Taxi

by Keii

(mini event: truk pantura)

Putus cinta soal biasa, putus rem mati kita!

.

Bagi Esa, pekerjaannya sebagai sopir taksi bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi. Sejak bekerja dua belas tahun silam, dirinya tak pernah mendustai siapa pun perihal pekerjaan yang digelutinya. Asal halal, Esa tak pernah malu. Lagipula, menjadi sopir taksi merupakan kesenangan tersendiri baginya. Hiruk-pikuk Jakarta siang dan malam sudah ia cecap setiap hari. Ibu-ibu hamil, nenek-nenek pikun, pemuda mabuk, hingga tokoh-tokoh kenamaan sudah pernah sekali-dua kali menduduki jok belakang taksinya. Esa bukannya mau pamer. Tapi di usianya yang baru memasuki kepala tiga ini, ia seharusnya dinilai layak untuk dinobatkan sebagai motivator kawakan. Pasalnya, pekerjaan Esa sebagai sopir taksi memaksanya untuk mendengarkan berbagai kisah dari para penumpangnya. Dari kisah jenaka hingga kisah pribadi yang bersilangan dengan norma. Jok belakang taksi Esa penuh dengan kisah tersembunyi; kisah yang hanya diketahui olehnya, sang narasumber, serta sarung jok yang tak pernah diganti dua belas tahun belakangan.

Di antara semua kisah yang pernah didengarnya, ada sebuah kisah yang tak pernah Esa ceritakan pada istri dan anak-anaknya. Kisah tentang seorang gadis muda dalam balutan gaun pengantin yang menangis malam-malam.

.

.

Pada saat itu Esa masih bujang. Usianya baru dua puluh lima tahun, dan ia sudah menyerah untuk melanjutkan kuliah. Penghasilannya sebagai sopir taksi memang tak sebanyak yang ia perkirakan, apalagi di tengah ekonomi yang morat-marit. Akan tetapi, jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk membayar kos-kosan dan makan sehari-hari. Jika ia memiliki penghasilan tambahan, uang itu akan dititipkannya di bank, untuk beli unit taksi sendiri katanya.

September 2007, Esa masih hafal betul. Lantaran solidaritasnya pada orang-orang yang pernah dekat dengannya, malam itu Esa memacu taksinya ke daerah Subang, hendak mengunjungi salah satu temannya yang baru saja masuk rumah sakit karena kecelakaan.

Arlojinya menunjukkan angka ekstrem. 02.05. Sebuah waktu yang biasanya ia gunakan untuk teridur pulas di balik sarung kotak-kotak kumalnya. Jam operasi taksinya sudah selesai dan Esa bisa kena penalti karena membawa taksi perusahaan ke luar kota Jakarta. Tapi, hal-hal realistis seperti itu tak mengganggu tekadnya sama sekali. Esa bukan orang yang taktikal.

Jakarta ke Subang tidak jauh. Kalau jalanan normal, waktu tempuh yang dibutuhkan hanya  tiga atau tiga setengah jam saja via jalur pantura. Tanpa berhenti. Tanpa distraksi. Esa sudah makan malam. Ia juga bukan tipe pria yang latah mencari toilet. Jadi, kemungkinan taksinya berhenti karena kelaparan atau kebutuhan buang air kecil, bisa dihindari. Yah, seharusnya, sih, begitu. Sayangnya, Esa lupa memperkirakan satu hal: wanita.

.

.

Saat taksi Esa menepi, matanya langsung menangkap sosok gadis berbalut gaun terusan sedengkul berwarna putih. Garis tepinya dihiasi renda-renda bercorak merah menyala. Kontras dengan hiasan di bagian dadanya yang penuh dengan brukat bunga putih dan manik-manik mungil yang dijahit rapi. Di kepala sang gadis tersematlah sebuah tudung transparan berbahan tipis yang dinilai Esa tak lazim dipakai untuk menyetop taksi malam-malam. Ketika maniknya menangkap sebuah mobil hitam yang terparkir di tepi jalan dengan bagian mesin berasap, maskara luntur yang meluruh di pipi sang gadis, hingga kaki-kaki berstoking merah yang terpincang-pincang karena kehilangan sebelah sepatu tinggi, Esa hampir tahu apa yang terjadi pada gadis misterius tersebut.

