[Special Event: Out of Playroom] The Krakatoa

Ditulis oleh Cheery

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre dystopia.

Anak Krakatau terbangun dari tidur panjangnya.

.

“Adrian?” Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika melihat sosok yang muncul dari balik pintu masuk kediamannya.

“Kau tak terlihat senang, Lyn,” sahut sosok tadi. Berjalan mendekati si gadis kemudian mengambil alih kepemilikan atas sepotong roti yang baru diambil dari toaster. “Ini kurang manis,” komentarnya.

“Aku yakin kau tak pulang hanya untuk makan roti bakar.” Lyn mengambil sepotong sisanya lalu meletakkan piring di mesin pencuci.

“Ei, kau tak merindukan abangmu ini?” Adrian berbalik menuju meja makan, menuangkan segelas air mineral untuk dirinya.

“Bicaralah. Aku ingin tidur lebih awal. Kau tahu betapa mengerikannya lalu lintas darat dan udara Senin pagi.” Lyn melirik jam dinding, pukul delapan malam.

“Baiklah, langsung saja.” Adrian merogoh saku celananya, mengeluarkan lipatan kertas putih lalu menyodorkannya  pada Lyn. “Akhir pekan ini pergilah ke Denmark.”

“Denmark?” Adrian mengangguk. “Seingatku Denmark tak termasuk dalam Zona Pusat.”

Lyn memperhatikan kertas dari Adrian, baru pertama kali ia melihat tiket pesawat. Zona Pusat bisa dibilang terisolasi dari zona lainnya. Perkembangan teknologi di Zona Pusat adalah yang paling maju, namun pemerintah mereka tak mau kalau teknologi yang dikembangkan sampai bocor ke luar.

Transportasi umum yang mereka gunakan hanya kereta dan kapal. Pesawat terbang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan di luar Zona Pusat. Selebihnya, skycar  pribadi dinilai lebih efektif.

“Ada kemungkinan erupsi Gunung Krakatau dalam waktu dekat. Jadi, para profesor dan beberapa orang terpilih akan diungsikan ke Denmark karena berbahaya jika menetap di Zona Pusat.”

Lyn mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa kali hingga menemukan hal yang dicari. “Letak Krakatau 5.274 kilometer dari sini, haruskah kita mengungsi sampai Denmark?” Lyn menunjukkan layar ponsel pada Adrian. “Lagi pula, bukankah bangunan di Zona Pusat tahan gempa?” lanjutnya.

“Erupsi kali ini diperkirakan lebih hebat dibanding tahun 1883, lima abad lalu.” Adrian mengambil komputer pena dari saku kemejanya kemudian memproyeksikan beberapa data. “Lihat, ini dampak erupsi tahun 1883 yang memakan lebih dari 37.000 korban jiwa. Belum lagi dampak dari kabut hitam, gagal panen, typhoid, disentri, dan kelaparan di seluruh dunia. Bahkan suara ledakan terdengar hingga radius lebih dari 4800 kilometer. Kau bisa perkirakan seberapa banyak korban dengan populasi manusia era ini.”

Setelah paparan panjang dari Adrian, Lyn kembali bertanya, “lalu kenapa hanya profesor dan orang-orang terpilih?”

“Pemerintah tak bisa mengungsikan semua orang, menimbang beberapa daerah di luar Zona Pusat juga sedang mengalami konflik. Jadi mereka menyembunyikan fakta ini.”

Lyn membuang napasnya kasar, “terdengar seperti pembunuhan massal.”

“Kita tahu benar keinginan pemerintah untuk mengurangi populasi manusia, Lyn. Orang sepertiku pun tak bisa berbuat banyak.” Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi, “aku bahkan tidak tahu akan ditendang ke Proxima Centauri atau ke Enceladus,” lanjutnya.

Atensi Lyn kembali pada dua lembar tiketnya. Ada namanya tertera di sana, namun ia tak menemukan nama sang kakak. “David Lorence? Kau tidak ikut ke Denmark?” Adrian hanya menggeleng.

