[Special Event: Out of Playroom] Malapetaka

Ditulis oleh OtherwiseM

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre historical fiction.

“Benar! Manusia biasa mana mungkin bisa meredakan badai begitu saja!” 

.

Barulah permulaan abad ke-16 kala peristiwa itu terjadi. Sebelah utara pesisir Jawa Timur dilanda badai hebat. Ombak menggulung, berlomba-lomba mencapai daratan. Putaran angin dengan ganas singgahi pemukiman, hancurkan apa pun yang menghadang. Guntur serta kilat tak henti-hentinya bersua di cakrawala.

Jerit dan gema tangis adu cepat penuhi rungu. Adji bergeming di antara hiruk-pikuk penduduk yang sibuk menyelamatkan diri pun harta benda yang tersisa. Mata berair itu memandang seorang wanita tua yang berjalan terseok-seok mencapai jasad bocah mungil di tepi pantai. O, betapa sesaknya dada pemuda itu.

Indra dan Waruna, sang penguasa Angin dan Laut, dipercaya sebagai pemberi rezeki bagi seluruh penduduk desa. Ikan-ikan besar yang berhasil mereka tangkap setiap hari merupakan salah satu bentuk kemurahan hati sang dewa. Namun, baru-baru ini, mereka tidak memberi cukup persembahan. Itulah sebabnya malapetaka ini datang menyerang.

Setidaknya itulah yang Adji serta penduduk lainnya yakini.

“Lihat ke utara! Ada kapal yang datang!”

Dari kejauhan, terlihat sebuah kapal kecil yang melaju menerobos ganasnya ombak. Sesosok lelaki berjubah putih duduk di atas anjungan. Sedang pemuda berpakaian serupa mengelilinginya bak penjaga.

“Mungkinkah itu sang dewa?”

“Dewa akan menghukum kita!”

Pekikan-pekikan serupa terlontar silih bersahutan. Orang-orang panik mencari tempat persembunyian. Namun Adji masih berdiri tegap menghadap lautan. Matanya tak bisa lepas dari sosok lelaki berjubah di atas anjungan kapal.

“Hei, anak muda! Pergilah ke utara dan beritahu Mbah Karto!” Seorang paman berseru padanya selagi ia sibuk menggendong mayat sang istri di punggung.

Kesadaran Adji kembali. Terbirit-biritlah ia berlari menerobos lautan manusia yang dilanda panik luar biasa. Mengabaikan makian orang yang ditabrak pun sensasi nyeri dari cairan anyir yang menyeruak keluar.

Di ujung sana, tampak gerombolan penduduk yang bersujud melingkari sesajen. Air mata menyeruak dari sudut mata mereka selagi bibir tak hentinya berkomat-kamit memohon ampunan sang dewa. Ragu-ragu Adji menerobos barisan lantas menghampiri Mbah Karto–tetua paling dihormati di desa. Pemuda itu segera berlutut sembari menangkupkan kedua tangan di dada.

“Mohon ampun, Mbah.”

Secepat Mbah Karto menghentikan doanya, penduduk langsung mengangkat kepala dan menatap Adji dengan tatap tak suka.

“Ada apa, anak muda?”

“Ampun, Mbah. Dari laut, ada sebuah kapal kecil melaju kemari. Mereka semua berpakaian putih.”

Mata tua Mbah Karto melebar. Dibantu seorang warga di belakangnya, lelaki berusia nyaris seabad tersebut lekas berdiri. “Mari pergi ke sana!”

Segeralah rombongan penduduk tersebut mengikuti Adji menuju pesisir. Saat sampai, perahu kecil itu sudah semakin jelas menampakkan wujudnya. Para penduduk yang menyadari kedatangan Mbah Karto bergegas menghampiri.

“Mereka pasti utusan Dewa, Mbah!” seru seorang penduduk yang berdiri tepat di samping Adji.

“Bukan! Mereka adalah orang-orang yang kita tenggelamkan tiga hari lalu! Kapal itu berisi arwah mereka!” Seorang penduduk lain dengan lantang membantah.

Roman getar segera saja menghiasi wajah para penduduk. Tak terkecuali Mbah Karto yang matanya tak bisa lepas dari kapal tersebut.