“Mobil saya mogok, rumah saya di daerah Cikampek. Bapak bisa antar saya?”

Suaranya berat. Sang gadis mungkin perokok berat. Atau mantan penyanyi rock. Esa memilih kemungkinan kedua.

“Sebenarnya saya gak narik taksi hari ini, Mbak,” tolak Esa halus.

“Nanti saya bayar mahal. Tolong, ya, Pak.”

“Waduh, Mbak,” Esa bimbang. Ia tidak punya waktu untuk mengantar penumpang sementara dirinya sendiri sedang dikejar waktu. “Saya bukannya gak mau membantu…”

Enggak perlu sampai Cikampek, deh, Pak. Biarkan saya rehat dulu di taksi Bapak. Saya masih agak shock. Maskara saya sampai luntur, saya berantakan. Kalau naik bus terus jadi ocehan orang, saya gak nyaman. Tolong, deh, Pak.”

Esa bisa bilang tidak kapan saja. Ia belum membuka pintu taksi, ia belum menyalakan argo, dan ia juga belum secara penuh melihat pada wajah kusut sang gadis. Tapi, sebelum akal sehatnya mengambil alih, nalurinya sudah terlebih dahulu menguasai bibirnya.

“Yah, apa boleh buat, deh. Tapi, janji bayar, ya, Mbak.”

.

.

Esa memang tidak ahli dalam urusan asmara, apalagi mengenal wanita. Tapi, ia tidak perlu diberitahu kalau penumpangnya mungkin baru saja mengalami hari yang berat. Gaun yang dipakainya mungkin saja gaun pengantin. Atau bisa jadi gaun pesta. Tapi warna putih terangnya ternodai oleh lunturan maskara yang berkali-kali diseka sang gadis dari pipinya. Seolah ia baru saja menangis hebat sebelum Esa datang.

Mengingat asumsi yang ada nampak tak menyenangkan, Esa memilih diam. Padahal ia biasanya begitu cerewet ketika bekerja.

“Sudah lama bekerja jadi sopir taksi, Pak?” tanya sang gadis. Suaranya parau dan pecah di saat yang sama, seolah ada sekepal nasi yang tertahan di kerongkongan.

“Sudah lima tahun, Mbak,” balas Esa sopan tanpa melirik spion tengah.

“Operasionalnya sampai ke luar Jakarta, Pak?”

“Biasanya, sih, enggak. Malah gak boleh. Ini saya kalau ketahuan perusahaan atau polisi, bisa kena masalah. Cuma saya kepepet, jadi apa boleh buat.” Esa tertawa hambar, mendadak mengingat sederet hukuman berat yang menantinya kalau salah-salah bicara besok. “Nah, Mbaknya sendiri gimana? Mau kondangan di Cikampek?”

Sang gadis tertawa kecil. Lemah, tapi cukup ampuh untuk membuat Esa melirik pada spion tengah, menatap langsung pada sosok sang gadis yang menunduk menatap jari-jarinya.

“Saya yang harusnya dikondangin, Pak.”

Mbaknya mau nikah?”

“Hampir nikah. Tadi saya kabur. Rencananya mau ke Cikampek, kembali ke rumah orang tua saya, tapi di jalan tadi mobil mogok.”

Esa gelisah.

“Waduh, maaf, nih, Mbak. Saya jadi gak enak nanya-nanya gitu.”

“Enggak apa-apa, Pak. Bapak berhak tahu soalnya jarang-jarang, ‘kan, dapat penumpang unik kayak saya, hehe.”

Lewat spion tengah, sang gadis menunjukan raut ramahnya pada Esa. Kalau ia bertemu sang gadis di lain hari yang lebih terang dengan dua cangkir kopi hangat di atas meja kayu, maka Esa pasti sudah jatuh cinta. Gadis ini cantik, sangat cantik malahan. Deretan gigi putihnya yang tersusun rapi di balik bibirnya yang mungil membuat efek dramatis saat ia tertawa. Jantung Esa berdesir hebat karenanya.

