapi ia pikir, gerakan yang tiba-tiba ini akan menghambat Yoochun mengejarnya. Jongdae tersenyum menang. Ia tidak mendapati pria paruh baya itu lagi di belakangnya, jadi ia berhenti berlari buat mengistirahatkan kaki.

“Be-benar-benar sudah tidak ada?” gumam Jongdae seraya mengatur napas. “Oke …. Setidaknya, aku aman.”

Sekarang, tinggal hubungi Sunyoung dan minta maaf sebelum lupa.

Semula, Jongdae ingin menyampaikan penyesalannya melalui pesan, tetapi setelah mempertimbangkan berapa banyak perasaan yang dapat tertuang dalam kata-kata di layar, ia memutuskan untuk menelepon saja. Lebih gugup memang, tetapi lebih jujur. Telunjuk Jongdae mengetuk-ngetuk gelisah punggung ponsel. Sempat ia meragu, apakah ia sungguh-sungguh perlu menelepon untuk minta maaf atas ciuman tempo hari? Bukankah berciuman itu wajar bagi pasangan yang sedang memadu kasih?

“Halo?”

Suara yang manis di sisi lain sambungan cukup untuk mengejutkan Jongdae yang sedang melamun.

“A-ah, Sunyoung! Ini aku, Jongdae!”

“Aku tahu. Nomormu kan sudah kusimpan,” kekeh Sunyoung. “Kamu tidak apa-apa? Kamu terdengar tersengal-sengal.”

“Eh, iya, sepertinya aku kecapekan berjalan-jalan, belum duduk dari tadi, hahaha ….”

“Begitu? Betulan tidak apa-apa?”

“Jangan khawatir,” Jongdae dapat membayangkan kekasihnya mengembuskan napas lega di seberang dan kelegaan itu menular kepadanya, melenyapkan kegugupannya. “Sunyoung, sebetulnya aku menghubungimu untuk minta maaf.”

“Eh? Untuk apa?”

“Untuk menciummu beberapa hari lalu,” bisik Jongdae, memastikan agar orang-orang tidak mendengar hal itu. “Mumpung ingat. Aku sudah lama mau bilang, tetapi selalu saja lupa kalau meneleponmu.  Aku takut kamu merasa tidak nyaman karena selama ini, kita … bagaimana mengatakannya … tidak pernah bersentuhan sampai ‘seperti itu’. Orang-orang saja mengatai kita pasangan aneh yang tidak pernah melakukan lebih dari berpegangan tangan, tetapi kamu pasti akan menolak melakukan ‘yang lebih’ itu, bukan? Tak lama setelah menciummu pun, aku merasa telah menjamahmu tanpa izin, tetapi mungkin aku terlalu hanyut sampai tidak sadar ada maaf yang harus kuucapkan ….

“Jadi, maafkan aku?”

Jeda sejemang. Di luar perkiraan Jongdae, Sunyoung kembali terkekeh.

“Ya ampun, soal itu? Astaga, kamu mengatakannya seolah-olah itu dosa tak terampuni! Iya, iya, aku maafkan. Walaupun aku tidak yakin itu sebuah kesalahan, aku senang kamu tetap meminta maaf. Itu berarti kamu memikirkanku dan paham bahwa … itu sedikit—sedikit saja—mengusikku. Ciuman kemarin sungguh sulit kulupakan, membuatku merasa bersalah, tetapi … ehm … ingin mencoba lagi ….”

Semburat merah di muka Jongdae menyebar sampai telinga.

“Sunyoung, maksud—“

“J-jangan dipikirkan! Pokoknya menangkan saja hati Ayah agar kita bisa menikah, kamu mengerti? Lupakan saja yang tadi, anggap itu tidak pernah kuucap!”

Jongdae penasaran, panasnya ponsel ini disebabkan oleh lamanya ia menelepon atau merambat langsung dari pipi Sunyoung, ya? Manis sekali kalau jawabnya yang kedua. Senyum gembira terulas di wajah si pemuda, merasa masalahnya telah selesai …

… dan ia salah besar.

Derap berat nan cepat terdengar makin dekat, merambatkan gelombang panik ke seluruh tubuh nyaris seketika. Jongdae mengambil langkah yang bagus dengan berlari lebih dulu ketimbang menengok ke belakang, sehingga ia sudah kembali memperpanjang jarak aman dengan pengejarnya.

Jarak aman?

“WHOA, DEKAT SEKALI!!!”