“Kau pikir aku tak memperhatikanmu selama ini? Menurutku, ia orang yang bisa dipercaya,” Adrian memberinya senyum menenangkan. “Ah, aku mengantuk,” ia kemudian beranjak dari kursi, merenggangkan otot-otot kakunya kemudian menuju kamar tidur. “Selamat malam, Ashlyn.”

“Ha. Ingin sekali, lain kali aku yang meninggalkannya.”

.

“Jantungnya akan berhenti berdetak jika dibiarkan seperti itu, Tuan Lorence,” kalimat Lyn berhasil menyadarkan  seseorang yang mematung di hadapan mesin pencetak organ dalam.

“Oh, kau sudah datang, Lyn.”

“Formulasi baru?”

“Hanya sedikit mengubah struktur aspirin.” Pria dengan jas laboratorium berbordir David Lorence itu segera memindahkan dua jantung yang baru dicetak ke dalam lemari pendingin.

Mereka menuju sisi lain laboratorium, duduk berhadapan. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” David memulainya.

“Eh … itu … kau pernah dengar tentang Krakatau?” Lyn memulainya dengan hati-hati.

Sekon berlalu, namun Lyn tak kunjung mendapat respons dari lawan bicaranya. Hanya kedua manik abu David yang menatapnya lekat. “Itu semua benar?”

“Hm?”

“Aku mencuri dengar percakapan Profesor Curtis dengan beberapa orang saat aku melewati ruangannya. Mereka membicarakan tentang erupsi dan mengungsikan orang-orang ke luar Zona Pusat.”

“Kau sudah mengetahuinya?”

“Ya. Aku sering bertanya-tanya bagaimana aku mati, ternyata seperti ini. Tak terlalu buruk juga, aku bisa menemui kedua orang tuaku di surga nanti.”

“Maaf membuatmu kecewa, tapi sepertinya aku akan menunda pertemuanmu dengan mereka.” Lyn menyerahkan tiket atas nama David Lorence pada pria di hadapannya. David hanya menatapnya, berharap Lyn akan menjelaskannya lebih lanjut. “Kita bisa ikut mengungsi ke Denmark sampai Zona Pusat membaik, David.”

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Kakakku yang memberinya. Oh, tak perlu berterima kasih, lagi pula aku tak ingin pergi sendiri.”

.

Suasana Bandara Kopenhagen begitu nyenyat. Selain pesawat dari Zona Pusat yang baru saja mendarat, hanya ada satu pesawat lain di sisi utara bandara yang terlihat usang. Pun petugas bandara yang tak terlihat sejauh mata memandang.

Para pengungsi mulai keluar dari bandara menuju ke bus yang akan membawa mereka ke tempat tinggal sementara. Selain mereka yang bergelar profesor, pemerintah juga menyelamatkan beberapa keluarga. “Apa selama ini pikiranku terlalu buruk terhadap pemerintah kita? Ternyata mereka juga mengungsikan anak-anak dan orang tua mereka,” David memulai obrolan.

“Hei, Bro, mau kuberi tahu sesuatu?” Lyn menawarkan informasi, David menatapnya penasaran. “Anak laki-laki yang membawa rubik di sana,” David mengikuti arah pandang Lyn, “Keano, usia tujuh tahun, jenius matematika.” Kemudian Lyn memperhatikan anak perempuan berambut panjang dengan kaus kuning, “Lauren, sembilan tahun, IQ 210. Dan kau ingat yang duduk sendirian di kursi depan kita? Namanya Johan, sebelas tahun, ahli geologi. Pemerintah juga menyelamatkan keluarga mereka agar tidak memberontak, atau yang paling buruk bisa dijadikan ancaman ampuh.”

“Ternyata mereka sekarang lebih kejam dari yang kupikirkan.”

.

“Kudengar pemerintah kita mengambil alih Denmark.” David memulai konversasi dengan Lyn. Mereka sedang berjalan-jalan sambil berbelanja bahan makanan.

