911

by slmnabil

I’ve failed being a lover. And you don’t deserve to be loved.

FRIENDS WITH BENEFITS

Well, I apologize.

Bahwa kita masih bersahabat—yang menurutmu—baik setelah apa saja yang kuperbuat, aku cukup terkejut. Kau mungkin tidak tahu, tapi tentu saja aku tahu. Yang membicarkanmu di belakang punggungmu, kan, aku. Kuharap telingamu tidak terbakar.

Aku paham aku tak punya hak untuk merubah seseorang, tapi maaf, kau menyebalkan. Aku perlu mengatakannya di depan wajahmu sekarang.

“Kau perlu memaknai istilah ‘konsistensi’. Pergilah ke perpustakaan umum, banyak buku soal itu.”

Keningmu mengerut. “Maksudmu?”

“Kau seperti dua orang yang berbeda ketika bicara pada perempuan dan laki-laki.”

Kau tertawa. “Itu sama sekali bukan urusanmu.”

“Mulanya memang bukan. Namun mengingat orang-orang mulai menyangkutkan sifatmu yang bermuka-dua itu denganku, itu jadi urusanku.”

It’s for my own sake, Babe.

Aku sudah berekspektasi bahwa kita akan berdebat, dan yang terjadi memang tepat seperti itu. Tapi tolong, dewasalah. Kita bukan orang politik yang berebut tampuk kekuasaan, tak perlulah dijadikan tontonan.

Melihat manusia di sini kepalang manusiawi—dengan keingintahuan dan turut campurnya, lebih baik kuselesaikan saja di sini sekarang.

“Pernah dengar ini? ‘Kalau kau ingin mengenal seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman.’ Kupikir itu benar. Jadi aku tak mau mereka berpikir bahwa aku sama sepertimu.”

People are like that. Get used to it.

Kalau tidak mau dimakan, katanya aku harus memakan duluan. Aku pernah dikunyah dan dimuntahkan, jadi kurasa ini giliranku untuk mengunyah dan memuntahkan. Sebut saja sedang menjalani diet ketat.

“Well, I apologize. It’s for my own sake, Babe. People are like that. Get used to it.”

—-

  IT’S ALREADY BROKEN

I hate you, while you didn’t want me at all.

Siapa kau? Apa yang kau mau dari ibuku? Kenapa kau datang di makan malam ulang tahunku? Pikiran apa yang membuatmu yakin kalau aku menginginkanmu hadir di kelulusanku? Kenapa kau menggandeng lengan ibuku di saat ayahku meniti langkah sendirian? Kenapa kau membawaku pergi? Dan bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku merelakanmu menggeser posisi ayahku?

“Aku juga tak menginginkanmu. Tapi yah, kau kan semacam kesialan Laura yang akan selalu diseret-seretnya,” katamu dengan tidak berperasaan. Hah, aku bahkan meragukan kau memilikinya.

“Sayangnya Craig, sekarang kesialan itu mengekorimu juga. Tunggu saja giliranmu.”

What’s the point of living together then?

Lihat, kau tidak bisa menyalahkanku karena memiliki sisi ini dalam diriku. Bahwa aku keras kepala dan kenyataannya itu diturunkan darimu.

“Blue, dengar. Ibu tidak bisa hidup di antara orang-orang berkepala panas, oke? Cobalah untuk menerima Craig. Cobalah untuk bersikap baik pada ayahmu.”

“Seingatku nama ayahku Smith.”

Kau mengambil napas panjang, menekan kekesalan. “Sekarang dia ayahmu juga.”

“Ada orang lain di luar sana yang bahkan satu ayah pun mereka tak punya. Aku tidak ingin serakah. Aku mau mendermakannya pada yang membutuhkan.”

“Kau benar-benar tidak mendengarkan ibumu.”

Well, apakah kau mendengarkan suamimu?”

“I hate you, while you didn’t want me at all. What’s the point of living together then?”

—–

HATRED

I know.

Sejak pertama kali kau mengulas senyum padaku, aku akan mencari-cari alasan untuk menemuimu lagi. Kebetulan ada keperluan di dekat kantormu misalnya? Atau makan siang di seberang jalan dari salon kau biasa memotong rambut?

Aku tahu kau tak akan menolakku. Lalu kita akan memulai sebagai teman dan berakhir sebagai lebih dari teman.

Aku tahu, mulanya aku akan menolak segala bentuk ‘penyaluran harta’ yang kau keluarkan untukku. Gengsiku terlalu tinggi untuk dianggap sebagai wanita dewasa berpenghasilan nol dolar. Namun setelah saling mengenal cukup lama, mungkin sesekali aku akan sengaja meninggalkan dompetku di apartemen. Kau tak akan marah, lagipula.

Tapi bukan berarti kau tak akan marah selamanya.

Aku tahu suatu saat kita akan bertengkar, saling melayangkan umpatan paling sial seolah kitalah yang paling dirugikan. Aku tahu suatu hari kau akan mengataiku jalang. Dan aku akan membalasmu lebih jahat.

