Swinging Pendulum (1 of 2)

by Io and Von

.

“She is beautiful, and therefore to be wooed;

She is a woman, therefore to be won.”

(Shakespeare, Henry VI Part 1: Act 5, Scene 2)

.

Jake.

Kalau boleh jujur, Jake benar-benar tertarik dengan urusan pasangan hidup.

Dan ia tidak segan menyuarakan ketertarikannya, biar kata hal tersebut cenderung dikaitkan dengan topik favorit pembicaraan kaum hawa—bukannya kaum adam—karena dirasa sepele dan cengeng.

Jauh di dalam lubuk hatinya, lelaki jangkung bersurai cokelat kemerahan itu tidak dapat menahan rasa penasaran yang semakin hari semakin menggunung, diakibatkan oleh sebuah tanda yang dibawanya sejak lahir; tampak mencolok di antara jengkal kulit pucat pada sisi kanan lehernya, sepasang gagak perak yang saling berhadapan dengan alfabet C terletak di tengahnya.

Eksistensi cermin sungguh efektif untuk menguatkan rasa penasaran yang bergumul, terlebih sebagai senjata dalam melawan ceramah Jane, saudari perempuan yang terpaut lima tahun di atasnya.

“Kau tidak benar-benar akan mencarinya, ‘kan?” Pertanyaan bernada perintah lagi-lagi disuarakan Jane sembari ia mengaduk saus bolognese. Yang membedakan kali ini nadanya tidak lagi tinggi seperti saat pertama kali Jake mengutarakan rasa penasaran itu pada saat acara makan malam bersama kedua orang tua mereka, tepat sebulan yang lalu.

Sementara Jake yang telah duduk manis di meja makan sambil menonton siaran berita lokal dari ponsel menjawab, “tidak. Tidak akan mencarinya.”

“Baguslah kalau akal sehatmu sudah kembali, karena—”

“—karena aku sudah menemukannya.”

Terdengar suara ‘klik’ kompor dimatikan, lantas hening kemudian.

Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu hingga siaran berita perampokan minimarket di ponsel Jake berakhir, keheningan di antara mereka tidak juga terpecahkan.

Jake mengalihkan atensinya dari ponsel ke arah kompor, di mana Jane seharusnya tengah berjibaku menyiapkan menu makan malam mereka, yang mana rupanya kini sudah berkacak pinggang dan berdiri menjulang di sampingnya.

“Kau bercanda.”

“Sungguh, Jane. Aku sudah menemukan soulmate-ku dan berencana menemuinya. Segera.”

Sepasang manik hazel yang tengah dilingkupi awan kegusaran kini tengah memandang milik Jake yang sewarna kenari.

“You surely aware that … that your Ravens mark undoubtedly belongs to them.”

Jake mengangguk ringan—tentu ia tahu. Itu adalah petunjuk paling dasar yang menggiringnya melancarkan aksi pencarian lebih lanjut, yang kemudian membawanya kepada sesosok gadis bersurai pirang pucat dengan iris sewarna abu keperakan.

“The Corvins. And I’m absolutely aware which Corvin I am going to meet. She is a year younger than me.”

Kini giliran Jane yang mengangguk, namun gerakannya lebih seperti menahan leher rapuh yang dapat patah sewaktu-waktu, bila dipaksa mengangguk lebih keras. “Then?”

“Well, Mum said that they are not that bad.”

“But ours are!”

Lengkingan tajam dari Jane seketika membuat Skyler—seekor anjing ras Germany Shepherd milik Jake, yang sedari tadi bergelung manja di kaki tuannya—meloncat kaget.

Segera, setelah menyadari alarm bahaya, keempat kaki lincahnya dipacu berlari memanjat anak tangga.

“Hei, Sky, kembali kemari! Telingamu akan digigit Season jika tak sengaja menginjak ekornya lagi!”

Season yang tengah dibicarakan adalah anjing peliharaan Jane, seekor Golden Retriever dengan bulu sewarna madu yang juga punya hobi menjadi galak tiba-tiba seperti pemiliknya.

“Oh biarkan dia pergi, kali ini permasalahanmu jauh lebih darurat.”  Jane menarik sebuah kursi di sisi kanan Jake, lalu melempar apron biru tuanya ke seberang meja. “Dan jangan bicara seolah-olah Sea adalah anjing terburuk di rumah ini!”