“Hebat sekali, bahkan baru sebulan kita menginjakkan kaki di sini,” komentar Lyn.

Mereka menikmati satu bulan di Denmark. Suasana Denmark jauh berbeda dengan daerah asal mereka. Di Zona Pusat, sebagian besar toko dilayani oleh mesin. Masyarakatnya juga sangat individualis, mereka hanya berkomunikasi bila dirasa saling menguntungkan. Rasa kekeluargaan hanya berlaku bagi yang sedarah.

Di Denmark, mereka jadi tahu rasanya menawar harga. Teknologi di sini terbatas─bahkan mereka masih bisa menemukan mobil beroda empat seperti gambar dalam buku sejarah─namun mereka tidak merasakan kekosongan. Orang-orang di sini menjalin hubungan dengan baik antarsesama.

“Kudengar Krakatau sudah beberapa kali erupsi. Kemarin orang-orang berkepala botak itu mengerumuni layar yang menampilkan tangkapan gambar dari satelit. Mereka hanya mengamati, tak sedikit pun terlihat iba atau berniat melakukan sesuatu,” Lyn tersenyum timpang.

“Kau mengasihani para korban?”

“Entahlah. Keluarga yang kupunya hanyalah kakakku dan aku hanya berteman denganmu, aku juga tak pandai bersosialisasi jadi aku tak mengenal mereka. Tapi tetap saja, aku merasa bahwa ini tidaklah benar. Membiarkan orang-orang meregang nyawa tanpa berusaha menyelamatkan mereka. Hanya karena kau ingin mengurangi populasi manusia demi membuat dunia yang lebih baik, bukan berarti kau bisa memandang remeh suatu kehidupan.”

“Ya, kupikir kau benar. Tapi bahkan kita tak punya nyali untuk melawan pemerintah. Bukankah ini menyebalkan?”

“Di satu sisi aku tidak bisa tidak memikirkan mereka, namun di sisi lain, mengingat orang tua kita sama-sama  terbunuh karena terlalu peduli, aku ingin menjadi orang yang masa bodoh saja.”

“Setidaknya aku masih harus menemukan adikku, dan kau masih punya kakakmu sebagai alasan untuk tetap hidup.”

“Ha, apakah hidup memang selalu seberat ini?” Lyn menghela napas. “Kita beli daging di sana lalu pulang. Awannya benar-benar gelap, sepertinya akan hujan,” ia memandang gumpalan kelabu mulai menghalangi cahaya matahari.

“Bodoh. Itu bukan awan,” kali ini bukan suara David yang menyahuti. Lyn menoleh ke belakang, mendapati anak lelaki yang diketahuinya bernama Johan memasang mimik mengejek.

“Siapa yang kau sebut bodoh, hah?”

“Memang siapa lagi? Kau bahkan tak bisa membedakan awan dan abu vulkanik. Kepalamu itu hanya hiasan, ya?”

“Bocah, bicaramu kasar sekali—“

“Tunggu,” David menengahi. “Kau bilang abu vulkanik?” tanyanya.

“Ya. Kalian merasakan gempa kecil semalam? Mungkin itu letusan keempat Krakatau selama dua hari terakhir.”

“Gempanya benar-benar terasa hingga kemari?” Lyn membelalak.

“Kurasa kita harus segera kembali sebelum abu vulkaniknya semakin parah,” saran David yang langsung diamini oleh dua lainnya.

Mereka bergegas kembali ke tempat pengungsian. “Bisa kau beritahu kami seburuk apa letusannya?” tanya David pada Johan di sela-sela langkah kilat mereka.

“Tentu.”

Untungnya mereka keluar tak terlalu jauh dari pengungsian. Sepuluh menit dengan langkah-langkah lebar sudah mengantarkan mereka kembali ke gedung pengungsian.

“Total sudah empat kali letusan dan terjadi tsunami di sepanjang garis pantai ini. Kurasa kemungkinan korban selamat dalam radius puluhan kilometer sangat kecil, bahkan hampir tidak ada,” Johan memberi penjelasan singkat sambil menunjukkan gambar di monitor.

