[Special Event: Out of Playroom] Jalan Rahasia

Ditulis oleh @andditaa

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre surreal.

Tatkala Adrian mendongak dari kertas laporan, ruangan telah terisi air nyaris setinggi dada. Sensasi dingin menggigit kulit, membuat menggigil, mengangkat massa tubuhnya sampai terasa ringan. Ia tengadahkan kepala, tampak urat-urat lehernya mencuat, suaranya tercekat. Dentum kardionya yang teredam akibat terendam justru menambah sesak dada dan napas.

Air mulai menyentuh bola mata Adrian; ia meringis karena keperihan. Lengannya gelagapan mendayung, juga kakinya menendang berulang, susah payah menjaga agar paling tidak hidungnya tetap berada di sisa celah udara. Namun air enggan berdamai, terus melaksanakan tugasnya menempati ruang apa pun yang kosong, hingga akhirnya air menyapa langit-langit ruangan. Menelan tubuh Adrian secara sempurna.

Panik kehabisan pasokan oksigen, Adrian menggedor-gedor plafon, berharap ruangan tempat ia bekerja bisa meninggi. Alih-alih berhasil, seketika Adrian berhenti ketika efek kebas membuat saraf tangannya terasa mati.

Didesak paru-paru yang hendak meledak, Adrian teringat bahwa ada banyak karyawan dan staf di gedung perusahan yang ia pimpin ini sedang bekerja. Yang mana seketika mendorongnya menyelam, memburu pintu keluar di tengah visi yang kabur. Meja Adrian, kursinya, komputernya, rak-rak berisi berkas-berkas juga koleksi mobil-mobilan mininya, semua bahkan tak terangkat sedikit pun walau tengah tergenang air. Tak punya banyak waktu, Adrian lekas membuka panil pintu, menghambur keluar, seketika maniknya membelo. Terkejut bukan kepalang.

Air memenuhi pula ruangan tempat karyawan-karyawati Adrian bekerja. Anehnya, semua orang tak bereaksi meski air betul-betul menenggelamkan mereka. Suara jemari beradu dengan keyboard samar-samar menembus gendang telinga Adrian. Ia lirik salah satu monitor komputer karyawatinya yang bahkan menyala, dalam air befungsi normal.

“Selamat siang, Pak.”

Adrian berbalik. Sontak mencengkram pundak satu karyawannya yang kebetulan melintas dan menyadari eksistensinya, menyapanya sambil lalu. Ia tunjuk-tunjuk wajahnya yang sengaja ia gembungkan demi menahan sisa-sisa udara di mulut. Aku tidak bisa bernapas, tolong, aku tidak bisa bernapas!

Sang karyawan justru terlihat heran, agak takut-takut lalu memilih pergi. Melihat karyawan lain melewatinya, Adrian berusaha mencegat. Tapi mereka malah menghindar, mengabaikan kondisi Adrian yang kian kesulitan.

Berenang ke pusat ruangan, Adrian memberikan berbagai isyarat apa pun yang ia mampu. Adrian meluncur ke sana kemari, mengayun tangannya, kakinya, ke nyaris seluruh sisi ruangan. Melayang-layang di atas kepala karyawannya pun tidak membuahkan hasil. Mereka semua sibuk menyelesaikan pekerjaan. Segelintir memang tampak memperhatikan Adrian, tapi tak minat memberi bala bantuan.

Adrian menyerah, mencoba mencari cara lain keluar kantornya untuk menyelamatkan nyawa. Dari ekor mata, tak sengaja ia tangkap elevator di ujung koridor yang biasa digunakan orang-orang. Benar juga! Adrian lupa soal kotak besi satu itu.

Sementara kepayahan mengerahkan dirinya ke arah elevator, sayup-sayup suara wanita yang begitu familier memancing Adrian menengok sejenak. Ada seorang wanita sedang menyandar pada sebuah mesin fotocopy di salah satu sudut ruang kerja karyawan. Itu asisten Adrian, Tiara namanya, tengah asyik meminum teh. Tangan wanita itu mengguncang-guncangkan sekantong teh celup, sehingga warna air di sekelilingnya berubah agak kecoklatan.

“Mbak, itu Pak Direktur kenapa?”

Menolehlah Tiara pada salah satu karyawati yang kebetulan juga tengah menunggu hasil penggandaan laporan keuangan perusahaan oleh si mesin fotocopy yang sedang bekerja. “Oh, biasa, lagi jadi karakter utama.” Wanita bersurai sebelikat itu menyodorkan satu kantong teh lain buat si karyawati.

“Memangnya karakter utama harus heboh begitu?” Lantas si karyawati menerima sodoran Tiara, turut mengguncang-guncangkan kantong tehnya.

“Ya kalau karakter utamanya kalem, ini cerita mana seru.”