Karena tidak terdengar suara ribut yang lazimnya berasal dari kedua anjing yang tengah saling kejar, Jane melanjutkan.

“Sekarang jabarkan alasan di balik misi pencarian Nona Soulmate-mu dan ini harus penting, atau kalau tidak, aku akan mendaftarkanmu ke salah satu bangsal di rumah sakit jiwa.”

Seolah sudah mempersiapkan materi presentasi yang ditunggu-tunggu, Jake hanya perlu menarik satu napas panjang sebelum kembali menatap manik hazel Jane yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi intensitas ketajaman yang tengah dipancarkan.

‘But ours are!’

Tidak ada yang salah dengan kalimat sanggahan Jane, bahkan boleh dibilang seratus persen akurat. Mengingat keluarga mereka berada tepat dalam lingkaran hitam poros utama mafia yang beroperasi di balik kelamnya malam London.

Dan layaknya air dan minyak, baik keluarga Vaughan maupun keluarga Corvin tidak memiliki alasan untuk mempererat hubungan satu sama lain, dikarenakan pekerjaan mereka yang jelas bertentangan.

Dilahirkan dari sebuah keluarga mafia tentu bukan cita-cita Jake. Kedua orang tuanya telah memilih profesi luar biasa ini, bahkan sebelum ia direncakan untuk hadir di tengah-tengah mereka. Pun kalau boleh memilih ia tidak segan untuk menukar gadis super galak berotak encer seperti Jane untuk dua anak anjing manis yang penurut sebagai saudara, jika ia punya pilihan.

Dan kini ia punya pilihan untuk mencari tahu siapa gadis di balik tanda burung gagak keperakan, yang telah diberikan padanya sejak lahir. Tentu ia tidak akan membuang kesempatan emas ini begitu saja. Tanda keperakan tersebut terlampau istimewa dan berkesan untuk Jake abaikan, hingga ia tidak dapat menahan diri dari dorongan menelanjangi internet, pun menemui informan yang tersebar di antara seluk beluk jalanan London demi menemukan identitas pemilik yang berkaitan dengannya.

Oh, apakah ia juga memiliki tanda? Seperti apakah tandanya? Dapatkah ia mengenali Jake jika mereka tak sengaja berpapasan di jalan? Apakah ketertarikan si gadis untuk menemukan satu sama lain sama kuatnya seperti yang Jake rasakan? Dan yang terpenting, apakah ia rupawan?

Tanpa diragukan seorang Jake Brice Vaughan menentukan poin yang satu itu di puncak segalanya.

Maka, pencarian Nona Soulmate pun dimulai di suatu pagi peralihan musim gugur ke musim dingin. Cuaca cerah bersahabat, meski suhu mulai dirasa menurun secara bertahap. Kendati demikian, jalanan London tetap seramai biasanya, seolah publik menolak tanda-tanda kehadiran musim dingin yang mulai menyelinap di antara mereka.

Beruntung bagi Jake karena pada saat jam makan siang datang suhu cukup rendah untuk para pegawai menyesaki salah satu kafe untuk mengantre minuman hangat. Dan sasaran tembak Jake tengah mengantri bersama belasan pegawai lain yang mengenakan coat kelabu serupa. Ia adalah wanita di akhir dua puluhan, rambut pirang gelapnya digelung ketat, menonjolkan gurat wajah yang kusam dan kelelahan.

Mengambil posisi duduk di bangku paling dekat dengan pintu keluar, Jake bersiap.

Tepat pada saat wanita tersebut hendak mencapai pintu, ia bangkit dari kursi dan menyenggol lengan si wanita—cukup untuk membuatnya menjatuhkan minuman dan membasahi bagian bawah rok spandex gelap yang tengah ia kenakan.

Dengan gusar wanita itu menolak permintaan maaf Jake, lantas akhirnya luluh ketika ia dibawa ke sebuah butik yang tidak pernah dijejakinya karena banderol harga yang kelewat mencekik.

Selanjutnya wanita tersebut berceloteh panjang lebar bahwa kecelakaan kecil tadi bukanlah sesuatu yang buruk, justru menguntungkan karena keadaan di kantornya sedang luar biasa menegangkan dengan bos yang sedang naik darah karena salah satu klien mereka berusaha mencari celah untuk menipunya dalam kontrak ratusan juta poundsterling. Ia benar-benar butuh angin segar.