“Lihat! Apa yang sedang lelaki berjubah itu lakukan?!”

Tambah paniklah para penduduk saat dilihatnya lelaki berserban putih di anjungan itu menengadahkan kedua tangan di udara. Begitu pula pemuda-pemuda yang mengelilinginya. Mata mereka terpejam sejenak dan mulut mereka komat-kamit seakan tengah membaca mantera.

Kegaduhan kembali tercipta. Para penduduk cemas setengah mati. Takut luar biasa akan bencana-entah-apa-lagi yang akan mendatangi. Baru saja Mbah Karto akan berbicara kala guntur dan kilat berhenti bersahutan. Laju ombak seketika tenang, seolah tak pernah ada badai. Mata bundar para penduduk saling bertatapan. Tak ada kata yang terucap dari kedua belah bibir mereka. Semuanya terlalu tiba-tiba sampai mereka tak menyadari bahwa kapal kecil itu sudah berlabuh.

“Mereka pasti utusan dewa!”

“Benar! Manusia biasa mana mungkin bisa meredakan badai begitu saja!”

“Tapi mereka arwah orang-orang yang kita tenggelamkan! Mereka pasti datang kemari untuk menghukum kita!”

Kegelisahan kembali mengudara. Tak tahan dengan muntahan spekulasi para penduduk, Mbah Karto berteriak dengan lantang, “tenang!”

Semua langsung bungkam. Menundukkan kepala sambil menyikut satu sama lain—saling menyalahkan.

“Tak ada jalan lain selain menyerah. Kita memang salah! Membunuh sesama manusia itu bukalah hal yang dibenarkan.”

Kata-kata singkat Mbah Karto berhasil membungkam para penduduk. Semuanya menunduk semakin dalam. Meratapi kesalahan mereka di masa lampau.

Melihat rombongan berpakaian putih itu sudah semakin dekat, segeralah Mbah Karto bersujud. Penduduk yang lain lekas mengikuti tindak-tanduk sang tetua.

“O, Dewa Agung yang telah memberkahi kami, ampunilah segala kesalahan kami. Kiranya berkat keagunganmulah bencana ini dapat diakhiri!” ucap Mbah dengan takzim.

“Kanjeng Sunan!” seorang pemuda dalam rombongan berseru. Terkejut mendapat sembah dari seluruh penduduk.

Sunan mengulum senyum. “Kalian salah sangka.”

Dihampirinya para penduduk yang masih menyembah dengan tangan bergetar. Sunan menyentuh pundak Mbah Karto lalu membantunya berdiri.

“Kami bukan dewa. Kami hanyalah manusia biasa, sama halnya dengan kalian.”

Sesaat setelah Mbah Karto berdiri, para penduduk segera mengikuti. “Lantas, ada keperluan apa Paduka Sunan datang kemari?”

“Kedatangan kami adalah untuk mencari kawan-kawan kami yang tenggelam beberapa hari yang lalu.”

Para penduduk langsung bungkam. Saling menatap satu sama lain. Kilat takut terpancar dari bola mata masing-masing.

“Apakah kalian mengetahui perihal kawan-kawan kami tersebut?”

Melihat tak ada satu pun penduduk yang ingin buka suara, Adji takut-takut berkata, “ampunilah kami, Paduka Sunan. Kami berdosa karena telah membunuh sesama manusia.”

Mendengar hal tersebut, mata Sunan terbelalak, “lantas kenapa kalian melakukannya?!”

Mbah Karto menarik napas panjang sebelum menimpali, “ampunilah kesalahan kami, Paduka Sunan. Perahu itu sudah memasuki daerah suci dan membuat dewa kami marah. Akibatnya, seperti yang Paduka lihat sendiri, desa kami musnah tersapu bencana.”

Sunan bergumam. Maniknya menelisik paras-paras penduduk yang memancarkan penyesalan. “Dewa kalian marah kemudian memusnahkan kampung ini. Kalau begitu, dewa kalian itu jahat. Lebih jahat daripada kalian yang telah membunuh kawan-kawan kami.”

“Tolong jaga bicara Paduka! Dewa kami tidak seperti itu! Ini semua terjadi karena kami kurang memberikan persembahan!” seru seorang warga. Bak gayung bersambut, penduduk lain segera menimpali dengan seruan tak terima.