Si karyawati mengangguk-angguk paham. Bersama Tiara, ia seruput air teh yang ada di sekitarnya.

Toh, sang asisten juga tak menghiraukan sehingga Adrian putuskan segera menyusuri koridor, namun berhenti beberapa meter dari pintu elevator. Dadanya kian terasa sesak, ditambah apa yang ia dapati kini banyak orang sedang berjajar hendak masuk, di temani puluhan ekor ikan mas koki yang seingat Adrian menghuni akuarium milik kantor. Antreannya hampir sepanjang koridor.

Adrian berpikir sejenak. Ia tak mungkin menyerah begitu saja, pasti ada jalan lain untuk bebas dari situasi ini.

“Mau makan siang juga, Pak Adrian?”

Adrian menoleh ke sisi. Ditemuinya seorang karyawan menyapa. Kemudian dua karyawati yang kebetulan bersama si karyawan, ikut membagi senyum ke arahnya. Maka langsung saja Adrian memamerkan gestur sesak napasnya. Ia tunjuk hidungnya sendiri, leher ia pegang dengan tangannya yang lain.

Bukannya segera peka, raut karyawan dan karyawati tersebut malah tampak bingung. Adrian melakukan gerakan isyarat serupa beberapa kali tapi nihil hasil. Tak ada yang bereaksi.

Kesal, Adrian meninggalkan karyawan-karyawatinya itu. Masa bodoh dengan elevator dan orang-orang yang menunggu giliran. Yang jelas, Adrian harus keluar dari kantornya. Muka Adrian sekilas mulai menampakkan warna kemerahan. Pipi masih ia gembungkan.

Adrian kembali memutar otaknya dan menemukan memori perkara tangga darurat. Kontan ia berenang cepat menuju lorong di mana tangga darurat langsung menyapanya begitu ia berbelok ke kanan dari koridor elevator.

Tidak, Adrian tak segera meluncur ke lantai bawah. Ia berhenti tepat di atas anak tangga pertama dengan netra yang kembali terbuka lebar-lebar; menyaksikan pemandangan di mana berbagai jenis ikan lalu-lalang dan tampak bersarang di tiap bidang tangga. Gilanya, ada orang-orang naik-turun tangga bak ikan-ikan tersebut bukanlah ancaman. Adrian hendak berteriak tatkala melihat gerombolan ikan buntal beracun nyaris ditabrak seorang office boy, namun beruntung ia ingat bahwa akan sangat berbahaya jika mulut ia buka.

Sejenak Adrian mendongakkan kepala. Melihat tangga yang mengarah ke atas tampak lengang, buru-buru ia mendayung, menendang air sekitarnya berharap lekas tubuhnya bergerak. Jalan keluar lain yang mungkin bisa menyelamatkan nyawanya, memberinya oksigen kembali, adalah atap gedung kantornya.

Sembari menahan hidung yang sakit akibat terlalu lama menahan napas, Adrian mempercepat laju renangnya. Lengan otomatis ia ulurkan buat meraih kenop pintu lantas tubuh ia luncurkan keluar, namun Adrian justru menemui kembali ruangan para karyawan.

Adrian terdiam sejemang. Matanya ia kerjap berkali-kali, menengok ke kanan juga kiri. Persis sama! Bahkan Adrian berenang mengecek keadaan dan letak kubikel-kubikel kerja, sampai posisi mesin fotocopy di sudut ruangan, semua serupa sebagaimana yang ia lihat beberapa saat sebelumnya.

Menjambak heran surainya sendiri, Adrian lantas bergerak lagi. Tenggorokannya kini terasa dicekik, kecepatan dan arah renangnya tak terkendali. Hingga tak sengaja melihat sorot sinar mentari, ia berhenti, tepat di depan sebidang jendela. Entah keberuntungan apa, Adrian menemukan satu fire extinguisher bertengger tepat di sisi kusen. Tenaga sisa ia gunakan mengangkat tabung berisi busa tersebut susah payah. Baru Adrian berancang untuk menghancurkan kaca jendela, ia hentikan gerakan tangannya. Matanya menyalang lagi, hampir-hampir mengumpat kalau ia tak ingat situasi.

Di luar gedung, kondisi lebih luar biasa! Ada lima ekor ikan paus pembunuh melintasi jalan-jalan raya. Bagaikan parade akhir tahun. Bedanya, kendaraan-kendaraan yang juga lewat, tak menggubris sedikit pun. Anak-anak sekolah berjalan-jalan biasa, lampu lalu-lintas menyala normal, para pedestrian masih saja suka menyeberang sembarangan.

Sekon ini, Adrian ingin menangis. Air matanya bahkan telah jatuh sebulir yang seketika mengambang dan lenyap di antara partikel air sekitar. Kalau kehabisan napas bisa membuat mati, dimakan paus pembunuh pun tidak memberikan perbedaan.