Seratus ribu poundsterling yang melayang dari rekening Jake dirasa sepadan untuk menebus satu set pakaian baru untuk si korban—sebagai permintaan maaf—yang kemudian menggiring serentetan isu internal perkantoran—terutama kisah asmara si bos super galak, yang tak lain dan bukan adalah putra sulung keluarga Corvin—dari mulut seorang pegawai penggila gosip.

“Oh, Nona Eleanor yang malang. Sekalipun parasnya rupawan dan berasal dari keluarga Moore—kau tahu sendiri mereka cukup terpandang—jelas sekali dia tidak peduli. Sudah kuduga sosok seacuh Boss termasuk tipe yang akan mengabaikan hal remeh-temeh macam soulmark. Tapi kuyakin adiknya yang manis tidak akan berpikiran serupa.”

Sejak saat itu juga Jake tidak lagi dapat menekan antusiasme yang membludak dengan radikal di dalam relung dadanya. Menghalau segala macam kemungkinan terburuk yang turut hadir dalam keterangan identitas si gadis.

Jika Jake tidak memilih untuk dilahirkan dalam keluarga mafia, bukankah gadis tersebut juga tidak pernah berencana jadi bagian dari keluarga yang berperan sebagai Anjing Pemerintah, yang mana dapat membahayakan pun mengancam posisi keluarga Jake di masa depan?

Jauh di atas segalanya, Jake telah merunut beberapa keuntungan dan kemalangan yang datang bersama identitas si gadis terhadap keluarga Jake.

Dan gulungan tersebut sudah ia serahkan ke hadapan Jane, sebagai bahan pertimbangan. Oke, ini memang agak konyol. Tapi Jake ragu Jane mau mendengarkan penjelasannya secara lisan.

“Kau tahu, kau bebas memacari gadis mana pun, siapa pun, asal bukan dia.”

Jane yang sudah selesai merunut daftar panjang tersebut kini tengah menimang-nimang akan lebih baik kalau membakarnya di atas kompor, atau pura-pura tidak pernah melihatnya sekalian?

“Mau bagaimana lagi?” Jake teringat sosok pirang yang ditemukannya di foto album alumni Guildford High School for Girls. Ia kembali memusatkan atensinya pada Jane. “Aku terlanjur menginginkan Estelle dan bukan yang lain, Jane.”

Hening kembali.

Kali ini disertai udara dingin yang menjalari sekujur lengan dan bertahap mendominasi seisi ruang makan tempat mereka berada, akibat absennya nyala kompor sejak Jane lebih memilih untuk menyidang Jake daripada menyelesaikan acara memasak makan malam.

“Well, I do aware that a mere soulmark won’t guarantee any mutual feelings or even a never ending happiness. But Mum and Da, they are soulmates and currently doing fine, extremely fine, in fact.”

Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa faktor utama yang menginspirasi Jake untuk nekat mengambil keputusan ini adalah keberhasilan kedua orang tuanya untuk menemukan dan meyakinkan satu sama lain, lalu menjalani takdir mereka bersama-sama. Yang mana di lain sisi ia sengaja mengabaikan fakta bahwa Earl dan Countess Corvin—serta putra sulung mereka—memiliki ketertarikan minus untuk hidup mengikuti takdir dan memilih mengacuhkan soulmark untuk kemudian memilih pasangan hidup mereka sendiri.

“Lagi pula kalau kau berencana menemui pria itu, lalu kenapa aku tidak boleh?”

Seakan diguyur air es, Jane diingatkan kembali bahwa bukan hanya adik lelakinya yang memiliki soulmark di tubuh. Dengan enggan ia melarikan atensinya pada liukan menyerupai ular bersisik hijau kebiruan dengan aksen emas yang melilit jari manis kirinya, dari ujung kuku ke pangkal jari.

Jane menatap jemarinya untuk terakhir kali sebelum kembali pada manik kenari sang adik yang menuntut jawaban. “Karena aku yakin, pria di balik tanda ini bukan anjing penjaga Sri Ratu. Aku sudah menelusuri setiap lambang keluarga yang terlibat di dalamnya, baik yang sudah musnah sekalipun.”

