Manusia Pengais Gelar

cara-penulisan-gelar

 

by Niswahikmah

based on prompt ‘mahasiswa farmasi’




Aku baru saja pindah dari apartemen lamaku ke kos-kosan yang lebih dekat dengan kampus tempatku mengambil studi. Dengan alasan jarak, aku merelakan apartemen itu terjual dengan harga rendah, dan uangnya kupakai untuk membayar uang muka sewa kos-kosan yang meski kecil, biayanya melangit. Fasilitas di dalamnya cukup menggiurkan: dapur, televisi, dan free wi-fi. Inilah aspek kedua yang kupertimbangkan untuk kos di sini.

Ini hari keduaku pulang dari kampus dengan berjalan kaki. Dalam waktu sepuluh sampai lima belas menit, aku bisa sampai dengan selamat. Kupikir, ini cukup menyehatkan juga dibanding aku naik bus oper dua kali untuk tiba di apartemenku yang dulu.

Baru saja tiba dan membuka kos dengan kunci di tangan, aku dikejutkan dengan suara gemeletuk. Seperti batu yang baru saja melesat dari ketapel. Segera kutolehkan kepala untuk mencari sumber suara. Seorang bapak-bapak—sepanjang penglihatanku, umurnya berkisar kepala empat—sedang memegang ketapel di tangan, berhasil menumbangkan seekor burung di pohon.

Aku mengernyit melihatnya dengan cekatan mengambil burung itu sambil terkekeh senang. Ketika ia menoleh, aku cepat-cepat memalingkan muka. Namun, dengan nada kesal, dia tetap saja menyemburku.

“Apa kamu lihat-lihat?”

Aku berbalik memunggunginya, segera membuka kamar kos dan masuk.

***

Berturut-turut aku melihat bapak itu dari depan kos. Seringkali ia muncul ketika aku baru pulang kuliah, dengan seragam khususku—karena memang aku mahasiswa jurusan farmasi. Obat-obatan adalah temanku. Seharusnya, itu hal yang biasa, bukan? Aku bukan satu-satunya mahasiswa yang menyewa kos di rumah kos berderet itu.

Tapi, bapak-bapak itu selalu saja mengalihkan atensi padaku jika aku berjalan pulang. Pernah ia meneliti bajuku seperti ada noda di sana, padahal itu bersih dan rapi. Pernah juga ia mendengus-denguskan hidungnya sambil memprotes, “Baumu menyengat sekali, baiknya cepat mandi!”

Padahal, itu hanya bau obat. Banyak bajuku yang terkontaminasi bau obat setiap kali aku selesai menjalani praktikum. Itu biasa, karena di bidang itulah aku bergelut. Ketika suatu hari protesannya semakin menjengkelkan, aku menjawab sekenanya.

“Saya mahasiswa farmasi, Pak. Maaf kalau bau obat.”

Ajaibnya, dia langsung diam, dan sibuk lagi dengan burung yang hendak dia jatuhkan. Aku jadi heran, apa tujuannya membunuh burung setiap beberapa hari sekali. Mau dia makan juga sepertinya tidak enak. Mau dia ternakkan, setahuku rumahnya yang menghadap jalan raya di depan bukan tipikal peternakan hewan. Atau mungkin, peternakan itu diletakkan di halaman belakang, aku tidak tahu.

Karena acapkali terganggu, aku memutuskan memundurkan jadwal pulangku setengah jam lebih lama dibanding biasanya. Mungkin, dengan begitu, si bapak akan jarang kelihatan dan bosan menyapaku.

Atas tingkahku itu, tetangga kosku tertawa. “Ah, sudah biasa, bapak itu bertingkah seperti itu pada orang baru.”

“Memang, kamu dulu juga dibegitukan?”

Dia mengangguk. “Tapi, tidak lama. Karena segera datang orang baru.”

Semua kamar kos sedang penuh, jadi aku tidak punya pilihan lain. Selama beberapa hari, aku tidak lagi melihat bapak itu akibat jadwal pulangku. Namun, pada hari kelima, secara tidak terduga, beliau tampak lagi saat aku jalan pulang. Kulihat, beliau sedang asyik memainkan ketapelnya.

“Kalau pulang jangan sore-sore, Nak,” suaranya terdengar bicara padaku.

Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya, dia tersenyum kebapakan. Ditujukan untukku? Karena skeptis, aku tidak menggubrisnya dan segera masuk ke dalam kamar.

***

Suatu hari, karena harus menjemput teman yang ingin main ke kos-kosan dan bingung dengan gangnya, aku keluar ke jalan besar. Ternyata, dia menunggu di depan rumah bapak itu. Ketika kuhampiri, ia sedang sibuk memerhatikan halamannya.

“Hei, Lin, tadinya kupikir itu tidak nyata,” ujarnya sambil menunjuk pada teras rumah. O, lebih tepatnya pada jejeran patung burung—tunggu, patung?

“Loh, memangnya itu betulan burung?” tanyaku balik. Karena aku memang tidak pernah memerhatikan teras rumahnya sebelum ini.