Mana Yoochun menyeringai dengan penuh percaya diri, pula. Gigi putih bersihnya yang masih lengkap biar sudah lewat setengah abad itu seakan menyerukan ‘kena kau, Kim Jongdae calon menantu kurang modal yang beraninya menghubungi putriku diam-diam!’. Itu bukan pertanda baik sama sekali. Heran Jongdae, pria itu kok tidak ada capek-capeknya?

“Jongdae?”

“Sunyoung, maaf … hosh …. Aku ketemu ayahmu … hosh … dan dia mengejarku! Nanti kita sambung lagi, dah!”

“Apa? Jong—“

Pip! Telepon diputus sepihak oleh Jongdae tanpa menunggu Sunyoung menuntaskan kalimatnya. Maaf memotong panggilan, urusanku kali ini dengan ayahmu sepertinya juga akan berhubungan dengan keutuhan badanku, Sayang, batin Jongdae sembari terus menambah kecepatan. Namun, sebagaimana ‘mangsanya’ yang pantang menyerah, Yoochun tampaknya juga tidak mau berhenti. Tak peduli betapa seringnya Jongdae menembus kerumunan, mengubah arah gerakan mendadak untuk mengacaukan keseimbangan si pria tua, dan membuat gerakan tipuan, Yoochun tidak takluk. Ujungnya, Jongdae habis akal. Paru-parunya menjerit, memaksanya berhenti secara bertahap saat ia dan Yoochun sedang berkejaran di area pejalan kaki yang longgar. Jongdae mengerang keras; langkahnya melambat, lambat, hingga ia berpegang ke tiang lampu jalan, kelelahan.

Duh. Setelah ini, apa yang akan terjadi padaku?

Tak lama kemudian, kerah baju Jongdae direnggut.

***

“CALON MENANTU MACAM APA YANG BELUM DIAJAK BICARA CALON MERTUANYA SAJA SUDAH KABUR?!”

***

Bletak! Satu pukulan mendarat di ubun-ubun Jongdae, meloloskan pekik kesakitan dari si korban. Jongdae mengusap-usap cepat kepalanya sambil meringis.

“Maaf, Yoochun-ssi, habis saya takut. Saya kira Anda akan menghukum saya atau apa, tetapi … kelihatannya bukan itu alasan Anda mengejar saya ….”

“Memang bukan, Bodoh. Ini sesuatu yang lebih penting, yang ingin kusampaikan segera tanpa tertunda, makanya aku jalan cepat. Kau malah jalan lebih cepat. Aku terpaksa lari dan kau—aih, jantung orang tua itu gampang terbebani, paham kau?!”

Kontan Jongdae membungkuk penuh sesal. “Maafkan saya ….”

“Menyusahkan sekali kau ini, padahal tadinya aku cuma mau mengatakan, aku berubah pikiran. Lamaranmu kuterima. Minggu ini, datanglah lagi ke rumah bersama orangtuamu untuk membicarakan persiapan pernikahan dengan lebih mendalam.”

***

Apa?

***

Pelajaran yang didapat Kim Jongdae setelah kejar-kejaran dengan calon mertuanya siang itu amat berharga: dengar dulu pengejarmu sebelum ambil langkah seribu.

***

[Epilog]

“Ayah, buat apa sih pakai mengejar-ngejar Jongdae segala tadi?! Kami jadi tidak bisa mengobrol lama! Kalau mau bilang menerima lamarannya, gunakan cara baik-baik yang tidak menakutinya, dong! Aku tidak mau bicara sama Ayah sampai besok pagi!”

“Sunyoung, Sunyoung!!! Maafkan Ayah!!! Ayah janji tidak akan menakuti kekasih—“

“Calon suami!”

“—ah, ya, calon suamimu lagi! Bukakan pintumu, kumohon ….”

***

(Park Yoochun, 56 tahun, ayah yang sangat menyayangi anak perempuannya hingga tidak rela ada lelaki yang mempersunting sang putri. Kekuatan terbesar: fisik yang sehat dan kaki panjang. Kelemahan terbesar: berubah mirip remaja labil jika salah satu anak perempuannya ngambek.)

TAMAT


  • fic debut. semoga layak posting.
  • happy belated birthday KJD.
  • thanks for reading! (for admin in charge, thanks for reviewing.)