“Apa yang akan kau katakan kalau aku tidak lagi tahan untuk menyembunyikan tanda ini lebih lama lagi?” balas Jake. Inilah satu-satunya hal yang tidak Jake masukkan ke dalam daftar panjang ‘advantages and disadvantages of meeting The Corvins’ daughter’ yang telah disusun.

Ujung jemari Jake mengusap lembut tepat di mana tanda itu berada—terekspos jelas di bawah sorot lampu gantung, terlebih karena ia sedang mengenakan kaus tanpa kerah yang khusus ia kenakan untuk momen ini.

Dalam kesehariannya Jake lebih sering mengenakan turtleneck, kemeja berkerah tinggi, bahkan syal, yang jumlahnya mendominasi lemari pakaian. Namun bukan berarti itu semua adalah fashion item kesukaan si pemilik. Jake sekadar ingin meminimalisasi kemungkinan tanda di lehernya menarik perhatian setiap kali ia muncul di tempat umum. Untuk itu ia berbesar hati menjadi objek sorot tatapan aneh tiap kali mengenakan turtleneck di tengah musim panas, atau bahkan syal yang melilit leher jenjangnya di musim semi.

Jane melipat kertas yang diberikan kepadanya lalu bangkit. Tanpa kata ia melangkah meninggalkan si adik yang tercengang. Juga kelaparan.

“Hei, kau mau ke mana?! Bagaimana dengan spaghetti bolognese-nya?”

“Kalau kau lapar, makan sereal saja sana. Aku sudah kenyang mendengar pidatomu.”

Ketika langkah Jane mencapai anak tangga, ia kembali berkelakar,

“Dan kalau kau bersikeras pergi, maka kembalilah dengan utuh. Jadwal operasiku penuh sampai minggu depan, jadi sebisanya, tolong jangan tambahi pekerjaanku sekembalinya dari rumah mereka.”

Jake tidak mengerti bagaimana menyebut nama Estelle, atau keluarga Corvin, akan membuat Jane merasakan sensasi tercekik, hingga kakaknya lebih memilih untuk menggunakan kata ganti mereka dan dia sepanjang percakapan.

“Aku juga tidak sanggup kalau harus mengurus dua anjing sendirian.”

*

Bahkan sebelum matahari menggantikan bulan yang menggantung di langit, Jane telah pergi bekerja. Rupanya ia tidak bercanda soal jadwal kerja yang menggila, sehingga lebih memilih pergi di pagi buta dibanding menyaksikan adik lelakinya meninggalkan pekarangan rumah lebih dulu darinya.

Hari yang sebenarnya lebih mirip dengan hari hukuman pancung, entah bagaimana terasa seperti hari kelulusan bagi Jake.

Sinar matahari pagi begitu lembut menempa wajahnya, sementara ubun-ubunnya dilindungi awan tipis yang beriak di sekitar langit biru cerah. Dadanya terasa ringan bukan main kala tumit sepatu mengilatnya mencapai permukaan lantai keramik hitam sekelam malam, yang merupakan teras dari kediaman keluarga Corvin. Segera setelah Jake menekan bel interkom yang berada di sisi kanan pintu, jantungnya kembali berdebar, menanti sepasang manik keperakan yang akan memandang miliknya saat—

“May I help you?”

Goodness gracious.

Di sana. Gadis itu dan kedua maniknya yang sewarna abu keperakan, muncul di antara celah pembatas mereka.

Segala yang selama ini hanya dapat ia pandangi dari jarak jauh, disodorkan kepadanya dalam jarak kurang dari 30 sentimeter.

Karena ketika celah kedua daun pintu terkuak semakin lebar Jake dapat melihat presensi utuhnya dari jarak dekat. Surai pirang pucatnya kali ini terikat rapi dalam ikatan ekor kuda, pun kemeja satin biru tua tanpa lengan yang semakin mengekspos keindahan jengkal mulus pualam kulit si gadis.

Saat itu juga Jake sadar takdir telah melakukan tindak kriminal paling kejam di muka bumi.

Butuh dua tarikan napas sebelum Jake memutuskan tatapan mereka, memfokuskan tujuannya, dan kembali menguasai diri.

“Halo, aku perlu bertemu dengan Earl dan Countess Corvin. Aku yakin mereka ada di rumah karena aku telah mengumumkan kedatanganku,” kemudian Jake menilik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, “tepat satu jam yang lalu.”