Untuk sepersekian detik, Esa hampir jatuh ke dalam pesona sang gadis, sebelum akhirnya ia menyadari gaun putih-merah yang dikenakan sang gadis, serta sebuah cincin yang perlahan dilepaskan dari jemarinya.

“Bapak sudah menikah belum?” tanya sang gadis sembari memutar-mutar cincin di atas telapak tangannya.

“Oh… belum, sih, Mbak.”

“Tapi pacar punya?”

“Belum juga. Saya gak kepikiran yang begituan. Masih fokus cari duit. Hidup di Jakarta keras, Mbak.” Esa melirik ke spion, memerhatikan perubahan raut wajah sang gadis. Cincin emas masih dimainkan di telapak tangannya, berpindah-pindah dan jatuh beberapa kali.

“Kalau saya boleh tahu, Mbaknya kabur karena dijodohin, ya?”

“Enggak persis begitu. Saya sudah sempat pacaran sama dia tujuh tahun. Dia mencintai saya, saya juga sama. Dia lamar saya sejak tahun lalu, tapi saya tolak terus.”

Lho? Biasanya wanita itu paling senang dilamar. Jangan-jangan Mbaknya berubah pikiran?”

“Iya. Saya rasa mencintai dan menikah itu dua hal yang berbeda. Saya cemas segalanya akan berubah setelah kami menikah. Banyak testimoni tidak menyenangkan yang saya dengar dari sahabat-sahabat saya setelah mereka menikahi orang yang mereka cintai,” sang gadis menghela napas, “Intinya saya takut. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam pernikahan. Jadi saya lari.”

“Di detik-detik terakhir?”

Sang gadis mengangguk.

Sebuah jeda panjang tercipta di antara keduanya. Esa tidak mengenal sang gadis, tak juga mengerti apa yang ia hadapi, tapi dari suara parau yang kini terisak, Esa merasakan sensasi kepiluan luar biasa. Perpaduan antara penyesalan dan ketidakberdayaan yang meledak-ledak.

“Saya jahat, ya, Pak?” katanya memecah jeda. “Saya baru saja menghancurkan hidup seseorang tanpa punya kesempatan minta maaf. Saya egois, ya, Pak?”

Esa enggan berkomentar. Ia tidak memiliki kualifikasi untuk mengomentari hidup orang lain. Yang bisa dilakukannya hanya mencairkan suasana. Esa terlatih dalam melancarkan dialog jenaka.

“Yah, namanya juga hidup, Mbak. Kalau nggak dinamis, nggak berasa hidup. Lagipula, putus cinta itu soal biasa. Yang repot itu, kalau saya punya rem ini putus. Bisa kacau.”

Sang gadis tertawa. Jemarinya menelusuri jendela di sebelah kiri. Tertahan di sana begitu lama sampai akhirnya ia bicara, “Hujannya sudah berhenti. Bisa minta tolong buka jendelanya, Pak?”

Esa punya banyak hal untuk dibicarakan; punya segudang keraguan yang perlu diluruskan. Namun demikian, tak satu pun dari unek-uneknya diutarakan. Dengan patuh, ia membuka jendela,  sesekali melirik rambut dan gaun sang gadis yang diuraikan angin. Cincin yang semula bertahan lama di telapak tangannya, kini lenyap bersamaan dengan desauan angin yang menggesek badan mobil.

“Bapak orang yang menyenangkan. Saya harus sering pakai taksi Bapak kalau ke Jakarta lagi. Bapak ada nomor ponsel?”

Esa terdiam. Jemarinya mengeras. Diliriknya ponsel hitam yang tersemat dalam sakunya. Pikirannya berkontemplasi.

“Saya tidak punya ponsel, Mbak,” ujarnya berdusta. Esa melirik pada spion tengah, membaca air wajah sang gadis yang tampak tenang. “Lagipula, Mbaknya nggak mungkin ketemu saya lagi. Sudah lebih baik, ‘kan, sekarang?”

Sang gadis tersenyum.

“Iya.”

