Sepuluh Menit Genting

Ditulis oleh qL^^

Disclaimer: Karya ini fiksi. Semua nama tokoh dan tempat digunakan hanya untuk keperluan cerita.

Stasiun Jakarta Kota dipadati para pengguna kereta komuter—berdesakan dan saling dorong—berusaha menjadi yang tercepat mencapai pintu keluar stasiun atau justru tercepat mencapai pintu gerbong kereta tujuan. Belum lagi penumpang yang berlalu-lalang di antara peron, transit dari satu tujuan menuju tujuan berikutnya. Lia yang merasa tak buru-buru memilih mengalah, bersandar menyesap kopi pada dinding dekat gerai 7-Eleven sambil mengamati hiruk pikuk stasiun.

Lia seharusnya tidak berada di stasiun. Pukul tujuh lewat lima belas menit seperti ini harusnya ia ada di laboratorium, meneruskan rangkaian penelitian dari proyek yang sudah dua tahun menjadi tanggung jawabnya. Laboratorium penelitiannya berada di Bogor, jauh dari pusat kota. Yayasan yang mendanai penelitiannya memilih dan membangun sendiri fasilitas penelitian itu. Ia meneliti tentang sistem saraf tubuh. Neuron, sinaps, axon, mielin, serebrum, dan lain-lain.

Satu kali dalam beberapa bulan, Lia akan rehat dari aktivitas penelitian. Ia butuh waktu untuk berpikir, memindai ulang hasil penelitian dan menyusun rangkaian tahapan penelitian yang lebih berkembang lagi. Entah mengapa, ia senang melakukan hal itu dengan duduk di gerbong kereta tujuan Jakarta Kota–Bogor. Berbekal sebuah tablet dan koneksi internet, ia sama sekali tidak akan diganggu. Orang-orang terlalu individualis belakangan ini, sehingga Lia sama sekali tidak akan terlihat aneh bila duduk terpaku pada tabletnya tanpa bicara sepatah kata pun selama perjalanan. Ia merasa lebih bebas berpikir di gerbong kereta dibandingkan dalam kukungan ruang steril laboratorium.

Gelas kertas berisi kopinya sudah kosong. Gerbong kereta tak seramai sebelumnya, mungkin karena jam masuk kantor sudah hampir lewat. Sekarang pukul delapan kurang sepuluh menit. Lia bisa naik kereta sekarang dan ia bisa mendapatkan tempat duduk sampai ia turun nanti. Jadi, ia membenarkan letak tali tasnya dan mulai bergerak menuju peron sebelas untuk kereta tujuan Bogor. Lia baru saja melewati palang pemindai tiket ketika ia merasa bahunya ditepuk dan ia berbalik.

Pria di hadapannya tersenyum, namun senyum itu terlihat ganjil di raut wajahnya yang keras. Postur tubuhnya seperti tentara, polisi atau pengawal, tapi ia memakai pakaian kasual: kaus polo, jins dan sepatu kets. Usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua. Lia tidak mengenal pria itu, jadi ia mengernyitkan dahi dan membuka mulut untuk bertanya namun kalimat pria itu membungkamnya.

“Bersikaplah seperti biasa,” kata pria itu masih dengan senyum ganjilnya.

“Apa?” Lia bertanya balik, kebingungan.

“Anggaplah aku teman lamamu yang kebetulan bertemu di stasiun, Dr. Amalia,” sahut pria itu, memegang lengan kanan Lia, setengah menarik dan setengah memaksanya untuk terus berjalan menuju peron sebelas.

Ada sesuatu yang salah, pikir Lia. Pria ini tahu namanya sedangkan Lia belum pernah melihat pria ini seumur hidupnya. Mendadak ia diserang rasa takut dan bingung. Tapi ia tidak punya pilihan selain membiarkan pria itu menggiringnya menuju peron.

“Siapa Anda?” tanya Lia pelan.

“Tidak perlu terlalu formal, Dok. Identitasku tidak penting saat ini,” jawabnya. Pria itu berjalan di sampingnya, berhati-hati melewati orang-orang yang melalui mereka menuju arah yang berlawanan. Gerak-geriknya mulus, namun Lia bisa merasakan sikap waspada dalam setiap gerakannya. “Yang harus kita prioritaskan adalah keselamatanmu.”

Lia tersentak kaget. “Aku?”

Pria itu tidak menjawab. Mereka berhenti di tengah peron yang masih cukup ramai karena berdekatan dengan gerai makanan siap saji. Orang-orang masih berlalu lalang di sekitar mereka dan pria itu berdiri dekat sekali dengan Lia seolah melindunginya. Pengeras suara stasiun berbunyi mengatakan kereta dari Jayakarta akan segera tiba dan kereta tujuan Bogor akan berangkat sepuluh menit lagi.