“Tenanglah kalian!” gertak Mbah Karto, “tidakkah kalian sadar pada siapa kalian bicara?! Paduka Sunan-lah yang sudah menghentikan badai! Sudahkah kalian lupa akan hal tersebut?”

Ucapan tetua memang paling bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini. Para penduduk seketika bungkam dan kembali menundukkan kepala.

Mbah Karto kembali memandang Sunan dengan tatap menyesal. “Tolong maafkan kelancangan kami, Paduka.”

Sunan menggeleng. “Bukan aku yang menghentikan badai ini, tapi Allah Yang Maha Kuasa.”

Bertatap-tataplah penduduk dengan terheran-heran. “Allah? Siapakah gerangan dia itu, Paduka?”

“Allah adalah pencipta dan penguasa alam ini. Sesungguhnya tak ada satu pun di dunia ini yang dapat menandingi-Nya,” terang Sultan sembari mengulum senyum.

“Allah … kami baru mendengarnya. Berkenankah Paduka Sunan menerangkan sedikit kepada kami sebelum kami dihukum mati?”

Sunan menimpali dengan senyuman. Ditatapnya lagi wajah pasrah para penduduk yang menuntut penjelasan darinya. “Sebelum itu, ketahuilah bahwa sesungguhnya tak ada satu manusia pun yang dapat menghukum sesamanya. Demikian juga aku terhadap kalian, wahai penduduk desa. Kami tahu kalian sudah menyadari dan bahkan menyesali kesalahan kalian. Asalkan kalian benar-benar tidak akan melakukan kejahatan lagi, insyaAllah, Allah akan memberikan kalian pengampunan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun.”

“Jadi … Paduka Sunan tidak akan menghukum kami?” tanya seorang penduduk dengan wajah berseri-seri.

“Kalian tidak perlu takut kepadaku. Justru kepada Allah-lah, Sang Pencipta Langit dan Bumi, kalian harus takut.”

“Jadi sepertinya ada yang lebih berkuasa daripada dewa-dewa yang kami sembah selama ini,” seorang wanita yang tengah menggendong bayinya bergumam.

Mendengarnya, Sunan tersenyum. “Cobalah kalian jawab, lebih mulia mana pencipta dengan barang ciptaannya?”

“Sudah barang pasti penciptanyalah yang lebih mulia, Paduka!”

Sunan tersenyum. “Kalau begitu, kenapa kalian tidak menyembah Allah? Bumi, langit, beserta seluruh isinya sesungguhnya adalah hasil ciptaan-Nya.”

Penduduk kembali berpandang-pandangan. Kebingungan masih melanda mereka.

“Sesungguhnya tadi kami hanya berdoa kepala Allah agar malapetaka ini dihentikan. Alhamdulillah, dengan segala kuasa-Nya, Allah berkenan mengabulkan doa kami. Kalian juga dapat meminta kepada-Nya asal kalian percaya bahwa Allah itu ada.”

Selama beberapa sekon, tak ada suara apa pun yang terdengar selain deru ombak dan siulan angin. Mbah Karto menatap seluruh penduduk desa yang tersisa kemudian beralih pada Sunan yang masih tersenyum hangat.

“Kalau begitu, berkenankah Paduka Sunan mengajari kami untuk meminta kepada Allah?”

Sunan tersenyum. Lebar sekali.

.

.

.

Terhitung tujuh kali sang surya tergelincir dari singgasananya sehabis peristiwa itu terjadi. Selama itu pulalah Sunan mengajarkan banyak hal kepada penduduk desa. Tentang Allah, tentang cara sembahyang, tentang cara bermasyarakat, tentang ilmu dunia maupun akhirat. Tak ada satu pun yang luput dalam penjelasannya. Para penduduk yang semula menyembah banyak dewa, kini berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Selepas salat subuh, Sunan beserta rombongannya berpamitan hendak pergi ke utara. Para penduduk sebenarnya berat melepas Sunan tanpa dapat memberikan balasan yang layak atas kemurahanhatinya. Namun apa bisa dikata, Sunan tidak dapat berlama-lama di desa.