“Kamu nggak tahu?” temanku mengerutkan kening, “Kalau dilihat dari bentuknya, itu betulan, Lin. Kayaknya, hasil pengawetan. Mungkin, ini rumah semacam museum kali, ya?”

Aku diam saja. Melihatku tidak menanggapi, temanku mengajak untuk segera berjalan ke kosku. Tapi, aku masih terus menoleh melihat deretan burung-burung yang kata temanku hasil pengawetan itu. Pikirku, untuk apa beliau melakukannya?

***

Kudapatkan jawabannya seminggu kemudian, ketika aku bertandang ke rumah pemilik kos untuk membayar sewa bulan pertamaku. Setelah menghitung-hitung uang, kuberikan amplopku padanya.

“Jumlahnya pas, ya, Bu.”

Ibu kos yang biasa disapa Bu Jamila membuka amplop, menghitungnya ulang, kemudian mengangguk setuju. “Makasih, ya, Neng.”

“O, ya, Bu, saya boleh tanya sesuatu nggak?”

Bu Jamila mengangguk. “Ya boleh lah, Neng. Tanya apa?”

“Hmm, bapak-bapak yang rumahnya di depan jalan besar itu, punya sakit kejiwaan atau gimana ya, Bu? Eh, maaf, bukan maksud saya menghina, tapi kelakuannya aneh banget, Bu,” tanyaku, lebih pada mengadu.

“Pak Sumarto sudah begitu sejak tiga tahun yang lalu. Padahal, dulunya, beliau itu mahasiswa dari jurusan yang sama kayak Neng, cum laude pula lulusnya. Terus, dia sempat jadi dosen dan kerja di laboratorium apa gitu, Ibu kurang paham. Pokoknya, tiga tahun lalu, istrinya meninggal, terus disusul anaknya. Terus, dia jadi berubah. Tapi, dia bukan gila, kok, Neng.”

“Terus apa, Bu?”

“Kata orang-orang sih, dia jadi senang main formalin. Eksperimen, gitu katanya. Ibu juga nggak ngerti maksudnya apa. Sejak saat itu, temen-temennya menjauh semua. Padahal, dulu rumah itu nggak pernah sepi, Neng. Apalagi kalau akhir pekan. Selalu ada perkumpulan buat diskusi, gitu.”

Seusainya aku mendapat informasi, segera saja aku pamit undur diri. Tak lupa, Bu Jamila berpesan supaya aku maklum pada apa pun tingkah aneh yang ditunjukkan Pak Sumarto jika berkeliaran di depan kos-kosan. Biar bagaimanapun, beliau tetap tetangganya.

Aku mengangguk dan berjanji dalam hati untuk patuh.

Tetapi, sejak saat itu pula, Pak Sumarto sudah jarang terlihat di depan kosku. Aku seringkali pulang lebih cepat, namun tidak terlihat tubuhnya sedang membawa ketapel atau memerhatikan burung di pucuk pepohonan.

Beberapa minggu kemudian, tersiar kabar bahwa beliau telah meninggal. Di samping jasadnya, ada pesan kematian berupa tulisan: “Awetkan jasadku sebelum kalian kubur.”

Polisi mengusut sebab kematiannya, karena tergolong pada jenis kematian tak wajar. Jasadnya justru harus melalui tahap autopsi dahulu karena tidak ada yang menyaksikan kematiannya. Setelah berhari-hari, ada lagi kabar bahwa kematian Pak Sumarto tidak terjadi karena racun bunuh diri atau pembunuhan terstruktur. Beliau pergi karena memang sudah waktunya.

Di dalam rumahnya, ilmuwan menemukan racikan-racikan ramuan pengawetan jasad yang mutakhir. Ramuan itu diduga olahan Pak Sumarto, dan pada beliaulah ramuan itu dicoba. Berita segera tersiar ke koran, bahwa ramuan itu sempurna mengawetkan jasad dengan baik, tidak merusak tubuh atau menyebabkan peyot-peyot pada muka seperti halnya formalin biasa bekerja.

Atas penemuan itu, Pak Sumarto diberi banyak penghargaan—yang sebetulnya tak berharga. Jasadnya disemayamkan di dekat kuburan istrinya. Dan, pada banyak kesempatan, orang-orang yang berkunjung diperbolehkan menggalinya untuk melihat keawetannya.

Ketika itu terjadi, aku sudah hampir menyelesaikan pendidikan farmasiku, dan memutuskan pindah ke kota lain untuk magang bekerja. Tidak ada lagi bapak-bapak yang kutemui setiap kali pulang menuju kos. Tidak ada lagi manusia pengais gelar yang berkerumun di sekitar penemuan-penemuan, yang pergi ketika si penemu terpuruk, yang kembali ketika si penemu menemui puncaknya lagi.

—fin.

Author’s note:

  • Dipersilakan menginterpretasi cerita ini dari sudut pandang mana saja. Tulis di kotak komentar, ya, mengenai interpretasi kalian.
  • Kritik dan saran sangat ditunggu.
Advertisements

4 thoughts on “Manusia Pengais Gelar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s