“Kita hanya punya waktu sepuluh menit,” pria itu mendesah.

Sepuluh menit? Untuk?

Lia benar-benar tidak mengerti.

“Ikuti semua instruksiku dan jangan bertanya, mengerti?”

Kali ini Lia menggeleng. “Tidak! Aku tidak akan mengikuti instruksi apa pun sebelum kamu menjelaskan apa yang terjadi,” desisnya dalam suara rendah.

Namun pria itu malah tertawa geli seolah Lia baru saja melemparkan lelucon padanya. Mungkin ia memang menganggap kata-katanya lucu atau itu hanya aktingnya agar ia benar-benar terlihat sebagai ‘teman lama’ Lia. Yang mana pun ia tidak peduli. Ia butuh penjelasan.

“Aku akan kaget sekali kalau seorang peneliti kritis sepertimu akan mengikutiku tanpa bertanya. Kelihatannya kau banyak pikiran sehingga memutuskan naik kereta pagi ini. Risetmu sedang mengalami kemajuan pesat, bukan?” ia berkata dengan nada santai seolah mengomentari cuaca, namun kalimatnya membuat Lia secara instingtif memeluk tas yang berisi tabletnya lebih erat.

“Bagaimana ….”

“Aku punya informan. Hasil risetmu akan membuat terobosan baru bagi dunia, Dokter. Tapi hasil risetmu juga memiliki potensi menjadikanmu target.”

Lia merasa mulutnya kering.

Semua yang dikatakan pria ini pasti bohong. Apakah ini semacam acara TV untuk tipuan kamera? Tapi Lia tidak melihat apa pun yang mengarah ke sana. Lagi pula Lia sudah sering naik kereta untuk berpikir, tapi mengapai hal ini baru terjadi sekarang? Risetnya bukan jenis riset yang luar biasa, namun ia harus mengakui bahwa hasil yang didapatkannya kemarin memang di luar perkiraan. Ia sudah memberitahu Yayasan bahwa ia akan mempresentasikan hasilnya lusa. Mustahil ada yang menginginkan hasil riset ini, kecuali ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sinaps dan integrasi neuron yang ditemukannya.

Pria itu menepuk bahunya dengan sikap menenangkan. “Tenanglah. Orang-orangku sudah tersebar di seluruh bagian stasiun. Kami akan mengeluarkanmu dari sini. Yang perlu kamu lakukan hanyalah mengikuti instruksi.” Lia diam saja, jadi pria itu melanjutkan. “Seperti yang sudah kukatakan, kita hanya punya waktu sepuluh menit. Kereta tujuan Bogor yang akan berangkat sepuluh menit lagi berasal dari Jayakarta. Kamu harus percaya padaku, mengerti?”

Tidak, tolak Lia dalam hati. Situasi seperti ini tidak mungkin terjadi di tengah kota Jakarta. Harusnya ini hanya terjadi dalam novel fiksi yang sering dibaca Lia. Apakah lebih baik ia balik kanan dan kabur keluar stasiun? Ia bisa naik taksi ke Bogor atau meminta supir fasilitas penelitian untuk menjemputnya di mana saja asal bukan di stasiun ini.

Bunyi peluit dan mesin kereta yang mendekat terdengar bersahut-sahutan. Orang-orang mulai membentuk kerumunan di tepi peron, bersiap saling dorong dan berdesakan untuk masuk ke gerbong. Lia mau tak mau menyadari bahwa jumlah penumpang pada pukul delapan lebih satu menit seperti ini lebih ramai dibandingkan yang biasanya diperhatikan Lia. Ia melirik pria di sebelahnya yang sedang mengatur jam tangannya dalam hitung mundur sepuluh menit.

Lia menarik nafas dalam-dalam dan memeluk tasnya erat-erat. Ini mimpi buruk.

Kereta yang mendekati peron mulai melambat dan akhirnya berhenti. Para penumpang mulai saling dorong. Pria itu menuntun Lia naik layaknya seorang pria sejati dan segera saja mereka terjepit di antara penumpang yang lain.

“Dua menit,” Lia mendengar pria itu berbisik tepat di sebelah telinganya.

Tiba-tiba ada yang mendorong Lia dari belakang, membuatnya nyaris menabrak ibu-ibu di hadapannya. Pria itu menahan Lia kemudian menariknya merapat ke dinding gerbong agar ia tidak jatuh, nyaris memeluknya ketika melakukan itu. Pria itu mengisyaratkan Lia yang menggeliat-geliat untuk tidak bergerak dan ia mematuhinya. Dalam diam dan rasa tidak nyaman, mendadak Lia menyadari sesuatu. Tubuh pria itu kini menghalangi tubuh kecil Lia terlihat orang-orang dan di tempat tadi Lia berdiri telah berdiri seorang gadis yang mirip sekali dengan dirinya; gaya rambut, cara berpakaian dan tas yang disandangnya bahkan pria berkaus polo yang menemani gadis itu.