Adji yang sejak tadi sengaja menunggu di dekat kapal Sunan segera menegakkan tubuh begitu dilihatnya rombongan Sunan berjalan mendekatinya.

“Paduka Sunan!”

Pemuda itu segera berlari menghampiri dan memberikan penghormatan.

“Ada apa kiranya yang hendak kau sampaikan, anak muda?”

Adji buru-buru mengambil sesuatu dari kantung celananya. Untaian bola kayu yang disusun menyerupai kalung. “Hamba menemukannya di pesisir setelah penduduk menenggelamkan kapal. Sekiranya ini adalah barang berharga.”

Sunan menatap bergantian antara wajah Adji dengan benda yang disodorkannya. “Itu namanya tasbih. Ambilah itu dan perbanyak berzikirlah kepada Allah.”

Adji mengangkat kepalanya. Memandang Sunan yang sekonyong-konyong sudah berada di hadapannya. Tangannya menyentuh pundak Adji.

“Belajarlah dengan tekun. Bagilah ilmu yang kau dapat pada orang lain. Jangan biarkan kegelapan melanda barang sebesar biji sekali pun.”

Adji mengulum senyum dan mengangguk dengan penuh keyakinan.

“Kalau begitu kami pergi dulu. Assalamualaikum warrahmatullahiwabarokatuh.”

“Waalaikumsalam warrahmatullahiwarobokatuh.”

Setelah kapal Sunan mulai berlayar, terdiamlah sejenak Adji seraya memandang tasbih di genggamannya.

“Hamba pasti akan belajar dengan tekun, Paduka Sunan. Terima kasih.”

–end–

Sumber Cerita :

Celotehan OtherwiseM

  1. Terima kasih banyak buat Mbak Q yang udah memilihkan aku genre ini >.< aku belajar banyak banget hehe :*:*:*
  2. Alhamdulillah bisa rampungin cerita ini T.T to be honest, ini historical-fict pertama yang pernah kubuat (apalagi dengan tema ini juga) jadi banyak banget hal yang aku takutin haha x”D
  3. Mohon maaf ini banyak pake maksimal banget kekurangannya T.T
  4. Terima kasih banyak bagi yang sudah rela menyisihkan waktunya untuk membaca hehe~
Advertisements

12 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Malapetaka

  1. IMEL POKOKE AKU SUKA DIKSINYA HUHU PEMILIHAN KATAMU JOSS SEKALEEE
    Pesan moralnya juga dapet >< Eh tapi btw aku kok nemu sedikit keganjilan, ya? Di bagian ini, nih, Mel :
    “Allah adalah pencipta dan penguasa alam ini. Sesungguhnya tak ada satu pun di dunia ini yang dapat menandingi-Nya,” terang Sultan sembari mengulum senyum.
    Kan sepanjang cerita, tokoh ini disebut "Sunan", tapi kok di bagian itu jadi "Sultan", ya? Typo mungkin?
    Overall, ceritanya bagus kusuka ❤ Selamat sudah merampungkan ospeknya ya, keep writing, Imel 😀

    Liked by 1 person

    1. Halo angel^^ maapkeun aku balesnya telaaaatttt banget T.T
      Oh iya maapkan typo-nya wqwqwq padahal “sultan” sama “sunan” beda jauh ya hahaha
      Makasih banyak udah bacaa♡♡

      Like

  2. Aku nggak bisa ngebayangin gimana bikin historical fiction semacam ini ㅠㅠ
    Kamu keren, Mel! Keren karena bisa merampungkan ini waaah.. Detil ceritanya, pesan moralnya. Hebat.

    Aku agak bingung sama kalimat ini :
    “Sudah barang pasti penciptanyalah yang lebih mulia, Paduka!”

    Sudah barang pasti apa nggak lebih baik sudah pasti saja?

    Liked by 1 person

    1. Halo kak mala^^ maapkeun aku balesnya telaaaatttt banget T.T
      Aku sebenernya pingin ngikutin dialog dari cerita jaman dulu /?/ yang kubaca yang rada berbelit /?/ tapu jatohnya malah jadi ga efektif banget ya kak? Hehe
      Makasih banyak kak mala udah baca~~♡♡

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s