Mendadak Adrian melihat ke arahmu. Cepat ia mendekat, menghantamkan kuat-kuat fire extinguisher pada monitormu yang seketika pecah berkeping-keping. Serpihannya berhamburan, menimbulkan lubang menganga. Adrian meluncur keluar dari layarmu. Wajahnya berubah cerah, kembali segar ketika oksigen dikaisnya puas-puas. Kau terlonjak kaget. Matamu menyalang, tercengang, tubuhmu membeku di tempat melihat sang tokoh utama di depanmu bangkit berdiri. Kontan ia berlari menuju jendelamu yang terbuka dan melompat keluar sembari berteriak, “akan kuganti monitormu!”

FIN

  1. Alhamdulillah kelar.
  2. Respek pada siapa pun yang berhasil lolos dari jeratan writer’s block.
  3. Ilmu baru, genre baru, help me.
  4. Terimakasih kakak-kakak admin atas banyak bantuannya. Maaf, tidak tahu lagi harus berkata apa. Semoga sukses selalu.
  5. Terimakasih yang sudah membaca.
Advertisements

16 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Jalan Rahasia

  1. Keren banget kadiiiit! Ini genre surreal dan kafir ngebawainnya warbyazah. Kusuka!
    Dan setuju pada note dipaling bawah. Respek pada siapapun yang mampu keluar dari wb. :””””)

    Like

    1. Jangan banting HP pleaseeee mending hpnya buat aku aja kaaaak wkwkwk

      Aduh PHO official plzzzzz. Tapi iya sih habisnya kan kerana collab itu tuh huhuhu

      Negara MAMA jadi suka pairing mereka atuh gimana ya :””””)

      Dan, iya hehe aku anak basjep kak. Kadit juga kah(????)

      Like

  2. Sugoi Andita akhirnya kamu masuk dalam genre menyenangkan ini yuhuuu asyik kan bikinnya ga usah mikir apa yg mungkin dan apa yg ga mungkin XD
    sukses besar, aku jebol monitormu juga buat nempel ciuman selamat di pipi boleh? * Alay * bikos sureal itu juaraang ditulis jadi saya senang begitu ada yg bikin :”’
    Keep writing!

    Like

    1. kak lianaaaa miapa aku megap2 bikinnya mumet huhu apalah diriku tanpa bantuan kakak-kakak-nim ws kak TvT yeoksi kak liana jagonya surreal kak udahlah ini masih remahan kue /dit kkk makasih banyak kak sudah mampir X) /jebol monitor buat meluk /?

      Like

  3. Kak Ditaaa this one’s so friggin’ cool aku speechless mau ngomong apa-
    Diksinya mantep, ceritanya seru dan ngalir sampe akhir, surealnya dapet banget. Wes pokoke sakjose Kak Dita! Selamat sudah menuntaskan tugas ospek, Kak! Ditunggu karya-karya kece selanjutnya ^^

    Like

  4. Selamat datang di genre Surreal, kakdita! Aku sesek napas nih ketularan Adrian. Ini keren sekali yoksi selamat datang di dunia Surreal, kakdita! You did great, kakak! ❤

    Like

    1. dil halohaa huhu maafkan baru kubalas-balasin nih komenannya TvT makasih dila surreal sungguh ingin kumenangis TvT but worth it atas bantuan kakak-kakak-nim TvT sukses buat dilaa~

      Liked by 1 person

  5. Kak dita sugoi gila keren aduh aku spicles. Ini real banget aku berasa lg nyelam di air pas baca cerita ini. Aah, keren keren sukaa. Sukses banget surrealnya!
    Selamat kak dita, ospeknya udah berhasillll! 😀

    Like

    1. haloo dhilaa maaf baru aku bls komennya TvT btw dhil kita se-line loh kkk jangan panggil kakak TvT. terima kasih ya dhila juga keren banget~~ salam hangat yaa

      Liked by 1 person

    1. haloo niswaaa huhu maafkan baru kubalas komentar ini TvT ini bukanlah apa2 tanpa bantuan admin-nim ws niswa TvT terima kasih yaa sudah review salam hangat :))

      Liked by 1 person

  6. Halo, Dita! Aku Ari~
    Mungkin selama kemarin kamu di WS kita nggak pernah ngobrol. Ehe.
    Dan ini aku lagi punya waktu senggang buat baca karya-karya Out of Playroom kemarin.
    Dan ini surreal-nya nendaaaaaaang abissss! Aku pun masih belajar tentang genre ini. Dan dari karyamu aku belajar banyak loh. This is very well written! Breaking the 4th wall-nya bikin lega. Hahaha.
    Dan aku jadi ikutan sesak napas kaya Adrian. Pokoknya ini kece!
    Keep writing, Dita! ♡

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s