Puluhan menit selanjutnya dihabiskan dalam percakapan ringan. Esa kerap melontarkan guyonan jenaka, dan sang gadis menangkapnya dengan tawa renyah. Meski dengan sisa maskara kering di pipi, sang gadis nampak dua kali lipat lebih baik daripada sebelumnya.

Esa senang. Sudah menjadi kebanggaan tersendiri saat penumpangnya menikmati perjalanan yang dipandunya. Itulah yang membuatnya teguh mempertahankan pekerjaannya sebagai sopir taksi sampai saat ini.

“Nah, sudah sampai,” ucap sang gadis saat mereka tiba di sebuah persimpangan sepi. Sejauh mata memandang, sisi kanan dan kiri jalannya hanya berupa pematang sawah yang dibayangi gelap malam. Kalaupun ada cahaya, sumbernya dari kunang-kunang yang mendadak berkerumun di sekitar taksi. Tidak banyak membantu.

“Saya antar sampai rumah saja, Mbak,” tawar Esa.

Nggak perlu, Pak. Di sini saja.” Sang gadis menepuk pundak Esa, menyerahkan beberapa lembar rupiah—lebih banyak dari nominal yang ditunjukkan mesin argo—kemudian turun dengan agak terburu-buru. Bagian tepi bawah dari gaunnya berkibar tertiup angin saat ia berdiri di sisi mobil. Kepalanya ditundukkan sedikit untuk memberi salam terakhirnya pada Esa.

“Terima kasih sudah menjadi teman perjalanan yang baik,” katanya.

Esa tersenyum meski hatinya pilu.

“Sama-sama. Semoga bahagia, ya, Mbak.”

Sang gadis mengangguk dan mundur perlahan. Tangannya dilambaikan pelan untuk mengiringi kepergian mobil taksi putih yang disopiri Esa. Desauan angin menyelinap dari setiap helai rambutnya, membuat sosoknya nampak indah di antara kunang-kunang.

Esa menatapnya dari spion tengah seperti yang sudah-sudah. Apa yang ia lihat nampak realistis dan fiktif di saat yang bersamaan. Indah dan pilu. Abu-abu.

Esa merogoh sakunya, menarik sebuah ponsel butut. Ia menekan tiga digit nomor dan menunggu seseorang di seberang sana mengangkat panggilannya.

“Kantor polisi? Oh, saya Esa, sopir taksi. Barusan saya melintas di daerah Bekasi. Ada kecelakaan tunggal. Iya, betul. Seorang wanita, saya tidak begitu tahu. Pukul tiga tadi. Oke, Pak. Baik. Sama-sama.”

.

.

Di jok belakang taksi Esa ada banyak sekali cerita. Mulai dari ibu-ibu hamil, nenek-nenek pikun, pemuda mabuk, tokoh kenamaan, hingga… jiwa-jiwa tersesat yang butuh ditemani dalam perjalanan terakhirnya.

.

.

fin.


  1. aku lagi writer’s block sebenere
  2. pasti gak nyambung sama prompt
  3. ya udahlah
  4. hiks
Advertisements

31 thoughts on “Taxi

  1. PLOT TWISTNYA GILAAAAAAㅡ aku baca ini in the middle of kelas dan refleks teriak kESEL SENDIRI ASDFGHJKL aku sudah nebak ceweknya gagal nikah tapi gak mikir dia arwah or sth like that T_____T btw Balta dari garis 01, maaf datang-datang capslock eheh salam kenal!

    Like

  2. Esa nya tenang banget. Ini plot juga twist nya parah yaaaaaa. Kirain ini cewe bakal jdi pacar atau apaaa gitu. Ternyata hantuu.

    Dan esa baik banget bener deh.

