Fragmentum #1

by dhamalashobita

photo by Mike Wilson

These drabbles aren’t connected to each other.

#149 – Color Palette

Goresan kuas Lisa selalu menjadi yang paling indah di mataku. Dari potret realis hingga naturalis, semua kusuka. Satu yang paling membuatku kagum adalah permainan warna yang selalu dibawakannya. Lisa bisa membuat pohon oak dengan daun berwarna biru, kemudian atap rumah berwarna merah jambu. Ah, kesukaannya adalah langit bercat mauve.

Dengan palet di tangan kiri dan kuas di tangan kanan, hari ini Lisa mulai melukis wajahku. Aku tahu hasilnya akan menjadi sangat cantik, seperti biasa.

Benar saja, ketika Lisa selesai dan aku mendekat, kulihat wajahku di atas kanvas sudah bercat kuning, hijau jeruk nipis, dan tosca.

“Mengapa kau membuat wajahku berwarna-warni lagi? Padahal aku sudah membuat kode di atas palet-palet cat minyakmu itu,” ujarku.

“Berbeda apanya? Toh, semua warnanya terlihat sama di mataku.”

#225 – Online Friends

Jika anak sekolah lainnya berkumpul di sudut kantin sambil menyantap makan siang, atau sebagian lainnya sibuk merokok diam-diam di sudut halaman belakang sekolah, aku duduk diam di taman samping sekolah.

Pohon oak yang menaungiku sedang rindang-rindangnya, tapi tak berguna karena dia juga tidak bisa kuajak bicara. Yang kubutuhkan sesungguhnya teman bicara, bukan pohon rindang yang sejuk. Ketika santapan siangku sudah habis, aku hanya berkutat dengan ponsel pintarku. Tak ada pilihan meski aku bosan dibuat bodoh oleh si pintar itu. Mungkin jika aku berkenalan dengan gadis cantik di Twitter atau Instagram, hidupku akan terasa lebih menarik. Atau melihat live dari gadis cantik di Bigo.

Ting!

Ponselku berbunyi, sebuah sapaan masuk. Bukan dari media sosial mana pun. Hanya muncul di layar ponselku, entah bagaimana.

12:32 Aku bisa menjadi temanmu.

Apa-apaan ini?

12:35 Aku nyata. Tapi jangan memintaku mengirimkan foto atau meneleponku lewat Skype. Aku belum belajar cara meretas Skype dan mengirim foto lewat planetku.

#12 – Greeting

“Halo! Lama tidak melihatmu, Gas.”

“Kau semakin menarik, Ria.”

“Apa kau masih suka mengenakan kaos kaki yang berbeda kanan dan kirinya?”

“Kau pasti tidak bisa menebak, aku sudah tak lagi mengenakan kaos kaki yang berbeda. Kau masih minum kopi sebelum tidur?”

“Coba tebak, aku mengganti kopi dengan susu!”

“Ini kesalahan! Mengapa kau menjadi lebih cantik sekarang?”

“Di saat kau menjadi semakin mempesona.”

“Aku merindukanmu.”

“Aku juga.”

“Mas, aku sudah selesai. Eh, ini Ria teman sekolahmu, kan, Mas?

Wanita itu baru saja keluar dari ruangan dokter, tentu saja dilengkapi dengan kegiatan membuyarkan percakapan kami yang dilakukan dari hati ke hati. Perutnya yang sedikit membesar sudah menjelaskan semuanya. Tidak, seharusnya dia tidak perlu mengenaliku. Jika akhirnya harus bicara dengan laki-laki di samping wanita berperut buncit itu, mengapa sejak tadi kami harus bicara dalam hati saja. Kini, mau tidak mau aku tersenyum pada keduanya, tentu saja dengan terpaksa.

“Ah, kukira aku salah orang. Ternyata kau benar-benar Ria,” komentar laki-laki di depanku canggung.

“Wajar kok kalau pangling. Banyak yang berubah dari aku.”

Ya, memang banyak yang berubah. Terutama setelah kau tak lagi bersamaku.

#28 – Shadow

Awalnya dia hanya bangun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi, lalu mengambil roti dan berjalan di setapak kotor dekat sungai yang penuh sampah untuk mencapai sekolahnya. Aku suka berlindung di belakangnya, nyaman sekali. Karena dia lebih tinggi dariku, jadi tak akan ada yang bisa melihatku.

Besok-besoknya, dia melangkah susah-susah. Lompat satu langkah ke kanan, lompat dua langkah ke kiri, lompat maju kemudian bergoyang mundur. Napasnya saja sudah hampir putus, tapi ia masih bergoyang ke sana ke mari seolah tak ada lelahnya. Tapi semakin lama ia bergerak, semakin aku dekat pada orang yang kini menatapku lamat-lamat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak perlu bersembunyi di belakang tubuh tinggi orang lain.

“Dean, sejak kapan kau punya bayangan yang berbeda dari tubuhmu?”

Ah, akhirnya dia menyadari keberadaanku.

#203 – Boredom

Biasanya aku membaca buku jika bosan, atau mendengarkan musik keras-keras. Tapi hari ini berbeda. Aku tidak ingin membaca, pun mendengarkan lagu. Semua lagu terasa sumbang. Kata-kata dengan huruf Times New Roman di buku membuat kepalaku pening.

Aku berguling di tempat tidur, perutku jadi bergejolak. Aku mengikuti gerakan tari terbaru dari grup kesukaanku, dan gerakanku terlihat sangat menjijikkan. Pergi lah aku ke meja makan. Ikan asin bekas semalam dan nasi yang nyaris basi membuatku malas. Menelepon kekasih, aku bosan. Menonton televisi, pengalihan isu yang semakin marak membuatku muak. Aku ingin berteriak ‘bosan’ dari loteng rumah, tapi aku bosan melakukannya.

Tapi yang paling parah, aku bosan merasa bosan.

Ah, mungkin aku harus mati saja. Bukankah semua ini gejala bosan hidup? Tapi jika mati, apa aku akan merindukan kehidupan?

kkeut.

  • thanks to Kkeutkaji for inspiring me to write this! ^^
  • semoga bisa menulis prompt-prompt itu lagi setelah ini
  • terima kasih sudah membaca 🙂
Advertisements

2 thoughts on “Fragmentum #1

  1. “12:35 Aku nyata. Tapi jangan memintaku mengirimkan foto atau meneleponku lewat Skype. Aku belum belajar cara meretas Skype dan mengirim foto lewat planetku.” — ALIEN!! ASDFJALKSDAKJ TIATI MAS TAR DICULIK TERUS DIJADIIN KELINCI PERCOBAAN D”:

    yeokshi kamala, thank you buat bacaan prompt-nya ehe. yg agak jleb itu yg color palette deh huhu dan yg paling titan suka prompt shadow. pikiran titan kemana-mana pas bacanya pfft mas dean tiati mas jangan sampe dicekik atau diapain tar :”

    Like

    1. Titaaaan, thank you for coming. Hehehe. Maaf baru dibalas nih. Iya alien! Aku pengin banget nulis ttg beda planet gitu . Huhuhu.
      Aku juga suka shadow.. wkwk aku lg belajar genre2 lain sih.
      Makasih ya Titan sekali lagi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s