Astaga!

Lia masih berada dalam fase terkejut saat pria itu mendorong Lia berjalan menuju pintu yang menghubungkan antar gerbong kereta. Mereka berjalan dan terus berjalan di antara padatnya penumpang dalam gerbong-gerbong, berusaha bergerak cepat namun tidak terlihat mencolok. Lia menoleh ke kiri dan kanan dengan cepat berusaha mencari-cari apakah ada yang sedang mengamati mereka saat ini.

“Tiga menit,” pria itu berkata dengan suara yang hanya bisa didengar Lia.

Di gerbong nomor delapan, pria itu mendadak menarik lengan Lia dan mereka turun dari kereta, nyaris membuat Lia tersandung saat turun. Ia menggiring mereka dengan langkah tenang, menyusuri tepi peron yang jauh dari rel. Orang-orang berlalu lalang di sekeliling mereka. Semuanya terlihat normal, namun perut Lia melilit penuh ketegangan dan tangannya berkeringat. Lagi-lagi pria itu menyebut kata tiga menit. Lia sekarang semakin kebingungan. Mereka menaiki kereta, menyusuri gerbong demi gerbong kemudian turun lagi. Apa yang sebenarnya ingin dilakukan pria itu?

Pintu kaca supermarket terlihat di sebelah kanan mereka. Pria itu mendorong pintu membuka, mengambil keranjang belanja dan mulai menyusuri rak-rak saat Lia mengikuti pria itu dari belakang dan tidak tahan lagi untuk bertanya.

“Mau ke mana kita?” desisnya.

Pria itu menatapnya tajam, seolah ingin mengingatkan peraturan bahwa Lia tidak boleh bertanya. “Dua menit,” hanya itu yang dikatakannya dan ia kembali menarik lengan Lia.

Rak terakhir menutupi sebuah pintu geser yang berada di baliknya. Pria itu mendorong Lia masuk lebih dulu, kemudian menutup pintu di belakangnya. Lia mendengar bunyi klik pelan, lalu senter menyala dari jam tangan pria itu. Ia melihat keranjang belanja kamuflase pria itu ada di lantai. Mereka berada di terowongan berlantai semen. Terowongan itu gelap dengan undakan naik dan turun yang mereka telusuri dalam diam. Lia mulai merasa klaustrofobik karena udara pengap dan ruang sempit, tapi dorongan pria itu pada punggungnya membuatnya terus berjalan.

Akhirnya mereka tiba pada ujung terowongan yang berupa pintu geser yang persis sama seperti pintu masuk. Sama seperti sebelumnya, pintu itu juga terhubung pada bagian belakang gerai supermarket yang disadari Lia dengan terkejut terletak hanya seratus meter dari stasiun. Di luar supermarket, sebuah van hitam menunggu.

Lia menggigit bibir, bimbang dengan pilihannya saat pria itu menggesturkan untuk masuk ke dalam van. Ia tidak terlalu mempercayai pria ini dan jelas tidak tahu apa yang akan menyambutnya di dalam van. Ia berdiri, berpikir keras untuk memutuskan sementara pria itu menatapnya dengan tak sabar.

Kemudian tanpa disangka-sangka suara ledakan besar mendadak terdengar. Lia dan pria itu sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Bedanya Lia menatap itu semua dengan mata membelalak sementara pria itu hanya berwajah datar seolah sudah mengantisipasi hal itu. Seratus meter dari tempat mereka berdiri—tepat di stasiun yang sepuluh menit lalu ia masih berada di sana—Lia bisa melihat api dan asap yang membubung tinggi, disusul suara jeritan histeris dan bunyi bagian bangunan yang roboh. Mendadak lutut Lia terasa lemas. Ia bisa saja ambruk ke jalan aspal jika pria itu tidak menahan lengannya.

“A-apa itu?” suara Lia bergetar saat bertanya.

“Bom,” jawab pria itu singkat. “Harga untuk hasil risetmu.”

Lia menelan ludah, menatap kengerian di kejauhan.

Sirene mobil pemadam kebakaran dan petugas kepolisian kota Jakarta mulai terdengar mendekati lokasi yang penuh asap dan api, mengembalikan fokus Lia. Pria itu masih menatapnya, menunggu Lia bergerak.

“Jadi, Dokter, kamu mau tetap di sini dan membiarkan orang-orang itu menemukanmu lagi? Atau mengikuti saranku untuk masuk van dan kita bisa pergi ke tempat yang lebih aman untuk berpikir?”

