Blitzkrieg [4]

by aminocte

blitzkrieg (n.): lightning war; a military technique used by Germans in WW II  based on speed and surprise

A set of short fictions, consists of

Outside the Window

[122 words]

Cuaca cerah, matahari bersinar terik. Tanaman mulai layu gara-gara jarang disiram. Jalanan sepi gara-gara orang enggan kepanasan. Aku mulai bosan karena terus-menerus menatap pemandangan dari balik jendela. Dia mulai pusing karena terus-menerus mengitari kamar.

“Kamu kenapa, sih?”

“Nggak usah banyak tanya. Kamu perhatikan terus situasi di luar. Kalau orang sinting itu muncul lagi, kasih tahu aku. Biar kuhajar dia sampai bonyok.”

“Kamu yakin?”

Dia mengangguk mantap, lalu menyingsingkan kemeja pendeknya. Lengannya tampak kelewat kurus, membuatku meragukan kekuatan fisiknya. Aku memalingkan pandangan ke arah jendela. Seseorang berpakaian compang-camping menghampiri rumah kami. Untuk beberapa saat, ia tampak sibuk dengan celananya sebelum mengencingi pagar rumah kami tanpa basa-basi.

“Kamu lihat dia?”

Aku menggeleng. Lagipula di cuaca panas seperti ini, air seninya bisa cepat menguap, ‘kan?

Eye Contact

[195 words]

Teman-temanku berkata bahwa aku harus hati-hati dengannya. Sekilas dia tampak biasa, tetapi sepasang matanya yang cokelat gelap itu tak ubahnya pusaran arus air laut yang kuat. Mengisap kesadaran, menghipnotis siapa saja hanya dengan tatapan mata.

Apa pun alasannya, jangan pernah tatap matanya, begitulah pesan mereka kepadaku.

Maka saat dia memanggilku ke ruangannya, aku terpaksa patuh.  Dia duduk di kursinya yang empuk dan bisa berputar, sedangkan aku duduk di kursi keras untuk tamu.

“Saya perhatikan kamu ini aneh. Sekalipun tidak pernah menatap saya kalau kita sedang berhadapan. Apa kamu pemalu?”

Sebenarnya tidak, tetapi untuk melindungi diriku, terpaksa aku mengangguk.

“Sayang sekali. Padahal saya menghargai kamu lebih dari rekan-rekanmu yang lain. Kamu itu cerdas dan rajin, juga sangat detail dan perfeksionis. Saya ingin mempertimbangkan kamu untuk dipromosikan menjadi Kabid Keuangan. Itu pun kalau kamu mau.”

“Ibu serius?”

“Coba perhatikan mata saya. Apa saya terlihat seperti sedang berbohong?”

Maka untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku terpaksa menatap matanya. Memang benar kata temanku, matanya bisa menghipnotis. Aku tidak bisa berbuat apa-apa setelahnya. Kesadaranku lumpuh. Yang kulakukan selanjutnya hanya mengangguk-angguk.

Tak lama setelah itu, aku memang diangkat menjadi Kabid Keuangan. Namun, tugasku bertambah satu: memalsukan laporan keuangan untuk menutupi kecurangannya.

The Sound of Silence

[78 words]

Sialan. Orang seperti dia memang tidak pantas jadi ketua. Kerjanya tidak terorganisasi. Impulsif, tidak terencana. Eh, kalau salah malah tidak mau menerima kritik. Lihat saja sekarang. Acara tinggal seminggu lagi, proposal malah belum selesai. Bagaimana bisa selesai? Bendahara dan Koordinator Acara saja cekcok melulu. Belum lagi Sekretaris yang sering mangkir dari tugas. Dengan masalah sebesar itu, eh, dia malah tidak melakukan apa-apa.

“Bagaimana teman-teman? Apa ada yang keberatan dengan poin-poin yang saya sampaikan?”