 

Advertisements

12 thoughts on “Running Men

    1. Sorry, maksudku adalah kakak dari pacar jongdae itu sahabat jongdae, tapi dr kalimat ini kesannya jadi lain ya. Maaf2 akan diperbaiki nanti, terima kasih sdh baca 🙂

      Like

  1. HAHAHAHAHAHAHAHA.
    AMPUN DEH YOKSI YOKSI YOKSI!

    Walaupun tengah bersin-bersin, aku tetep ketawa dan bersuka hati pas baca fic ini! ❤ ❤ ❤ Terus meski gak di-play, kepalaku muter lagu Sseomtta-nya Jongdae hahahaha. Ini menarik dan menghibur banget, Kak! Highlightnya tentu di epilog yes! AMPUUUN YOOCHUN LEMAH BANGET NIH KAYAKNYA SAMA ANAK PEREMPUANNYAAA XD 😀 Sukses lah kak! Buronan banget si Jongdae ini!

    p.s : waktu pertama kali baca nama Jongdae di awal paragraf, aku nyengir terus langsung bersorak di dalam hati.

    Liked by 1 person

    1. Dhilu hehe makasih udh mampir ya n sorry for the late reply! Aku bahkan blm mendoakan flumu sembuh duh
      Huaa ssomta itu lucu bgt lagunya biar rasa2nya rada ga pas sama kondisi dae-sunyoung di sini tapi cocok XD

      Liked by 1 person

  2. OMG HAHAHAHAHAHA INI LUCU BANGEEET. KOMEDINYA DAPET ABIS. Dan setelah agak lama ngga baca tulisan kakak, kali ini tulisannya bawa nuansa segar dan masih sangat enak dibaca. Meski agak heran dengan budaya ‘strict’ yang akan sangat aneh bila ada keluarga kayak gitu di Korea… Yah kecuali sunyoung ini keturunan raja/sejenisnya, lah. Selebihnya bagus, mungkin lain kali bisa diganti aja kak strict-nya ke arah yang lebih jauh, bukan sekadar ciuman soalnya di sana budaya itu sudah amat biasa dilihat dari konsumsi filmnya. Fic-nya jadi terasa Indonesia.

    But tetep, Yoochun nyebelin banget dam Jongdaenya… Ckckck. Yah happy wedding lah buat jongdae sunyoung, longlast yaaa wkwkwkwk. Oh ya, keep writing kak li! ((miane baru sempet nongol lagi di ficmu))

    Liked by 1 person

    1. Aku setuju sama pendapatmu, ini agaknya terlalu ketimuran * ya Korea emang timur kali *tapi skrg negara mana yg udh g keseret barat -.-
      Makasih sdh baca ya niswa dan maap Krn tlt bls T.T

      Like

  3. YOOCHUN HAHAHAHA. Sorry, aku gak fokus karena di sini Yoochun protektif banget, aku ngebayanginnya jadi kayak Bapakku di rumah hahahaha.
    Anyway, ini fiksi debut yang mendobrak. Gaya nulisnya Liana sekali (aku pernah baca beberapa fiksi kamu zaman kita masih di IFK). Tapi, sumpah, aku gak fokus gara gara cekikikan liat kelakuan labil Yoochun. Hahahaha, nice fic, Li!

    Nyun

    Liked by 1 person

  4. si yoochun sama jongdae ini kenapa sih HAHAHAHA ini lucu banget parah sih kak. jangan tanya kenapa aku komentar lagiiii bcs this is worth to read and worth to be reviewed. aku emang lagi muter-muter seharian ini, jadi baca-baca aja deh. anywayyyy, aku suka bangeeeeet ini! parah lucu banget, menggelitik!

    yoochun tuh tipe-tipe bapak yang cemburuan kalau anaknya diajak ngedate cowok, pasti deh. fix. dan jongdae yaelah gimana mau nikah sama anaknya kalau kamu aja baru gitu takut. HAHAHA untung yoochun juga pantang menyerah untuk menyenangkan hati si dedek sampe rela lari-lari ngejar si calon menantu yang penakut xD dan yoochun di epilog ya ampuuuun kalah sama anak TAPI JUSTRU ITU YANG LUCUUUUU KAYAK MEREKA DEKET BANGETTT ❤

    aku literally yang ketawa sampe keluar suara gitu bacanya. habis bayangin papaku begini soalnya beliau masalah cowok tuh juga sinis banget. apalagi kalau mamaku kayak, "kamu tuh kalau ada pacar…" papaku langsung, "pacar pacar. masih kecil pacaran." huhu.

    yossssssh, semangat terus kak liana yang hebat! ❤

    Liked by 1 person

    1. Hai eviin apakah ini bener2 worth reading menurutmu bikos ini receh like kapan aku bs bikin ff classy ;-; trs banyak typo juga ya kan terserah deh. Sblm dikoreksi sama sesudah dikoreksi admin banyak bgt bedanyaaa
      Anyway aku senang kalo kamu senang, your comment made My day… Makasih byk udh mampir!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s