Jake sudah bersiap menerima sabetan pisau tajam yang mungkin tersimpan di balik punggung ramping gadis tersebut, atau paling tidak ditendang dengan sepatu jinjit yang tengah ia kenakan sampai ke luar teras. Nyatanya, tidak terjadi apa-apa. Gadis tersebut tidak bergeming, namun tautan di antara kedua alisnya semakin tajam, menandakan keraguan.

“Baiklah, kalau itu tidak cukup. Can you see this?” Jake menurunkan turtleneck warna hitam yang ia kenakan di balik tuksedo senada, tepat pada sisi sebelah kanan, kemudian memutar sedikit lehernya agar si gadis dapat melihat jelas tanda keperakan di sana. “Aku harus membicarakan hal ini dengan kedua orangtuamu.”

Seolah tidak cukup puas dengan ketekerjutan di antara kedua manik si gadis yang melebar, Jake menambahkan,

“Dan, perkenalkan, namaku Jake. Jake Brice Vaughan.”

*

“Kau sadar nyaris membuat putriku pingsan di depan pintu, Mr. Vaughan?”

Yang berbicara adalah seorang wanita berusia awal empat puluhan, tampak anggun tanpa rambut putih disela surai pirangnya yang digelung rendah. Tepat di bawah kedua alis tegas miliknya, terdapat sepasang manik biru yang dalam dan mengintimidasi—siap menjebloskan Jake ke neraka andai ia salah mengambil langkah.

Di sampingnya, duduk seorang pria bertubuh atletis dengan mengenakan tuksedo licin pun rambut senada dengan sang istri yang telah ditata rapi. Lelaki tersebut turut mengamati Jake dengan lekat melalui manik sewarna milik Estelle—ada ketenangan di sana yang meleset dari dugaan Jake akan Earl Corvin[1]. Ia membayangkan sosok politikus licik dengan senyum rubah, tapi kenyataan berlawanan yang dihadapinya sekarang justru semakin mengkhawatirkan.

Diam-diam Jake bersyukur telah menjinakkan koloni rambutnya, juga mengenakan setelan jas terbaik sebelum datang kemari, atau kalau tidak, kedua orang di hadapannya pasti sudah melemparkannya ke perapian di sisi ruangan karena memberi kesan pertama yang jauh dari kata impresif.

Well, kesan kedua. Kesan pertama adalah ia yang mendadak menelepon keluarga Corvin dan memberitahukan kunjungannya pagi ini juga, dalam waktu kurang dari satu jam. Satu-satunya alasan kenapa ia tidak ditolak mentah-mentah berhubungan dengan ketertarikan yang terang-terangan Earl Corvin tunjukkan untuk bertemu dengannya.

“Mungkin ia sedikit terkejut dengan tanda yang saya miliki.” Jake menjawab sesuai fakta dan tetap berusaha menjaga kesopanan nadanya. Gadis yang menemuinya di depan pintu tak bergeming setelah ia memperkenalkan diri—untuk beberapa sekon kemudian lengan kirinya berkedut, seolah menahan diri untuk melakukan sesuatu yang nanti akan disesali. Momen itu terpecahkan kala seorang pelayan datang menghampiri mereka dan mengantar Jake untuk menemui si tuan rumah.

Suara ketukan menyela, sebelum daun pintu cokelat mahogani itu terbuka untuk yang kedua kalinya pagi ini. Seorang perempuan mengenakan pakaian rapi pelayan dengan rambut cokelat gelap digelung ketat memasuki ruangan, membawa troli dengan tea sets porselen berdesain elegan. Dengan cekatan si pelayan menghidangkan Earl Grey panas untuk sang majikan dan tamunya sebelum membungkuk sopan lalu mengundurkan diri.

Well …, Countess Corvin memulai kemudian saat suara daun pintu ditutup terdengar. “harus kuakui, aku benar-benar terkejut menerima kabar bahwa kau meminta bertemu dengan kami. Terutama jika dilihat dari sudut pandang siapa dan dari mana kau berasal,” kata wanita itu dengan manik biru menyorot tajam.

Dearest Wife, don’t be too hard on the poor boy.” Earl Corvin tersenyum ringan sembari meraih tangan sang istri dan meremasnya pelan. “At least, give him some credit for his … bravery on seeking an audience with us.

Bravery … or foolishness.