    Suka suka suka 😍❤❤❤❤❤❤

    Like

  3. Aku udah siap siaga dg plottwistnya kaknyun, tp tetep aja kecolongan _=_ udah sempet nebak di awal ini makhluk halus semacamnya, tetapi kaknyun pinter banget bikin aku ngubah jawaban dan brpikir rasional, huhu OoO. Amazing banget kak, feelnya kuat dari sendu langsung merinding~~~
    Aku jd naksir sama esa *?* hehehehe

    Suka pokoknya kak! Semoga segera selamat dari webe ya kak 😀

    Like

  4. HUWAAAAAAAAAAA iya, sih, iya awalnya nebak bakal dijebak sama penulisnya.. tapi yaaa tetep dinikmatin aja bikos diksinya bikin seneng baca dan ngga ngebosenin. Daaaan di akhir saya teriak bikos merinding 😖😖😖😨😨

    Keep writing keii 😉

    Like

  5. kaknyun plot twist-nya ganahaaaan. waktu udah mikir itu hantu, percakapannya yang asik jadi bikin lupa. dan aku bengong bentar waktu si esa nelpon polisi. lah, siapa yang mati, terus endingnya 😦 ah ini so good kak. untung hantunya baik ya weheheheheh. semangat nulisnya kaknyun, semoga webenya hilang!

    Like

  6. meskipun awalnya uudah nebak ceweknya hantu, kemudian dibikin ragu apakah si cewek beneran orang, tapi akhirnya yakin kalo emang hantu. huhuhuhu. Esa teh sabar sekali dan kuat banget ya HAHAHA kalo aku sih udah ngibrit. Ini twist yang menyenangkan, dibalut sama ide cerita yang menarik. Aku suka banget! Puas sama fic-fic mini event truk pantura X)

    ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    Like

  7. Plotnya twist sekali. Kukira bakal jadi istrinya. Pak esanya asik banget ya. Supel abis. Ini aku beneran gak nyangka kalo si cewek hantu aduh gilaaa. Jam segini baca beginian merinding. Ini keren. Keep writing yaa💪

    Liked by 1 person

  8. Aq baca pas malem jadi agak merinding.. hehehehehe..
    Sudah lama gak baca2 ff selain castnya yuri eonni.. hehhehee

    Like

    1. Kalau fanfiksi bisa tetep ke sebelah, karena aku masih posting di sebelah (meski frekuensinya agak menurun dibandingkan tahun lalu)

      Like

  9. Padahal udah dari awal aku curiga kalo mbak2 cantik ini hantu, tapi gak sampe kepikiran kalo esa nerima dia naik ke taksi dengan kesadaran penuh kalau penumpangnya itu sudah bukan manusia lagi. Pantes aja dia kalem bgt pas si mbak cantik minta diturunin di jalanan sepi yg cuma ada sawah2 di sekitarnya.
    Nice story! Apalah arti prompt kalau eksekusinya cantik begini. Haha.. 😀

    Like

  10. Duh plot twist bener bener deh nih
    Padahal nyadar banget kalo itu hantu tapi tetep diboyong juga sampe ke Cikampek
    Padahal udah berasa nih cewek kayaknya hantu
    Tapi berhubung flownya Alus jadi lupa kayaknya ada yg aneh sama nih cewek
    Jd tambah curiga pas bilang kalo mbak nya ga bakalan ketemu sama esa lagi duh
    Drpd merinding gw sih lebih berasa ngilunya
    Berasa aja gitu pedihnya

    Like

  11. diawal udah nebak kalo mbak mbak nya ini makhluk ghaib kaaaaak. merindiiing ih 🙄
    tapi ga nyangka aja kalo si esa nya ini tau klo sebenernya mbak mbak nya ini itu arwah, tapi dia masih bisa gitu tenang tenang aja ngobrol bareng arwah.
    luar biasaaaaaa
    semangaaat kak nyun nulisnyaaaa 💗

    Like

    1. Haluw Nia, iya makasih. Selanjutnya aku bakal berusaha nulis lebih sering dan lebih baik lagi. makasih banyak dukungannya ❤

      Like

  12. Aaaa aku kok masih blm paham wkwk.
    kalo gak liat komen2 sebelumnya mungkin akan selalu ngira cewek itu bunuh diri pas keluar taxi.. iya, sebelumnya juga ngira dia hantu tapi gajadii. Eh taunya yaa.. plot twist yaaaa
    da best lah kaknyun, selalu suka dengan diksi dan gaya menulisnya. Gak ngeboseninnn, selalu bikin penasaran. Keep writing kak.. semangatss!!^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s