“Daerah itu adalah sumber bahan makanan terbesar di Zona Pusat atau mungkin dunia,” Lyn menambahi.

“Benar. Keadaannya sangat buruk. Kalau seperti ini, seluruh dunia bisa terkena dampaknya,” terdengar jelas kekhawatiran dalam kalimat David.

.

Lewat sebulan dan hampir tidak ada satu orang pun yang keluar dari tempat pengungsian. Hujan abu vulkanik tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. “Kau lembur lagi?” David menyambangi Lyn di laboratoriumnya.

“Ya, harus kuselesaikan secepat mungkin.”

BOOM!

David dan Lyn saling beradu tatap, jantung mereka seakan memompa lebih kuat seraya suara ledakan terdengar diiringi dengan gedung yang bergetar. Suara riuh yang terdengar dari luar menyita atensi mereka. Semua orang tampak panik, raut ketakutan tak bisa mereka sembunyikan. “Johan,” David memanggilnya begitu anak lelaki berusia sebelas tahun itu lewat di depannya.

“Oh, David.”

“Apa terjadi letusan lagi?”

“Kurasa bukan. Sudah sebulan berlalu sejak letusan terakhir.”

“Lalu?”

Johan belum menyuarakan pikirannya saat terdengar suara gaduh lain. “Aku belum pernah mendengar langsung suara tembakan, tapi aku yakin seperti ini.”

“Sial! Lyn, bawa semua hasil percobaanmu. Kita pergi dari sini,” Lyn mengangguk paham dan segera bergegas. David hanya sempat mengambil tiga buah masker sebelum mereka keluar gedung lewat pintu belakang.

Sebisa mungkin mereka menghindari orang-orang berseragam hitam pembawa senapan, sampai sebuah mobil mengerem mendadak di depan mereka. “Masuklah!” kata seorang yang duduk di belakang kemudi, lebih mirip seperti perintah.

“Siapa kau?” David menatap curiga pada pria berambut cokelat gelap tersebut.

“Akan panjang jika kuceritakan, yang jelas aku bukan dari kelompok mereka. Dan, hei, aku bukan mengajakmu, anak kecil.”

“Masuk saja, David. Bagaimanapun tak ada yang menjamin keselamatan kita,” Johan sudah menempatkan dirinya di kursi penumpang. Lyn mengiyakan dan menyeret David ke dalam mobil.

Mobil tua itu melaju cukup kencang, David masih was-was dengan pria yang muncul tiba-tiba menawarinya tumpangan. “Menurut kalian, mengapa kita diserang? Kupikir Denmark bebas konflik dengan daerah lain,” Johan dari tadi berpikir keras namun tak kunjung menemukan jawaban.

“Bukankah sudah jelas? Daerah penghasil bahan makanan terbesar mengalami bencana dan Denmark adalah daerah yang paling minim terkena dampak. Kondisi di luar sana sangat mengerikan. Tambah lagi cuaca ekstrem belakangan ini yang menyebabkan banyak daerah mengalami gagal panen. Itulah mengapa pemerintah Zona Pusat ingin sekali mengurangi populasi manusia,” si pengemudi memaparkan jawabannya.

“Kau dari Zona Pusat?” Sebenarnya masih banyak yang ingin David tanyakan padanya.

Pria itu tersenyum timpang, “Tepatnya, aku orang buangan Zona Pusat. Oh, ya, namaku Takeo.”

Takeo membawa mereka ke sebuah pelabuhan, di sana terlihat sebuah hovercraft yang siap digunakan.  “Aku sudah mengatur GPS hovercraft ini. Saat tiba di tempat tujuan, pergilah satu kilometer ke arah timur, ada sebuah bangunan bercat biru yang bisa kalian tinggali.”

“AAA!!” pekikan Lyn menarik perhatian ketiganya saat pandangannya tak sengaja menemukan mayat manusia. “A-apa itu … manusia?”