Jadi kita ini apa? Pasangan yang sedang bertengkar atau komplotan tukang umpat?

I’m a sinner, but you’re not a saint either.

Aku tidak bisa bersikap seolah aku baik-baik saja di saat awan mendung berjejalan dalam otakku. Aku tidak bisa jadi seorang munafik yang mengatakan bahwa aku akan menunggumu di saat aku menginginkan sandaran yang lain. Aku tak akan berdusta, tapi hei, bukankah kita sudah dapat disepadankan dengan kekacauan?

Yang tersisa dari kau dan aku tak lebih dari sekadar tanggung jawab moril di depan orang tuamu—yang ajaibnya menyukaiku.

“Kau berselingkuh,” katamu suatu malam.

“Ya.”

“Aku mengetahuinya.”

“Aku senang kau mengetahuinya.”

Lalu kau marah padaku, mengataiku untuk yang kesekian kalinya, dan membanting pintu yang meninggalkan vibra kuat.

Aku memang bukan manusia yang layak, tapi aku pun masih tahu makna kemanusiaan—meski kadarnya agak jauh di bawah minus. Aku menyusulmu, berkejaran dengan hitungan dalam pikiranku sembari menerka ke mana kau bisa pergi.

Seketika duniaku berhenti.  Aku melihatmu mengisi kekosongan di bibirmu yang kutinggalkan.

Hah, kau pun tak ada bedanya.

I’ve failed being a lover.

Ketika seharusnya aku merasa kalau langit sudah runtuh, aku berpikiran sebaliknya. Aku merasa kalau bumi menarikku kepalang kuat dari bawah, menuju kegelapan, kehampaan.

Sama saja ya? Maaf, kalau sudah kacau manusia, kan, biasa begini.

Kupikir lebih baik aku kembali ke apartemen kita (mengingat aku patungan biaya separuhnya.) Banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan di sana daripada membuat diriku sendiri mabuk dan memiliki masalah perut keesokan harinya. Membanting televisimu sebagai contoh.

Namun sialnya, aku berakhir terperangkap dalam sebuah nostalgia saat kulihat potret kita yang pernah bahagia dan dijejali cinta di layar komputerku.

Lihat Ash, aku pernah sangat mencintaimu. Begitupun dirimu. Aku tahu aku menyakiti hatimu. Begitupun dirimu. Aku bukan pemaaf dan kau tahu itu. Mungkin aku adalah orang yang paling membencimu saat ini dan bisa saja seterusnya akan begitu.

You don’t deserve to be loved.

“Aku ingin kau pergi dari sini.”

Kau mendengus merendahkan begitu aku mengintonasikannya dari mulutku.

“Kau masih punya orangtua dan penghasilanmu lebih besar.”

Kini kau tertawa. “Kenapa kau tidak mengungsi ke apartemen selingkuhanmu saja?”

“Aku tak sudi membiarkan selingkuhanmu masuk ke teritoriku.”

Aku sadar bahwa ini bukan pembicaraan orang beradab. Tak masalah. Lagipula humanisme bukan minatku.

Tiba-tiba pintu terbuka, disusul senyuman miring di wajah Ash. “Terlambat Blue, selingkuhanku sudah di sini.”

“I know I’m a sinner, but you’re not a saint either. I’ve failed being a lover, and you didn’t deserve to be loved.”

  • you’re allowed to feel annoyed because that’s the goal AHAHAHA
  • kali-kali nulis yang dark/?
Advertisements

2 thoughts on “911

  1. Seru kok… 🙂
    Aku suka aja penggalan-penggalan kegalauan yang macem-macem kek gini.. Karena rasa kek gini tuh ga asing, istilahnya semua orang lebih bisa ngerasa kacau ketimbang bahagia yang banyak-banyak.
    Hehee, komenku absurd yak? But, the point is I like this .. ^^

    Like

  2. Hai Nabil, lama tak bersua.
    Sebelum panjang lebar, izinkan aku bertanya dahulu, ini tuh cerita yang berbeda satu dengan yang lain, yah? Maafkeun kalau aku salah, soalnya aku nangkepnya demikian. Ada yang bercerita soal selingkuh, punya ayah baru, atau persoalan teman.
    Kayaknya ini the first dark themed fiction yang kubaca darimu, deh. Soalnya kental banget konfliknya, plus tanpa titik terang, bener-bener cuma kontemplasi si “aku”nya doang.
    By the way, sebelum jauh-jauh, ada beberapa redaksional yang perlu dibenahi, nih hehe. Tadi ada typo di paragraf awal bagian “membicarkanmu” kurang huruf a.
    terus tadi ada kata “merubah” yang harusnya “mengubah”
    ada bermuka-dua, yang harusnya cukup bermuka dua.
    penulisan “kan” harusnya menjadi ‘kan, karena kata itu merupakan singkatan dari bukan.
    tanda koma juga harus diperhatikan lagi, Bil. Tadi ada beberapa kalimat panjang tanpa tanda baca yang rasanya akan lebih pas jika diberi kata penghubung atau koma.
    But overall, fiksinya deep. Nice one.
    Nyun ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s