Nada sarkastis yang digunakan pria itu sangat kentara membuat Lia mendesah putus asa. Satu hal yang Lia tahu pasti, ia tidak bisa mempercayakan hal ini pada polisi. Tidak dengan reputasi kepolisian lokal saat ini. Satu-satunya pilihan yang terbaik adalah percaya pada pria yang telah menyelamatkan nyawanya untuk saat ini. Jadi, ia menaiki van diiringi tatapan puas pria itu.

Bagian dalam van itu serupa limusin yang pernah dinaiki Lia saat menjemput Ketua Yayasan yang mendanai penelitiannya. Van itu kosong, yang setengah membuat Lia lega dan setengah lagi justru membuatnya merasa cemas. Tidak terlihat tanda-tanda pria itu akan naik van bersamanya. Mungkin pria itu akan duduk bersama supir di kursi depan.

“Tunggu!” tahan Lia sebelum pria itu menutup pintu van. “Beritahu aku, siapa namamu?”

Lia merutuki diri atas pertanyaan bodohnya, tapi setidaknya ia harus tahu nama pria itu. Ia (walaupun ia benci mengakui ini) berhutang budi pada pria itu.

“Kamu bisa memanggilku Ksatria, penyelamatmu,” jawabnya dengan nada bercanda.

Hal terakhir yang dilihat Lia sebelum pintu van menutup adalah pria itu tersenyum dan entah mengapa senyumnya kini tidak lagi terlihat ganjil di wajahnya.

-selesai-

Advertisements

6 thoughts on “Sepuluh Menit Genting

  1. nice! bertempatan di stasiun Jakarta Kota! hahahaha. Aku bisa ngebayangin seperti apa sih rupa Lia itu. Terus juga kondisi peron dan gerbong bener banget penguraiannya. Itu emang bener-bener terjadi! Satu yang mengganjal aku selama membaca, Lia ini kan (disebut beberapa kali oleh Ksatria) dokter, maka harusnya penulisan gelarnya ‘dr’ bukan ‘Dr.’ Brief explanation, kalo ‘dr’ itu Dokter, ‘Dr’ itu Doktor (gelar S3), dan ada satu lagi, DR (Doktor Honoris Clausa; gelar kehormatan).

    Nice idea, nice story! 🙂

    p.s : aduhhh mau juga dong diselametin sama mas Ksatria!

    Like

    1. Tau ga habis aku nulis ini, bbrp hari kemudian ada bom di Sarinah, hiiii

      Oke, akan aku koreksi penulisan gelarnya. Thank youu dhilu sudah bacaa ♡♡♡

      Liked by 1 person

  2. Halo, kenalin dulu, deh, nyun di sini. Aku udah agak lama gak nyampah di boks komentar WS, tolong maklumin jika nanti review-ku sangatlah alay. Haha.
    Pertama, idenya kaya rumah makan Padang, sederhana tapi endes banget. Suspensi yang kamu bangun benar-benar kerasa. Latar tempatnya detail (mungkin didasari atas pengalaman pribadi, atau riset yang teliti, kali ya?) bikin ceritanya more friendly. Di dalamnya kamu menyiratkan karakter pria yang heroik, penuh taktik, dan bugar (ya, pasti). Tapi untuk karakter utama ceweknya, kurang dijelaskan ciri-ciri fisiknya, apalagi pas adegan Lia ngelihat duplikasi dirinya itu, walaupun dijelaskan bahwa sang duplikat benar-benar mirip, tapi kurang dikasih sentuhan deskripsi visual sedikit. But overall, Nice fic! ❤

    Like

    1. Kak nyuun, ah bisa ae disamain sama rumah makan Padang, jadi lapeer. Saran sudah diterima. Makasih review-nya kak nyuun ♡♡♡

      Like

  3. halo halo 😀 sebelumnya salam kenal dulu kak, aku nadya dari garis 97. ini bukan kali pertama aku baca fiksi kakak, tapi maaf baru kali ini aku ninggalin komentar😅

    aku sukaaaa kalo kakak bikin fiksi yang latar tempatnya di indonesia dan idenya ga mainstream giniiii! fiksi kakak yang ceritanya tentang vampir di jakarta itu aku juga sukaaa ❤ ❤ deskripsi-deskripsi yang kakak tulis itu bener-bener bisa bikin orang ngebayangin beneran 😀

    haduh maaf sok kenal banget kak, mana komen aku nyampah banget gini pula😅 keep making something good ya kak✨✨✨

    Like

    1. Halo nadya, ciee yg satu line sama Jungkook.
      Makasih ya sudah baca, aku akan berusaha lebih baik lagi ♡♡♡

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s