Aku diam. Menggeleng. Pura-pura setuju.

Complain

[140 words]

“Ini lho, Dik. Laptop saya mendadak mogok. Tuh, kan, nggak mau nyala. Padahal saya selalu hati-hati memakainya.”

Aku menghela napas melihat kegigihan wanita paruh baya di hadapanku ini, yang sebentar lagi akan berujung pada keputusasaan.

“Memangnya laptop Ibu sudah berapa lama digunakan?”

Wanita di hadapanku itu tampak menerawang sembari melipat jemarinya satu per satu. “Hmm .. mungkin sekitar tiga tahun lebih, Dik.”

“Mungkin laptop Ibu perlu diservis. Ibu tinggalkan dulu di sini, kami akan coba cek kerusakannya ada di bagian mana.”

“Lho, nggak ada garansinya, Dik? Kerusakannya, ‘kan, bukan karena kesalahan saya?”

“Laptop Ibu masa garansinya dua tahun. Tadi Ibu bilang umurnya sudah tiga tahun lebih. Berarti masa garansi laptop Ibu sudah habis.”

“Oh, jadi nggak bisa, ya? Tahu begitu, mending saya komplain dua tahun yang lalu. Biar diganti baru.”

Mendengar pengandaian yang semena-mena itu, aku hanya bisa tersenyum kecut.

Telephone

[88 words]

“Ya, halo?”

“Benar ini dengan Pak Budi?”

“Ya, benar. Ada apa, ya?”

“Selamat Pak, Anda telah terpilih sebagai pemenang undian—“

“Saya nggak pernah ikut undian.”

“Oh, tapi nama Bapak ada di sini. Mungkin anak—“

“Saya belum punya anak.”

“Mungkin istri Bapak—“

“Saya juga belum punya istri.”

“Mungkin juga orang tua Bapak—“

“Saya sudah nggak punya orang tua, Mas. Di dunia ini, saya hidup sebatang kara. Coba Mas bayangkan gimana susahnya. Sudahlah yatim piatu, eh malah dapat telepon dari seorang penipu—“

Tut. Tut. Tut.

Advertisements

4 thoughts on “Blitzkrieg [4]

  1. Wakakakak XD
    The most greget emang yg telephone xD. Sa ae aja kaak haghaghag.
    Trus yang eye contact, nah loh job tambahannya mayan nambah dosa ya =.=
    Outside the window-nya aku gatau harus bahagia apa senyum sepet *?*. Ya apa faedahnya ngelawan orang kayak gitu .__.”
    Silence sama complain aku salut ih kepikiran. Boleh juga ya servis barang sebelum masa garansinya habis wkwkwk…
    Okedoke #5 juseyo~~~

    Like

  2. Kak Amiiiiiii
    Duh gak tahu kenapa ini manis. Aku suka semuanyaaaa tapi yang paling kusuka itu eye contact sama telephone. Kukira yg eye contact itu matanya bolong atau gimana gitu wkwkwk. Terus terus pas yang telephone itu gak tahu kenapa asa bodor aja gitu. Masa yang mau nipu kena omelan segala, wkwkwk. Ditunggu Blitzkrieg [5] nya, Kak!:3

    Like

  3. “Tak lama setelah itu, aku memang diangkat menjadi Kabid Keuangan. Namun, tugasku bertambah satu: memalsukan laporan keuangan untuk menutupi kecurangannya.” — INI APA ASDFJALKJFGASJAS TITAN NGGA NYANGKA ENDING NYA HUWOOOH D”:

    dan yang Telephone nyaris bikin titan jatoh dari kursi hahah it was hilarious beyond words good lords XDD

    Like

    1. Asffghjklpoiuzgbnbcx titaan your comment made my day! Ini nulisnya pas aku lagi cynical jadi yah ehm begitulah. Haha yang telepon itu asli ehm aku nggak nyangka kalau bisa hilarious begini. Thank you so much titaan

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s