Bibir Countess Corvin membentuk garis tipis simetris. Ia memilih untuk tidak berkomentar dan meraih cangkir teh di hadapannya, menyesap pelan cairan sewarna tembaga itu. Sementara Earl Corvin mengaitkan jemari dan meletakkannya di atas lutut yang bersilang, memberikan Jake atensi penuh yang mau tak mau membuatnya gugup. Bagaimanapun juga, kendati postur tubuh Earl Corvin jelas terlihat santai, Jake tidak buta dengan kenyataan bahwa postur seperti itu justru sangat efektif untuk melakukan serangan dadakan.

“Jake—boleh aku memanggilmu Jake?” Tanpa menunggu jawaban Earl Corvin melanjutkan, “Asal kau tahu saja, kami jarang sekali menerima tamu yang tidak membuat janji di jauh hari sebelumnya, tapi mengingat alasan yang kau bawa kemari, pengecualian secara suka rela kami berikan untukmu.”

Jake diam, menunggu. Ia tahu Earl Corvin belum selesai berbicara.

Manik abu Earl Corvin—begitu mirip dengan manik abu Estelle—menyorot Jake dengan tenang. Sangat kontras dengan dinginnya manik biru Countess Corvin yang intensitasnya belum berkurang sejak pertemuannya dengan wanita rupawan itu. Earl Corvin pun membuka mulut,

“Kau meminta kesempatan untuk menjalin hubungan dengan putri kami. Sekarang, beri tahu kami, Jake, alasan apa yang dapat membuat kami mempertimbangkanmu?” tanya pria bersurai pirang itu lugas, langsung pada poin utama pembicaraan mereka pagi ini.

Jake mengambil jeda yang cukup untuk memandang bergantian dua pasang manik berbeda warna di hadapannya—sebelum memulai bahwa segala hal yang membawanya tiba di hadapan mereka bermula dari kesadarannya akan eksistensi tanda yang menempel lekat di lehernya. Bagaimana ia mencapai kesimpulan pada siapa tanda tersebut merujuk dan seiring berjalannya waktu, ia dapat merasakan bahwa ada rasa kasih serta dorongan untuk melindungi yang tumbuh bersamaan dengan pesona yang memikatnya dari sosok istimewa di balik soulmark tersebut.

Well, jika alasan mendasarmu ingin memiliki hubungan dengan putri kami sekedar karena rasa kasih, ketertarikan luar biasa, dan sebuah tanda—” Countess Corvin menarik sebuah senyum timpang yang tajam, “—kami khawatir kesempatanmu bahkan tidak lebih besar dari sarang semut, Mr. Vaughan.

“Estelle tahu benar kebahagiaannya tidak bergantung pada ketertarikan seseorang padanya pun soulmark. Kami memastikan kendati ia memiliki pasangan hidup, bahkan takdir sekalipun tidak bisa mencegahnya menemukan tambatan hati yang benar-benar ia inginkan,” lanjut si wanita dengan senyum dingin terpeta di wajah tirus tersebut. Lain halnya dengan sang suami, Countess Corvin rupanya tak sabar untuk menendangnya pulang.

You are walking on a thin line here, Mr. Vaughan.

Peringatan terdengar jelas dibalik nada halus itu. Tapi Jake bukanlah Jake kalau ia menyerah begitu saja. Keputusan nekat yang ia buat dengan menemui orangtua pasangan hidupnya tidak untuk berakhir sia-sia. Putri mereka telah sukses memikat hatinya, pun terlalu berharga untuk tidak diperjuangkan hingga akhir. Kalau Jake berhenti di sini, ia punya firasat buruk bahwa tidak akan ada kesempatan lagi baginya untuk bertemu maupun melihat gadis bermanik indah itu untuk selamanya.

Fuck no. Like hell he would let that happen.

Jake telah berkecimpung cukup lama dengan dunia politik, tahu, dan mahir cara bersilat lidah serta memutar kata-kata hingga ia mendapatkan apa yang diinginkan. Meskipun begitu, bermain politik dengan kedua orang di hadapannya ini sama saja cari mati, apalagi jika urusannya menyangkut putri mereka. Satu-satunya yang tersisa adalah mengumpulkan keberanian untuk melontarkan apa yang selama ini hilir mudik memenuhi pikirannya.