“Mungkin korban tsunami, memang banyak mayat dan benda-benda lain yang mengambang di lautan,” ujar Takeo, kemudian menginstruksikan mereka agar bergegas.

Ketiganya menurut, bukan berarti mereka percaya pada Takeo. Mereka berada di ambang keputusasaan, tidak ada yang menjamin keselamatan mereka. Menetap di Denmark juga sepertinya bukan lagi pilihan bijak. Seiring melajunya hovercraft yang akan mengantar mereka ke tempat antah berantah, merenungi nasib sambil menatap kelabunya langit menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan.

“Aku selalu benci berkeringat saat musim panas, tapi sekarang aku rindu melihat matahari,” gumam Lyn dari balik maskernya, cukup terdengar oleh David dan Johan.

“Sampai kapan dunia terus gelap seperti ini?” Johan melempar pertanyaan yang tak diketahui jawabannya.

“Aku juga bertanya-tanya bagaimana kondisi Zona Pusat. Sebagian besar teknologi dikembangkan menggunakan tenaga surya, berminggu-minggu tanpa matahari seperti ini, kurasa cadangan energi yang ada tidak akan mampu bahkan hanya untuk menjalankan transportasi,” David menimpali.

Hening kembali menyapa, mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Satu jam berlalu, hovercraft yang mereka tumpangi telah mencapai daratan. Mengikuti instruksi Takeo sebelumnya, mereka berjalan ke arah timur. Syukurlah ponsel mereka tak mengandalkan tenaga surya, setidaknya mereka bisa mengetahui waktu dan arah mata angin, toh siapa juga yang dapat mereka hubungi.

Kondisi di tempat ini lebih mengerikan, seperti baru saja terjadi kerusuhan. Bangunan runtuh, suara tangisan terdengar sepanjang langkah mereka, bahkan tak jarang mereka temukan mayat tergeletak. David merasakan genggaman Lyn mengerat, sedikit bergetar. Ia tahu gadis ini ketakutan, harapan yang semula mereka bangun perlahan menguap tak bersisa.

Langkah mereka sampai di depan bangunan bercat biru kusam seperti deskripsi Takeo. Jaraknya cukup jauh dari bangunan lainnya, terlihat usang dan lebih mirip seperti gudang. David berinisiatif membuka pintunya, tidak terkunci. “Apa ada orang di sini?” suaranya bergema.

“Takeo benar-benar menipu kita,” Johan bersuara.

“Yah, kau harus belajar curiga pada orang lain,” David menyahuti.

“Maaf.”

“Hah. Setidaknya kita masih bernapas,” Lyn mendudukkan dirinya di lantai dan bersandar pada dinding yang terasa lembab. “Ini, makanlah. Meskipun belum sempurna, setidaknya kita tak akan mati kelaparan seperti orang-orang di luar sana,” lanjutnya sambil menyodorkan dua buah kapsul pada rekannya, hasil eksperimennya.

Suara langkah kaki yang diseret menarik perhatian mereka, menoleh ke sana kemari mencari sumber suara dalam penerangan yang minim.  “David?” David tersentak ketika sebuah suara memanggil namanya, suara familiar yang selalu ia tunggu untuk kembali menyambangi kokleanya.

“Dane, kaukah itu?” seorang wanita berdiri beberapa langkah di depan mereka, pakaiannya begitu lusuh, pun wajahnya yang terlihat kusam dengan tutup mata di sebelah kiri.

“Ya, ini aku. Takeo berhasil membawamu,” senyumnya mengembang, kentara sekali raut bahagianya. Akhirnya David bertemu dengan adiknya, Dane Lorence. David memeluknya, terbesit rasa bersalah ketika melihat kondisi adiknya yang mengenaskan.

Setelah reuni kakak beradik Lorence, Dane membawa mereka masuk ke salah satu ruangan dalam gedung. Ia menyajikan makanan untuk ketiganya. Sama sekali tak menggugah selera memang, namun dalam kondisi seperti ini bisa makan saja sudah untung.