“Saya tekankan, Earl Corvin, Countess Corvin, saya siap menanggung konsekuensi atas pilihan saya,” ucap Jake, tegas. Kalimat selanjutnya meluncur begitu saja dari mulutnya. “Saya akui perannya sebagai pasangan hidup saya juga mempengaruhi, namun saat ini, perasaan yang saya miliki untuk putri Anda bukanlah sekedar hasil dari rasa ketertarikan dangkal yang hanya akan bertahan untuk sementara waktu.”

Kuluman senyum Jake sepertinya tampak lebih jelas dari yang ia inginkan, karena kendati masih ada kecurigaan terpantul di manik biru itu, raut wajah Countess Corvin sedikit tergerak untuk melunak. Sedikit.

“Tentu saja, saya sadar Anda berdua tidak akan begitu saja percaya dengan pengakuan saya.” Jake melanjutkan sembari mengunci pandangan dengan Earl Corvin yang masih dengan tenang memberikan atensinya. “Saya telah mempertimbangkan keputusan ini dengan matang: saya akan bersedia melakukan apa pun untuk membuktikan diri saya pada Anda dan putri Anda.”

Di sini, kebimbangan sekejap mencengkeram diri Jake. Beranikah ia mengutarakan kalimat yang bisa menjadi pedang bermata dua baginya?

Earl Corvin memiringkan kepala, mengisyaratkan Jake untuk meneruskan.

“Saya bersedia melindungi Estelle dari mafia, bahkan dari keluarga saya sendiri.”

Ekspresi aneh melintas di wajah Countess Corvin, sementara kilat yang terlalu cepat untuk Jake baca artinya melintas di manik abu Earl Corvin.

Keberadaan keluarga Corvin yang mengabdi kepada Sri Ratu selalu dibayangi maut yang setia mengekor di setiap langkah yang mereka ambil, tak terlepas dari mereka yang siap menjegal jika lengah. Menjadi pendamping seorang Corvin berarti kau harus memiliki kemampuan yang memadai untuk memikul segala tanggung jawab serta risiko yang akan membebani secara turun-temurun. Kau tidak bisa lepas, lari, maupun mengabaikan takdir tersebut. Dan Jake tahu benar akan kenyataan ini. Statusnya sebagai mafia sudah cukup menjelaskan kemampuannya, tapi apa yang ditawarkannya di sini adalah perlindungan absolut untuk Estelle.

Sementara itu, seulas senyum yang terpoles di wajah aristokrat Earl Corvin melebar—yang anehnya justru membuat bulu kuduk Jake berdiri. Ia bertukar pandang sejenak dengan Countess Corvin, mengangguk kecil. Untuk beberapa saat sang istri hanya menatap sang suami, sebelum akhirnya menghela napas pendek, lalu turut mengangguk.

“Very well then. We shall hold onto what you said, Jake,” kata Earl Corvin, bangkit dari tempat duduknya bersamaan dengan Countess Corvin. Lelaki bersurai pirang itu menatap lekat Jake—kilat ancaman melintas di dwimanik abu itu. “Kuharap kau mengerti bahwa putri kami-lah yang akan menentukan langkahmu selanjutnya.”

Jake memiringkan kepalanya. “Tentu saya akan menghargai keputusan putri Anda, Earl Corvin.”

*

Part 1 of 2 – End.

*

Catatan:

  1. Earl adalah salah satu gelar kebangsawanan di Inggris. Istri dari seorang Earl dipanggil dengan sebutan Countess. Gelar ini dapat dipakai sebagai sapaan (e.g. Earl Corvin, Countess Corvin).
  2. Pinterest’s album: here
Advertisements

6 thoughts on “Swinging Pendulum (1 of 2)

  1. Kok aku seneng yah kalau ada kekhawatiran yang disamarkan kayak kalimat ini
    “Kalau kau bersikeras untuk pergi, maka kembalilah dengan utuh.” Huhu lucu sekaligus sweet

    Liked by 1 person

  2. AMPUN AKU MENYESAL GAK BACA INI LEBIH AWAL KARENA INI

    THIS IS WHAT I’VE BEEN SEARCHING FOR! Aduh kaitannya sama soulmark gitu aku jadi lemah. Terus ampun, gasabar menunggu 2 of 2-nya karena ini nagih banget, kak! ❤ ❤ ❤ kehilangan kata-kata, aku suka sekaliiii!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s