“Wah, kau bisa dapat daging dari mana?” tanya Johan dengan sesuap daging dalam mulutnya.

“Yah, selama kucing jalanan dan tikus belum punah, kita masih bisa makan daging.”

“Lyn, boleh kuminta kembali kapsulmu tadi?”

.

Hari-hari berikutnya terasa semakin berat. Ancaman kelaparan membuat orang-orang menjadi anarkis, bahkan  tak ragu untuk melayangkan nyawa. Tak ada bantuan yang datang karena belahan bumi lain pun kondisinya tak lebih baik. Kerusuhan tak terelakkan, gemuruh peluru seakan menjadi alunan pengantar tidur. Abu vulkanik yang tak kunjung reda semakin membuat mereka sesak sekaligus menurunkan suhu cuaca.

Hari berlalu, minggu terlewati, musim yang harusnya berganti, sudah tak terhitung berapa kali mereka berpindah tempat persembunyian. Kapsul yang dibawa Lyn sudah tak tersisa. Meski mereka tak mati kelaparan, berat badan mereka menyusut secara drastis. Dalam titik ini, Lyn benar-benar ingin menyerah akan hidupnya.

Yang mereka dengar dari kabar burung, ada sekelompok orang di luar sana yang bahkan sengaja berburu manusia untuk dijadikan santapan. Alih-alih takut, Lyn justru semakin membulatkan tekad untuk mengakhiri penderitaannya. Benar-benar sudah tidak ada harapan yang dipercayainya. Masa bodoh dengan kakaknya, toh ia sendiri tak tahu Adrian masih bernyawa atau tidak.

Maka, malam itu Lyn mengendap keluar dari tempat persembunyian mereka saat yang lain tengah terlelap. Berjalan tanpa arah, hanya berharap  seseorang menembak kepalanya dan berakhirlah penderitaannya. Ia tak pernah menyuarakan pikirannya pada rekan-rekannya karena Lyn tahu mereka akan menghentikannya.

Langkah Lyn sudah terasa berat, kepalanya pening, dan pandangannya mulai kabur. Entah hanya halusinasi yang mencoba mempermainkannya, namun ia melihat sosok yang berdiri beberapa meter di depannya sedang mengacungkan pistol. Ia tersenyum, namun tak lantas bisa menahan air matanya. Lyn terpejam, merasakan hembusan angin menerpa wajahya bersama─

DOR!

─kesadarannya yang berangsur menghilang.

.

Dua tahun kemudian.

Seorang gadis menggerakkan kelopak matanya perlahan, menyesuaikan dengan cahaya dalam ruangan berdominasi putih. Berkedip sekali, dua kali, seorang pria memperhatikannya  kemudian bertanya, “kau sudah sadar? Apa kau ingat sesuatu? Namamu?” Gadis itu mencerna serentetan pertanyaan secara perlahan lalu menggeleng lemah sebagai jawaban.  “Baik, istirahatlah dulu,” pria itu keluar ruangan.

“Bagaimana?”

“Kita berhasil menghapus ingatannya. Apa kau yakin dengan keputusanmu? Belum terlambat untuk mengembalikan ingatannya, Adrian.”

“Terlalu banyak kenangan mengerikan yang ia ingat, David. Satu-satunya yang ingin kupertahankan hanya namanya.”

“Baiklah, aku mengerti.”

“Aku akan menjenguknya saat ia sudah lebih baik.” David mengangguk. Ia kembali ke dalam untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

“Ashlyn. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Ashlyn, apa kau suka?” tanyanya.

Ashlyn tersenyum.

.

FIN

Advertisements

3 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] The Krakatoa

    1. Halo kak li~ iyaa si adrian masih hidup soalnya dia sesungguhnya dapet tugas buat menjelajah ke luar angkasa yg pas waktu di awal dia ngomong ditendang ke Proxima Centauri atau Enceladus ehehe sepertinya bagian ini kurang tersurat
      Makasi kak liana udah mampir

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s